Mekkah Madinah, Dua Kota Yang Saling Menyempurnakan

Mekkah Madinah, dua kota Yang saling menyempurnakan. Ibarat siang dan malam. Jika Mekkah laksana siang, maka Madinah adalah malam yang dihiasi oleh rembulan dan cahaya bintang-bintang yang menyinari bumi Tuhan. Rembulan tersebut adalah Muhammad SAW, sedangkan bintangnya adalah para sahabat yang mendedikasikan dirinya untuk tegakkan kebajikan, keadilan, dan kedamaian bagi seluruh umat manusia.

==============================================

InformAsi Paket Umroh Murah 2018 – 2019 – 2020

Hubungi: H SUDJONO AF – 081388097656 WA

======================================================

 

Perihal Nabi sebagai rembulan diabadikan dalam syair-syair yang diajarkan di pesantren, thala’a al-badru ‘alayna min tsaniyyat al-wada, wajaba al-syukru ‘alayna ma da’a lillahi da’. Telah terbit rembulan dari sela-sela bukit Wada’, hendaklah kita bersyukur di saat tidak ada seorangpun yang berdoa.

Fakta tersebut tidak berlebihan, karena Madinah merupakan kota yang identik dengan Muhammad SAW. Didalam bahasa Arab, kota ini dikenal sebagai Madinah al-Nabi, yaitu kota Nabi. Kehidupan Nabi yang ditulis dalam sejarah serta ajaran-ajarannya yang luhur tersebut dikukuhkan di Madinah. Bahkan, saat Nabi berhasil menguasai Mekkah, beliau pun memilih untuk kembali dan menetap Madinah. Masa-masa terakhir kehidupan Nabi ditulis dalam tinta emas di kota ini.

Madinah adalah kota yang terletak di gunung dataran tinggi, di persimpangan tiga lembah, yaitu lembah ‘Aql, lembah Aqiq dan lembah Himd. Karena itu, Madinah adalah kota hijau, terutama disekitar gunung. Dibagian barat terdapat gunung haji. Dibarat laut ada gunung salaa. Dibagian selatan terdapat gunung ‘Ir dan gunung uhud dibagian selatan. Jumlah penduduknya sekitar 1,6 juta orang.

Madinah adalah salah satu kota yang sangat dekat dengan umat Islam. Madinah adalah kota yang mempersatukan seluruh umat Islam. Begitu banyak aliran dan perbedaan paham dikalangan Muslim, tetapi tatkala disebutkan kota ini mereka menyepakati, bahwa Madinah adalah salah satu kota penting bagi spiritualitas dan moralitas umat Islam. Mereka terhanyut dalam kerinduan yang sangat mendalam terhadap Nabi, keluarga dan para sahabatnya. Madinah adalah potret dari kepemimpinan dan kota idaman yang memungkinkan diantara masyarakatnya dapat berhubungan dengan saling menghargai dan menghormati.

Al-Farabi, seorang filsuf Muslim, menulis sebuah buku tentang Kota Utama (al-madinah al-fadhilah). Yaitu kota yang dipimpin diatas perpaduan antara rasionalitas dan spiritualitas. Meskipun secara eksplisit tidak disebutkan potret dari Kota Utama tersebut, tetapi harus diakui Madinah merupakan salah satu Kota Utama yang pernah dimiliki umat Islam.

Sulaiman Fayyad dalam al-Farabi: Abu al-Falsafah al-Islamiyah, al-Farabi mengandaikan lahirnya Kota Utama yang didalamnya terjamin kebahagiaan. Dan kebahagiaan tersebut akan tercapai hanya dengan cara-cara yang mulia. Kota umum harus memadukan antara keutamaan kepribadian, keutamaan fisik, keutamaan akal, keutamaan jiwa, keutamaan akhlak, terutama dalam rangka menegakkan keadilan, kedamaian, dan menumpas kezaliman.

Seluruh karakter dari kota utama digambarkan al-Farabi tersebut telah dirintis oleh Muhammad SAW. Beliau memimpin umat dengan keutamaan-keutamaan nilai yang kemudian diterjemahkan dalam realitas sosial-politik. Madinah merupakan kota yang memadukan antara kepemimpinan spiritual dan kepemimpinan rasional. Selama berada di Madinah, Nabi selalu  mendapatkan wahyu dalam setiap perkara pelik yang menimpanya dalam membimbing umat. Disamping itu, Nabi juga membuat konstitusi dan kebijakan politik yang bersumber dari konsultasi, atau yang dikenal dalam khazanah Islam dengan musyawarah (syura).

Nabi kerapkali berkonsultasi dengan para sahabat dalam memutuskan berbagai persoalan sebuah wujud kepemimpinan deliberatif, yang selalu menampung aspirasi dari pada sahabat dan pengikutnya. Tidak hanya itu saja, Nabi juga membangun persaudaraan dan komunikasi, baik dengan kelompok lainnya maupun kalangan non-Muslim, sehingga fase Madinah dikenal sebagai salah satu fase toleransi dalam Islam. Jejak-jejak toleransi begitu melekat kuat di bumi Madinah.

Nabi memandang kebhinekaan dan kebebasan beragama sebagai sebuah sunnatullah. Jauh sebelum Islam datang, agama-agama samawi lainnya, seperti Yahudi dan Kristen merupakan agama yang hadir di Jazirah Arab. Agama-agama tersebut telah menjadi bagian dari “kebudayaan Arab”. Philip K. Hitty dalam History of the Arabs menyebut sejarah Arab pada hakikatnya adalah sejarah umat-umat agama-agama tersebut. Arab bukanlah monopoli kelompok dan agama tertentu.

Pandangan Hitty tersebut secara teologis diperkuat dengan landasan teologis umat Islam, sebagaimana dikodifikasi oleh kalangan Muslim Sunni. Diantara klausul dalam Rukun Iman ditegaskan perlunya beriman kepada Para Nabi, yaitu Musa sebagai pembawa ajaran Yahudi dan Isa sebagai pembawa ajaran Kristen. Seorang Muslim tidak hanya diwajibkan untuk mengimani ajaran Muhammad SAW, tetapi juga mengimani ajaran yang dibawa oleh para Nabi sebelum Islam, khususnya Nabi Musa dan Nabi Isa.

Madinah merupakan saksi sejarah yang tidak terbantahkan, bahwa kehidupan yang dibangun diatas keseimbangan antara iman dan amal saleh akan membuahkan hasil yang sangat maksimal, yaitu peradaban manusia yang mampu membangun kebersamaan dan solidaritas. Istimewanya, kebersamaan tersebut dibangun melalui masjid sebagai pusat pemberdayaan umat dan upaya membangun solidaritas batin yang kokoh.

Kebudayaan Islam Diluar Makkah Madinah

Menarik juga direnungkan, dalam perjalanan sejarahnya justru kota-kota di luar Mekkah-Madinah juga dikenal sebagai pusat kebudayaan Islam, misalnya di Irak, Iran, Andalusia, dan Mesir. Juga Indonesia. Keluwesan dan keluasan ajaran Islam yang memancar dari Madinah telah memperlancar penyebaran Islam diberbagai belahan bumi.

Peradaban Islam bersifat inklusif dan akomodatif terhadap kebudayaan lokal sangat membantu penyebaran Islam yang amat cepat dalam ukuran sejarah. Contoh yang paling mudah adalah arsitektur masjid yang merupakan symbol inklusivisme peradaban Isalm. Nilai Islam apakah yang paling fundamental dari masjid? Tak lain adalah shalatnya. Jadi selebihnya adalah instrumental, sebuah karya dan apresiasi Islam terhadap kebudayaan luar. Misalnya saja menara, sudah pasti di zaman Nabi tidak dikenal menara karena menara, yang berarti tempat api-manarah-pada mulanya adalah merupakan tradisi-tradisi majusi, sebuah tempat api untuk memuja dewa, lalu “diislamkan” menjadi tempat azan agar radius suaranya semakin luas. Tetapi ketika muncul teknologi loudspeaker, maka yang memanjat ke atas tidak lagi muazinnya, loudspeaker-nya ditaruh diatas. Begitu pula kubah, itupun pengaruh budaya non-Arab. Di Indonesia ada beduk yang berasal dari China oleh Walisongo “diislamkan” dipukul saat datang waktu shalat, diperkaya lagi dengan keuntungan dan lain sebagainya. Karpet pun di Arab juga tidak ada waktu itu.

Jadi, contoh diatas menggambarkan betapa Islam begitu inklusif sehingga agama ini cepat dan mudah sekali berkembang. Wilayah nusantara ini pun mestinya menjadi pusat gama Hindu-Budhha dengan melihat posisi geografis yang dekat India, lalu beterbaran pusat-pusat kerajaan Hindu-Budhha serta candi-candi yang megah. Pertanyaannya, mengapa akhirnya menjadi kantong umat Islam terbesar di dunia?

Salah satu penyebabnya adalah Islam dikembangkan oleh para pedagang yang senang persahabatan, bukan peperangan, ajaran yang disampaikan lebih bermuatan tasawuf yang mengajarkan lemah lembut, lalu akomodatif terhadap budaya lokal. Maka pada urutannya Islam menggantikan kejayaan Hindu-Budhha.

Kalau saja Islam disebarkan oleh teroris-radikalis yang tidak menghargai peradaban lokal, pasti ceritanya akan lain. Dengan begitu, kalau pun Rasulullah beberapa kali ikut berperang, itu dilakukan untuk melindungi benih pohon peradaban yang ditanam Muhammad SAW di Madinah, namun bukanlah doktrin atau kultur Islam yang senang peperangan, apalagi terorisme. Kalaupun terdapat beberapa ayat Al-Quran yang bernada keras terhadap orang kafir, itu karena mereka memang memiliki agenda untuk menghancurkan benih peradaban yang disemai. Tetapi, sangat disayangkan ada beberapa pihak yang mengesampingkan perjuangan secara damai melalui penegakan hukum dan peradaban, lalu memilih jalan kekerasan dan peperangan sehingga menimbulkan stigma bahwa Islam adalah agama yang seram dan menakutkan.

Oleh karena itu, Islam sebagai agama perdamaian mesti didorong terus-menerus. Diberbagai universitas Barat sendiri pusat-pusat studi Islam kian bermunculan. Belum merasa lengkap kalau sebuah universitas unggulan belum memiliki departemen studi Islam.

Thariq Ramadhan dalam In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the life of Muhammad, dasar dari ajaran Nabi di Madinah adalah cinta, baik cinta kepada umat maupun keluarganya. Puncak dari pesan cinta adalah pidato perpisahan yang disampaikan Nabi diatas bukit kasih-sayang (jabal rahmah). Nabi berpesan agar setiap manusia membangun persaudaraan dengan manusia yang lain, yang dimanifestasikan dalam sikap saling menghormati dan salin menghargai.

Pesan Nabi tersebut merupakan inti dari ajaran Islam. Madinah adalah salah satu kota yang telah dijadikan sebagai “pelabuhan cinta”. Terlepas dari perbedaan kabilah dan agama, mereka yang tinggal di Madinah hidup saling bahu-membahu. Mereka mempunyai konsensus untuk hidup dalam kedamaian dan menjamin adanya keamanan di antara mereka.

Pada bulan November 2009, Karen Armstrong bersama tokoh-tokoh agama lainnya mendeklarasikan Piagam Kasih-Sayang (Charter of Compassion). Terobosan ini berangkat dari kesadaran, bahwa setiap manusia dan lebih-lebih setiap agama mempunyai pandangan yang sama perihal pentingnya kasih-sayang. Armstrong (2009) menulis, “Salah satu tugas paling mendesak bagi generasi kita adalah membangun komunitas global dimana orang, laki-laki ataupun perempuan, dari semua ras, bangsa dan ideologi bisa hidup bersama dalam perdamaian”.

 

Similar Posts:

By |2018-02-07T14:09:54+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment