Hari Penahklukan Kota Makkah – Ilalang Barokah Travel

Hari Penahklukan Kota Makkah. Itulah hari besar dan agung yakni saat penaklukan kota Makkah al Mukaromah. Pada hari itu, Allah SWT memuliakan agama Islam, rasul, pasukan muslimin dan kota suciNya Makkah. Pada hari itu, Allah SWT membebaskan kota Mekkah al Mukaromah, serta Masjidil Haram dari berbagai jenis berhala, yang selanjutnya menjadi petunjuk bagi alam semesta dari cengkeraman orang-orang kafir dan musyrikin.

Pada hari itu  Rasulullah Muhammad SAW meminta para pemimpin pasukan muslimin untuk tidak memerangi dan membunuh orang-orang kafir yang menyerah, kecuali orang yang menyerangi mereka. Namun Rasulullah Muhammad SAW mengecualikan beberapa orang yaitu Al-Huwairits, Abdullah bin Khathal, Habbar bin Aswad, Maqis bin Shahabah, Abdullah bin Abi Sarh, Ikrimah bin Abu Jahal dan dua orang biduanita milik Abdullah bin Khatbal yang pernah menyanyi sambil menghina Rasulullah. Juga ada seorang budak wanita milik Bani Muththalib yang bernama Sarah. Dimanapun mereka bersembunyi dan berada hukumannya adalah dibunuh, meskipun mereka sedang memegang sitar Ka’bah.

Hari Penahklukan Kota Makkah Rasulullah membebaskan kaum musrik Makkah

Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Wahai orang-orang Quraisy! Perlakuan apakah yang bakal aku jatuhkan kepada kalian?” Mereka menjawab: “Pasti perlakuan yang baik. Engkau adalah orang baik, putra seseorang yang baik.” Rasulullah bersabda lagi: “Ketauhilah! Hari ini aku mengatakan seperti yang dikatakan Nabi Yusuf kepada para saudaranya, yaitu:

            “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian. Mudah-mudahan Allah mengampuni kalian dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang.” (QS. Yusuf: 92)

            “Ketauhilah! Kalian semua adalah mereka, pergilah dengan penuh kebebasan…”

            Setelah itu beliau duduk didalam masjid sambil membawa kunci Ka’bah. Ali bin Abi Thalib menghampirinya dan berkata: “Wahai Rasulullah! Serahkanlah semua urusan siqoyah dan hijabah Ka’bah ini kepadaku. Semoga Allah senantiasa memberkati engkau!”

Sedang dalam riwayat lain disebutkan, bahwa yang meminta hal itu kepada Rasulullah adalah Al-Abbas bin Abdul Muththalib.

Rasulullah menjawab: “Dimanakah Utsman bin Thalhah?” Utsman pun dipanggil. Setelah Utsman hadir dihadapan beliau, beliau langsung berkata: “Wahai Utsman, ambillah kunci Ka’bah ini! Hari ini adalah hari kesetiaan dan penepatan janji, yang berhak memegang kunci Ka’bah beserta siqoyah dan hijabah hanyalah Engkau.”

Dalam riwayat lain, Nabi hampir memberikan kunci itu kepada Al-Abbas bin Abdul Muththalib, kemudian beliau mengurungkannya karena Allah menurunkan ayat dibawah ini: “Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada ayng berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa: 58)

Bahwa disebutkan pula dalam Ath-Thaqabat karya Ibnu Saad dari Utsman bin Thalhah ia berkata: “Pada masa jahiliyah dulu kami selalu membuka pintu Ka’bah setiap hari senin dan kamis. Kemudian pada suatu hari Rasulullah menghampiriku,  beliau hendak masuk kedalam Ka’bah bersama banyak orang, tapi aku malah menutup pintu itu rapat-rapat dan melarang beliau mendekatinya.

Meskipun demikian, beliau tetap berlaku santun padaku dan berkata: “Wahai Utsman! Suatu hari nanti, kamu pasti melihat kunci ini berada ditanganku, aku akan memberikannya kepada siapapun yang aku kehendaki.” Aku langsung menjawab: “Jika benar perkataanmu, sungguh di hari itu orang-orang Quraisy telah hina dina, tak mempunyai kekuatan apapun.” Beliau menjawab: “Tidak! Malah orang-orang Quraisy dihari itu sangat disanjung dan dimuliakan.”

Nah! Ketika Rasulullah masuk kedalam Ka’bah saat penaklukan kota Makkah, aku kembali teringat perkataannya yang dulu. Aku sangat khawatir, jangan-jangan perkataan itu menjadi kenyataan, dan kunci Ka’bah ini diberikan kepada orang lain.

Tapi dugaanku tidak benar sama sekali. Di hari Fathu Makkah (penaklukan kota Makkah) beliau malah mencari dan memanggilku: “Wahai Utsman! Berikan kunci itu padaku.” Kunci Ka’bah langsung aku serahkan kepada beliau. Setelah masuk ke dalam Ka’bah, beliau langsung mengembalikan kunci itu padaku dan berkata: “Ambillah kunci Ka’bah ini. Kunci ini selamanya berada ditanganmu dan tangan anak cucumu secara turun menurun. Tak ada yang mengambilnya dari tangan kalian kecuali orang zhalim. Wahai Utsman! Sesungguhnya Allah mengamanatkan urusan Baitullah ini kepada kalian, maka makanlah secara baik apapun yang sampai kepada kalian dari Baitullah ini.”

Utsman meneruskan kisahnya: Setelah kau berlalu, beliau memanggilku lagi dan bertanya: “Masih ingatkah kamu dengan yang kukatakan padamu dulu?” Utsman berkata: “Kemudian aku teringat dengan perkataan beliau yang pernah dikatakannya padaku sebelum hijrah. Aku langsung berkata: “Ya, aku masih ingat. Maka aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah menyuruh Bilal naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan suara adzan di atas sana. Saat itu Abu Sufyan bin Harb, Attab bin Asid, Harits bin Hisyam dan para pembesar Quraisy sedang duduk-duduk di halaman Ka’bah.

Attab bin Asid berkata: “Allah telah memuliakan Asid dengan meninggal terlebih dahulu, sehingga tak mendengar suara adzan yang membuat hatinya menjadi murka.” Kemudian Harits berkata: “Kalau aku tahu bahwa Muhammad adalah benar, pasti sejak dulu aku mengikutinya.” Abu Sufyan yang ada diantara mereka berkata: “Demi Allah! Aku tidak berkata apa-apa. Jika aku berkata sedikit saja, pasti kerikil-kerikil disini mengabarkannya kepada Rasulullah.”

Tiba-tiba Rasulullah mendatangi mereka dan berkata: “Aku sudah mengerti yang baru saja kalian katakan.” Kemudian beliau memberitahukan kepada mereka bahwa mereka berkata ini dan itu. Akhirnya Harits dan Attab menjawab: “Demi Allah! Kami bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Sungguh! Tak ada seorangpun yang datang kepada kami, sehingga kami bisa mengatakan bahwa ia mengadukan perkataan kami padamu. (Hanya Allahlah yang memberitahumu.”) Sedang dalam riwayat Imam Al-Bukhari dari Usamah bin Zaid ia bertanya kepada Rasulullah saat hendak menaklukan kota Makkah: “Wahai Rasulullah! Besok kita tinggal dirumah siapa?” Nabi menjawab: “Apakah Aqil meninggalkan sebuah rumah (buat kita) yang bisa kita tempati?!” Di riwayat yang lain: “Apakah Aqil meninggalkan untuk kita tempat singgah atau rumah?” Beliau berkata demikian karena yang mewarisi harta Abu Thalib adalah Aqil dan Thalib, keduanya adalah kafir. Sedangkan Ali dan Ja’far, keduanya tidak mendapat warisan apa-apa karena mereka telah menjadi muslim.

Dalam riwayat lain beliau menjawab: “Tempat tinggal kita insya Allah adalah Khaif bani Kinanah. Karena, saat kafir dulu mereka saling berbagi tanah dengan orang-orang Quraisy.”

Mereka berbagi tanah, karena saling berjanji untuk tidak menikah dan bermuamalah dengan Bani Hisyam serta Bani Muththalib, sampai kedua suku itu menyerahkan Nabi Muhammad kepada mereka.

Setelah itu Rasulullah masuk kerumah Ummu Hani binti Abu Thalib, beliau mandi dan shalat delapan rakaat disana. Saat itu adalah waktu Dhuha, seperti yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihnya dari Ummu Hani.

Dalam riwayat lain Ummu Hani berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shalat dengan cepat kecuali saat itu. Namun beliau tetap menyempurnakan ruku dan sujudnya.”

Di hari itu juga Ummu Hani memintakan perlindungan untuk saudara iparnya kepada Rasulullah. Nabi berkata padanya: “Kami pasti melindungi dua orang yang kamu lindungi itu.”

Ummu Hani berusaha menyelamatkan mereka, karena saudara laki-lakinya, Ali bin Abi Thalib, berniat membunuh keduanya. Sehingga ia langsung menutup rapat pintu rumahnya dan memberitahu Nabi tentang hal itu.

Keesokan harinya, Rasulullah berkhutbah dihadapan para manusia. Beliau memuji Allah, dan bertahmid padaNya, seperti dalam riwayat Al-Bukhari dari Abi Syuraikh Al-Adawi saat berkata kepada Amru bin Said, seorang gubernur yang saat itu mengumpulkan bala tentaranya untuk menyerang Makkah. Dia berkata: “Bapak gubernur yang terhormat! Izinkanlah saya memberitahukan kepada Anda sebuah Hadis Rasulullah yang beliau katakan pada esok hari setelah fathu Makkah. Hadis tersebut saya dengar sendiri dengan kedua telinga saya. Hati saya betul-betul mencamkannya dan kedua mata saya memandang beliau saat beliau mengatakannya. Terlebih dahulu beliau menemui dan mengagungkan Allah, kemudian bersabda:

“Sesungguhnya Allahlah yang mengharamkan kota Makkah ini, bukan manusia. Ketauhilah! Tidak diperbolehkan bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menumpahkan darah disana, atau mencabut pepohonannya. Jika ada seseorang yang memperbolehkan dengan dalih “Bahwa Rassulullah pernah memeranginya”, maka katakan padanya: ‘Sesungguhnya Allah mengizinkan memerangi kota Makkah hanya buat Rasulullah saja, Dia tidak mengizinkannya buat kalian. Ketauhilah! Izin Allah kepadaku untuk memeranginya hanya satu jam saja di waktu siang, setelah itu kota Makkah kembali haram seperti sediakala, maka orang yang hadir hendaknya memberitahukan orang yang tidak hadir disini.”

Hari Penahklukan Kota Makkah

========================================================================

Informasi Paket Umroh Promo Murah Bulan Januari Februari Maret April 2018 – 2019 – 2020 hubungi:

Ilalang Barokah Travel

H. Sudjono AF – 081388097656 WA

Similar Posts:

By |2017-12-07T04:43:28+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment