Dalam Ibadah Haji dan Umroh Ada Dispensasi

Dalam Ibadah Haji Umroh Ada Dispensasi. Pada bab-bab awal di muka disebutkan bahwa ibadah haji dan umrah adalah ibadah yang penuh dengan kegiatan fisik. Mulai dari perjalanan menuju ke tanah suci, thawaf, sa’i, wukuf, mabit, jamarat, dan sebagainya. Semuanya fisik. Karena fisik, maka sebaiknya ibadah tersebut dikerjakan oleh orang yang masih muda dan tenaga yang full. Sementara ada banyak jamaah ibadah haji, terutama dari Indonesia yang sudah tua renta, meskipun tahun-tahun terakhir sudah mulai berubah. Sudah banyak pula anak muda atau keluarga muda yang pergi ibadah haji. Memang, orang yang pergi ibadah haji dalam keadaan sudah tua tidak dapat disalahkan. Sebab, rata-rata mereka baru mampu pergi ibadah haji dari segi materi ketika usia sudah menjelang tua. Ketika muda mereka belum punya biaya untuk menunaikannya.

==================================================

Informasi Program Umroh Promo Murah 2018 2019 2020 Hubungi:

H. SUDJONO AF – 081388097656 WA

==================================================

Namun islam adalah ajaran yang penuh rahmat bagi semua. Dalam ajaran islam ada prinsip bahwa Allah swt tidak memberikan beban kepada seseorang kecuali sesuai dengan kemampuan orang tersebut. Apabila manusia diperintahkan untuk melakukan sesuatu, maka lakukanlah perintah itu sesuai dengan kemampuannya. Dari prinsip inilah lahir ajaran rukhshah atau dispensasi. Ada keringanan untuk mereka yang tidak mampu mengerjakan sebuah ibadah.

Bagi mereka yang karena udzur tidak bisa thawaf, maka pelaksanaan thwafnya bisa dilakukan dengan cara ditandu/digotong atau diatas kursi roda. Untuk thawaf khusus yang menggunakan kursi roda disediakan dilantai 2 paling pinggir/dekat dengan Ka’bah. Untuk naik keatas bisa melalui lift atau naik melewati jalan dekat bukit marwa. Bagi pendorong kursi roda sebaiknya hati-hati karena tidak sedikit jamaah ibadah haji (biasanya dari negara lain) yang menggunakan jalur kursi roda tersebut untuk thawaf. Dikhawatirkan bisa menabrak kalau jalan kebetulan sedang macet secara tiba-tiba.

Demikian pula dengan mereka yang udzur tidak dapat melakukan sa’i, maka pelaksanaan sa’i nya dengan menggunakan kursi roda. Untuk jalur sa’i bagi yang menggunakan kursi roda ada ditengah-tengah jalur antara shafa dan marwa baik dilantai 2 maupun lantai 3.

Bagi mereka yang tidak dapat melakukan lempar jumrah maka pelaksanaan jumrahnya dapat diupahkan atau diwakilkan kepada orang lain. Orang yang mewakilinya akan melempar terlebih dahulu jumrah miliknya baru setelah selesai ia niat melemparkan jumrah bagi orang yang diwakilinya.

Bagi mereka yang udzur/sakit dan hanya bisa berbaring di rumah sakit pada waktu pelaksanaan wukuf tetap harus melaksanakannya. Caranya dengan berada di mobil/ambulan) disebut “safari wukuf” atau di rumah sakit arafah), sekalipun waktunya tidak penuh. Biasanya untuk menghindari jamaah yang lain maka safari wukuf dimulai sejak ashar sampai magrib dan kemudian kembali lagi ke rumah sakit. Bagi jamaah ibadah haji Indonesia, safari wukuf sudah diatur oleh pihak pemerintah kita.

Sebagaimana telah diterangkan didalam bab dam, bagi mereka yang tidak mampu membayar dam tamattu atau qiran, maka wajib berpuasa 10 hari, yang pelaksanaanya 3 hari di tanah suci dan 7 hari diluar tanah suci.

Juga bagi mereka yang tidak dapat melakukan  mabit dengan jalan tidur di Muzdalifah, boleh melakukannya dengan hanya berada didalam kendaraan. Bis akan berhenti sebentar di Muzdalifah kemudian berangkat lagi menuju Mina. Bagi mereka yang sakit/udzur, mabit di Muzdalifah boleh hanya sampai tengah malam.

Begitu kasih dan murahnya Allah sehingga seorang hamba yang ingin menunaikan ibadah tetap diberikan kesempatan meskipun kondisinya sedang udzur atau sakit. Namun ada kalanya seseorang sebetulnya malas tapi ia meminta rukhshah atau keringanan dalam melaksanakan ibadah. Untuk orang yang seperti itu rukhshah tidak dapat diberikan. Dan yang dapat mengukur seberapa kuat seseorang untuk melakukan ibadah adalah orang itu sendiri.

Selama ini kita juga mengenal adanya rukhshah lain diluar ibadah ibadah haji. Misalnya soal shalat ketika kita dalam perjalanan atau sedang sakit. Allah telah memberikan rukhshah berupa jama’ dan qashar shalat. Jama’ artinya mengumpulkan dua waktu shalat menjadi satu. Seperti shalat zuhur dan ashar dikerjakan pada waktu zuhur atau pada waktu ashar. Shalat magrib dan isya dikumpulkan di waktu magrib atau waktu isya (subuh tidak dapat dijama’). Sedangkan qashar artinya meringkas. Yang dapat diringkas adalah shalat yang empat rakaat. Zuhur, ashar dan isya dari empat rakaat boleh diringkas menjadi dua rakaat. Dalam perjalanan kita dapat menjama’, mengqashar maupun sekaligus menjama’ dan mengqashar shalat.

Kemudian Allah juga memberikan keringanan bagi orang sakit yang tidak dapat menyentuh air ketika berwudhu. Juga ketika dalam keadaan sehat air tidak ditemukan. Pada saat tidak ada air atau tidak dapat menggunakan air, maka wudhu dan mandi besar boleh diganti dengan tayammum, dengan cara menepukkan kedua telapak tangan kesatu benda yang bersih/suci, kemudian mengusapkannya ke muka (wajah) dan ke tangan sampai pergelangan. Tayamum ini boleh dipergunakan untuk beberapa kali shalat selama tidak batal wudhu/tayamumnya. Batal tayamum sama dengan batal wudhu ditambah karena ada air, bagi yang bertayamum karena tidak ada air.

Dalam keadaan darurat, shalat dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan. Seperti ketika berada dalam kendaraan atau sedang sakit, baik arah maupun caranya. Misalnya seseorang tidak kuat berdiri maka boleh shalat dengan duduk. Tidak kuat duduk bisa berbaring. Tidak kuat berbaring bisa dengan anggukan atau tanda gerakan mata. Pokoknya khusus untuk shalat seseorang tidak boleh meninggalkannya kecuali dalam keadaan haid maupun nifas.

Mencuci kaki atau mengusap rambut boleh boleh dengan tidak membuka sepatu/tutup kepala dengan syarat ketika memakainya dalam keadaan berwudhu dan ketika shalat sepatu atau tutup kepala tersebut dipakai maksimal satu hari atau tiga hari bagi mereka yang sedang dalam safar (perjalanan).

Dan masih banyak lagi. Intinya, Allah memberikan beban kewajiban sesuai dengan kondisi seseorang. Pada akhirnya semua orang sesungguhnya harus beribadah kepada Allah karena tidak ada alasan lagi menolaknya dengan adanya syariat rukhshah. Ketika keadaan menjepit maka syariat menjadi longgar. Ketika keadaan melonggar maka syariat menjadi pembatas. Maksudnya adalah ketika kita sedang sakit, berarti segala sesuatunya menjadi susah. Maka Allah melonggarkan kewajiban shalat yang tadinya harus berdiri boleh duduk. Demikian pula dalam keadaan longgar kita tidak boleh memakan daging babi. Namun ketika ada kondisi dimana seseorang tidak mendapatkan makanan kecuali daging babi, dan kalau tidak makan maka ia akan mati maka dalam keadaan darurat daging tersebut boleh dimakan sekadarnya hingga badan bisa menjadi tegak kembali.

Rukhsah adalah bukti kemahaasihan Allah. Kita disarankan mengambilnya apabila mendapati diri dalam keadaan yang seperti itu.

Dalam Ibadah Haji dan Umroh Ada Dispensasi

Similar Posts:

By |2017-12-15T13:31:58+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment