Madinah Kota Kecintaan Nabi Muhammad SAW

Kedatangan Nabi Muhammad SAW ke Madinah disambut baik oleh kedua kabilah tersebut, karena mereka memandang beliau sebagai sosok yang diyakini dalam mewujudkan perdamaian. Apalagi sebagian pemuka Yahudi telah meramal perihal kedatangan seorang pemimpin besar yang akan menetap di Madinah. Pemimpin tersebut akan menjadi fajar kebangkitan dan kemakmuran Madinah.

 

====================================================

Informasi Umroh Murah 2018 2019 2020

Hubungi: H. SUDJONO AF – 081388097656 WA

=====================================================

Madinah hingga sekarang ini sebagai “kota kurma”. Kurma Madinah termasuk kurma yang sangat disukai oleh orang-orang Arab dan kalangan muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka yang bertandang ke Madinah pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan kurma, terutama kurma Ajwa.

Madinah Pada Masa Nabi

Madinah pada masa Nabi ditandai dengan kehidupan beragama yang gegap-gempita. Masjid dijadikan sebagai pusat pengenalan ajaran Islam yang mengajak umatnya pada ketauhidan dan kehidupan yang damai. Di samping itu, adanya komunikasi yang bersifat intensif antara Nabi dengan pihak-pihak yang berada di Madinah. Begitu pula, terbit komitmen bersama untuk melawan segala bentuk kezaliman yang dilakukan oleh pihak-pihak yang mengganggu ketenangan hidup di Madinah.

Muhammad SAW di catat dalam sejarah sebagai pemimpin yang berhasil menjadikan Madinah sebagai kota yang aman dan damai untuk seluruh penduduknya, sehingga dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab sebagian besar penduduk Madinah memeluk Islam. Apalagi setelah kemenangan di raih Nabi dalam beberapa peperangan, hal tersebut telah menyebabkan munculnya kepercayaan yang tinggi, bahwa Nabi dapat melindungi mereka dari berbagai ancaman pihak luar.

Pada masa sebelum Islam, orang-orang Yahudi kerapkali membangun rumah dan benteng-benteng pertahanan, karena mereka takut bilamana ada agresi dari luar, terutama agresi dari orang-orang Arab nomaden. Tetapi pada masa Nabi, orang-orang Madinah tidak memerlukan lagi benteng-benteng pertahanan, karena Nabi telah memberikan jaminan kepada mereka tentang keamanan dari musuh. Dan jaminan tersebut diperoleh setelah adanya kesepakatan bersama untuk menjadikan Madinah sebagai kota yang dibangun diatas fondasi kebersamaan, termasuk kebersamaan dalam melawan musuh.

Muhammad SAW pada masa Islam telah berhasil membangun persaudaraan di internal umat Islam, terutama kalangan Anshar dan Muhajirin. Persaudaraan internal merupakan modal yang sangat besar untuk memberikan keteladanan kepada orang-orang lain. Persaudaraan yang begitu hangat dan harmonis telah menyebabkan kelompok-kelompok lainnya turut serta untuk menjadikan Nabi sebagai symbol persaudaraan yang bersifat luas, yaitu persaudaraan diantara seluruh penduduk Madinah.

Keenam, Madinah pada masa modern. Dinasti Ottoman merupakan salah satu Dinasti Islam yang mempunyai jasa besar dalam mengantarkan Madinah pada fase modern. Mereka menyediakan fasilitas infrastruktur dan membangun kembali Masjid Nabawi, terutama setelah mengalami kebakaran pada akhir Dinasti Abbasiyah.

Pengabdian yang begitu besar ditunjukkan oleh Dinasti Ottoman dilanjutkan oleh Dinasti Arab Saudi setelah mereka menguasai Hijaz pada tahun 1932. Tersedianya transportasi pesawat yang dapat mengangkut para jemaah umrah dan haji dari berbagai penjuru dunia telah menyebabkan lonjakan jumlah mereka yang ingin berziarah ke kota Madinah. Di samping itu, naiknya harga minyak dunia telah menjadikan Arab Saudi sebagai salah satu kota yang mempunyai kekayaan melimpah, sehingga dimulailah renovasi secara besar-besaran di kota Nabi tersebut.

Piagam Madinah

Ketujuh, Piagam Madinah. Piagam ini mendapatkan perhatian khusus dalam buku ini, karena merupakan salah satu konstitusi yang paling modern dan barangkali yang pertama dalam sejarah konstitusi dunia. Piagam Madinah telah menjadi khazanah yang sangat baik untuk membangun sebuah Negara-bangsa yang di satu sisi menjamin kebhinekaan diantara warga Negara, tetapi juga di sisi lain memberikan jaminan kebebasan beragama. Spiritualitas yang dibangun adalah spiritualitas inklusif, yang diantara tujuannya adalah membangun persaudaraan dan perdamaian.

Piagam Madinah memuat nilai-nilai yang sangat penting, terutama dalam hal kesetaraan antarwarga, kebebasan beragama dan jaminan keamanan. Ketiga hal ini menjadi nilai yang sangat penting dan pada beberapa tahun mutakhir diperbincangkan sebagai sebuah keniscayaan dalam demokrasi.

Dalam hal ini, Madinah pada masa Muhammad SAW telah memberikan pengalaman dan pelajaran yang sangat berharga, yang perlu untuk dijadikan rujukan sehingga umat Islam dapat melanjutkan keteladanan politik, sebagaimana diwariskan oleh Nabi dan para sahabatnya. Umat Islam tidak perlu khawatir dengan demokrasi, karena Piagam Madinah pada hakikatnya merupakan sebuah konstitusi yang dilahirkan dari proses demokrasi deliberatif. Yaitu demokrasi yang bersumber dari aspirasi seluruh penduduk Madinah, yang diperkuat dengan sendi-sendi moralitas dan spiritualitas dalam agama-agama samawi, khususnya Islam.

Kedelapan, Masjid Nabawi. Masjid ini merupakan salah satu bangunan yang mempunyai nilai historis-teologis yang paling utama di Madinah. Setiap orang yang datang ke Madinah, hati dan pandangannya pasti tertuju ke tempat yang bersejarah ini.

Pada mulanya, Masjid Nabawi adalah masjid yang dibangun Nabi dengan sangat sederhana, sebagaimana bangunan masjid di pedalaman dan pelosok desa. Bahkan bangunan tersebut identik dengan mushalla dalam konotasi mutakhir. Tetapi, dalam perjalanannya Masjid Nabawi menjelma sebagai bangunan yang sangat megah. Dinasti-dinasti Islamiah yang memprakarsai renovasi besar-besaran. Dimulai Dinasti Umayah, Dinasti Abbasiyah, Dinasti Ottoman, dan Dinasti Arab Saudi modern. Sedangkan renovasi yang sangat mewah dengan anggaran yang melimpah ruah adalah renovasi kedua Dinasti Saudi yang diprakarsai oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz.

Similar Posts:

By |2018-02-07T16:28:23+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment