Ibadah Haji, Perkara Yang Wajib Dihindari

Mesti Dihindari Dalam Ibadah haji. Seperti ibadah lainnya, shalat atau puasa misalnya, ibadah ibadah haji juga ada beberapa larangan atau pantangan untuk dilakukan. Bisa yang hukumnya haram, bisa juga makruh. Selain perbuatan salah dan dosa yang sudah dimaklumi oleh setiap muslim, ada beberapa perbuatan yang sering tidak dianggap sebagai kesalahan, padahal perbuatan tersebut tidak layak dilakukan oleh seseorang, khususnya mereka yang  sedang melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

=======================================================

Konsultasi Paket Umroh Murah Ramadhan

Hubungi; H. SUDJONO AF – 081388097656 WA

=======================================================

Oleh karena itu, selama ibadah ibadah haji, perilaku perlu dijaga. Seorang yang sedang melaksanakan ibadah ibadah haji dan umrah, selain harus menjauhkan diri dari perbuatan rafats, fusuuq, dan jidaal, serta seluruh perbuatan melanggar larangan ihram, juga harus berusaha untuk melaksanakan rangkaian ibadah ibadah haji sesuai dengan contoh Rasulullah saw serta menjauhi semua larangan dan perbuatan yang dapat mengganggu atau menyakiti orang lain.

            Untuk itu, perlu seseorang mempelajari manasik ibadah haji seperti yang dilakukan Rasulullah saw. Kalau perlu dengan dalil-dalil agar tambah mantap. Janganlah kita beribadah karena melihat orang lain beribadah. Sebab, orang lain belum tentu benar. Di tanah suci, kita akan dapatkan berbagai macam orang beribadah. Jika kita tidak punya pegangan, niscaya akan bingung menghadapi keanekaragaman tersebut. Dan kita juga akan melihat diantara perbuatan-perbuatan yang dilakukan para jamaah ibadah haji/umrah sering kita dapati kesalahan-kesalahan yang harus dihindari, diantaranya adalah sebagai berikut.

Ibadah Haji, Perkara Yang Wajib Dihindari

Tidak boleh memperlihatkan aurat. Tidak jarang bagi pria atau wanita tidak mengetahui auratnya sehingga kebiasaan di tanah air dibawa ke tanah suci. Seorang wanita tidak menutup seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Kadang kala mereka sudah menutup aurat tapi kain yang dipakainya ketat atau tipis sehingga masih membentuk lekuk tubuhnya. Ada pula sudah menutup rapat auratnya, namun hanya kalau keluar pondokan. Disekitar pemondokan ia membuka auratnya dan memperlihatkannya kepada yang bukan muhrim disekitarnya. Demikian pula jamaah laki-laki, ketika berada di pemondokan mengenakan celana pendek sehingga aurat yang mestinya ditutup dari pusar hingga ke lutut tidak tertutupi.

Tidak boleh melampaui batas miqat. Yaitu, terlambat berihram ketika sampai kepada miqat makani sehingga kelebihan (kelewatan). Hal ini tidak diperkenankan dan kalau dilanggar harus membayar dam.

Tidak boleh menambah-nambah ucapan niat ketika berihram atau menambah-nambah lafadzh talbiyah. Lafadz talbiyah sudah ditentukan redaksinya oleh Nabi saw sehingga kita tidak diperkenankan untuk menambahi atau menguranginya.

Tidak boleh mengucapkan talbiyah terlalu keras, atau menyanyikannya sampai mengubah makhraj atau menyanyikannya sampai mengubah makhraj atau aturan membacanya. Beberapa waktu lalu ada grup nasyid yang melagukan lafadz talbiyah. Apabila sedang berihram dan mengumandangkan bacaan talbiyah sebaiknya tidak menggunakan nada nasyid tersebut karena tidak sesuai makhrajnya.

Wanita tidak boleh mengimami talbiyah, padahal banyak jamaah pria yang bukan muhrim. Sedangkan lafadz talbiyah bukan sesuatu yang sulit. Kalau memang pembimbing ibadah haji yang pria tidak ada dam dan yang ada hanya wanita, sebaiknya seorang jamaah pria tampil menggantikan pembimbing ibadah haji pria yang tidak hadir tersebut daripada dipimpin oleh seorang wanita.

Masuk Masjidil Haram tidak boleh langsung sujud tanpa shalat dan tanpa thawaf. Padahal sunah ketika masuk Masjidil Haram adalah melakukan thawaf sebagai ganti shalat tahiyatul masjid. Kekaguman atas bangunan Ka’bah cukup direspon dengan doa dan dzikir saja.

Tidak boleh melakukan thawaf wada’ padahal seluruh rangkaian ibadah ibadah haji belum selesai, misal sebelum selesai jamarat. Secara nama saja thawaf wada’ artinya thawaf perpisahan. Jadi seharusnya setelah thawaf tidak ada aktivitas lagi kecuali menunggu kendaraan untuk mengangkutnya keluar Mekah. Diperbolehkan melakukan thawaf wada’ pada malam hari ketika bis yang mengangkut keluar Mekah berangkat sebelum atau pas setelah shalat subuh.

Tidak boleh membelakangi Ka’bah ketika thawaf. Ketika thawaf, kita bergerak mengeliingi Ka’bah berlawanan arah jarum jam. Seyogianya sampai badan kita tegak lurus dengan Ka’bah. Dengan demikian, diusahakan agar badan tidak membelakangi atau menghadap Ka’bah ketika thawaf.

Ibadah Haji, Perkara Yang Wajib Dihindari

Similar Posts:

By |2017-12-27T13:32:13+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment