Ka’bah Qiblat Umat Muslim Dunia

Ka’bah. Dalam bahasa Arab, Ka’bah berarti ‘persegi empat’, sebagaimana diketahui bahwa bangunan Ka’bah itu berbentuk persegi empat. Adapun ukuran Ka’bah dan sekitarnya, sebagai berikut. – Tinggi Ka’bah dari dasar 15 m – Lebarnya pada arah pintu Ka’bah 11,58 m – Lebar pada bagian Hijir Ismail 10,22 m – Lebar antara Hijir Ismail dan rukun Yamani (bag. Barat) 11,93 m – Lebar antara rukun Yamani dan Hajar Aswad 10,13 m – Tinggi dasar Ka’bah dari tanah 2,00 m – Panjang pintunya 2,00 m – Letak Hijir Ismail dari tanah 1,50 m – Luas Hijir Ismail 18,34 m – Antara Ka’bah dan makam Ibrahim 11,10 m.  Diameter Ka’bah –seperti disebutkan dalam bagan- merupakan ukuran Ka’bah yang ada sekarang, yang dibangun oleh Sultan Murad, salah seorang Sultan Kerajaan Turki Usmani, selama lebih kurang satu tahun.

Pembangunan Ka’bah dilakukan karena ketika itu terjadi banjir di kota Mekkah pada hari Kamis tanggal 20 Sya’ban 1039 H. yang mengakibatkan Ka’bah runtuh. Sejak tahun 1040 H hingga kini, Ka’bah belum pernah diubah bentuk dan ukuran bangunan dasarnya. 25Abbas Kararah, Al-Din wa Tarikh al-Haramain al-Syarifain, (Mekkah: Maktabah Markaz al-Haramain al-Tijari, 1984), Sejak awal dibangunnya hingga tahun 1039 H, Ka’bah telah sepuluh kali mengalami renovasi bangunannya.

Inilah Pembangunan Ka’bah Qiblat Umat Muslim Dunia sebagaimana di bawah ini:

  • Pembangunan yang dilakukan oleh Malaikat,
  • Pembangunan yang dilakukan oleh Nabi Adam a.s.,
  • Pembangunan yang dilakukan oleh Nabi Syits,
  • Pembangunan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail,
  • Pembangunan yang dilakukan oleh Amaliqah,
  • Pembangunan yang dilakukan oleh kabilah Jurhum,
  • Pembangunan yang dilakukan oleh kabilah Mudhar,
  • Pembangunan yang dilakukan oleh kabilah Quraisy, 9. Pembangunan yang dilakukan oleh az-Zubair, 10. Pembangunan yang dilakukan oleh al-Hajiaj. Terakhir Ka’bah dibangun oleh Sultan Murad dari Turki pada tahun 1039 H.26

Menurut al-Bukhari dalam Tarikh-nya dikatakan bahwa jarak antara pembangunan Ka’bah yang dilakuan Nabi Ibrahim dan Quraisy (di masa Nabi Muhammad.) sekitar 2645 tahun. Sedangkan jarak pembangunan Ka’bah yang dilakukan oleh al-Hajiaj dan Sultan Murad adalah 699 tahun.27 Ka’bah terbuat dari batu-batu kasar berwarna hitam yang disusun dengan pola yang sangat sederhana dan celah-celahnya diisi dengan kapur berwarna putih. Muhammad Alawi al-Maliki, Fi Rihab al-Bait al- Haram, (Jeddah: Maktabah Sahr, 1985), hanyalah sebuah bangunan berbentuk kubus yang kosong. Tidak ada apa-apa! Tidak ada apapun untuk dilihat! Yang dapat disaksikan hanyalah ruang kosong berbentuk persegi empat.

Ka’bah Qiblat Umat Muslim Dunia

Tapi mengapa harus berbentuk kubus? Mengapa begitu sederhana tanpa warna dan ornamen? Karena, menurut Syari’ati, Allah Yang Maha Kuasa tidak punya ‘bentuk’, tidak berwarna dan tidak ada yang menyerupai-Nya. Tidak ada pola atau visualisasi Allah yang dapat diimajinasikan oleh manusia. Karena Maha Kuasa dan Maha Ada di mana-mana maka Allah adalah ‘mutlak’. Meskipun Ka’bah tidak mempunyai arah (karena bentuknya seperti kubus), namun, menurut Syari’ati, dengan kondisi seperti itu berlakulah universalitas dan kemutlakan bentuk Ka’bah. Ia meliputi segala arah dan semuanya serempak melambangkan ketiadaan arah, dan simbol sejati dari bentuk ini adalah Ka’bah. Sebagai simbol sejati dari Allah, Ka’bah mempunyai banyak arah namun ia tidak mempunyai arah tertentu.

Menurut Karen Armstrong, Syari’ati membawa pembacanya melalui ziarah ke Mekkah, secara perlahan mengartikulasikan konsepsi ketuhanan dinamis yang secara imajinatif harus diciptakan oleh setiap peziarah untuk dirinya masing-masing. Dengan demikian, ketika mencapai Ka’bah, jamaah haji akan menyadari mengapa tempat suci itu kosong. Ka’bah menjadi saksi pentingnya kita mentransendensi seluruh ungkapan manusia tentang yang Ilahi, yang tidak boleh menjadi tujuan akhir. Mengapa Ka’bah hanya berupa kubus yang sederhana, tanpa dekorasi dan ornamen? Karena ia mewakili “rahasia Tuhan di alam semesta: Tuhan tak berbentuk, tak berwarna, tanpa keserupaan, sehingga bentuk dan kondisi apa pun yang dipilih, dilihat atau dibayangkan manusia, itu bukanlah Tuhan.” Ibadah haji merupakan antitesis dari keterasingan yang dialami oleh banyak orang. Ia menampilkan jalan eksistensi setiap manusia yang membelokkan jalan hidupnya dan mengarahkannya kepada Tuhan.

Ka’bah Simbul Qiblat Umat Muslim Dunia

Ka’bah merupakan simbol yang diberikan pada sebutan الله بیت’ rumah Allah’. Dalam hal ini, term ‘rumah’ tidak dikonotasikan bahwa Allah berada atau menetap di sana, tetapi itu merupakan simbol keberadaan Allah dan arah dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya.

Firman Allah: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (QS. Ali Imran : 96) Orang-orang yang datang mengunjungi Baitullah (Ka’bah) disebut sebagai wafd Allah, ‘tamu Allah’.

Rasulullah saw. bersabda; “Orang-orang yang berhaji dan berumrah –ke Baitullah- adalah tamu Allah, jika mereka berdoa dikabulkan Allah, dan jika mereka meminta ampun, diampuni Allah.” (H.R. An-Nasa-i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban).

Similar Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *