Ibadah Haji dan Umroh, Perkara Yang Dilarang

Ibadah Haji dan Umroh. Dilarang mendorong-dorong orang lain ketika thawaf. Meskipun keadaan demikian padat dan berdesak-desakan, kita harus tenang. Tidak perlu emosi dan dorong-mendorong jamaah lain. Bahkan jika demikian maka badan akan cepat lelah. Ikuti arus saja, insya Allah tenaga justru akan minim keluar karena dibantu tekanan dari belakang. Tidak perlu khawatir pasangan hilang. Ingat, kita sedang menjamu tamu Allah, pasti Allah akan menjaga pasangan kita. Yang penting janjian, setelah thawaf menunggu dimana.

Tidak boleh memaksakan diri agar mencium Hajar Aswad sehingga menyakiti jamaah lain. Padahal mencium Hajar Aswad hukumnya sunah sedangkan menyakiti jamaah lain hukumnya haram. Jadi sangat naif jika kita mengejar sesuatu yang sunah (belum tentu dapat pula) tapi melakukan yang haram. Jika kita memperhatikan mereka yang saling berebut mencium Hajar Aswad niscaya kita akan merasakan bahwa tindakan-tindakan mereka sangat tidak islami, terutama bagi jamaah ibadah haji wanita. Apabila jamaah ibadah haji sedang ramai-ramainya sebaiknya tinggalkan niat untuk mencoba mencium Hajar Aswad. Ketika jamaah sudah sepi (biasanya ketika umrah diluar musim ibadah haji dan Ramadhan), dengan sabar kita mengantre insya Allah akan dapat mencium batu hitam tersebut.

Tidak boleh membayar orang tertentu (askar dan lain-lain) supaya dapat mencium Hajar Aswad. Kadang kala seseorang menempuh segala macam cara untuk dapat mencium Hajar Aswad, termasuk membayar sekelompok orang (disekitar Hajar Aswad ada orang tertentu, orang Indonesia, yang menawarkan bantuan untuk menebus kerumunan agar kita dapat mencium Hajar Aswad tapi dengan memberikan upah kepada mereka). Hal itu tidak diperkenankan karena memaksakan diri dengan menyakiti dan mendzalimi jamaah lain. Lagipula, perbuatan tersebut membuat ibadah kita menjadi tidak berkah.

Tidak boleh bersikap berlebihan terhadap Ka’bah seperti mendekapkan badan ke Ka’bah, menggosok-gosokkan kain ihram atau kain lainnya kepada Ka’bah, mengusap-usap pintu Ka’bah atau makam Ibrahim, atau kuburan dan lain-lain, menciumi Ka’bah selain Hajar Aswad dan sebagainya. Bahkan ada yang berusaha mengambil penutup Ka’bah untuk dikeramatkan. Jika hal-hal diatas dilakukan, niscaya askar akan menegur bahkan tak jarang memarahinya.

Tidak boleh menghalang-halangi orang lain yang akan melaksanakan shalat atau ibadah lainnya, seperti menutup shaf. Seperti seseorang yang datang dan akan melaksanakan shalat tapi kita yang sedang duduk atau membaca Al-Qur’an tidak memberikan tempat luang baginya. Padahal untuk sementara tidaklah mengapa kita memberikan tempat kepada orang tersebut untuk shalat sunah, apalagi masih ada tempat yang kosong disisi kita. Untuk hal seperti ini diperlukan jiwa besar dan saling menghargai antarjamaah agar tidak saling mendengki dan sakit hati.

Tidak boleh mencemooh orang lain atau menyakitinya. Ini sering terjadi apabila merebut tempat shalat atau antre meminum dan mengisi air zam-zam. Juga ditempat wudhu atau kamar mandi di pemondokan. Sekali lagi kesabaran dan kebesaran hati diperlukan ketika menghadapi situasi semacam itu.

Tidak boleh membawa barang-barang yang dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain kedalam masjid. Seperti, barang-barang souvenir yang kita beli. Sebaiknya belanja souvenir dilakukan ketika pulang ke pemondokan sehingga tidak mengganggu jamaah shalat.

Tidak boleh melakukan shalat ditempat tertentu seperti makam Ibrahim, ketika jamaah sedang padat khususnya pada saat thawaf. Yang seperti ini jelas orang yang tidak tahu diri. Jangan sampai kita melakukannya. Namun demikian kalau kita menjumpai hal seperti ini dilakukan orang lain, kita harus bersabar dan mencoba menasihatinya dengan baik.

Tidak boleh bercanda (guyon, main-main) ketika thawaf dan sa’i. Ketika thawaf dan da’i dibolehkan bercakap-cakap seperti yang dilakukan para sahabat Nabi saw zaman dahulu. Namun isi pembicarannya tentu yang positif, bukan canda tawa atau sesuatu yang tidak bermanfaat apalagi berbuat dosa lisan.

Dilarang membungkus potongan rambut bekas tahallul untuk dibawa. Ini maksudnya untuk mengeramatkan rambut bekas tahallul.  Padahal tidak ada artinya dan dibuang saja ditempat sampah yang telah disediakan. Kalau kita melihat orang lain seperti itu tidak perlu dicontoh dan perlu dinasihati.

Dilarang melakukan shalat sunah sehabis subuh atau ashar (kecuali setelah thawaf). Ketentuan ini berlaku pula dimana saja. Shalat sunah subuh boleh dilakukan jika kita ketinggalan melakukan shalat tersebut dan hal tersebut dilakukan karena mengqadhanya. Rasulullah saw pernah kesiangan sehingga tidak sempat mengerjakan shalat fajar dan beliau melakukannya setelah subuh.


Informasi Paket Haji Plus 2018 – 2019 – 2020

Hubungi: H.SUDJONOAF – 081388097656

 

Similar Posts:

By |2017-12-27T13:52:47+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment