Kemegahan Masjid Nabawi di Madinah Al Munawaroh

Kemegahan Masjid Nabawi pada masa modern ini mempunyai dua sisi: positif dan negatif. Positifnya, karena Dinasti Arab Saudi mempunyai kepedulian yang tinggi untuk memberikan pelayanan yang memuaskan bagi para tamu Allah yang sedang berziarah ke Madinah. Tetapi, negatifnya, kemudian muncul kesan seolah-olah bangunan masjid harus megah dan bahkan kadangkala melebihi kapasitas jemaahnya.

Masjid sejatinya mempunyai spirit sebagaimana Nabi di awal membangun Masjid Nabawi, yaitu kesederhanaan dan mengutamakan dimensi solidaritas diantara umat untuk membangun kepedulian terhadap orang-orang miskin. Dulu, Masjid Nabawi mempunyai ruang untuk kalangan fakir miskin, yang dikenal al-shuffah. Spirit masjid dalam mengentaskan kemiskinan harus senantiasa ditumbuh kembangkan, sehingga tempat yang suci ini mempunyai misi yang suci pula.

=========================================================================

INFORMASI DAN KONSULTASI UMROH MURAH 2018:

H SUDJONO AF – 0813 8809 7656 WA

=========================================================================

Kesembilan, ziarah ke makam Muhammad SAW. Tema ini amat penting, karena diantara ritual yang mesti dilakukan bagi siapapun yang berziarah ke Madinah, yaitu berziarah ke makam Nabi. Sebab itu, perlu dijelaskan perihal latar historis-teologis dibalik pentingnya ritual tersebut. Meskipun harus diketahui pula, bahwa ziarah makam Nabi bukanlah bagian dari manasik haji. Berziarah ke makam Nabi adalah undangan beliau bagi siapa pun yang melaksanakan umrah dan haji. Jika datang ke Mekkah, maka setiap muslim diundang oleh Nabi agar bertandang ke rumahnya di Madinah. Jika Mekkah adalah rumah Tuhan, maka Madinah adalah rumah Nabi.

Di samping itu, penjelasan landasan historis teologis perlu diketengahkan kepada public, karena muncul anggapan dari sebagian kelompok, bahwa ziarah makam merupakan tradisi yang dilarang agama. Mereka menganggapnya sebagai bid’ah. Pembahasan seputar ziarah makam menjadi signifikan, terutama dalam rangka memberikan penjelasan yang bersifat menyeluruh, sehingga hal-hal yang esensinya memiliki keutamaan tidak dianggap sebagai deviasi dalam agama, sebagaimana belakangan dipopulerkan oleh mereka yang kerapkali menolak doktrin kalangan sunni, khususnya dalam masalah ziarah makam.

Madinah adalah kota yang selalu melekat pada setiap muslim. Madinah mempunyai tempat tersendiri di hati setiap muslim. Ia mengisi ruang spiritual yang senantiasa haus akan nilai-nilai keutamaan. Apalagi di tengah modernitas yang makin menghilangkan dimensi spiritualitas, kerinduan untuk berziarah akan selalu datang.

Para ulama terkemuka, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Ahmad bin Hanbal menegaskan pentingnya berziarah ke makam Nabi. Ziarah tersebut merupakan salah satu bentuk kecintaan setiap muslim terhadap Muhammad SAW. Ziarah ke makamnya merupakan balasan cinta yang telah diberikan Nabi kepada umatnya. Kita pun wajib mengirimkan shalawat dan salam didepan makamnya.

Kesepuluh, meneladani Muhammad Saw. Dari keseluruhan kisah tentang Madinah, yang perlu untuk diambil sebagai hikmah adalah keteladanan Nabi. Sebab ketenangan dan kedamaian, sehingga membentuk sebuah karakter yang sangat kuat bagi orang-orang Madinah, tidak bisa dilepaskan dari peran dan kepemimpinan Nabi. Mereka yang tinggal di Madinah merasakan aura Nabi yang begitu kuat, sehingga membuat mereka mempunyai tanggung jawab untuk menjadikan kota ini damai, nyaman, dan tenang.

Satu hal yang paling menarik adalah larangan untuk meninggikan suara. Di kawasan Arab mana pun kita kerapkali melihat dan mendengar jika mereka berbicara dengan suara lantang. Tetapi, hal tersebut tidak akan ditemukan di Madinah. Orang-orang Madinah menggarisbawahi keteladanan Nabi dalam hal yang sangat sederhana hingga hal yang bersifat fundamental.

Maka dari itu, Madinah adalah kota yang selalu melekat pada setiap Muslim. Madinah mempunyai tempat tersendiri di hati setiap Muslim. Ia mengisi ruang spiritual yang senantiasa haus akan nilai-nilai keutamaan. Apalagi di tengah modernitas yang makin menghilangkan dimensi spiritualitas, kerinduan untuk berziarah akan selalu datang.

Hal tersebut sudah dinyatakan oleh mereka yang pernah datang ke Madinah. Jika datang satu kali, maka ingin dua kali. Jika sudah dua kali ingin tiga kali, dan seterusnya. Dan jantung dari itu semua, karena Madinah adalah kota Muhammad SAW, dan symbol keberhasilan beliau bersama para sahabat dan pengikutnya.

Karen Armstrong (2002) menulis, “langkah Muhammad SAW untuk melaksanakan hijrah ke Madinah merupakan sebuah langkah revolusioner. Beliau berhasil menerapkan nilai-nilai Al-Quran secara komprehensif. Hubungan antar kelompok yang sebelumnya dibanguan diatas pertalian darah, kemudian diubah oleh Nabi berdasarkan ideology yang sama. Nabi tidak melakukan pemaksaan kepada kelompok lain. Ia justru menyebut orang-orang Muslim, kaum pagan, dan Yahudi sebagai ummah, yang mana diantara mereka bersepakat untuk tidak saling menyerang dan menjamin kebebasan bagi setiap kelompok. Muhammad SAW telah menjadi sumber inspirasi bagi perdamaian.”

Testimoni Armstrong tersebut semakin mengukuhkan keyakinan kita, bahwa keberhasilan Nabi di Madinah harus menjadi pijakan dan rujukan bagi setiap Muslim untuk membangun kepercayaan diri yang tinggi, bahwa Islam yang diusung Muhammad SAW adalah agama yang dapat menerima kebhinekaan dan mendorong perdamaian. Dan salah satu khazanah yang sangat penting untuk visi dan misi tersebut adalah Madinah.

Buku ini diharapkan dapat mengisi dan menjawab kerinduan setiap muslim terhadap Madinah. Akan sangat baik, jika kerinduan tersebut disempurnakan dengan pengetahuan yang mendalam tentang konteks sejarah dan konteks sosial. Semakin luas dimensi yang bisa diungkap, maka akan semakin banyak wawasan dan hikmah yang bisa diambil. Kata Imam Ali bin Abu Thalih, hikmah adalah harta karun umat Islam yang hilang, maka dimanapun mendapatkannya mesti memilikinya.

Arba’in di Masjid Nabawi di Madinah Al Munawaroh

Arba’in adalah bilangan yang berarti ‘empat puluh’ yaitu shalat wajib 5 waktu dilakukan berjamaah di Masjid Nabawi selama 8 hari terus menerus tanpa terputus sampai bilangannya mencapai 40 waktu (8 hari x 5 waktu).

Arbain sepertinya merupakan semacam asumsi berdasarkan praktek ibadah yang disebut-sebut dalam hadis Nabi tentang keutamaan shalat berjamaah di Masjid Nabawi sebagai berikut:

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang shalat di Masjidku ini empat puluh shalat dan tidak tertinggal satu shalat pun (berturut-turut) maka akan bersih (terlepas) dari siksa neraka, lepas dari azab, dan bersih dari kemunafikan.”

(Hadis Riwayat: Ahmad)

Dari hadis inilah kemudian muncul istilah Arba’in empat puluh waktu di Masjid Nabawi dan banyak jamaah haji berusaha untuk mendapatkan catatan Arba’in di Masjid Nabawi ini.

Similar Posts:

By |2018-02-11T06:38:37+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment