Madinah dan Keberhasilan Dakwah Rasul

Madinah merupakan kisah tentang keberhasilan Nabi dalam membangun tatanan-sosial masyarakat yang adil, damai dan berkeadaban. Keberhasilan tersebut merupakan kebanggaan dan sumber inspirasi bagi umat Islam dari dulu hingga sekarang. Madinah merupakan symbol kemenangan yang dapat membangkitkan gairah solidaritas dan kebanggaan di kalangan Muslim.

Menurut Reza Aslan dalam No god but God, setidaknya ada dua kelompok yang berbeda dalam memandang Madinah. Kelompok pertama memandang Madinah sebagai model pemerintahan yang paling ideal dan telah final. Tidak ada model lain yang dapat menggantikan kedudukan Madinah. Karena itu, bagi kelompok ini, kembali kepada model Madinah merupakan sebuah keniscayaan.

Kelompok ini ingin menggunakan kekuasaan dan kewenangan yang tidak terbatas dalam menegakkan hukum Tuhan. Bahkan, mereka menganggap perang dan kekerasan sebagai warisan periode Madinah. Mereka melihat Madinah sebagai model yang sudah jadi sehingga dijadikan acuan, meskipun kita berjalan menuju ke depan.

Sebaliknya, kelompok kedua memandang Madinah sebagai model pemerintahan yang perlu dicontoh pada tataran nilai dan substansi yang membuka kemungkinan untuk dilakukan analogi dan adaptasi. Nabi memimpin penduduk Madinah dengan basis persaudaraan dan toleransi serta wibawa intelektual dan integritas. Kepemimpinan tersebut dituangkan dalam konstitusi yang dikenal dengan Piagam Madinah. Konstitusi tersebut membuktikan Islam sebagai agama yang melindungi dan menjunjung tinggi kebhinekaan dan memiliki komitmen kuat untuk membangun perdamaian sebagai prasyarat kesejahteraan dan peradaban. Karenanya Madinah merupakan salah satu model pemerintahan demokratis yang pernah ada dalam sejarah Islam yang untuk konteks hari ini diperlukan revitalisasi dan reinterpretasi.

Menjadikan Madinah sebagai model bagi pengembangan demokrasi di dunia Islam merupakan sebuah keniscayaan. Kendatipun demikian diperlukan negosiasi, adaptasi, dan akulturasi dengan perkembangan zaman dan konteks kebudayaan lokal, terutama dalam rangka menjadikan Madinah sebagai jembatan dalam membangun masyarakat yang berkeadaban, bukan masyarakat yang berlandaskan supremasi militer dan kekerasan.

Tarik-menarik antara dua pandangan tersebut harus mendapatkan penjelasan yang bersifat elaboratif dan detail, terutama dalam konteks keindonesiaan. Dari segi kebhinekaan ras dan agama, potret kehidupan di Madinah mempunyai kemiripan dengan konteks keindonesiaan. Masyarakatnya secara umum mempunyai kultur agraris dan terbagi dalam beberapa kelompok, baik dalam konteks intra-agama maupun antar-agama.

Meskipun tidak sama persis, Pancasila dan UUD 1945 yang telah disepakati oleh founding fathers adalah konstitusi yang menyerupai Piagam Madinah, terutama dalam spirit membangun kesetaraan, perdamaian, dan persaudaraan.

Jika Reza Aslan menegaskan polarisasi pandangan dalam melihat Madinah, terutama dalam konteks kekinian, tetapi yangn sangat unik di negeri ini adalah adanya kesepahaman di berbagai kelompok untuk menerima Madinah sebagai contoh dan rujukan dalam menghargai kebhinekaan. Walaupun ada beberapa kelompok mempunyai pemahaman yang berbeda, tetapi secara umum dapat menerima Piagam Madinah sebagai rujukan penting dalam membangun pemerintahan yang demokratis. Bahkan, kelompok yang menjadikan Piagam Madinah sebagai pijakan dan rujukan penting tersebut telah memilih jalur demokrasi, dan menjelma menjadi salah satu kekuatan partai politik yang lumayan besar.

Dengan demikian, kembali ke Madinah, pada hakikatnya adalah gerakan untuk menegakkan hukum, toleransi, dan menegakkan hak asasi manusia, serta mematuhi hukum yang telah menjadi kesepakatan bersama. Menarik direnungkan, meskipun Muhammad sebagai Nabi yang memperoleh wahyu dari Tuhan, namun ajarannya justru mendorong peran serta masyarakat untuk merumuskan etika dan hukum sosial berdasarkan spirit tauhid dan kemanusiaan.

Buku Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Muhammad SAW, yang ditulis oleh Zuhairi Misrawi merupakan salah satu karya penting untuk memahami Madinah sebagai cikal-bakal dari peradaban Islam. Buku ini telah mampu mengelaborasi dimensi historis dan sosiologis Madinah.

Sebagai alumnus dari Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir, penulis buku ini logis kalau pendekatannya lebih berdimensi teologis. Satu hal yang perlu diapresiasi dari karya ini, yaitu upaya yang sungguh-sungguh untuk memadukan antara khazanah Islam klasih dengan khazanah studi keislaman yang berkembang di Barat. Seperti buku sebelumnnya, Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan dan Teladan Ibrahim, buku tentang Madinah ini juga memberikan ruang yang berimbang antara perspektif keislaman klasik dan perspektif kemodernan, antara lain dengan merujuk beberapa literatur yang berkembang di Barat.

Khazanah keislaman di Barat dikenal dengan basis teori dan metodologi yang ketat, sedangkan khazanah keislaman klasik dikenal dengan sumbernya yang begitu kaya raya. Jika kedua hal tersebut dipadukan, maka akan memberikan nilai tambah bagi lahirnya karya-karya yang berkualitas, khususnya untuk konteks kalangan Muslim di tanah air. Dalam hal ini, pesan Tuhan di dalam Al-Quran, bahwa kekuasaan-Nya terbentang di Timur dan Barat (QS. Al-Baqarah [2]: 115) menemukan momentumnya. Oleh karena itu, kajian keislaman sejatinya dapat menjadikan khazanah yang terbentang luas di Timur dan Barat sebagai sesuatu yang saling menyempurnakan, bukan justru dipertentangkan. Bahkan sekarang ini tema-tema seminar dengan tema Islam and the West mulai diperkaya dengan Islam in the West.

Ditengah antusiasme umat Islam bicara demokrasi, kemajemukan dan hak asasi manusia, kajian tentang Madinah sangat relevan dikembangkan dan diperkenalkan dikalangan mahasiswa, aktivis LSM, dan politisi. Madinah perlu mendapatkan perhatian dari para cendekiawan Muslim mengingat kota ini telah memberikan warisan yang sangat berharga bagi umat Islam. Tidak hanya warisan keagamaan, tetapi juga warisan sosial politik. Bahkan, Balqis Zurayqi dalam al-Islam fi al-Madinah, memandang Madinah sebagai salah satu kota penting yang mempunyai distingsi dengan Mekkah. Jika Muhammad SAW dan pengikutnya di Mekkah diperlakukan secara diskriminatif, maka di Madinah Nabi berhasil membangun solidaritas yang bersumber dari keteladanan para pemimpinnya. Kepemimpinan yang dibangun diatas keteladanan tersebut merupakan warisan sosial politik yang sangat berharga. Konstitusi yang lahir dari konsensus amatlah penting agar setiap orang dan kelompok mempunyai pedoman dalam rangka membangun kebersamaan yang konstruktif.

Kendatipun demikian, konstitusi tersebut tidak akan berarti apa-apa jika tidak ditopang oleh kepemimpinan yang efektif. Madinah tidak hanya mengajarkan proses-proses politik yang demokratis, tetapi juga mengamanatkan perlunya nilai-nilai yang dapat dijadikan landasan dalam menempuh kehidupan masyarakat yang berkeadilan dan berkeadaban. Karena itu, kepemimpinan yang diharapkan adalah kepemimpinan yang tidak hanya mengedepankan kepentingan faksi-faksi politik dalam kaitannya dengan kelompok mayoritas-minoritas, tetapi dalam rangka mewujudkan kemaslahatan bersama.

 

Similar Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *