Bayangkan Diri Thawaf dan Sholat di Masjidil Haram Dalam Haji dan Umrah

Sholat di Masjidil Haram Dalam Haji dan Umrah

Membayangkan diri kita thawaf dan sholat di Masjidil Haram dalam rangakian haji dan umrah adalah bagian dari afirmasi sebuah doa. Suatu cara untuk meresapkan doa kita agar sampai ke alam bawah sadar, sehingga seluruh sel dan organ tubuh ini mendukung serta mengaamiinkan doa kita.

Bersama seluruh kru KATV, saya menyiapkan semua perlengkapan acara shooting atau pengambilan gambar audio video di Hotel Sofyan, Gondangdia, Jakarta. Salah satu asesoris yang kami pasang sebagai background panggung adalah gambar Masjidil Haram dan masjid Nabawi dalam poster besar.

Usai setting panggung, saya duduk di depannya sambil memandangi background poster kedua masjid indah itu. Saya tak henti-henti memandanginya. Terasa teduh dan nyaman di hati. Saya pun mendekat dan melihat lebih lekat masjid agung tersebut. Saya membayangkan, wah… nanti saya masuk ke masjid ini lewat pintu mana ya saat haji dan umroh.

Seorang teman kru, Akhmad Sofyan, ikut mendekat. “Pingin ya, Pak, bisa sholat di dalamnya dalam haji dan umrah ?” tanyanya antara canda dan sungguhan.

“Ya.., iyalah.” jawabku cepat.

Afirmasi Thawaf di Masjidil Haram dalam Haji dan Umrah

Tentu saja setiap muslim mendambakan banget bisa sholat di kedua masjid ini dalam rangkaian haji dan umrah. Bisa kirim salam kepada Rasulullah Muhammad SAW di masjid Nabawi. Bisa berdoa di raudhah yang disebut sebagai taman surga. Bisa rukuk, sujud dan ibadah penuh khusuk di dekat Baitullah. Melakukan thawaf, shalat di dekat maqam Ibrahim, sholat di hijir Ismail dan Berdoa di Multa’jam. Atau minum air Zamzam sambil menghadap Ka’bah. Apalagi bisa mencium Hajar Aswat. Wow…Tentu dahsyat!

Usai acara shotting, saya segera menyalami pemberi ceramah dan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya, karena acara pengambilan gambar berjalan lancar. Pak Ustadz menyampaikan hal yang sama. Kami pun terlibat perbincangan seputar acara penanyangan program tersebut. Saya juga menjelaskan panjang lebar kegiatan KATV yang memang masih asing bagi Pak Ustadz.

“Mas Djono sendiri tahun berapa haji dan umrahnya?” tanya Pak Ustadz tiba-tiba.

Insya’ Allah, Pak Ustadz! Jika Allah telah mencukupkan biayanya,” jawab saya sambil tersenyum sebagai ganti jawaban: saya belum haji dan umrah. “Mohon doa restunya!”

Pak Ustadz memahami jawaban saya, tapi sedikit meleset. “Sudah setor ONH (Ongjkos Naik Haji), kan?”

Insya’ Allah, Pak Ustadz! Saya segera setor setelah Allah mencukupkan jumlahnya,” jawab saya sama sebagai ganti jawaban: saya belum setor ONH. “Mohon doa restunya!”

Pak Ustadz tampak kecewa dengan jawaban saya. “Tapi sudah berniat haji dan umrah kan..?” tanyanya lagi menghibur.

Alhamdulillah. Insya’ Allah sudah mantap untuk haji dan umrah Pak Ustadz!” kata saya bersemangat.

Alhamdulillah. Saya turut bersyukur. Sebab celakalah kita sebagai muslim bila niat untuk berhaji dan umrah saja belum punya. Sebagian besar baru di tingkat sekedar pingin. Mudah-mudahan Mas Djono segera berangkat ya!”

“Aamiin, aamiin, aamiin. Ya Rabbal Alamin.”

Poster gambar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi bekas acara shooting saya rapikan dan saya bawa ke kantor. Keduanya saya pajang di ruang kerja. Dengan begitu setiap hari saya bisa memandanginya, baik secara sengaja maupun sepintas sambil lewat. Bahkan saya sering “memelototi” kedua gambar masjid tersebut dan berguman dalam doa. “Ya Allah, ijinkan hambamu rukuk, sujud, dan ibadah di kedua masjid agung-Mu dalam rangkaian haji dan umroh. Cukupkanlah rejeki hambamu agar bisa berangkat ke tanah Haram-Mu atas keridlaan-Mu. Aamiin…”

Nah, bersamaan lantunan doa dalam hati tersebut, saya berusaha membayangkan dan menikmati tubuh fisik ini berada diantara orang-orang yang sedang sujud, diantara orang-orang yang sedang thawaf, juga diantara orang-orang yang sedang berdoa khusuk di sana. “Ah.., betapa nikmatnya”.

Anggap Sebagai Doa Segera Berangkat Haji dan Umrah

Kadangkala saya ketahuan temen di kantor saat sedang melantunkan doa khusu’ tersebut. Mereka pun berkelakar, “E..hem.., sudah ngebet naik haji dan umroh niye…” Atau ledekan lain, “Wah, sebentar lagi dipanggil Pak Haji dong atau sekarang aja manggilnya Pak Haji ya?”  Saya malah tersenyum bahagia diledek begitu karena saya anggap mereka sedang mendoakan saya untuk segera berangkat haji dan umrah.

Iya kan?

Similar Posts:

2 thoughts on “Bayangkan Diri Thawaf dan Sholat di Masjidil Haram Dalam Haji dan Umrah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *