Umroh dan Haji, Menjadi Teladan Dalam Syiar Islam

Umroh dan Haji, Menjadi Teladan Dalam Syiar Islam   

Umroh dan haji semakin semarak dan ramai. Jutaan umat islam Indonesia tiap tahun menunaikan ibadah haji. Juga ribuan orang tiap bulan melaksanakan ibadah umroh. Namun mengapa Indoensia masih juga belum adil dan makmur? Mengapa korupsi di kalangan pejabat masih tinggi?

Rasanya kita perlu melakukan introspeksi diri. Setiap tahun jamaah haji dan umroh semakin meningkat. Ini patut kita syukuri karena menunjukkan peningkatan ekonomi dan kesadaran beragama makin bertambah. Dan ketika haji, diri dan jiwa digembleng di Tanah Suci agar menjadi orang yang bertakwa.

Akan tetapi seiring dengan banyaknya para haji dan hajah yang pulang dari Tanah Suci, masih nampak pula penambahan kemaksiatan di tanah air. Sepertinya makin hari kemaksiatan makin transparan, meningkat jumlahnya dan kualitasnya. Apakah karena banyaknya haji “tomat”, disana tobat sampai disini maksiatnya kumat? Wallahu a’lam.

Umroh dan Haji dari Sirah Rasulullah

Padahal apabila kita membaca sirah (sejarah) Nabi, perjuangan dakwah Rasulullah saw dalam menegakkan islam mendapatkan titik kemenangan karena jasa orang-orang yang menunaikan ibadah haji dan umroh.

Pak haji dan bu hajah itulah yang membuka kemenangan bagi dakwah islam. Ketika Rasulullah saw sedang mengalami tekanan yang sangat keras dari kaum Quraisy di Mekah, datang bantuan kaum Anshar dari Yatsrib (Madinah) sebanyak enam orang. Mereka adalah orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji di Mekah dan mendapatkan dakwah Rasulullah saw. Kemudian mereka kembali ke Madinah dan memberitahu kaum yang lain agar menerima dakwah Rasulullah saw, membela dan menjadikan tempat mereka menjadi tempat Hijrah Rasulullah bersama para sahabatnya.

Akhirnya tercatat dalam sejarah, mereka kaum Anshar mambaiat (berjanji setia) kepada Rasulullah saw yang peristiwa itu dikenal dengan nama Baiatul Aqabah (Aqabah adalah suatu tempat berupa bukit yang terletak diantara Mina dan Mekah). Merekalah bersama kaum Muhajirin menjadikan islam berjaya. Begitu sampai di Madinah Rasulullah saw mengumumkan dakwahnya ke seluruh dunia hingga islam sampai kepada kita sekarang. Begitu besar jasa mereka. Sehingga pertolongan mereka menjadi titik balik kondisi dakwah islam waktu itu.

Dengan kata lain, keberhasilan dakwah Nabi saw, yang akhirnya berkembang ke seluruh dunia, salah satu faktor utamanya adalah jasa dari kaum Anshar Madinah yang telah menunaikan ibadah haji dan umroh.

Bagaimana dengan Pak dan Bu haji yang sekarang kembali ke tanah air? Bagaimanakah peranan mereka dalam dakwah islam di tempat masing-masing? Apakah mereka seperti kaum Anshar yang membantu dan melindungi Nabi Muhammad saw menyebarkan dakwah islam? Seyogianyalah demikian.

Seorang haji atau hajah tatkala kembali ke tanah air selain harus bisa memperbaiki diri dan keluarga, ia juga harus aktif dalam kegiatan keislaman dilingkungannya. Ia bahkan harus bisa menjadi motor penggerak bagi aktivitas dakwah islam di tempat tinggal maupun lingkungan kerjanya. Ia harus bisa memberikan warna islam disetiap ia berada, di kantor, di pasar, di jalan maupun di rumah. Ia membantu, mendorong dan berperan aktif dalam kegiatan keislaman dilingkungannya, baik secara langsung maupun dalam dukungan materi. Dengan seperti itu maka akan terlihat nyata kehajian seseorang. Ia benar-benar menjadi haji yang mabrur dan layak mendapatkan surga-Nya.

Sedangkan bagi haji yang ‘riya, menggunakan dana haram untuk berangkat, disana hanya tidur, shopping, dan mengerjakan yang rukun-rukun atau wajib-wajib saja, banyak mengeluh dan tidak melepaskan diri dari perbuatan rafats dan fasik, maka hajinya tidak akan diterima. Ia bukan haji mabrur dan tidak termasuk yang diberi janji mendapatkan surga, meskipun orang menggelarinya “Pak Haji”.

Oleh karena itu, kita menyadari bahwa pergi haji membutuhkan effort, usaha yang tidak mudah. Biaya mahal, tenaga terkuras, rasa was-was berada disana maupun keluarga yang ditinggalkan dan sebagainya. Apabila seseorang melaksanakan ibadah haji tanpa menjalaninya dengan benar, sungguh sayang. Kalau dalam ibadah puasa Rasulullah saw menyatakan banyak orang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga, artinya orang tersebut rugi. Lebih rugi lagi ibadah haji. Tanpa ilmu dan persiapan mental yang baik maka bisa jadi ibadah hajinya akan sia-sia. Apalagi jika terdapat pamrih didalamnya seperti ingin menjadi orang yang terpandang.

Untuk itu, langkah awal bagi seseorang yang ingin menunaikan ibadah haji adalah mencari ilmu dan belajar mengenai apa-apa yang berkenaan dengan ibadah haji tersebut. Mulai dari manasiknya hingga perjalanannya. Kadang seseorang lupa menyiapkan manasik haji tapi lebih sibuk (rebyek) dengan urusan perjalanan. Mereka meyiapkan segala keperluan selama 40 hari berada di Tanah Suci. Namun mereka tidak bergitu peduli mengenai hukum-hukum dan esensi (hikmah) yang terkandung dalam ibadah haji. Semestinya adalah 80% persiapan dilakukan untuk memperdalam ilmu mengenai manasik haji, sisanya adalah persiapan untuk travelling (perjalananny). Memnag tanpa persiapan perjalanan yang matang bisa jadi ibadah disana terganggu. Tapi bukan berarti seseoranng fokus persiapannya hanya kepada perjalanannya saja.

Dengan persiapan manasik, insya Allah haji kita mabrur. Umroh kita menjadi makbul. Semoga kita bisa melaksanakan ibadah haji, umrah, termasuk ziarah didalamnya sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dengan demikian maka haji dan umroh kita tidak akan ditolak. Haji kita insya Allah mabrur dan umroh kita inya Allah makbul aamiin.

Similar Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *