Uncategorized

Nekad Aja Buka Tabungan Haji dan Umroh (2)

Nekad aja membuka Tabungan Haji dan Umroh. Inilah action yang saya lakukan agar perjalanan haji dan umrah yang kami niatkan segera terwujud.

Erbe Sentanu, pendiri Katahati Institute, dalam buku Quantum Iklas, mengungkapkan doa yang kita panjatkan dan kita yakini dengan sepenuh hati, di dunia quantum sudah terkabul. Ini sama dengan yang diajarkan ustadz saya di masjid rumah. Bahwa doa kebaikan seorang muslim selalu dikabulkan oleh Allah Yang Maha Mendengar dan Pengabul Doa. Hanya saja kapan terwujud dan dalam bentuk apa, Allah Yang Maha Tahu kesiapan kita menerima pengabulan doa tersebut.

Peluang kedua, seandainya Allah SWT ternyata memanggil kita sebelum kita diberangkatkan ke tanah Haram, insya’Allah pahala haji dan umrah yang dijanjikan sudah bisa kita peroleh. Alhamdulillah..

Kedua peluang inilah yang membuat hati saya yakin banget. Bahkan yakin juga saya bisa berangkat. Segera berangkatm, bahkan! Pokoknya yakin, he.he.. ngeyel. Habis, gimana ya? Sudah ngebet banget menikmati sujud di Baitullah. Selain itu, saya pikir-pikir, tak ada salahnya buka rekening tabungan haji dan umrah. Lha uangnya juga tak hilang, malah bila sangat kepepet masih dapat diambil kok seperti tabungan biasa. Maaf ya.., pikiran seperti ini seharusnya dihindari. Dibuang jauh-jauh dan jangan sekali-kali dipanggil lagi. Mestinya juga peraturan bank mengikat, bahwa tabungan haji dan umrah tidak boleh diambil, kecuali diwariskan. Tapi tentu saja bank tidak berani menetapkan peraturan begitu. Bisa-bisa tidak ada yang menabung ya…

Giliran saya duduk di depan Mbak Anggun. ”Saya mau buka tabungan haji dan umrah, Mbak!” ujar saya, entah kenapa, agak deg-degan.

”Baik. Bapak juga mau langsung setor untuk bayar ONH?” tanya Mbak Anggun ramah sambil mengambilkan berkas untuk saya isi.

“Ya…. Insya Allah nanti setornya ya, Mbak. Sekarang nabung dulu saja,” jawab saya pelan mencoba bercanda, meski hati ini kecut juga langsung ditembak begitu. Dalam hati saya menambahkan, “Duapuluh juta.., Mbak. Itu jumlah yang sangat buesar lho.. Saya harus nabung entah berapa tahun. Untung saya menemukan jawaban yang pas.”

“O… Tak apa-apa. Yang penting sudah ada niat. Iya kan, Pak?” tambahnya menghibur. Barangkali Mbak Anggun melihat perubahan wajah saya ya. Eh.. kali wajah saya memang jadi grogi waktu itu. Saya sendiri hanya tersenyum, karena tak tahu harus menjawab apa.

”Tabungan awal Rp200 ribu dan setoran berikutnya minimal Rp25 ribu, Bapak,” jelasnya ramah sambil mengoreksi aplikasi saya. ”Bapak mau buka berapa?”

”Limaratus ribu,” kata saya ringan sambil menyerahkan uangnya.

”Baik. Tunggu sebentar ya, Pak!” Ia lalu merapikan berkas-berkas dan pergi ke teller sambil membawa buku hijau. Buku tabungan saya.

Tak lama, ia kembali dan menyerahkan buku mungil itu. “Ini, Pak, buku tabungannya. Untuk selanjutnya bapak bisa menabung di seluruh  cabang kami,” tambahnya dengan senyum manis.

“Terima kasih, Mbak!” jawab saya sambil mengamati buku hijau tipis tersebut. Sebenarnya tak ada yang istimewa dari buku mungil itu. Sama dengan buku-buku tabungan dari bank-bank lain. Namun saat tangan, mata, dan hati ini menerima buku itu, terasa ada perasaan lain. Apalagi di kolom debet sudah tercetak angka Rp500 ribu. Ini jelas bukan karena yang memberikan Mbak Anggun yang memang anggun dan ehem.. cantik berparas ke-arab-an. Lantas apa ya yang bikin beda? Entahlah, yang pasti seneng banget, bahagia dan lapang di hati.

”Ya Allah, mulai detik ini saya sudah memantapkan hati memenuhi panggilan-Mu. Cukupkanlah rejeki saya untuk dapat menutupi seluruh biaya selama perjalanan. Jagalah niat hati ini agar terus membara sampai waktu yang engkau tetapkan saya berangkat ke tanah Haram Mu. Karena Engkau pengatur segalanya, Maha Pemberi dan Maha Pemurah. Ya Allah…”

Saya tergagap saat Mbak Anggun menyapa, ”Ada yang bisa dibantu lagi, Bapak?”

”Oya… Tidak. Terima kasih, Mbak. Assalamu’alaikum,” saya pamit setelah memasukkan buku hijau ke dalam tas butut yang selalu menemani, sambil masih memeluk sisa-sisa perasaan senang, bahagia dan lapang di hati.

Saya segera meninggalkan kantor bank tersebut dan menyetop angkot untuk kembali ke tempat kerja. Di dalam angkot, saya melirik dua orang ibu sering menatap ke arah saya, sambil cowel-mencowel satu dengan lainnya. Wah, ada apa gerangan? Apa wajahku berubah aneh lagi?

Tampaknya ibu yang berbaju merah dan agak gemuk tak tahan juga, lantas berujar, ”Pak! Baru dapat bonus, ya? Kok senyum-senyum terus?”

Alamak! Ternyata saya senyum-senyum sendiri tanpa sadar sebagai lontaran hati yang bahagia. Walah… Atau jangan-jangan saya malah dikira oleh ibu-ibu tadi setengah orgil. Entahlah! Tak kuasa saya ingin segera membagikan kebahagiaan ini kepada isteri dan putra putri saya. Kabar sekelumit ini bagi saya dan keluarga adalah tonggak besar yang harus segera dibagi.

Petang hari usai sholat magrib bersama isteri, masih mengenakan baju koko, saya segera merogoh tas butut dan mengambil buku kecil warna hijau yang diberikan Mbak Anggun tadi siang. Kini saya lebih leluasa mengamati. ”Buku Tabungan Haji dan umrah” Begitu bunyi kalimat yang tercetak di sampul depan dengan logo bank dan gambar seuntai tasbih berwarna putih. Sederhana tapi terkesan lembut memikat. Paduan warna yang pas. Sedang sampul belakangnya berpadu gambar dengan warna yang ramah.

”Buku apa, Mas?” tanya Lili Nus Chalimah, isteri saya penasaran.

Saya segera menyodorkan buku tersebut dengan sambil tetap senyum-senyum. ”Alhamdulillah. Tadi, Mas sudah buka rekening tabungan haji dan umrah.”

Terlihat mata mantan pacar yang saya nikahi tahun 1997 lalu, berbinar menerima buku kecil tersebut. Membaca halaman depan, lalu membukanya. Hati saya pun ikut berbinar.

Alhamdulillah. Berapa setoran ONH-nya?” tanya Lilik, panggilan bagi isteri saya, sambil mengamati isi tabungan.

”Dua puluh juta!” jawab saya masih tersenyum.

”Ha…! Dua puluh juta?” Lilik setengah tidak percaya. Barangkali isteri saya juga membayangkan entah  berapa lama jumlah sebesar itu, bisa tercetak di kolom debet tabungan. Ia tahu persis berapa gaji saya sebagai wartawan di sebuah media yang sedang berkembang. Perusahaan yang mulai merayap naik setelah tiga-empat tahun jatuh bangun.

”Allah kan Maha Kaya dan Maha Memberi tho, Dik! Tenang saja. Kita jalani saja. Yang penting saya sudah menancapkan niat di hati. Dan tahu enggak, Mas yakin banget tu, bahwa kita bisa segera berangkat. Kita akan segera menikmati rukuk, sujud, beribadah, dan berdoa di depan Ka’bah. Sepuas-puasnya,” ceramah saya menutupi keraguannya. Padahal hati saya juga gagap mengucapkan itu. Namun saya beranikan untuk bertutur sebagai bagian dari doa kami, sebab wejangan Pak Ustadz, kata-kata yang diucapkan dengan sunguh-sungguh, sepenuh hati adalah bagian dari doa.

”Amin, amin, amin. Ya Rabbal Alamin.”

Untuk berangkat ke tanah suci, kami memang tinggal menyiapkan biaya bagi saya sendiri. Biaya untuk Lilik sudah ditanggung ibunya alias mertua. Alhamdulillah. Jadi kapan saja biaya untuk diri saya sudah cukup dan ada tabungan untuk anak-anak di rumah, kami bisa langsung setor ONH, dua puluh juta rupiah, untuk mendapatkan porsi dari Departemen Agama, kini menjadi Kementerian Agama.

Ya, kami bisa setor ONH bersama-sama, sehingga nantinya bisa rukuk, sujud dan berdoa di seluruh kawasan Tanah Suci bersama isteri. Magrib hari itu merupakan kebahagian kami berdua dan keluarga.

About

2 Comments

  • Tabungan haji December 20, 2016 at 2:34 am Reply

    ada rekomendasi tabungan haji yang baik pak..?

    • Perjalanan Umroh Murah January 11, 2017 at 12:08 pm Reply

      Tabungan haji bisa dilakjukan di semua bank pemerintah
      in syaa Allah semua rekomen khususnya yang syariah he he

      Wassalam

Leave a Comment