Ibadah Haji Antara Perjalanan Hidup dan Mati

Ibadah HajiSetiap muslim yang mau merenungkan perjalanan ibadah haji pasti akan menemukan berbagai hikmah agung di baliknya. Apakah ibadah haji itu merupakan perjalanan hidup atau mati, iman atau islam, keamanan atau keselamatan, perkenalan atau perekatan hubungan, ataukah perjalanan semua itu? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh orang yang benar-benar memahami semangat ibadah dengan fitrah yang jernih. Ia datang bertawaf untuk kemudian masuk ke Maqam Ibrahim dengan khusyuk. Orang yang diberi keutamaan oleh Allah sehingga bisa masuk ke Maqam Ibrahim niscaya akan melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya. Allah Swt, berfirman, Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan Kami yang ada di langit dan di bumi agar dia termasuk orang-orang yang yakin (Al-An’am [6]: 75)

Selama hati masih sadar-akan perintah Allah, padahal mereka hanya diperintah untuk menyembah Allah dan ikhlas menaati-Nya semata-mata hanya karena menjalankan agama (Al-Bayyinah [98]: 5)-maka persiapan untuk mengarungi dunia hikmah dengan tenang dan nyaman telah terpenuhi.

Allah Swt berulang-ulang mengingatkan Nabi Musa saat mempersiapkannya untuk bermunajat kepada-Nya…maka lepaskanlah kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Thuwa (Tha’ha [20]: 12)

 

Ibdah Haji, Perjalanan Hidup

Hal ini dimulai setelah seseorang merampungkan seluruh rangkaian manasik haji berupa gerakan, perjalanan, dan pengorbanan

Ibadah haji dianggap sebagai perjalanan hidup karena berisikan kesadaran, tobat, penyesalan, kesucian, terhapusnya kesalahan dan dosa, dan bertambahnya ibadah, ketaatan, serta perbuatan baik di satu tanah yang keridhaan dan pemberian Allah akan dilipatgandakan.

 

Ibadah Haji, Perjalanan Mati

Ibadah haji laksana sebuah perjalanan mati, dalam arti keluar dari lingkungan dunia menuju hakikat kefanaan. Perjalanan ini dimulai dengan mandi jenazah yang dilambangkan oleh salah satu sunnah ihram (mandi), lalu dilanjutkan dengan pengkafanan yang dilambangkan oleh pakaian ihram, lalu diteruskan dengan penyalatan yang dilambangkan oleh shalat dua rakaat saat ihram, lalu pelucutan diri dari perhiasan dunia yang dilambangkan oleh larangan-larangan saat ihram, kemudian proses penguburan yang dilambangkan oleh ditinggalkannya keluarga dan kaum kerabat, lalu diteruskan dengan perjumpaan dengan Allah Swt yang dilambangkan oleh kalimat talbiyah, dan diakhiri dengan kebangkitan untuk menerima ganjaran yang dilambangkan oleh harapan semua jamaah agar amalan-amalan ibadah haji mereka  diterima oleh Allah Swt.

Tidak ada perbedaan warna kulit, tidak ada hina atau mulia, miskin atau kaya, muda atau tua. Yang mulia adalah yang bertakwa, dan amal saleh adalah yang selamat. Setiap orang akan sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Semua itu dilambangkan oleh suasana di padang Arafah saat doa dan permohonan saling bersahutan.

Ibadah haji adalah perjalanan uji coba menuju kematian, tapi orang yang telah melaksanakannya akan tetap kembali pulang untuk menemui keluarga dan kerabat dekatnya. Ibadah haji mengandung pelajaran dan peringatan akan hari kiamat. Orang yang menjalankannya berarti telah meninggalkan keluarga dan kerabat dekatnya, meski pada akhirnya akan kembali menemui mereka lagi. Oleh sebab itu, sepulang dari haji, seseorang harus berpikir sejenak tentang hari yang telah dijanjikan (hari kiama). Artinya, ia harus membekali diri dengan kebajikan dan kebaikan guna menempuh perjalanan abadinya dan menyonsong hari perhitungan atas semua perbuatannya di dunia.

Ibadah Haji Antara Perjalanan Hidup dan Mati

Similar Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *