Madinah Kota Strategis Diantara Lembah dan Gunung

Madinah adalah kota yang terletak di gunung dataran tinggi, di persimpangan tiga lembah, yaitu lembah ‘Aql, lembah Aqiq, dan lembah Himd. Madinah adalah kota hijau, terutama disekitar gunung. di bagian barat terdapat gunung Haji, di barat laut ada gunung Salaa, di bagian selatan terdapat gunung ‘Ir, dan gunung Uhud di bagian selatan.

Sebagaimana buku Mekkah, buku Madinah juga berangkat dari asumsi pentingnya dimensi historis dan sosiologis dalam memahami kota-kota suci umat Islam. Dimensi historis dapat mengurai dimensi-dimensi yang selama ini terlupakan dan tak terpikirkan, terutama pergulatan sejarah mereka yang menetap di Madinah. Yang paling menonjol adalah transformasi dari Yatsrib menuju Madinah.

==========================================

INFORMASI PAKET UMROH MURAH 2018 2019 2020

HUBUNGI: H. SUDJONO AF – 081388097656 WA

================================================

Transformasi tersebut tidak hanya sekedar transformasi symbol dan nama belaka, tetapi lebih dari itu menjadi titik tolak transformasi nilai. Masyarakat Madinah yang mulanya hidup dalam ikatan-ikatan sosial yang serba terpisah antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, lalu mereka disatukan oleh solidaritas iman dan solidaritas politik. Bagi kalangan Muslim, yang menjadi pengikat mereka adalah kesamaan iman. Sedangkan bagi kalangan non-Muslim, yaitu konstitusi dan kesepakatn politik yang telah dicapai diantara kelompok yang terlibat dalam Piagam Madinah.

Madinah menjadi sebuah kota yang menghadirkan visi kuat tentang fondasi agama dan masyarakat. Entitas Islam sebagai rahmatan lil alamin dikukuhkan di kota ini, karena Nabi secara tegas menjadikan Madinah sebagai kota bagi seluruh umat, apa pun latar belakang afiliasi kesukuan dan agama mereka. Meskipun, sangat disayangkan hal tersebut berakhir dengan munculnya fitnah dikalangan mereka yang terlibat dalam perjanjian polotik Nabi.

Tetapi, satu hal yang perlu digarisbawahi, bahwa Nabi mempunyai komitmen yang sangat kuat untuk menjadikan Islam sebagai paying bagi kebhinekaan kelompok dan golongan. Komitmen tersebut dituangkan dalam Piagam Madinah. Sebab itu pula, Islam dikenal sebagai salah satu agama yang sangat modern dan demokratis, karena mempunyai sejarah emas dalam hal membentuk konstitusi yang memberikan jaminan kepada keamanan dan kenyamanan kepada mereka yang terlibat dalam perjanjian tersebut.

Nadirsyah Hosen dalam Shari’a anda Constitutional Reform in Indonesia, menegaskan bahwa Piagam Madinah merupakan salah satu potret konstitusi yang demokratis. Piagam tersebut menggarisbawahi hak orang-orang Muslin dan orang-orang Yahudi yang terlibat didalam perjanjian. Mereka yang terlibat didalam perjanjian disebut ummah, meskipun diantara mereka adalah kelompok minoritas di Madinah. Uniknya, didalam piagam tersebut tidak disebutkan terma “Negara Islam”.

Sedangkan dimensi sosiologis akan memberikan pemahaman yang sangat berarti, bahwa dakwah Islam mempunyai konteks sosial yang khas. Periode Mekkah dan Madinah memberikan pelajaran yang sangat berharga, bahwa ajaran yang baik membutuhkan masyarakat yang baik pula. Dalam hal ini, pilihan untuk melakukan migrasi di Mekkah ke Madinah-yang popular dengan istilah hijrah-mempunyai makna sosiologis yang sangat mendalam. Ajaran Islam akan tumbuh pesat di bumi yang memang cocok atau identik dengan ajaran tersebut. Diatas lahan tanah yang subur akan lahir tanaman yang segar dan membuahkan generasi yang berkualitas.

Madinah Yang Majemuk

Potret Madinah yang majemuk tersebut menarik untuk dikontekstualisasikan dalam lanskap keindonesiaan. Potret Islam yang menghargai kebhinekaan memungkinkannya menjadi sebuah agama yang mengalami proliferasi dalam konteks yang lebih luas. Pertanyaannya, kenapa Islam bisa berkembang di negeri yang sangat majemuk ini? Jawabannya, tidak lain wajah Islam yang datang ke negeri ini adalah wajah Islam yang rahmatan lil alamin, yang telah diwariskan Muhammad SAW di Madinah. Meskipun berbeda suku dan bahasa, tetapi sebagian besar penduduk Madinah mempunyai kehendak untuk menerima nilai-nilai baru yang dapat memperkokoh kebersamaan.

Dimensi sosiologis Madinah mempunyai kecocokan dengan potret masyarakat di Tanah Air, terutama dari segi kebhinekaannya semakin mengukuhkan, bahwa pembahasan tentang Madinah akan mempunyai daya tarik tersendiri. Jika Mekkah merupakan sebuah pembelajaran untuk membangun persaudaraan berbasis iman, maka Madinah juga dapat dijadikan sebagai lokomotif untuk membangun persaudaraan yang berbasis iman dan kesepakatan politik. Relasi antara keduanya sangat identik, saling memperkuat dan saling menyempurnakan.

Pentingnya kedudukan Madinah di kalangan Muslim, setidaknya bisa dilihat dari sejumlah buku tentang Madinah, yang ditulis para sejarawan Muslim. Seperti biasanya, www.al-mustofa.com telah menyediakan

Madinah menjadi sebuah kota yang menghadirkan visi kuat tentang fondasi agama dan masyarakat. Entitas Islam sebagai rahmatan lil alamin dikukuhkan di kota ini, karena Nabi secara tegas menjadikan Madinah sebagai kota bagi seluruh umat, apa pun latar belakang afiliasi kesukuan dan agama mereka.

Madinah Dalam Berbagai Literatur

Semua kitab tersebut secara gratis. Kemampuan dalam bahasa Arab, terutama mereka yang belajar di pesantren-pesantren dan universitas di Timur-Tengah telah memudahkan penelusuran sejarah Madinah. Ada beberapa buku yang dijadikan rujukan utama, antara lain: Akhbar Madinah al-Rasul (informasi tentang kota Rasul), karya Muhammad Mahmud bin Najjar: al-Tuhfah al-Lathifah fi Tarikh al-Madinah al-Syarifah (secercah pesan tentang sejarah Madinah), karya Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman al-Sakhawi: Khulashat al-Wafa bi Akhbar Dar al-Mushthafa (ringkasan tentang kabar-kabar rumah Nabi pilihan), karya Nuruddin Ali bin Ahmad al-Samhudi: Tarikh al-Madinah al-Munawwarah (sejarah Madinah), karya Ibnu Syibh, Tarikh Masjid al-Nabawi al-Syarif (sejarah masjid Nabawi), karya Muhammad Ilyas Abdul Ghani; dan beberapa karya lainnya.

Karya-karya tersebut cukup memberikan informasi yang sangat baik untuk mengenal latar historis dan latar sosiologis tentang Madinah, dan berbagai keistimewaan yang dimiliki kota suci ini. Disamping ada beberapa buku khazanah Arab kontemporer yang turut melengkapi kepustakaan tentang Madinah, seperti Madinah Yatsrib Qabla al-Islam (kota Yatsrib sebelum Islam), karya Yasin Ghadban; Dawlat al-Rasul di al-Madinah al-Munawwarah (Negara Rasul di Madinah), karya Muhammad mamhud al-Arabi; dan lain-lain.

Ditengah lautan literatur tentang Madinah dari khazanah Arab di atas, apresiasi yang setinggi-tingginya juga perlu diberikan kepada W. Montgomery Watt. Karena dia telah menulis sebuah buku yang sangat penting perihal Madinah, khususnya pada masa Nabi, yaitu Muhammad at Medina. Buku ini melakukan analisis yang sangat komprehensif tentang Madinah, terutama dari berbagai literatur yang disebutkan diatas. Beberapa informasi yang terkandung didalam buku ini telah membingkai Madinah dalam struktur sosial yang sangat baik, khususnya Madinah pada masa Nabi.

  1. Montgomey Watt adalah seorang orientalis yang relatif mempunyai kapasitas dan kredibilitas ilmiah. Tidak hanya itu, ia menulis sejarah Madinah dengan kacamata simpati dan empati, dan dalam beberapa hal memberikan informasi yang sangat berharga. Diantaranya soal Piagam Madinah. Didalam buku-buku sejarah yang ditulis oleh kalangan Muslim, pada umumnya tidak begitu dirinci dimensi sejarah. Para sejarawan Muslim umumnya menekankan pada aspek teologisnya.

Watt secara sangat baik memberikan informasi perihal konteks sosial-politik Nabi di saat piagam tersebut ditulis. Ketika Piagam tersebut dideklarasikan hampir bisa dipastikan, bahwa Nabi sudah menjadi pemimpin yang secara de facto menguasai dan diterima oleh publik di Madinah. Piagam tersebut diduga kuat ditulis sebelum peristiwa Perang Badr, perang pertama dan terbesar yang dilakukan Nabi bersama umat Madinah. Kemenangan perang tersebut tidak bisa dilepaskan dari keberhasilan Nabi membangun masyarakat plural yang mempunyai komitmen untuk membangun persaudaraan dan kebersamaan.

Pemahaman yang seperti ini penting, bahwa kepemimpinan Nabi relatif mudah dan cepat diterima oleh penduduk Madinah. Dalam waktu yang tidak lama, Nabi sudah mampu mengukuhkan sebagai pemimpin yang dapat mempersatukan penduduk Madinah, yang saat itu terbagi dalam berbagai fraksi kabilah dan agama. Sebelum Nabi melakukan hijrah, dikisahkan bahwa orang-orang Yahudi kerangkali mengadu-domba berbagai kabilah Arab yang berhasil menaklukan mereka, khususnya kabilah Aws dan Khazraj.

Muhammad SAW adalah sosok yang bisa mempersatukan mereka. Bahkan, setelah memeluk Islam, mereka mempunyai komitmen yang sangat kuat untuk membela Nabi dan siap untuk melakukan peperangan. Tetapi, Nabi dengan tegas menyatakan, bahwa Islam adalah agama yang sangat menggarisbawahi perdamaian. Perang dapat dilakukan jika orang-orang pagan Quraysh menebarkan fitnah dan permusuhan terhadap umat Islam.

Sebab itu, salah satu dimensi yang tidak terhindarkan ketika membedah Madinah yaitu sejarah perang. Di kota inilah, Nabi menyusun strategi dan melancarkan perang terhadap orang-orang pagan Quraysh dan orang-orang Yahudi yang kerapkali menganggu umat Islam. Sejarah perang tersebut harus dilihat dalam konteks sebagai keniscayaan kontekstual yang tidak bisa dihindari, karena umat Islam berada dalam ancaman pihak lawan yang kerapkali dilakukan selama Nabi masih di Mekkah.

Islam Dalam Pandangan Armstrong

Karena Armstrong dalam Islam: A Short History memberikan pemaparan yang sangat sederhana konteks perang yang terjadi pada periode Madinah. Nabi kerapkali mendapat perlakuan yang bersifat diskriminatif dari orang-orang pagan di Madinah. Bahkan mereka mempunyai rencana untuk mengusir Nabi dan pengikutnya dari kota suci tersebut. Mereka juga dikabarkan membangun aliansi dengan orang-orang pagan Mekkah, khususnya Abu Sofyan dalam rangka membasmi umat Islam.

Pemandangan tersebut, menurut Armstrong, konsep ummah yang digagas Nabi dalma Piagam Madinah mengalami ekstinsi. Solidaritas yang dibangun diantara penduduk Madinah amburadul, dikarenakan mereka yang terlibat didalam perjanjian mulai terpengaruh dengan provokasi orang-orang Yahudi dan orang-orang pagan, baik yang berada di Madinah maupun di Mekkah.

Nabi memilih untuk melancarkan perang kepada mereka, karena tidak ada pilihan lain. Perjanjian yang berbasis pada perdamaian dan persaudaraan tleha dilanggar oleh mereka. Nabi harus mengambil langkah defensif. Meskipun demikian, Nabi harus menunggu lampu hijau dari Tuhan untuk mengambil keputusan. Kapasitas beliau sebagai Nabi dan utusan-Nya harus mengambil kebijakan sesuai dengan petunjuk-Nya.

Pilihan Nabi untuk melakukan perang selama berada di Madinah membuktikan, bahwa umat Islam adalah umat yang mempunyai hak dan kebebasan untuk mengajak orang-orang Arab ke jalan yang lurus dan toleran. Sebagai umat dan kelompok lainnya, umat Islam juga mempunyai hak untuk hidup secara damai dan nyaman. Umat Islam adalah umat Tuhan yang mempunyai kekuatan spiritual yang sangat tinggi untuk melawan kekuatan material kaum pagan yang bersifat unlimited. Dan sejarah membuktikan, bahwa mereka yang kerapkali mengganggu dan mengancam umat Islam juga takluk dihadapan kekuatan spiritual yang dimiliki umat Islam pada masa itu.

Atas dasar itu, pembahasan mengenai dimensi teologis dari Madinah menjadi sangat penting, disamping dimensi historis dan sosiologis sebagaimana dijelaskan diatas. Hal tersebut dikarenakan, Madinah bukanlah kota biasa. Madinah adalah kota suci yang menyimpan keistimewaan makna dan nilai. Madinah adalah kota tempat turunnya wahyu Al Quran dan hadis-hadisnya. Dari kota inilah seluruh sumber primer Islam disebarkan ke seantero dunia. Di kota ini pula, Al Quran untuk pertama kalinya dikodifikasikan ke dalam mushaf yang dibaca oleh seluruh umat Islam, yang kemudian dikenal dengan Mushaf Utsman. Madinah adalah kota spiritual yang telah membangkitkan gairah dan kepercaraan yang tinggi bagi setiap Muslim.

Madinah memberikan pencerahan batin yang sangat kuat, karena setiap kabar dan pesan yang muncul di kota tersebut menghadirkan makna yang sangat berarti bagi kehidupan setiap Muslim. Sebuah pesan yang dapat menggugah setiap individu untuk memilih jalan yang lurus dan meninggalkan jalan yang dapat menjerumuskannya dalam kubangan kehancuran.

Similar Posts:

By |2018-02-07T14:19:25+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment