Ibadah haji Badal Untuk Orang Tua

Ibadah haji Badal. Yang dimaksud dengan ibadah haji badal ialah seseorang melaksanakan ibadah ibadah haji untuk mengibadah hajikan orang lain, bukan untuk dirinya. Dari segi boleh atau tidaknya mewakilkan pelaksanaan suatu ibadah kepada orang lain, ulama membaginya kepada tiga bentuk ibadah. Pertama, ibadah yang terkait dengan harta saja, seperti zakat, kafarat/dam, kurban dan lain-lain, ibadah semacam ini boleh diwakili oleh orang lain.

Kedua, ibadah yang terkait dengan jasmani saja, seperti shalat dan shaum, ibadah semacam ini tidak bisa diwakili oleh orang lain, dan ketiga ibadah yang terkait dengan jasmani dan harta, seperti ibadah ibadah haji, ada beberapa pendapat. Menurut ulama fiqih yang membolehkan, ibadah haji boleh diwakilkan kepada orang lain dengan syarat-syarat tertentu. Dalam melaksanakan badal ibadah haji bagi orang yang sudah meninggal, sebagian besar ahli fiqih membolehkannya. Namun badal ibadah haji bagi orang yang masih hidup, para ulama berbeda pendapatnya.

===========================================================

Informasi Paket Badal Haji 2018 – 2019 – 2020  Biaya Rp9,5 Juta

Hubungi: H SUDJONO AF – 081388097656

============================================================

Jumhur ulama (madzhab Hanafi, madzhab Syafi’i dan madzhab Hanbali) menyatakan bahwa badal ibadah haji bagi orang yang masih hidup karena sakit yang tidak mungkin sembuh dan tidak mungkin dapat melakukan safar khususnya perjalanan ibadah ke dan di tanah suci, dibolehkan. Namun pendapat Madzhab Maliki mengatakan bahwa badal ibadah haji bagi yang masih hidup dalam keadaan sakit tidak dapat diwakilkan kepada pihak lain, karena ibadah ini merupakan ibadah jasmani yang harus dialami langsung oleh pelakunya, seperti shalat dan shaum, yang bertujuan melatih diri berpisah dengan tanah airnya, anak istri, dan keluarganya, melatih untuk tidak mengenakan pakaian berjahit dan amalan-amalan yang tidak mungkin bisa ditangkap maknanya kecuali bila melakukannya sendiri. Dalam menyikapi hal ini terdapat beberapa pendapat.

Pertama, tidak ada badal ibadah haji. Seseorang melaksanakan ibadah ibadah haji hanya untuk dirinya sendiri dan tidak untuk orang lain. Sebab ibadah fisik tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Argumentasi yang berpendapat demikian adalah firman Allah swt yang berbunyi, “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (an-Najm : 39). Setiap hadits atau pendapat yang bertentangan dengan ayat tersebut otomatis gugur dan tidak berlaku.

Kedua, sama dengan pendapat pertama bahwa ibadah fisik tidak boleh diwakilkan kepada orang lain. Tetapi khusus untuk ibadah ibadah haji mereka menganggap boleh. Alasan mereka adalah hadist shahih yang menerangkan hal tersebut dalam kasus: seorang anak yang sudah beribadah haji boleh menggantikan atau mengibadah hajikan orang tuanya yang sudah nadzar ibadah haji dan siap biaya ibadah haji, tetapi pada saatnya orang tua tersebut tidak dapat melaksanakan ibadah ibadah haji karena wafat.

Ketiga, sama dengan pendapat pertama, bahwa ibadah fisik tidak boleh diwakilkan atau diganti oleh orang lain. Tapi untuk ibadah haji mereka membolehkan, baik oleh anaknya ataupun oleh orang lain. Baik yang bersangkutan sudah wafat maupun masih hidup tetapi udzur untuk melaksanakannya.

Keempat, boleh mengganti orang lain dalam ibadah ibadah haji dan shaum, asal yang mengganti tersebut adalah anaknya atau ahli warisnya. Dengan alasan ada hadits yang menerangkannya. (hadits yang kemudian melahirkan ihktilaf). Pendapat yang paling aman adalah pendapat nomor pertama, dan sebagai penggantinya hendaklah diganti dengan mendoakan almarhum dengan sungguh-sungguh dan khusyu terutama selama berada di tanah suci. Pahala ibadah haji bagi yang melakukannya, dan pahala penggunaan biaya ibadah haji bagi mereka yang mendanainya.

 

Similar Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *