Air Zam Zam Menandai Awal Kota Makkah

Air Zam Zam menandai awal berdirinya kota Makkah. Waktu itu, Kafilah Jurhum ini datang dari arah daerah Kida’, kemudian berhenti di dekat Makkah. Ketika beristirahat disana, mereka melihat burung-burung yang beterbangan melingkar-lingkar diatas mereka. Di kalangan suku-suku di Arab, semua tahu bahwa bahwa bila ada burung-burnurng berterbangan berputar-puter, menandakan adanya sumber air di bawahnya. Merekapun berkata: “Sesungguhnya burung-burung ini beterbangan diatas sumber air, kita akan menguasai lembah ini dan airnya.”

Mereka lalu menyuruh satu atau dua orang yang mengendarai kuda untuk mencari sumber air tersebut. Mereka berhasil menemukannya. Kedua pengendara kuda itu langsung kembali dan memberitahu kaumnya dimana letak air itu berada, lalu semuanya segera mendatangi daerah yang bersumber air ini.

Sumber Air Zam Zam Menjadi Milik Siti Hajar

Ketika sampai disana, Ummu Ismail (Hajar) sedang berada di sumber air tersebut. Mereka berkata: “Apakah Anda mengizinkan kami untuk tinggal bersama kalian?” Ummu Ismail menjawab: “Boleh, tapi kalian tidak bisa menguasai air ini.” Mereka berkata: “Ya.”

Masjidil Haram Hingga Kini Masih penuh Dengan Air Zam Zam

Masjidil Haram Hingga Kini Masih penuh Dengan Air Zam Zam

Abdullah bin Abbas berkata bahwa Rasulullah bersabda:

            “Ummu Ismail menjadi bahagia dengan kedatangan mereka, karena ia seorang wanita yang suka bergaul dengan banyak orang.”

Tak lama kemudian orang-orang Jurhum menetap disana. Lalu mereka memberitahukan hal itu kepada sanak kerabat yang belum datang. Akhirnya, semua ikut berkumpul dan menetap disana pula. Ketika daerah tersebut sudah berubah menjadi perkampungan, dan Ismail sudah banyak belajar dari mereka tentang banyak ilmu, seperti bahasa Arab dan keterampilan lainnya, merekapun terkagum-kagum dengan kecerdasannya. Setelah ia beranjak dewasa, mereka segera menikahinya dengan seorang gadis dari putri mereka.

Setelah itu Ummu Ismail berpulang ke Rahmatullah. Dan tak lama setelah Nabi Ismail menikah dengan gadis Jurhum ini, datanglah Nabi Ibrahim untuk menjenguknya. Beliau datang hendak melihat dan mengetahui keadaan Ismail, tapi saat itu Nabi Ismail sedang tidak ada.

Nabi Ibrahim bertanya kepada istri Nabi Ismail: “Kemanakah ia?” Wanita itu menjawab: “Dia keluar mencari nafkah buat kami.” Lalu Nabi Ibrahim menanyakan kehidupan rumah tangga mereka dan keharmonisannya. Sang wanita menjawab: “Kami sekarang dalam kesusahan. Hidup kami sangat melarat.” Kemudian wanita itu mengadukan semua kesengsaraan rumah tangga mereka kepada Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim berkata: “Jika suamimu datang, sampaikan salamku padanya, dan katakan agar ia mengganti engsel pintu rumahnya.” Tak lama setelah kepergaian Nabi Ibrahim, datanglah Nabi Ismail. Beliau merasakan ada seseorang yang baru datang, kemudian bertanya kepada istrinya: “Apakah tadi ada seseorang yang datang?” Sang istri menjawab: “Benar, kami baru saja didatangi seorang lelaki tua yang sifatnya seperti ini dan itu. Dia bertanya tentang keadaanmu dan kuberitahulah ia akan hal yang sebenarnya. Lalu ia bertanya tentang kehidupan kita dan kukatakan bahwa kami berada dalam kesengsaraan.”

Nabi Ismail bertanya: “Apakah ia mewasiatkan sesuatu?” Sang istri menjawab: “Ya, dia menyampaikan salam padamu dan berkata agar kau mengganti engsel pintu rumahmu.”

Nabi Ismail berkata lagi: “Lelaki tua itu adalahayahku, dia menyuruhku untuk menceraikanmu. Sekarang, pulanglah ke rumah keluargamu.”

Setelah menceraikan wanita tadi, Nabi Ismail segera menikah dengan wanita lain. Beberapa waktu kemudian datanglah Nabi Ibrahim untuk mengunjunginya. Ketika beliau datang, sang putra juga sedang keluar rumah. Nabi Ibrahim bertanya kepada istrinya: “Kemanakah Ismail pergi?“ Sang istri menjawab: “Ia sedang mencari nafkah untuk kami.”

Nabi Ibrahim bertanya kembali: “Bagaimana keadaan rumah tangga kalian?” Beliau juga menanyakan tentang kehidupan dan keharmonisan mereka. Sang istrri menjawab: “Kami selalu berada dalam kebahagiaan dan kehidupan yang harmonis.” Sang istri tak lupa bersyukur dan memuji Allah saat menceritakan hal itu kepada Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim bertanya lagi: “Makanan kalian apa?” Ia menjawab: “Daging.” Minuman kalian apa?” tanya Nabi Ibrahim beberapa saat kemudian. “Minuman kami adalah air putih: “Jawab sang istri. Lalu Nabi Ibrahim berdoa buat mereka: “Ya Allah berkatilah mereka dalam daging dan air putih ini!”

Nabi bersabda:

“Saat itu di kota Makkah tidak terdapat biji-bijian sedikitpun. Jika ada, tentunya beliau juga berdoa untuk biji-bijian tersebut.”

Rasulullah bersabda lagi, “Tidak ada seorangpun yang tidak memakan daging dan air di selain kota Makkah kecuali akan kesakitan perutnya.”

Kemudian Nabi Ibrahim berkata: “Jika suamimu datang, sampaikan salamku padanya, suruhlah ia memperkuat engsel pintu rumahnya.” Ketika Nabi Ismail datang, beliau bertanya kepada orang-orang dirumahnya: “Apakah kalian kedatangan seorang tamu?” Sang istri menjawab: “Benar, kami telah didatangkan seorang lelaki tua yang tampan dan harum baunya.” Sang istri tak lupa memuji kepribadian lelaki tua yang baru saja berlalu itu. Sang istri melanjutkan: “Ia menanyakanmu dan kuberitahukan bahwa kau sedang mencari nafkah. Ia menanyakan pula kehidupan rumah tangga kita. Lalu saya mengatakan bahwa kita berada dalam kenikmatan.”

Nabi Ismail bertanya: “Apakah ia memberi wasiat kepadamu?” Sang istri menjawab: “Ya, dia mengucapkan salam padamu dan menyuruh untuk memperkuat engsel pintu rumahmu.” Nabi Ismail berkata lagi: “Orang tua itu adalah ayahku. Ia menyuruhku untuk tidak menceraikanmu. Yang dimaksud engsel pintu rumah adalah kamu.”

Beberapa saat kemudian, datanglah Nabi Ibrahim ke kota Makkah untuk bertemu putranya yang sangat ia rindukan. Saat itu Nabi Ismail sedang meruncingkan busur-busur panahnya dibawah sebuah pohon dekat sumber air zamzam. Ketika mengetahui kedatangan Nabi Ibrahim, beliau langsung menghampiri dan merangkulnya erat-erat, seperti yang biasa dilakukan oleh seorang ayah kepada putranya, dan seorang putra dengan ayahnya yang sudah lama tidak bertemu.

Nabi Ibrahim berkata: “Wahai Ismail! Allah telah memerintahkan padaku suatu hal.” Nabi Ismail menjawab: “Kalau begitu, segeralah Ayah melakukan perintah Allah itu.” Nabi Ibrahim bertanya: “Maukah kamu membantuku melaksanakannya?” Nabi Ismail menjawab: “Saya akan menolong ayah dengan senang hati.”

Kemudian Nabi Ibrahim berkata: “Allah menyuruhku untuk membangun sebuah rumah buatNya disini,” seraya menunjuk sebuah dataran tinggi yang agak naik dari permukaan tanah lainnya.

Rasulullah bersabda: “Setelah itu, keduanya langsung membangun dasar-dasar Baitullah (Ka’bah). Nabi Ismail yang mengumpulkan batu-batu, sedangkan Nabi Ibrahim membangun dan merapikan batu-batu tersebut.”

Ketika bangunan Baitullah sudah hampir sempurna, Nabi Ismail segera mendatangkan sebuah batu besar agar Nabi Ibrahim berpijak diatas batu tersebut. “Nabi Ibrahim berpijak diatasnya, sementara Nabi Ismail memberikan batu-batu padanya. Dalam keadaan seperti itu keduanya berdoa:

“Ya Tuhan kami, terimalah amalan ini dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

“Keduanya terus membangun dan menyempurnakan Baitullah ini sampai mengelilinginya, dan keduanya terus mengucap:

“Ya Tuhan kami, terimalah dari kami amalan ini. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127)

Similar Posts:

By |2017-03-21T03:37:14+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment