Ketentuan Dan Hikmah Ibadah Haji dan Umroh

Biaya Umroh Desember

Ketentuan Dan Hikmah Ibadah Haji dan Umroh. Bahasan seputar kententuan dan hikmah ibadah haji dan umroh selayaknya menjadi perhatian serius para jamaah haji dan umroh. Karena bahasan ini menyangkut pengertian, hukum, wajib, rukun, dan syarat dari pelaksanaan ibadah haji dan umroh. Pengetahuan seputar ketentuan dan hikmah ibadah haji dan umrah seperti wajib dipahami bagi para calon jamaah haji dan umroh.

Penjelasan lebih lengkapnya diuraiakn dibawah ini:

  1. Ibadah Umroh
  2. Ibadah Haji
  3. Pelaksanaan Manasik Haji dan Umroh
  4. Haji tamattu’
  5. Haji ifrad
  6. Haji qiran

 

IBADAH UMROH

1. Pengertian Umroh

Umroh ialah berkunjung ke Baitullah untuk melakukan thawaf, sa’i, dan bercukur demi mengharap ridha Allah Swt.

2. Hukum Umroh

Hukum umroh wajib sekali seumur hidup. Umroh dilakukan dengan niat berihram dari miqat, kemudian thawaf, sa’i, dan diakhiri dengan memotong rambut/bercukur (tahallul umroh) dan dilaksanakan dengan berurutan (tertib). Umroh terbagi menjadi 2 (dua), umroh wajib dan umroh sunat.

  1. Umroh wajib ialah:
  • 1).   Umroh yang pertama kali dilaksanakan disebut juga umratul Islam.
  • 2).   Umroh yang dilaksanakan karena nazar.
  1. Umroh sunat ialah umroh yang dilaksanakan setelah umroh wajib baik yang kedua kali dan seterusnya dan bukan karena nazar.

3. Waktu Mengerjakan Umroh

Umroh dapat dilaksanakan kapan saja, kecuali ada beberapa waktu yang dimakruhkan melaksanakan umroh bagi jemaah haji, yaitu pada saat jemaah haji wukuf di Padang Arafat pada   hari   Arafah,   hari   Nahr   (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyriq.

4. Syarat, Rukun dan Wajib umroh

  • Syarat Umroh
  • 1).   Islam
  • 2).   Baligh (dewasa)
  • 3).   Aqil (berakal sehat)
  • 4).   Merdeka (bukan hamba sahaya)
  • 5).   Istitha’ah (mampu)

Bila tidak terpenuhi   syarat ini, maka gugurlah kewajiban umroh seseorang.

  • Rukun umroh
  • 1).   Ihram (niat)
  • 2).   Thawaf
  • 3).   Sa’i
  • 4).   Cukur
  • 5).   Tertib  (melaksanakan  ketentuan manasik sesuai aturan yang ada). Rukun umroh tidak dapat ditinggalkan. Bila tidak terpenuhi, maka umrohnya tidak sah.
  • Wajib umroh

Wajib umroh ialah berihram dari Miqat. Apabila dilanggar maka ibadah umrohnya tetap sah tetapi harus membayar dam.

  • Miqat makani untuk umroh bagi jemaah haji:
  • 1). Jemaah haji yang tiba di Madinah gelombang I adalah di Bir Ali (Dzulhulaifah).
  • 2) Jemaah haji gelombang II adalah di atas Yalamlam/Bandar Udara King Abdul Aziz Jeddah.
  • 3) Jemaah haji yang sudah berada di Makkah ialah : Ji’ranah, Tan’im, Hudaibiyah, dan tanah halal lainnya.

Hikmah  Miqat  Zamani  dan  Miqat Makani

Miqat Zamani adalah ketentuan waktu  untuk melaksanakan  ibadah haji, sedangkan Miqat Makani adalah ketentuan tempat di mana seseorang harus memulai niat haji atau umroh. Kedua miqat  tersebut  mengisyaratkan  bahwa haji mengandung nilai ibadah yang besar, dan perlunya memperhatikan waktu dan tempat dalam melaksanakan ibadah haji. Seseorang yang akan berhasil memiliki nilai kemuliaan dalam ibadah hajinya manakala dia dapat memperhatikan ketentuan waktu dan tempat, kapan dan di mana amalan ibadah haji yang rukun dan wajib dapat dimulai dan diakhiri.

4. Tahallul Umroh

Tahallul umroh adalah keadaan seseorang   yang telah dihalalkan (dibolehkan) melakukan perbuatan yang sebelumnya dilarang selama berihram umroh ditandai dengan mencukur rambut.

5. Hikmah Umroh

Sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu bahwa ibadah umroh merupa- kan kewajiban tersendiri yang dibebankan kepada setiap Umat Islam yang mampu (isthitha’ah).

Adapun hikmah yang dapat diraih dalam pelaksanaan umroh ini adalah ridho Allah Swt. dan ampunan-Nya sebagaimana di dalam sabda Rasulullah Saw.:

Artinya:

Dari   Abu   Hurairah,   Rasulullah Saw. bersabda: Antara satu ibadah umroh dengan umroh yang lain merupakan penghapus dosa dari dosa dan kesalahan yang diperbuat di antaranya. (Mutafaq ’Alaih).

 

IBADAH HAJI

1. Pengertian Haji

Haji adalah berkunjung ke Baitullah (Ka’bah)  untuk  melakukan beberapa amalan antara lain: wukuf, mabit, thawaf, sa’i, dan amalan lainnya pada masa tertentu, demi memenuhi panggilan Allah Swt. dan mengharapkan ridha-Nya.

2. Hukum Haji

Ibadah haji diwajibkan bagi kaum muslimin yang telah mencukupi syarat-syaratnya.  Ibadah  haji diwajibkan hanya  sekali seumur hidup.      Selanjutnya  baik yang kedua atau seterusnya Hukumnya sunat.  Akan tetapi  bagi mereka yang bernazar haji menjadi wajib melaksanakannya.

3. Waktu Mengerjakan Haji

Ibadah  haji  dilaksanakan  pada  bulan haji (Dzulhijjah), yaitu pada saat jemaah haji wukuf di Padang Arafat pada hari Arafah  (9  Dzulhijjah),  hari  Nahr  (10 Dzulhijjah) dan hari-hari Tasyriq (11 s.d. 13 Dzulhijjah).

 

4. Syarat, Rukun dan Wajib Haji

Syarat Haji adalah:

  • 1).   Islam
  • 2).   Baligh (dewasa)
  • 3).   Aqil (berakal sehat)
  • 4).   Merdeka (bukan hamba sahaya)
  • 5).   Istitha’ah (mampu)

 

Istitha’ah artinya mampu, yaitu mampu melaksanakan ibadah haji ditinjau dari segi:

  • a).   Jasmani: Sehat dan kuat, agar tidak sulit melaksanakan ibadah haji.
  • b).   Rohani:
  • (1) Mengetahui dan memahami manasik haji.
  • (2)  Berakal sehat dan me- miliki kesiapan mental untuk melaksanakan ibadah haji dengan perjalanan yang jauh.

c).   Ekonomi:

(1) Mampu    membayar    Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) yang ditentukan oleh pemerintah yang berasal dari usaha/harta yang halal.

(2)  BPIH bukan berasal dari satu- satunya sumber kehidupan yang apabila dijual  menyebabkan kemudaratan bagi diri dan keluarganya.

(3) Memiliki biaya hidup bagi keluarga yang ditinggalkan.

d).   Keamanan:

  • (1) Aman dalam perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji.
  • (2)  Aman bagi keluarga dan harta benda serta tugas dan tanggung jawab yang ditinggalkan.
  • (3)  Tidak terhalang seperti pence- kalan/mendapat kesempatan atau izin  perjalanan haji termasuk mendapatkan kuota tahun berjalan.

 

5. Rukun Haji

Rukun haji ialah rangkaian amalan yang harus dilakukan dalam ibadah haji dan tidak dapat diganti dengan yang lain, walaupun dengan dam. Jika ditinggalkan maka tidak sah hajinya.

  • 1).   Ihram (niat)
  • 2).   Wukuf di Arafat
  • 3).   Thawaf ifadhah
  • 4).   Sa’i
  • 5).   Cukur
  • 6).   Tertib

 

6. Wajib Haji

Wajib haji ialah rangkaian amalan yang harus dikerjakan dalam ibadah haji, bila tidak dikerjakan sah hajinya akan tetapi harus membayar dam; berdosa jika sengaja meninggalkan dengan tidak ada uzur syar’i.

  • 1)    Ihram, yakni niat berhaji dari Miqat
  • 2)    Mabit di Muzdalifah
  • 3)    Mabit di Mina
  • 4)    Melontar Jamrah Ula, Wustha dan Aqabah.
  • 5) Thawaf   wada’   (bagi   yang   akan meninggalkan Makkah).

 

7. Hikmah Haji

Ibadah  haji  sebagai  salah  satu  rukun Islam yang merupakan penutup dan penyempurna  dari  keislaman  seseorang di  hadapan  tuhannya.  Hikmah  ibadah haji   ini   sangat   banyak   sekali   yang dapat diperoleh oleh orang-orang yang melaksanakan ibadah haji sesuai dengan tata urutan rukun dan wajib haji yang dilaksanakannya. Hikmah tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari- harinya,  namun  secara  umum  hikmah haji dapat membebaskan seseorang dari dosa-dosa yang pernah di perbuatnya sehingga kembali ke ¿ trah kesuciannya sebagaimana ia waktu dilahirkan dari rahim ibunya, sesuai sabda Rasulullah Saw.:

Artinya:

Barang siapa yang melaksanakan haji karena Allah dengan tidak berbuat rafats (kata-kata   kotor)   dan   tidak   berbuat fusuk (durhaka), maka ia kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya (tanpa dosa). (HR. Bukhari dan Muslim).

Kesucian ke¿ trahan sebagaimana disebutkan dalam hadits tersebut akan menghantarkan seseorang       kepada kenikmatan surga sesuai yang disabdakan Rasulullah Saw.

Artinya:

Haji yang mabrur tiada imbalan yang setara   kecuali   surga.   (HR.   Mutafaq ’Alaih).

 

PELAKSANAAN MANASIK HAJI DAN UMROH

Haji Tamattu’

Haji dengan cara tamattu’ ialah mengerjakan umroh terlebih dahulu, baru mengerjakan haji. Cara ini wajib membayar dam.

  1. Pelaksanaan Umroh
  • Pelaksanaan ihram umroh dengan   mengambil   miqat   di Bir Ali  Madinah  bagi  jemaah haji   gelombang I dan di atas Yalamlam / di Bandar Udara King Abdul Aziz Internasional Jeddah bagi jemaah haji gelombang II dengan urutan sebagai berikut :

1).   Bersuci dengan mandi dan berwudhu.

  • Hikmah disunatkan mandi sebelum niat (ihram), mengisyaratkan bahwa seseorang yang dipanggil Allah Swt. untuk datang ke Baitullah seyogyanya dalam keadaan yang sempurna yaitu bersih badannya, hatinya, dan lisannya dari kotoran yang melekat, baik lahiriyah maupun batiniyah.

2). Berpakaian Ihram, jika keadaan me-mungkinkan melaksanakan shalat sunat ihram.

  • Hikmah disyariatkan melepas pakaian, hanya memakai  pakaian ihram, hal ini menggambarkan    keadaanorang yang meninggal, yang harus melepaskan urusan dunia hanya dengan berpakaian kain kafan. Ketika Nabi Musa As. munajat kepada Allah Swt., dia diperintahkan untuk melepaskan pakaiannya (kedua sandalnya) sebagai lambang pakaian dunia. Allah Swt. ber¿ rman:
  • Artinya:
  • Sesungguhnya aku Tuhanmu, maka tinggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. (QS. Toha: 12).
  • Demikian pula orang yang melaksanakan haji,  di  mana  ia  datang  di  atas  bumi yang bersih dan suci, harus melepaskan kebiasaan yang kurang baik untuk mengagungkan kebesaran Allah Swt.

3).   Niat dengan mengucapkan:

  • Artinya:
  • Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berumroh.
  • Artinya:
  • Aku niat umroh dengan berihram karena Allah Ta’ala.

4). Setelah niat umroh dan selama dalam perjalanan menuju Makkah, dianjurkan membaca talbiyah, shalawat, dan do’a sampai hendak memulai thawaf.

 

Talbiyah, shalawat, dan do’a.

a).   Talbiyah

Artinya:

Aku datang memenuhi panggilan- Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu.  Sesungguhnya segala puji, kemuliaan dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.

b).   Shalawat

Artinya:

Ya Allah limpahkan rahmatdan salamkepada  Nabi Muhammad dan keluarganya.

Artinya:

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keridhaan-Mu dan surga-Mu, kami berlindung kepada-Mu dari kemurkaan- Mu dan siksa neraka. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan hindarkanlah kami dari siksa neraka.

c) Hikmah Disyariatkan Talbiyah

Talbiyah adalah jawaban atas panggilan Allah Swt. untuk melaksanakan haji yang diucapkan ketika memasuki ihram haji atau umroh. Seseorang yang mengucapkan talbiyah harus didahului dengan sikap yang tulus/ikhlas, ongkos atau biaya hajinya/umrohnya diperoleh dari harta yang halal, hatinya bersih dari sifat riya, sombong, dan ingin dipuji. Tunjukkan perasaan khudhu’ (merendahkan diri) kepada Allah  Swt.  untuk  menyaksikan keagungan dan kebesaran-Nya. Rasulullah Saw. bersabda:

Artinya:

Ketika seorang yang akan berhaji keluar dari  rumah  dengan  nafakah  (ongkos haji) yang baik (halal) kemudian dia meletakkan kakinya di atas kendaraan lalu mengucapkan ”Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu”, akan ada seseorang yang   memanggil   dari   langit,   ”Aku sambut panggilanmu dan kebahagiaan yang tiada tara untukmu, bekalmu dari yang halal dan kendaraanmu halal, hajimu mabrur tidak tercampur dengan dosa”.   Dan   apabila   seorang   yang akan berhaji keluar dari rumah dengan

bekal yang haram maka ketika dia naik kendaraan lalu mengucapkan ”Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah” tiba- tiba terdengar suara dari langit ”tidak, aku tidak menyambut panggilanmu dan engkau tidak mendapatkan kebahagiaan, bekalmu dari harta yang haram dan nafkahmu haram, hajimu, tidak mabrur”. (HR Al-Tabarani).

 

5).   Masuk Makkah dan berdo’a.

6).   Masuk  Masjidil  Haram  melalui  pintu yang mana saja dan berdo’a.

7).   Melihat Ka’bah dan berdo’a.

8).   Ketika melintas di Maqam Ibrahim waktu hendak mulai thawaf disunatkan berdo’a.

 

Thawaf

a).   Syarat sah thawaf:

  • (1)  Suci dari hadats dan najis.
  •  (2)  Menutup aurat.
  • (3)  Berada di dalam Masjidil Haram
  • (4)  Memulai dari Hajar Aswad.
  • (5)  Ka’bah berada di sebelah kiri.
  • (6)  Di luar Ka’bah (tidak di dalam Hijir Ismail).
  • (7)  Mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran.
  • (8)  Niat tersendiri, kalau thawafnya itu berdiri sendiri, tidak terkait dengan haji dan umroh

b).   Tempat mulai thawaf adalah searah Hajar  Aswad.  Bila  tidak  mungkin mencium Hajar  Aswad    cukup dengan mengangkat tangan ke arah Hajar Aswad dan mengecupnya. Pada saat memulai thawaf putaran pertama mengangkat   tangan   ke arah  Hajar Aswad  dan  disunatkan menghadap Ka’bah dengan sepenuh badan, apabila tidak mungkin, cukup dengan menghadapkan sedikit badan ke  Ka’bah.  Pada  thawaf  putaran kedua dan seterusnya cukup dengan menghadapkan muka  ke  arah Hajar  Aswad  dengan  mengangkat tangan   dan   mengecupnya   sambil mengucapkan:

Artinya:

Dengan  nama  Allah  dan  Allah  Maha Besar.

c).  Pelaksanaan thawaf sebanyak 7 (tujuh) kali putaran mengelilingi Ka’bah dengan memposisikan Ka’bah sebelah kiri badan. Selama thawaf disunatkan berdo’a dan berzikir.

READ :  Paket Umroh Murah 2018, 2019, 2020 di Banda Aceh Mulai Rp19,9 Juta Start Jakarta

d). Setiap  sampai  di  Rukun  Yamani mengangkat tangan (istilam)  tanpa mengecup dan mengucapkan:

Artinya:

Dengan nama Allah, Allah Maha Besar.

e). Usahakan  thawaf  beregu  atau berombongan.

f).  Selama thawaf  jangan menyentuh Ka’bah, Hijir Ismail, dan Syadzarwan.

g). Sesudah   thawaf   apabila   keadaan memungkinkan hendaknya:

  • (1) Berdo’a di Multazam, yaitu suatu tempat di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.
  • (2)  Shalat sunat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim atau sekitarnya, dan sesudah shalat berdo’a.
  • (3)  Setelah selesai shalat sunat thawaf sebaiknya minum air zamzam di tempat yang telah disediakan (kran dan galon) kemudian berdo’a. Jika situasi dan kondisi di sekitar Hajar Aswad sangat padat jangan memaksakan diri untuk mencium Hajar Aswad dengan berdesakan. Karena berdesakan  antara lelaki dan perempuan dengan mengabaikan keselamatan diri sendiri dan orang lain hukumnya haram, terlebih lagi    dengan membayar kepada seseorang.
  • (4) Setelah selesai thawaf menuju ke bukit Shafa untuk melakukan sa’i. Shalat sunat Hijir Ismail adalah shalat sunat mutlak yang tidak ada kaitannya dengan thawaf dan dapat dilaksanakan kapan saja bila keadaan memungkinkan.

 

Hikmah Thawaf

Thawaf artinya mengitari/mengelilingi. Thawaf merupakan salah satu ibadah yang hanya dilakukan di Baitullah, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran yang dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad. Firman Allah Swt.:

Artinya:

Hendaklah mereka thawaf di sekeliling Bait al-Atiq (Ka’bah). (QS. al-Hajj: 29).

 

Thawaf membawa pesan maknawi berputar pada poros bumi yang paling awal dan paling dasar. Perputaran tujuh keliling bisa diartikan sama dengan jumlah hari yang beredar mengelilingi kita dalam setiap minggu. Lingkaran pelataran Ka’bah merupakan arena pertemuan dan bertamu dengan Allah Swt. yang dikemukakan dengan do’a dan dzikir dan selalu dikumandangkan selama mengelilingi Ka’bah. Agar kita mengerti dan menghayati hakikat Allah dan manusia sebagai makhluk-Nya, hubungan manusia dengan Pencipta dan ketergantungan manusia akan Tuhannya.

Thawaf bagai mengajak kita untuk mengikuti perputaran waktu dan peredaran peristiwa, namun  tetap  berdekatan  dengan Allah  Swt. Dengan  menempatkan  Allah  pada  tempat yang semestinya dan menjadikan diri hamba- Nya yang penuh taat dan tunduk pada Allah Swt. yang Maha Agung.

Dari sisi lain, Ka’bah merupakan simbol berkumpul  (matsabatan).  Orang  berkumpul di Ka’bah dalam rangka melakukan thawaf, bukan hanya berkumpul secara ¿ sik, tetapi roh dan jiwa bersatu, yaitu menghadap dan menuju Allah Swt. Jadi, setiap orang thawaf diharap- kan tidak hanya selalu mengelilingi Ka’bah dengan  tidak  menghayati  pekerjaannya, tetapi mengkonsentrasikan perlakuan dan pernyataan kepada Allah Swt. dalam hadits Nabi Muhammad Saw dijelaskan:

 

Artinya:

Dari   Ali   Ibn   Abu   Thalib   berkata, Aku mendengar Nabi Saw. berkata kepada Abu Hurairah: ”Engkau akan menemukan orang yang lupa dan lalai ketika melaksanakan thawaf, thawaf mereka  itu  tidak  diterima  Allah  dan amal itu tidak diangkat (dihitung) Allah. Hai Abu  Hurairah:  Jika kamu  melihat mereka berbaris-baris (thawaf), maka bubarkanlah barisannya, dan katakanlah kepada mereka: thawaf ini tidak diterima oleh Allah dan amal yang tidak diangkat (dihitung) Allah.”

Berputar (mengelilingi) berarti bergerak, bergerak sebagai pertanda kehidupan. Kondisi kehidupan terus berputar di antara manusia, jatuh bangun, kaya miskin mewarisi ke- hidupan manusia silih berganti. Dikatakan bahwa selagi masih ada orang thawaf, maka kiamat tidak akan terjadi. Hari kiamat baru akan terjadi manakala sudah tidak seorang pun yang thawaf mengelilingi Ka’bah di mana langit akan runtuh menimpa bumi. Thawaf pada lahirnya ialah mengelilingi Ka’bah, bangunan dari batu-batu hitam, tetapi pada hakikatnya kita mengelilingi yang punya bangunan itu, Rabbul Bait yang Maha Agung. Yang mengelilingi adalah batin kita, hati kita walau sudah di luar thawaf tetap sadar bahwa kita lahir di dunia atas kehendak Allah. Hidup kita selalu bersama Allah Swt. (ahya wa amut), dan pada akhirnya kita akan kembali kepada Allah Swt.

Thawaf   juga   mengingatkan   kita   kepada orang yang membangun Ka’bah adalah Nabi Ibrahim As.  bersama  putranya  Isma’il As., yang menguatkan keyakinan bahwa Islam yang kita anut ini merupakan kelanjutan dari yang pernah diajarkan oleh Nabi Ibrahim As.

Shalat sunat dua rakaat setelah thawaf di belakang Maqam Ibrahim (tempat berdiri Nabi Ibrahim As. ketika membangun Ka’bah),  yang  dilakukan  sebelum berdoa di Multazam jika mungkin, juga mengingatkan adanya hubungan agama yang disampaikan Nabi Muhammad Saw. dengan agama yang disampaikan Nabi Ibrahim As.  Perbuatan  yang  dilakukan dalam thawaf makin mengukuhkan keimanan dan ketauhidan kaum muslimin serta memantapkan ke Islamannya.

 

Hikmah Mencium Hajar Aswad

Mencium Hajar Aswad sunat bagi orang laki-laki. Mencium Hajar Aswad itu mengikuti amaliah yang dilakukan oleh Nabi  Ibrahim As.,  dan  juga  dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Nilai yang menonjol dalam mencium Hajar Aswad adalah nilai kepatuhan mengikuti Sunnah Rasul. Dalam hubungan ini riwayat tentang sahabat Umar Ra. ketika mencium Hajar Aswad mengatakan:

 

Artinya:

Umar RA. berkata: “Sungguh aku mengetahui engkau hanyalah batu, sekiranya aku tidak melihat kekasihku Rasulullah Saw. telah menciummu dan mengusapmu, niscaya aku tidak akan mengusapmu dan menciummu.” (HR. Ahmad).

Dalam riwayat lain, bahwa Umar menghampiri Hajar Aswad, kemudian menciumnya seraya mengatakan:

Artinya:

Sungguh aku mengetahui bahwa engkau hanyalah batu, kamu tidak mampu memberi mudharat maupun manfaat, sekiranya aku tidak melihat Rasulullah Saw. menciummu niscaya aku tidak akan menciummu. (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Saw. telah memberikan tuntunan dalam bersikap  terhadap Hajar Aswad sangat bijaksana. Jika mungkin, orang thawaf supaya mencium Hajar Aswad. ika tidak    mungkin cukup menyentuhnya dengan tangan. Kemudian   mencium   tangannya   yang telah menyentuh Hajar Aswad  itu.  Jika tidak   mungkin   cukup   berisyarat   dari jauh, dengan tangan atau tongkat yang dibawa kemudian menciumnya. Dengan demikian mencium Hajar Aswad itu mencerminkan sikap kepatuhan seorang muslim mengikuti tuntunan   Rasulullah Saw.

 

Sa’i

a).   Syarat sah sa’i:

  • (1)  Didahului dengan thawaf.
  • (2) Dimulai dari bukit Shafa dan berakhir di bukit Marwah.
  • (3) Memotong / memutus setiap perjalanan antara Shafa dan Marwah.
  • (4)  Menyempurnakan 7 (tujuh) kali perjalanan.
  • (5)  Dilaksanakan di tempat Sa’i.
  • a).Sa’i   tidak   disyaratkan   suci   dari hadast besar dan hadast kecil.
  • b).   Berdo’a   ketika   hendak   mendaki bukit Shafa.
  • c). Setibanya di atas bukit Shafa menghadap kiblat dan berdo’a.
  • d).   Memulai perjalanan sa’i dari bukit Shafa menuju bukit Marwah dan berdo’a.
  • e). Perjalanan yang dimulai dari bukit Shafa dan diakhiri di bukit Marwah sebanyak tujuh kali perjalanan.
  • f). Perjalanan dari bukit Shafa ke Marwah dihitung satu kali perjalanan, demikian juga dari bukit Marwah ke bukit Shafa dihitung satu kali perjalanan, sehingga hitungan ketujuh berakhir di Marwah.
  • g).  Setiap melintasi antara dua pilar hijau (lampu hijau), khusus bagi laki-laki disunatkan berlari-lari kecil, dan bagi perempuan cukup berjalan biasa sambil berdo’a.
  • h).  Setiap mendaki bukit Shafa dan bukit Marwah dari ketujuh perjalanan sa’i tersebut hendaklah membaca do’a.

 

 Hikmah Sa’i

Kata sa’i artinya usaha, yang bisa pula dikembangkan artinya berusaha dalam hidup, baik pribadi, keluarga, maupun masyarakat.   Pelaksanaan   sa’i   antara bukit Shafa dan Marwah melestarikan pengalaman Siti Hajar (Ibu Nabi Ismail As.) ketika mondar-mandir antara dua bukit itu  untuk  mencari  air minum bagi  dirinya dan puteranya, di saat beliau kehabisan air  dan  keringatnya  pun  kering,  di  tempat yang sangat tandus, dan tiada seorang pun dapat dimintai pertolongan.

Nabi     Ibrahim As., suami Siti Hajar dan ayahanda Nabi Ismail As. tidak berada di tempat, berada di tempat yang sangat jauh di Negeri Syam. Kasih sayang seorang ibu yang mendorong Siti Hajar mondar mandir antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 (tujuh) kali. Jarak antara bukit Shafa dan Marwah ± 400 meter. Sehingga Siti Hajar menempuh jarak hampir 3 km. Akhirnya Allah memberi  nikmat berupa  mengalirnya mata air Zamzam. Pada peristiwa ini digambarkan bagaimana kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang harus menjadi teladan bagi kaum muslimin. Sa’i memberikan makna sikap optimis dan usaha yang keras serta penuh kesabaran dan tawakkal kepada Allah Swt. Kesungguhan yang dilakukan oleh Siti Hajar dengan 7 (tujuh) kali perjalanan memberikan arti bahwa hari-hari kita yang berjumlah tujuh hari setiap minggunya haruslah diisi dengan penuh usaha dan kerja keras. Pekerjaan yang dilakukan de- ngan sungguh-sungguh sangat disenangi

Artinya:

Dari ’Aisyah RA. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: Sungguh, Allah sangat senang jika salah satu di antara kalian melakukan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh. (HR. al-Thabrani).

 

Dengan menghayati dan meresapi syari’at sa’i akan muncullah di dalam diri kita sikap-sikap positif menghadapi berbagai tantangan hidup, antara lain: kerja keras, optimis, kesungguhan, keikhlasan, kesabaran, dan tawakkal.

 

Hikmah Berjalan Cepat (Setengah Lari)

Ramal adalah jalan cepat. Salah satu hikmah disyari’atkan berjalan cepat  adalah untuk menunjukkan kepercayaan diri, keyakinan, kekuatan dan kebesaran kaum muslimin serta keluhuran agama mereka, sekaligus menakut-nakuti orang-orang musyrik dan kafir pada waktu itu.

Dikisahkan tatkala Rasulullah Saw. dan sahabat memasuki kota Makkah sesudah hijrah, maka orang-orang Quraisy berkumpul di Darun Nadwah melihat orang-orang Islam sambil mengejeknya dan menganggap lemah mereka, seraya menyatakan, “Demam Yatsrib (Madinah) sudah melemahkan mereka”. Rasul lalu menyampaikan kepada sahabat:

 

Artinya:

Berlari-lari kecillah mengelilingi Ka’bah tiga kali supaya orang-orang musyrik menyaksikan kekuatan kamu. (HR. Ahmad).

 

Bercukur/memotong rambut (tahallul).

Dengan selesainyasa’i kemudian bercukur/memotong   rambut   (tahallul) maka   selesailah   pelaksanaan   umroh. Ketentuan cara memotong rambut adalah:

  • a). Bagi laki-laki dengan memotong sebagian  rambut   kepala  atau mencukur.  Jika  mencukur  dimulai dari  separuh  kepala  bagian  kanan kemudian separuh bagian kiri.
  • b).  Bagi perempuan hanya memotong sebagian rambut kepala (minimal 3 helai).
  • c). Bagi  jemaah  yang  tidak  tumbuh rambut kepala (botak), cukup dengan menempelkan pisau cukur/gunting sebagai isyarat mencukur/memotong rambut.

 

Hikmah Bercukur:

Mencukur rambut adalah penegasan dan realisasi akan selesainya masa ihram. Sedangkan perintah   untuk   mencukur rambut (tahallul) adalah agar kotoran yang melekat pada rambut menjadi hilang karena rambut kepala berfungsi menjaga otak dari berbagai penyakit dan otak yang  sehat akan membuahkan pemikiran yang positif. Mencukur rambut hanya dipe- rintahkan   kepada   kaum   laki-laki   se- dang perempuan tidak wajib, hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad Saw:

Artinya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada keharusan bagi perempuan untuk bercukur (dalam tahallul), akan tetapi diharuskan untuk memotong (rambut kepala). (HR. Abu Dawud).

 

Pelaksanaan Ibadah Haji

Pada tanggal 8  Dzulhijjah jemaah haji yang melaksanakan haji tamattu’ mempersiapkan pelaksanaan hajinya dengan mengambil miqat di pemondokan

Makkah. Dengan kegiatan sebagai berikut:

1).   Di Makkah

  • (a)   Bersuci yaitu mandi dan berwudhu
  • (b) Berpakaian ihram, jika keadaan memungkinkan melaksanakan shalat sunat ihram.
  • (c)   Niat dengan mengucapkan:

 

Artinya:

Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah untuk berhaji.

Atau mengucapkan:

Artinya:

Aku niat haji dengan   berihram karena Allah Ta’ala.

  • (d) BerangkatmenujuPadangArafatpada tanggal 8 Dzulhijjah. Keberangkatan lebih awal ini sebagai persiapan dan demi menjaga kelancaran dan kema- slahatan jemaah, mengingat jumlah  jemaah haji yang sangat besar. Bagi jemaah yang ingin ke Mina pada hari Tarwiyah agar berkoordinasi dengan Maktab dan Ketua Kloter.
  • (e) Membaca talbiyah, shalawat, dan berdo’a (lafaznya sama seperti ketika waktu umroh).
  • (f) Waktu   masuk  Padang  Arafat hendaknya berdo’a.

 

2).   Di Padang Arafat

(a)   Di Arafat (pada tanggal 8 Dzulhijjah hingga 9 Dzulhijjah    menjelang wukuf):

  • (1)  Menunggu waktu wukuf dengan berzikir, tasbih dan membaca Al-Qur’an.
  • (2)  Memperbanyak bacaan talbiyah dan berdo’a.

(b)  Wukuf tanggal 9 Dzulhijjah dimulai ba’da zawal hingga terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Kadar lama wukuf menurut   Mazhab   Sya¿ ’i cukup   sesaat   baik   siang  maupun  malam. Menurut Mazhab Maliki dan Mazhab Hana¿ wukuf harus menemui waktu siang dan waktu malam. Kegiatan wukuf adalah:

  • (1)  Didahului dengan mendengarkan khutbah wukuf.
  • (2)  Shalat Zhuhur dan Ashar jama’ taqdim qasar, dilanjutkan dengan melaksanakan wukuf.
  • (3)  Selama wukuf memperbanyak talbiyah, zikir, membaca Al-Qur’an dan berdo’a.
  • (4)  Wukuf diakhiri dengan shalat Maghrib dan Isya’ jama’ taqdim dan qasar, selanjutnya bersiap-siap menuju Muzdalifah.
READ :  Paket Umroh Murah 2018, 2019, 2020 di Demak Mulai Rp19,9 Juta Start Jakarta

 

Hikmah Wukuf

Makna Wukuf adalah berhenti, diam tanpa bergerak. Makna istilahnya ialah berkumpulnya semua jemaah haji di Padang Arafat pada tanggal 9 Dzulhijah, hari itu adalah puncaknya ibadah haji dan wukuf adalah sebesar-besar rukun haji. Seperti dinyatakan oleh Rasulullah Saw:

 

Artinya:

Haji adalah (wukuf) pada hari Arafah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika dikaitkan dengan thawaf, maka setelah kehidupan  diwarnai  dengan  gerakan,  maka pada suatu saat gerakan itu akan berhenti. Manusia suatu saat jantungnya akan berhenti berdetak,  matanya  akan  berhenti  berkedip, kaki dan tangannya akan berhenti melangkah dan berkeliat. Ketika semua yang bergerak itu berhenti, maka terjadilah kematian, dan manusia sebagai mikro kosmos pada saatnya nanti akan dikumpulkan di Padang Mahsyar, maka Padang Arafat menjadi lambang dari Padang Mahsyar. yang digambarkan dalam sebuah Hadist Nabi ”pada hari di mana tidak ada lagi pengayoman selain pengayoman-Nya”.

Padang Arafat adalah lokasi tempat berkumpulnya jemaah haji. Arafat adalah lambang dari maqam ma’rifah billah yang memberikan     rasa     dan   citra bahagia bagi ahli ma’rifah yang tidak dapat dirasakan oleh sebagian besar para jemaah yang wukuf. Di Arafatlah tempat berkumpulnya jemaah haji yang datang dari berbagai penjuru dunia,  yang  berbeda-beda bahasa dan warna kulitnya, tetapi mereka mempunyai satu tujuan yang dilandasi persamaan, tidak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin, antara yang besar dan kecil, antara pejabat dan rakyat biasa, di situlah tampak nyata persamaan yang hakiki. Arafat yang menjadi sepenting-penting syiar haji diambil dari kata ta‘aruf yang artinya saling mengenal dan saling mengenal itu adalah menuju saling menolong, saling membantu di antara mereka. Mu’tamar akbar ini masih akan berlanjut jika para jemaah haji berkumpul di Mina, alangkah hebatnya peristiwa ini, karena setiap tahun akan berulang sampai hari kiamat tiba.

 

Arafat Tempat Pembebasan

Wukuf  di  Padang  Arafat  bagi  jemaah  haji yang hanya diberi kesempatan waktu sejak tergelincir matahari tanggal 9 Dzulhijjah itu mempunyai arti yang sangat penting bagi jemaah  haji.  Pada  hari Arafah  jemaah  haji dari berbagai penjuru dunia berkumpul di satu tempat untuk melaksanakan rukun haji yang menentukan sah atau tidaknya ibadah haji.

Setelah wukuf dilakukan, jemaah haji merasakan bebas dari beban dosa kepada Allah  yakin do’anya dikabulkan, dorongan untuk melakukan kebaikan lebih banyak terasa sangat kuat, dan rahmat Allah Swt. pun dirasakan menentramkan jiwanya. Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Saw. disebutkan:

 

Artinya:

Nabi Muhammad Saw wukuf di Arafat, di saat matahari hampir terbenam, Beliau berkata:“Wahai Bilal suruhlah ummat   manusia   mendengarkan   saya.

”Maka Bilal pun berdiri seraya berkata, “Dengarkanlah Rasulullah Saw”   maka mereka mendengarkan, lalu Nabi bersabda:  “Wahai  umat  manusia, baru saja Jibril AS. datang kepadaku, maka dia membacakan  salam dari Tuhanku, dan dia mengatakan: “Sungguh  Allah Swt. mengampuni dosa-dosa orang-orang yang berwukuf di Arafat, dan orang-orang yang bermalam di Masy’aril Haram (Muzdalifah), dan menjamin membebaskan mereka dari tuntutan balasan dan dosa-dosa mereka. Maka Umar ibn Khattab pun berdiri dan bertanya, Ya Rasulullah, apakah ini khusus untuk kita saja? Rasulullah menjawab, Ini untukmu dan untuk orang-orang yang  datang sesudahmu hingga hari kiamat kelak. Umar RA. pun lalu berkata, Kebaikan Allah sungguh banyak dan Dia Maha Pemurah. (HR. Ibnu Mubarik dari Sufyan al- Tsauri dari Zubair ibn Uday dari Anas).

Dalam hadits lain, Nabi Muhammad Saw. mengatakan:

Artinya:

Tiada hari yang lebih banyak Allah membebaskan seorang hamba dari neraka selain dari Hari Arafah. (HR. Muslim).

 

(c)   Berangkat menuju Muzdalifah:

  • (1)  Sesudah  Shalat  Maghrib  dan Isya  meninggalkan Arafat menuju Muzdalifah, dan akhir waktunya adalah sebelum fajar tanggal 10 Dzulhijjah kecuali ada udzur syar’i boleh setelah fajar.
  • (2) Waktu berangkat dari Arafat dianjurkan  membaca  talbiyah dan do’a.

 

3).   Di Muzdhalifah

Di Muzdalifah (pada malam tanggal 10 Dzulhijjah).

  • (a) Selama  di  Muzdalifah  jemaah diharap membaca talbiyah, zikir, do’a, dan membaca Al-Qur’an.
  • (b)  Mabit di Muzdalifah cukup sejenak (kadar lamanya cukup turun sebentar, mengambil batu kerikil, kemudian naik kendaraan dan berangkat lagi). Bagi jemaah yang tiba di Muzdalifah sebelum tengah    malam, harus menunggu sampai   lewat tengah malam.
  •  (c)   Mencari dan mengambil kerikil.
  • (d)  Setelah   lewat   tengah   malam   menuju Mina.
  • (e) Jemaah haji yang karena sesuatu hal langsung ke Makkah maka sebaiknya melakukan thawaf ifadhah dan sa’i terle- bih dahulu kemudian memotong rambut/ cukur (tahallul awal), baru menuju mina untuk melontar jamrah aqabah (tahallul tsani).

 

Hikmah Mabit di Muzdalifah

Setelah tenggelam matahari pada hari Arafah, maka jemaah haji meninggalkan Arafat menuju ke Muzdalifah untuk berhenti, istirahat dan bermalam di situ. Itulah yang disebut mabit. Minimal setelah lewat tengah malam baru dibolehkan bergerak  menuju  Mina.  Selama  mabit di Muzdalifah jemaah di sunatkan me- mungut kerikil (batu kecil) sedikitnya 7 butir untuk melontar Jamrah Aqabah esok paginya sesampainya di Mina. Mabit dan istirahat di Muzdalifah itu bagai pasukan tentara yang sedang menyiapkan   tenaga dan memungut kerikil itu bagaikan menyiapkan  senjata dalam rangka berperang melawan musuh laten manusia, yaitu syetan yang terkutuk.

 

Di Mina

(a)  Memasuki    kemah     yang    telah disiapkan sambil istirahat menunggu pelaksanaan melontar      jamrah sesuai jadwal dan waktu yang telah ditetapkan.

(b) Tanggal 10 Dzulhijjah melontar Jamrah Aqabah sebanyak 7 (tujuh) kali lontaran kemudian memotong rambut/bercukur (tahallul awal) dan melepas ihram kemudian berganti pakain.

(c)   Tanggal 11 Dzulhijjah mabit di Mina dan melontar ke 3 Jamarat (Ula, Wustha dan Aqabah) masing-masing 7 (tujuh) kali lontaran.

(d)  Tanggal   12   Dzulhijjah   mabit   di Mina dan melontar ke 3 Jamarat (Ula, Wustha dan Aqabah). Bagi yang  akan  mengambil  Nafar Awal dianjurka meninggalkan  Mina menuju Makkah sebelum terbenam matahari.

(e)   Tanggal 13 Dzulhijjah mabit di Mina dan melontar ke 3 Jamarat (Ula, Wustha dan Aqabah) kemudian meninggalkan Mina menuju Makkah bagi yang melakukan Nafar Tsani.

(f)  Waktu mabit di Mina adalah sepanjang malam hari, dimulai dari waktu maghrib sampai dengan terbit fajar. Akan tetapi kadar lamanya mabit di Mina adalah mendapatkan sebagian    besar    waktu malam (mu’dhomul lail).

(g) Waktu melontar Jamrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah dimulai sejak matahari     terbit,    namun    mengingat padatnya jemaah haji yang melontar pada waktu itu, maka dianjurkan melontar mulai siang hari.

(h)  Waktu melontar pada hari tasyriq  tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah menurut jumhur ulama dimulai setelah tergelincir matahari. Namun Imam Ro¿ ’i dan Imam Isnawi dalam   Mazhab   Sya¿ ’i   membolehkan melontar sebelum tergelincir matahari (qobla zawal) yang dimulai sejak terbit fajar. Pendapat tersebut  dapat diamalkan meskipun sebagian ulama menilai dhaif/ lemah (Kep. Muktamar NU ke-29 tanggal 4 Desember 1994).

(i)  Bagi jemaah yang membadalkan lontar, meniatkan lontarannya untuk jemaah yang dibadalkan setelah melontar untuk dirinya sendiri.

(j)  Bagi   jemaah   haji   yang   mengambil Nafar Awal,  maka  meninggalkan  Mina tanggal 12 Dzulhijjah, sedangkan yang mengambil Nafar Tsani, meninggalkan Mina tanggal 13 Dzulhijjah.

(k)  Hikmah Mabit di Mina

Jemaah haji melaksanakan Mabit di Mina sebagai kelanjutan dari suatu pelaksanaan ibadah sebelumnya, dan dilaksanakan pada tanggal 10, 11 dan 12 Dzulhijjah (bagi jemaah yang Nafar Awal), dan tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah bagi yang Nafar Tsani. Selama mabit di Mina, jemaah haji harus mampu menghayati makna   dan   hikmah,   dengan   banyak dzikir, berdo’a dan menghayati perjalanan Rasulullah Saw dan para Nabi sebelum- nya. Dalam Al Qur’an dijelaskan dengan fi rman-Nya:

Artinya:

Dan berzikirlah kamu kepada Allah pada hari- hari yang terbilang.  (QS. Al-Baqarah: 203).

Rasulullah Saw bersabda:

Artinya:

Hari-hari (tinggal) di Mina adalah tiga hari. (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Maka terdapat dua pekerjaan yang perlu dilakukan oleh jemaah haji selama di Mina: Pertama, melontar jamarat, yang pada hari Nahr melontar Jamrah Aqabah dan pada hari Ayyamut Tasyriq  melontar Jamrah Ula, Jamrah Wustho dan Jamrah Aqabah. Kedua, mabit, yakni tinggal dan menginap  di  Mina  selama  malam  hari Ayyamut Tasyriq.

Aisyah Ra, Istri Rasulullah Saw mengemukakan:

Artinya:

Rasulullah Saw. melakukan ifadhah (thawaf ke Makkah), kemudian kembali ke Mina, lalu tinggal di Mina selama tiga hari Tasyriq. (HR. Ibnu Hibban).

Di antara keistimewaan Mina adalah kawasan ini pada hari biasa tampak sempit dan selalu menjadi luas secara otomatis sehingga dapat menampung seluruh jemaah, hal  ini  sesuai  dengan  sabda  Rasulullah Saw.  yang  artinya  “Sesungguhnya  Mina ini seperti rahim, ketika terjadi kehamilan, daerah ini diluaskan oleh Allah Swt.”. Maka semestinya kita tidak perlu khawatir tidak dapat tempat di Mina.

(l)  Hikmah Melepaskan Pakaian Ihram Melepaskan  kain  ihram  setelah  tahallul sebagai gambaran bahwa akhir dari kegiatan urusan dunia, karena ibadah akan dibalas dengan Surga, yakni mereka diperbolehkan mengerjakan   keinginan   (syahwat)   yang terlarang  dan  mereka  menikmati  dengan baik apa yang tersedia di dalam Surga.

(m) Hikmah Melontar Jamrah

Setelah jemaah haji meninggalkan Arafat menuju Muzdalifah untuk mabit dan untuk selanjutnya menuju Mina tempat Nabi Ibrahim As. akan melaksanakan perintah Allah Swt. untuk menyembelih puteranya Ismail As. Sebelum sampai di tempat yang  dituju,  Nabi  Ibrahim  As.  digoda oleh iblis untuk membatalkan niatnya melaksanakan perintah Allah Swt. itu. Di tiga tempat Nabi Ibrahim As. digoda, dan di setiap tempat iblis menggoda itu Nabi Ibrahim As. melontarkan batu tertuju kepada iblis.

Demikianlah iblis akan selalu menggoda manusia untuk tidak mentaati perintah Allah Swt. Betapapun kecilnya kadar kebajikan yang akan dilakukan oleh manusia, godaan iblis pasti senantiasa menghadang.

Al-Qur’an menceritakan ikrar iblis, yang dinilai sesat dan dilaknat oleh Allah Swt. setelah menolak perintah untuk bersujud kepada   Nabi   Adam   AS.   dan   minta diberi kesempatan hidup hingga hari manusia dibangkitkan (hari kiamat), lalu dikabulkan oleh Allah Swt., firmanNya:

Artinya:

Iblis mengatakan; “Tuhanku, karena Engkau telah menilaiku sesat, niscaya akan kuhiasi kehidupan manusia di bumi, dan akan kusesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu di antara mereka yang ikhlas, hidup mentaati petunjuk-petunjuk- Mu. (QS. Al-Hijr: 40-41).

Melontar jamarat mengingatkan jemaah haji bahwa iblis senantiasa berusaha menghalangi orang mukmin yang akan melakukan kebaikan.

Dalam Hadits Nabi Muhammad Saw diingatkan:

Artinya:

Sungguh syetan mengalir pada manusia sebagaimana jalannya darah. (HR. Bukhori).

Syetan tidak akan pernah berhenti menggoda dan tidak mudah dirasakan godaannya. Orang-orang yang hidup ikhlas sajalah yang akan mampu menanggulangi    godaan    syetan    itu. Nabi Ibrahim As. selamat dari godaan iblis, karena ikhlasnya menjalani hidup mentaati perintah-perintah Allah Swt., meskipun  menghadapi  ujian  sangat berat, diperintahkan untuk menyembelih puteranya Ismail As.

Melontar Jamrah mempunyai hikmah yang besar sekali. Dimaksudkan sebagai lambang lemparan terhadap iblis yang dilaknat oleh Allah Swt. Jamrah itupun ada tiga: Jamrah Kubra, Jamrah Wustha dan Jamrah Shugra. Hikmah melempar Jamrah adalah untuk mengikuti jejak Nabi Ibrahim As. Allah Swt. mewahyukan kepadanya di tanah yang suci ini untuk meyembelih puteranya. Dan beliau pun mematuhi perintah-Nya. Beliau berangkat untuk melaksanakan perintah Allah Swt. Tiba-tiba syetan menggodanya agar tidak melaksanakan penyembelihan itu. Maka Ibrahim As. mengambil batu-batu kecil lalu melempar syetan-syetan itu dengan batu tersebut. Lemparan ini dilaksanakan di tempat pelemparan jamrah yang pertama. Ketika iblis melihat hal tersebut, maka segera menghubungi Siti Hajar dan mengejek perbuatan Nabi Ibrahim As. menyembelih puteranya yang merupakan buah hatinya.

Lalu  Siti  Hajar  pun  mengambil  batu- batu  dan melemparkannya    kepada iblis. Lemparan itu pun dilakukan di tempat   pelemparan   jamrah   yang   ke- dua. Maka tidak ada jalan lain bagi iblis kecuali mendekati Nabi Ismail As. dan mengejek perbuatan ayahnya sambil berkata, bahwa perbuatannya itu belum pernah  terjadi  dalam  sejarah  manusia di dunia sejak ia diciptakan oleh Allah Swt. Maka Nabi Ismail As. mengambil segenggam kerikil dan melemparkannya kepada iblis. Lemparan itu dilakukan di tempat pelemparan jamrah yang ketiga. Karena   iblis   menggoda   Ibrahim  As., Siti Hajar dan Ismail As. yang masing- masing melemparkan batu kepada iblis, maka  mengikuti  jejak  mereka  seolah- olah kita juga ikut melempari iblis yang dikutuk  oleh  Allah  Swt.  itu.  Dan  ju- ga karena iblis dilaknat Allah Swt. itu musuh umat manusia, dan ingin men- jerumuskan mereka ke dalam perbuatan maksiat dan mengerjakan sesuatu yang merusak ibadah haji mereka, serta meng- godanya, sebagaimana menggoda Nabi Ibrahim As., Siti Hajar, dan Nabi Ismail As. Dan juga menghinakan iblis yang dilaknat Allah Swt. sehingga putuslah harapannya yang ingin menjadikan jemaah haji tunduk dan taat kepadanya.

READ :  Biaya Umroh Murah 2018, 2019, 2020 di Kemang Mulai Rp19,9 Juta Start Jakarta

(n)  Hikmah Nafar

Nafar dalam bahasa dapat diartikan rombongan  atau  gelombang  keberangkatan jemaah haji meninggalkan Mina. Nafar terbagi dua, yaitu: nafar awal dan nafar tsani. Nafar awal di mana jemaah haji menyelesaikan semua kewajiban hajinya di Mina sampai hari kedua Tasyriq (12 Dzulhijjah). Sedangkan nafar tsani diharuskan bermalam lagi di Mina dan melontar Jamrah esok harinya (13 Dzulhijjah) baru kemudian meninggalkan

Hikmah adanya penetapan hukum nafar seperti  itu  berdasarkan  Firman  Allah Swt. dan amaliyah Rasulullah Saw memberikan satu kontribusi alternatif untuk dipilih oleh seorang jemaah berdasarkan kepentingan masing-masing. Dalam pengaturan tersebut tercermin toleransi dan kehanifan ajaran Islam, walaupun dalam batas-batas tertentu, karena kecenderungan untuk melakukan nafar awal tidak dapat dipilih begitu saja tanpa adanya pertimbangan kepentingan pribadi atau maslahah umum. Seperti karena kepentingan kepulangan ke kampung halaman. Oleh karena itu Umar bin   Al   Khattab,   melarang   penduduk kota Makkah untuk nafar awal karena mereka tidak didesak oleh kepentingan kepulangan ke daerah asal, seperti yang dijelaskan dalam kitab Mausu’ah Fikhi Umar bin Khattab.

Sedangkan para Imam yang lain ada yang membolehkan secara umum walaupun mereka tidak berdosa akan tetapi kehilangan fadhilah sebagaimana Firman Allah Swt.:

Artinya:

Dan barang siapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barang siapa menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertaqwa (yang memiliki nafar awal atau tsani karena taqwa bukan dengan alasan lain). (QS. Al- Baqarah: 203).

(o)  Hikmah Dam

Dam menurut bahasa artinya darah. Dam adalah suatu amalan ibadah yang wajib dilakukan oleh orang yang melakukan ibadah haji atau umroh karena sebab- sebab tertentu baik sebagai suatu ketentuan tatacara beribadah haji yang dipilih oleh jemaah (tamattu’ dan qiran) atau adanya sesuatu pelanggaran yang disebabkan meninggalkan sesuatu yang diperintahkan atau mengerjakan sesuatu yang diharamkan dalam ibadah haji dan umroh.

Hikmah yang harus kita fahami adalah menyadari kembali bahwa ibadah haji adalah laksana jihad menegakkan agama Allah Swt., di mana jihad itu sudah barang tentu berakibat mengalirnya darah sebagai syahid. Menegakkan agama dengan jihad berarti membela iman kepada Allah Swt., yang pada akhirnya menempati posisi keyakinan, “hidup dan mati adalah karena Allah, termasuk mati dengan mengeluarkan darah”.

(p)  Hikmah Penyembelihan Qurban

Hikmah  penyembelihan  qurban  adalah

mengikuti    jejak    Nabi    Ibrahim   As. Di mana Allah Swt. memerintahkan kepadanya lewat mimpinya agar me- laksanakan qurban dengan mentaati-Nya. Kemudian Allah Swt. menggantikannya dengan binatang sembelihan yang besar. Dalam hal ini ada dua hikmah.

(1)          Memperlihatkan  ketaatan yang sempurna kepada  Allah Swt. Yang Maha Agung, walaupun diperintah untuk menyembelih putra kesayangannya.

(2) Menunaikan kewajiban bersyukur kepada Allah  Swt. berupa nikmat   tebusan.   Di   mana   Allah Swt. sudah menjadikan orang yang menyembelih binatang    termasuk orang yang bersedekah dari nikmat Allah Swt. bukan termasuk orang- orang fakir yang berhak menerima sodaqah. Dan tidak diragukan lagi ini merupakan nikmat yang besar. Jemaah haji yang melakukannya berada di tingkatan tertinggi. Sebab tidak ada kedudukan paling tinggi dalam   ketaatan   manusia   kepada

Tuhannya, melebihi taat   kepada- Nya dalam setiap perintah yang diperintahkan, walaupun sampai disuruh untuk menyembelih pu tra yang menjadi   buah   hatinya.

 

5).   Di Makkah (setelah wukuf)

(a) Setelah  tiba  di  Makkah  agar melaksanakan thawaf ifadhah dan sa’i (tahallul tsani).

(b) Dengan  demikian  berarti  telah selesai rangkaian pelaksanaan haji tamattu’.

 

6).   Pemberangkatan ke Tanah Air.

Menjelang keberangkatan ke Tanah Air bagi gelombang I dan ke Madinah bagi gelombang II, jemaah haji diwajibkan melakukan thawaf wada’.

Hikmah thawaf wada’

Thawaf wada’ dikerjakan oleh jemaah haji saat akan meninggalkan Makkah, yakni meninggalkan Masjidil Haram baik untuk kembali ke Tanah Air atau akan ziarah ke Madinah.

Kata Wada’ artinya perpisahan. Jadi thawaf wada’  yaitu thawaf perpisahan dengan Ka’bah Al Musyarrofah, Masjidil Haram dan sekaligus dengan Tanah Haram Makkah. Dalam thawaf wada’ atau thawaf perpisahan ini ada beberapa hal yang dapat diungkapkan dan diharapkan kepada Allah Swt., antara lain sebagai berikut:

(a)   Bersyukur kepada Allah Swt. atas rahmat- Nya, sehingga dengan itu semua pengerjaan ibadah haji atau umroh dapat diselesaikan dengan baik dan semaksimal mungkin. Berbagai nikmat dan rahmat telah diperoleh selama dalam perjalanan. Dari sekian banyak umat yang ingin melaksanakan haji atau umroh kita diberi kesempatan oleh Allah Swt. untuk menunaikannya. Sehingga dengan telah melaksanakan rukun Islam itu. Berbagai janji kebaikan kepada Allah Swt. kelak akan diterima setelah kembali dari melaksanakan ibadah  haji,  baik  di  dunia maupun diakhirat nanti, Insya Allah.

(b)   Mengharap kepada Allah Swt. agar semua amal ibadah yang dikerjakan, tenaga dan waktu yang dihabiskan,   uang dan dana yang dikeluarkan untuk melaksanakan iba- dah haji atau umroh benar-benar mabrur, memperoleh balasan yang dijanjikan Allah yaitu surga. Karena dalam pelaksanaan ibadah ini tidak ada yang diinginkan ke- cuali ridha, pengampunan dan balasan pahala  dari Allah  Swt.  Rasulullah  Saw bersabda:

Artinya :

Barang siapa yang melaksanakan haji karena Allah dengan tidak melakukan rafats (kata-kata kotor) dan tidak berbuat fusuk (durhaka), maka ia kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan dari kandungan ibunya (tanpa dosa). (HR. Bukhari dan Muslim).

(c)   Perjalanan   dari   Indonesia   ke   Tanah Suci  Makkah  dan  kembali  ke  Tanah Air, tentulah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, serta perjalanan yang  beresiko  tinggi  dan  menghadapi tantangan yang berat. Dalam thawaf wada’ ini, do’a kita hadapkan kepada Allah Swt., agar selama dalam perjalanan senantiasa dilindungi-Nya dengan keselamatan dan kesehatan. Perjalanan yang demikian panjang, bahkan semua perjalanan hidup, perlu mendapat lindungan Allah Swt. Dialah yang Maha Bijaksana dan Maha Kuasa mengatur segala perjalanan dan melindungi semuanya.

(d) Mengerjakan haji merupakan kewajiban sekali seumur hidup, tetapi tidak salah pula bila seseorang ingin mengerjakannya lebih dari satu kali selama hidup. Pertemuan atau  berada  di  Ka’bah  memiliki  mak- na tersendiri bagi setiap orang yang mengerjakan haji atau umroh. Baitullah bukan hanya sekedar “rumah” yang ditatap hanya sepintas dan kemudian ditinggal- kan.   Baitullah   ternyata   menjadi   sum- ber kerinduan bagi seluruh jemaah haji. Setiap jemaah yang meninggalkan Ka’bah rindu untuk kembali ke sana, bahkan tidak sedikit orang yang meneteskan air mata karenanya. Berbeda dengan ketika melihat dan menyaksikan suatu tempat yang lain yang tanpa kesan dan tidak tertarik lagi untuk kedua kali dan seterusnya. Berbeda dengan melihat Ka’bah, setelah melihatnya atau berada di sana, muncul keimanan dalam hati. Oleh sebab itu, pada thawaf ini kita berdo’a agar dapat berkunjung lagi ke Baitullah.

 

Catatan:

Haji  tamattu’ bisa  diubah  menjadi  haji qiran   dengan   mengubah   niat   ihram umroh menjadi niat ihram haji dan umroh sekaligus, karena suatu alasan yang dibenarkan syara’ dan yang bersangkutan dikenakan dam, antara lain:

(a) Perempuan    karena    haid/nifas setibanya di Makkah tidak dapat melaksanakan thawaf umroh sampai datang waktu wukuf.

(b) Jemaah haji yang karena sakit setibanya di Makkah tidak dapat melaksanakan thawaf umroh sampai tibanya waktu  wukuf.

 

  1. Haji ifrad
  2. Haji ifrad  ialah  mengerjakan  haji saja. Cara ini tidak wajib membayar dam, pelaksanaan haji dengan cara ifrad ini dapat dipilih oleh jemaah haji yang kedatangannya mendekati waktu wukuf ± 5 (lima) hari sebelum wukuf.
  3. Pelaksanaannya

1).   Bersuci yaitu mandi dan berwudlu.

2).   Berpakaian ihram.

3).   Shalat sunat 2 (dua) rakaat.

4).   Niat untuk berhaji mengucapkan:

Artinya:

Aku  penuhi panggilan-Mu Ya Allah untuk berhaji.

Atau mengucapkan:

Artinya:

Aku  niat  haji  dengan   berihram karena Allah Ta’ala.

 

  1. Tiba di Makkah

1). Bagi jemaah haji yang bukan penduduk Makkah yang menunaikan haji ifrad pada waktu kedatangannya di Makkah disunatkan mengerjakan thawaf qudum.

2). Thawaf qudum ini bukan thawaf umroh, bukan thawaf haji dan hukumnya sunat, boleh dengan sa’i atau tidak dengan sa’i. Kalau dikerjakan dengan sa’i, maka sa’inya sudah termasuk sa’i haji dan pada waktu  thawaf  ifadhah  tidak  perlu lagi melakukan sa’i.

3). Setelah melakukan thawaf qudum tidak diakhiri dengan bercukur/ memotong rambut sampai selesai wukuf dan melontar jamrah aqabah tanggal 10 Dzulhijjah.

4). Urutan  kegiatan  dan  bacaan  do’a pada  pelaksanaan  haji  ifrad  sejak dari wukuf sampai selesai sama dengan pelaksanaan haji tamattu’.

5). Apabila selesai melaksanakan ibadah haji dan ingin melaksanakan ibadah umroh, dapat mengambil miqat dari Tan’im, Jironah/miqat lainnya.

6).   Sebelum berangkat ke Madinah (bagi   gelombang   II)   supaya melaksanakan thawaf  wada’.

Catatan:

Haji ifrad’ bisa diubah menjadi haji tamattu’ dengan ketentuan masa tinggal di Makkah masih cukup lama untuk menunggu wukuf  dengan adanya alasan syar’i yang menjadi pertimbangan untuk mengubah niat seperti khawatir melakukan pelanggaran ihram dan adanya niatan untuk keluar Tanah Haram sebelum masa wukuf.

 

  1. Haji qiran
  2. Haji qiran ialah mengerjakan haji dan umroh di dalam satu niat dan satu pekerjaan sekaligus. Cara ini wajib membayar Dam Nusuk (sesuai ketentuan syari’ah).
  3. Pelaksanaannya

Pelaksanaan haji dengan cara qiran ini dapat dipilih, bagi jemaah haji karena sesuatu hal tidak dapat melaksanakan umroh sebelum dan sesudah hajinya, termasuk di antaranya jemaah haji yang masa tinggal di Makkah sangat terbatas. Pelaksanaannya sebagai berikut:

1).   Bersuci yaitu mandi dan berwudlu.

2).   Berpakaian ihram.

3).   Shalat sunat 2 (dua) rakaat.

4).   Niat   untuk   berhaji   dan   umroh mengucapkan :

Artinya:

Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji dan berumroh.

Atau mengucapkan:

Artinya:

Aku niat haji dan umroh dengan berihram karena Allah Ta’ala.

 

  1. Di Makkah:

1). Bagi jemaah haji yang bukan penduduk Makkah yang menunaikan Haji qiran pada waktu kedatanganya di Makkah disunatkan mengerjakan thawaf qudum.

2). Thawaf qudum ini bukan thawaf umroh, bukan thawaf haji dan hukumnya      sunat,   boleh   dengan sa’i atau tidak dengan sa’i. Kalau dikerjakan dengan sa’i maka sa’inya sudah termasuk sa’i haji dan pada waktu  thawaf  ifadhah  tidak  perlu lagi melakukan sa’i.

3).   Selesai mengerjakan thawaf qudum, tidak   diakhiri  dengan  bercukur/ memotong rambut sampai selesai wukuf dan melontar Jamrah Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah.

4).  Pelaksanaan ibadah dan do’a Haji Qiran sejak dari wukuf sampai dengan selesai  sama  dengan pelaksanaan haji tamattu’.

5). Pada  waktu  melaksanakan  thawaf  ifa- dhah harus dengan sa’i, bagi yang belum sa’i pada waktu thawaf qudum.

6). Pada waktu akan meninggalkan Makkah, supaya melakukan thawaf wada’.

Catatan:

Haji qiran’ bisa diubah menjadi haji tamattu’ dengan ketentuan masa tinggal di Makkah masih cukup lama untuk menunggu wukuf dengan adanya alasan syar’i  yang  menjadi  pertimbangan untuk mengubah niat seperti khawatir melakukan  pelanggaran  ihram  dan adanya niatan untuk keluar Tanah Haram sebelum masa wukuf.

Similar Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *