Akhlak Mulia Ketika Ibadah Haji dan Umroh

Akhlak Mulia Ketika Ibadah Haji dan Umroh. Itulah beberapa akhlak yang dinyatakan oleh Imam Ghazali ketika pergi ibadah haji dan umroh. Sementara itu yang relevan di zaman sekarang ini ada beberapa butir akhlak penting, sesuai dengan kondisi dan tantangan selama ibadah ibadah haji dan umroh yaitu sebagai berikut.

Pertama (yang utama) adalah ikhlas, yaitu melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji umroh dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang tidak patut atau tidak sesuai dengan ruh dan kesucian ibadah ibadah haji dengan niat semata-mata mengharap ridha Allah swt. Menjauhkan diri dari sifat-sifat dan sikap riya (ingin dilihat), sum’ah (ingin didengar) orang lain, pamer ingin pujian dan penghargaan dari manusia. Jangan sampai usaha keras, baik dari segi harta dan tenaga yang dicurahkan untuk ibadah ibadah haji tujuannya hanya untuk menambah pencantuman gelar ibadah haji didepan namanya. Luruskan niat, ibadah haji hanya untuk Allah semata, ikhlas lillahi ta’ala.

Kedua, adalah menjauhkan diri dari ucapan dan perbuatan bahkan pikiran yang dapat mengarah kepada syirik, menyekutukan Allah swt, seperti berlebih-lebihan dalam memegang ka’bah, Makam Ibrahim, pagar kuburan Nabi saw, dan lain-lain. Perbuatan syirik, apalagi di tanah suci akan membuat Allah marah besar. Bagaimana mungkin seorang tamu berlaku tidak patut dan membuat murka sang tuan rumah. Tindakan syirik adalah perbuatan yang paling dibenci Allah sehingga patut kita tinggalkan terutama pada saat melakukan ibadah ibadah haji dan umroh.

===========================================================

Informasi Paket Umroh Murah 2018 Mulai Rp19,9 Juta

Hubungi: H SUDJONO AF – 081388097656

============================================================

            Selalu menjaga diri dari ucapan-ucapan dosa lisan (afatullisan) seperti dusta, fitnah, penghinaan, taskhiriyah (memperolok-olok), ghibah (menggunjing). Dalam berinterkasi dengan sesama jamaah seringkali kita mengobrol, berbincang-bincang dan bercanda ria. Jangan sampai pembicaraan dan obrolan kita mengarah pada dosa lisan. Oleh karena itu, persempit area perbincangan dengan banyak melakukan amalan sunah. Kalaupun terjadi pembicaraan dengan sesama jamaah, diusahakan kata-kata yang keluar adalah kata-kata yang baik.

Penting pula menjauhkan diri dari penyakit hati (amradhul qulub) seperti su’uzhan, hasud, iri, sombong, kikir, takabur, penakut, gila pujian dan lain-lain. Penyakit ini tidak tampak dan hanya kitalah yang tahu. Bagi yang beribadah haji dengan ONH biasa tidak perlu iri dengan jamaah  yang ber ONH plus. Dan yang ONH plus jangan sampai merasa sombong dan ingin dipuji dengan kemampuannya membayar ONH plus. Semua penyakit hati kalau bisa dihilangkan agar diri ini tenteram dalam beribadah haji.

Akhlak Mulia Ketika Ibadah Haji dan Umroh

Tak kalah penting jika berada di tanah suci adalah sabar dalam menghadapi dan menyikapi berbagai kesulitan, kepahitan dan kegagalan. Tidak marah-marah, tidak putus asa dan tidak tergesa-gesa. Tangguh dan cerdas dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan. Kita smeua tahu, ketika melaksanakan ibadah ibadah haji di tanah suci, godaan dan hambatan akan terjadi. Seseorang kalau tidak dibekali dengan sabar ibadah hajinya bisa saja batal. Bahkan bisa saja stress karena tidak mampu menanggung beban selama disana. Sabar menjadi senjata dan pertahanan paling ampuh dalam menghadapi itu semua. Bahkan, saran orang yang telah menunaikan ibadah ibadah haji kepada mereka yang akan berangkat biasanya berkata, “Bawalah persediaan kesabaran berkarung-karung, karena nanti pasti disana akan bermanfaat”.

Masalah ada kaitannya dengan kesabaran yaitu ridha atas segala keputusan dan ketentuan Allah swt. Ridha dalam setiap melakukan segala perintah Allah swt serta ridha pula menjauhi segala yang dilarang-Nya. Keridhaan kita atas segala sesuatu yang menimpa kita, terutama berkaitan dengan musibah akan mempermudah kita untuk berlaku sabar.

Akhlak yang sangat diperlukan di tanah suci ketika beribadah haji adalah berlaku ta’awun, tolong menolong. Gemar menolong orang lain baik dengan tenaga, harta maupun dengan doa. Apabila kita banyak menolong orang disana insya Allah ketika kita membutuhkan pertolongan Allah akan mengirimkan seseorang untuk membantunya.

Karena banyaknya jamaah ibadah haji dan karakter yang bermacam-macam dari mereka maka perlu tasamuh (toleransi), yaitu menghargai pendapat atau pendirian dan kebiasaan orang lain. Tidak memaksakan kehendak dan pendapat sendiri kepada orang lain. Terutama dalam masalah tempat, tidak perlu berebutan.

Untuk itu semua, kita harus mampu menjaga diri karena godaan disana tidak sedikit dan tidak gampang. Dan kitapun tidak menciptakan peluang-peluang untuk terjadinya perselisihan. Misalnya, usahakan memiliki barang sendiri dan jangan meminjam dari teman. Janganlah hanya karena masalah ember atau gantungan baju hubungan antar sesama jamaah menjadi tidak baik dan menimbulkan perselisihan. Untuk hal sepele setidak-tidaknya kita tidak mempermasalahkan. Seperti dalam soal ember tadi, sebaiknya kita memilikinya sendiri. Jika ember kita dipinjam, apalagi tanpa bilang terlebih dahulu, janganlah dijadikan masalah. Ikhlaskan saja, kalau perlu dihibahkan dan kita beli lagi yang baru. Insya Allah berbuat baik di tanah suci pahalanya besar dari kita terhindar dari perasaan dengki. Demikian pula masalah antrean, sedapat mungkin antre. Jika ada jamaah lain yang menyerobot antrean, ingatkan dengan baik dan bersabar. Menahan diri dari kemarahan dengan bersabar insya Allah pahalanya banyak.

Jangan lupa selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah swt. Nikmat  berupa kesempatan, kelancaran dan kemudahan, kenyamanan serta kebersihan dan lain-lain.

Selama beribadah ibadah haji harus selalu sadar akan kekhilafan, kekeliruan, kesalahan dan segera mohon maaf kepada sesama dan mohon ampun kepada Allah swt. Ini penting agar ibadah haji kita tidak kotor dengan berbagai macam dosa baik yang disengaja maupun tidak.

Selama dalam perjalanan ibadah ibadah haji berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan semua perintah Allah dan Rasul-Nya (amalan sunah). Berusaha untuk meninggalkan segala perbuatan, ucapan, pikiran, lamunan yang tidak sesuai dengan ajaran Allah, baik perbuatan yang haram maupun yang hanya bernilai makruh. Berusahalah agar kita dapat sebanyak mungkin menimba pahala disana.

Karena waktunya terbatas, tidak seperti berada di tanah air, optimalkan pengabdian, kekhusyuan dan kekhidmatan kepada Allah swt. Bersungguh-sungguh untuk berbuat kebajikan kepada setiap orang, tiada malam tanpa qiyamul lail, tiada siang tanpa thawaf, bibir dan lidah selalu basah menyebut nama Allah. Setiap orang mendapat santunan kasih sayang yang salah dimaafkan, yang mendapat kesulitan diringankan, yang tidak tahu diberi tahu, yang sesat ditunjukkan kepada jalan yang benar, dan lain-lain. Dengan berbagai macam akhlak terpuji yang kita lakukan disana insya Allah kita akan diberikan kemudahan untuk mendapatkan ibadah haji yang mabrur, karena Allah sebagai tuan rumah akan menyambut dan memperlakukan kita sebagai tamu dengan baik. Dan Allah adalah sebaik-baik penyambut seorang tamu.

Akhlak Mulia Ketika Ibadah Haji dan Umroh

Similar Posts:

By |2018-02-16T13:18:32+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment