Uncategorized

Bersedekah Tidak Iklas? Boleh! (2)

Bersedekah Tidak Iklas? Boleh! (2)

“Bisa Jadi Yang Datang Bukan Golongan Manusia atau Jin”

 

Sudjono AF

Jadinya hitung-hitungan seperti dagang saja. Saya kira tidak apa-apa hitung-hitungan dalam kebaikan. Karena pikiran kita memang sukanya begitu. Ditunjukkan dulu, diberi janji, hitung-hitungan matematika, baru mau berbuat. Beberapa ayat dalam Al Qur’an yang menyatakan begitu. Diantaranya: “Perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai ada seratus biji…” (QS. 2 Al-Baqarah : 261). Ustadz Yusuf Mansyur paling getol menyampaikan ayat ini. “Bersedekahlah untuk mengatasi segala problem kehidupan,” tuturnya selalu.

Lantas bagaimana dengan riya’ atau pamer dalam sedekah? Ya, sedekah yang bercampur riya’ atau pamer kepada manusia jelas tidak baik. Kalau kita mau sedekah karena ingin dipuji orang itu namanya riya’. Namun bila kita tidak jadi sedekah karena memikirkan perkataan orang lain, ini juga bisa riya’. Kan supaya dibilang tidak riya’ oleh orang lain? Ya, itu mengandung riya’. Artinya kita lebih mengutamakan pendapat orang daripada pamrih kepada Allah.

Sedekah dengan pamrih kepada Allah, itu boleh dan syah. Ustadz saya mengajarkan bersedekah dengan terang-terangan boleh dan bersedekah dengan diam-diam juga boleh. Tergantung dari niat. Yang tidak diajurkan itu terang-terangan tidak sedekah atau diam-diam menghidari sedekah. Lebih parah lagi, sudah diam-diam tidak bersedekah, ditambah menuduh orang yang sedekah terang-terangan itu riya’. Memang sih, sedekah dengan terang-terangan berpotensi menimbulkan riya’. Namun kita juga harus ingat, sedekah diam-diam kadang juga menyimpan bahaya laten ujub, berbangga diri.

Jadi baiknya bagaimana? Sedekah dengan diam-diam punya keutamaan sendiri. Sedekah terang-terangan pun punya keutamaan sendiri. Hal ini bisa menjadi syiar dan pemicu semangat bagi yang lain. Para sahabat Rasulullah juga pernah melakukannya. Menurut saya, terang-terangan, diam-diam, bareng-bareng atau sendiri-sendiri terus saja sedekah. Bersedekah sedikit dengan penuh iklas atau bersedekah banyak meskipun belum iklas penuh, terus saja tetap sedekah. Jaga niat di hati dan hanya pamrih kepada Allah. Bila masih saja terlintas di pikiran macam-macam godaan, ya sudah kita tutupi dengan istigfar mohon ampun.

Akan tetapi sekarang kan banyak pengemis pura-pura, ada yang berbohong bahkah terorganisir. Kalau kita memberi mereka sedekah kan sama saja kita besekongkol dan mendorong mereka dalam perbutan jahat. Mau meraih pahala, eh..justru kejeblos dosa.

Nah.., mulai lagi deh..!

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (QS. Adz-Dzariyat: 19).Adapun orang yang meminta-minta maka janganlah kamu menghardiknya (QS.Adh-Dhuka:10).

Rasulullah SAW. bersabda : Apabila datang seorang pengemis, maka jangan kamu putus (tolak) permintaannya sehingga selesai permintaanya. Kemudian kamu jawab dengan sopan dan lunak, dengan memberi sedikit atau penolakan yang baik, sebab ada kalanya yang datang kepadamu itu bukan manusia dan bukan jin, hanya sekedar menguji kamu, bagaimana kamu berbuat terhadap nikmat yang telah diberikan Allah kepadamu. (HR Al Mardawaih)”

 

Ada Paket Umroh Murah Risalah Madina $1500 + Rp1 Juta perlengkapan. Info Kontak H. Sudjono AF. 081388097656 | BB 2315A7C3

About

2 Comments

  • adi May 16, 2013 at 1:44 pm Reply

    Good!

Leave a Comment