Madinah Kota Ilmu Pengetahuan dan Pertanian

Madinah juga dikenal sebagai kota ilmu dan kota pertanian. Madinah menjadi tempat penempaan kader-kader muda muslim untuk menimba ilmu. Nabi memprakarsai misi tersebut dengan mengajarkan langsung para sahabat dan mereka yang tinggal di al-shuffah. Merekalah kemudian yang melestarikan pesan-pesan Nabi yang tertuang dalam hadis dan  mengantarkan pada proyek kodifikasi Al-Quran. Tradisi keilmuan di Madinah terus dilanjutkan oleh para ulama hingga Masa sekarang. Diantara ulama fikih yang sangat tersohor, yaitu Malik bin Anas. Pandangan keagamaannya menjadi salah satu rujukan penting, terutama dalam bidang hadis dan fikih.

===================================================

Informasi Paket Umroh Itikaf Ramadhan

Hubungi: H. SUDJONO AF – 081388097656 WA

=====================================================

 

Madinah Kota Peradapan

Madinah adalah kota mimpi yang disulap oleh Nabi menjadi kota peradaban, yang mana spiritualitas dan moralitas mempunyai tempat yang sangat terhormat. Jika di mekkah ajaran Islam yang mengedepankan kemaslahatan dan kebijakan cenderung di tantang oleh orang-orang pagan Quraysh, tetapi di Madinah ajaran Islam justru diterima dengan lapang dada dan gegap-gempita.

Madinah merupakan kota yang berbeda dengan Mekkah, karena didalamnya terdapat lahan pertanian yang menjadi sumber dari mata pencaharian penduduknya. Orang-orang Arab dikenal sebagai masyarakat yang nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Tetapi, ketika mereka menetap di Madinah, mereka memilih untuk menetap dalam waktu yang cukup lama. Hal tersebut terkait dengan keutamaan tanahnya yang subur.

Madinah hingga sekarang ini dikenal sebagai “kota kurma”. Kurma Madinah adalah termasuk kurma yang sangat disukai oleh orang-orang Arab dan kalangan muslim dari berbagai penjuru dunia. Mereka yang bertandang ke Madinah pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendapatkan kurma, terutama kurma Ajwa. Nabi dikisahkan sangat menyukai kurma tersebut. Disamping kurma, juga terdapat pertanian sayur dan buah-buahan lainnya yang menjadi konsumsi masyarakat Arab Saudi.

Konon, para sahabat amat mencintai kota ini, karena mereka dapat bertani untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Setelah hijrah mereka kehilangan pekerjaan dan sanak keluarga. Tetapi lahan pertanian yang subur di Madinah telah membuka kesempatan bagi mereka untuk bertani. Tempat yang dibangun di Masjid Nabawi dulunya adalah lahan pertanian kurma, yang kemudian dijadikan tempat penjemuran buah kurma. Kemudian Nabi membeli tanah tersebut untuk dijadikan sebagai masjid dan tempat tinggal Nabi.

Keempat, Madinah sebelum islam. Fase ini merupakan salah satu fase yang penting diketahui, karena latar historis Madinah akan memberikan wawasan dan potret sosial yang cukup lama. Orang yang pertama datang ke Madinah adalah Yatsrib, yang kemudian dijadikan sebagai nama kota tersebut. Lalu, Dinasti Amalekit yang berpusat di Mesir mengambilalih kepemimpinan, karena Yatsrib tidak lama tinggal di Madinah dan pindah ke Juhfah. Hal tersebut barangkali terkait dengan tradisi nomaden orang-orang Arab yang suka berpindah-pindah, meskipun ada yang mengatakan mereka di usir oleh Dinasti Amalekit.

Kemudian Madinah dikuasai oleh orang-orang yahudi sebagai konsekuensi kemenangan Musa atas Fir’aun di Mesir. Orang-orang Yahudi menguasai sebagian besar Jazirah Arab, dan Madinah menjadi tempat yang nyaman bagi mereka. Kabilah yang datang pertama kali adalah Bani Qaynuqa, kemudian Bani Quraydza dan Bani Nadhir. Dalam kurun waktu yang cukup lama, ketiga kelompok ini menjadi kelompok mayoritas di Madinah. Berangsur-angsur kelompok Yahudi lainnya juga berdatangan ke tempat ini, terutama orang-orang Arab yang memeluk Yahudi.

Eksistensi mereka berakhir di saat kabilah Arab, yaitu Aws dan Khazraj menempati kota tersebut. Pemimpin mereka akhirnya ditaklukan oleh kabilah Aws dan Khazraj, teruutama setelah dibantu oleh Raja Ghassan di Yaman, yang pada saat itu berafiliasi dengan Romawi Byzantium. Ada yang berpendapat, sikap Raja Ghassan yang sangat agresif untuk melawan orang-orang Yahudi di Madinah terkait dengan persaingan antara Yahudi dan Kristen. Ada pendapat lain yang juga mengukuhkan, bahwa Raja Ghassan juga mempunyai pertalian darah dengan kabilah Khazraj.

Madinah Dimasa Islam

Kelima, Madinah masa Islam. Jika pada masa sebelumnya mengisahkan tentang pertarungan antar kelompok, maka Madinah pada masa Islam melahirkan sebuah dinamika baru yang sangat berbeda dengan fase-fase sebelumnya. Kehidupan yang dibangun dan persaudaraan merupakan salah satu karakter dari kota tersebut. Kepemimpinan Muhammad SAW merupakan salah satu kekuatan yang mampu merekatkan relasi diantara mereka.

Dikabarkan, bahwa meskipun Aws dan Khazraj mempunyai pertalian darah yang sangat kuat diantara mereka, tetapi kerapkali terjadi percekcokan yang menyebabkan kehidupan diantara mereka kurang harmonis. Di samping itu, ada faktor eksternal yang sengaja dilakukan oleh orang-orang Yahudi untuk memecah belah relasi antara kabilah Aws dan Khazraj.

Similar Posts:

By |2018-02-07T15:59:25+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment