Air zam zam memiliki banyak nama lain, seperti syabba’ah (yang mengilangkan rasa lapar), murwiyah (yang menghilangkan dahaga), nafi’ah (yang berkhasiat), afiyah (yang menyehatkan), maymunah (yang mengandung berkah), barakah (berkah), barrah (yang memiliki kebaikan), madhnunah (yang sangat diinginkan), kafiyah (yang mencukupi), mu’dzibah (yang tawar), syifa saqam (obat segala penyakit), tha’am tha’m (yang mengenyangkan), hazmah Jibril (galian Jibril), saqya Ismail (air Ismail).

Kata zamzam bisa dilafalkan dengan zammazam atau zimzim. Ada beberapa pendapat tentang penamaan air itu dengan zamzam, seperti karena kapasitasnya yang sangat banyak, karena geraknya yang khas (zamzamah), atau karena berasal dari perkataan Jibril (zamzamah Jibril).

Dikatakan pula bahwa zamzamah ialah suara jauh yang menggema dan berkesinambungan layaknya suara petir. Dikatakan juga bahwa zamzamah ialah suara yang lirih. Dikisahkan juga bahwa disebut zamzam karena Abd al-Muthalib pernah bermimpi disuruh oleh seseorang untuk menggali zamzam.

Disebut Syabba’ah karena air zamzam bisa membuat kenyang orang yang meminumnya. Disebut nafiah karena ia memiliki banyak khasiat yang tak terhingga, seperti bisa menguatkan hati, menghilangkan rasa takut, dan memadamkan api kesedihan.

Disebut afiyah karena ia bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tak mengherankan jika para jamaah haji yang berasal dari berbagai penjuru dunia saling berebut untuk bisa meminumnya.

Disebut maymunah karena memiliki berkah yang banyak. Tidak sedikit orang yang sudah meminumnya dengan berbagai niat, lalu niat mereka semua bisa terlaksana. Disebut madhnunah karena orang-orang Arab dulu ingin menguasainya dan tidak membagikannya kepada orang lain. Mereka saling berebut memilikinya karena dianggap sebagai sesuatu yang sangat berharga dan mulia.

Disebut kafiyah karena kesegarannya bisa membuat orang yang telah meminumnya tidak lagi membutuhkan air lain. Disebut mu’dzibah karena rasa tawar yang dimilikinya. Disebut syifa saqam karena bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Disebut tha’am tha’m karena bisa membuat kenyang orang yang meminumnya.

Air zamzam disebut hazmah Jibril karena keberadaannya bermula dari malaikat Jibril yang memukul tanah dibawah kaki Ismail dengan tumitnya, atau karena Abd al-Muthalib pernah bermimpi disuruh oleh sebuah suara untuk menggali zamzam.

Sejarah Mata Air Zamzam

Jibrillah yang pertama memperlihatkan zamzam saat menolong Nabi Ismail yang hampir saja mati karena kehausan. Orang pertama yang meminumnya adalah Siti Hajar dan Ismail. Suku pertama yang memanfaatkannya adalah suku Jurhum saat kembali dari perjalanan dagang di Syam. Orang pertama yang menggali air zamzam setelah sumbernya kelihatan adalah Nabi Ibrahim sang kekasih Tuhan.

Disebutkan di dalam Akhbar Makkah bahwa air zamzam pernah tertimbun dan tidak diketahui keberadaanya akibat ulah suku Jurhum yang tidak mengindahkan kemuliaan tanah suci dan memakan harta milik Ka’bah. Diceritakan juga bahwa seorang pembesar Makkah, Madhdhadh ibn Amr al-Jurhumi, menderita kekalahan setelah bertempur dengan musushnya dari suku Khuza’ah. Dia tahu bahwa musuh-musuhnya akan segera mengusirnya keluar dari Makkah, tapi dia tidak ingin jika musuhnya itu menikmati air zamzam. Untuk itu, dia menimbun sumur zamzam dengan benda-benda berharga Ka’bah sampai terendam dan tertutup oleh pasir. Setelah itu, Madhdhadh melarikan diri ke Yaman.

Sumur zamzam ditemukan kembali oleh kakek Nabi, Abd al-Muthalib, melalui petunjuk dalam mimpi. Ketika ingin menggalinya, dia dihasud oleh para pembesar Quraisy agar tidak meneruskan rencananya. Doa kemudian bernazar bahwa jika Allah memberinya sepuluh anak maka ia akan mengorbankan salah satu anaknya sebagai persembahan kepada-Nya. Setelah dia dikaruniai sepuluh orang anak, mereka mengingatkan akan janji yang pernah dilontarkannya. Mereka berkata, “Penuhilah janji yang engkau ucapkan. Undilah anak-anakmu yang akan dijadikan kurban.” Abd al-Muthalib pun mengundi anaka-anaknya dengan anak panah. Setelah diundi, nama Abdullah (ayah Nabi) keluar sebagai anak yang harus dikorbankannya.

Ketika Abd al-Muthalib hendak menyembelih Abdullah, orang-orang Quraisy mencegahnya. Seorang dukun lokal kemudian menyarankannya agar mengundi Abdullah lagi dengan sepuluh unta. Perlu diketahui, dalam tradisi orang Quraisy, sepuluh unta adalah tebusan yang harus dibayarkan untuk satu orang laki-laki. Abd al-Muthalib pun melakukan saran dukun tersebut, tapi anak panah milik Abdullah lagi-lagi yang keluar, bukan anak panah yang menunjuk unta. Sang dukun lalu berkata kepadanya, “Tambahlah sepuluh unta lagi karena Tuhan belum mengizinkan.” Ia pun menambahkan sepuluh unta lagi dan mengundang undian lagi. Tapi, anak panah yang keluar tetap saja milik Abdullah. Sang dukun kemudian menyuruhnya agar menambah sepuluh unta lagi dan mengundinya kembali. Tapi, setelah dilakukan undian, lagi-lagi anak panah yang keluar tetap saja milik Abdullah. Setelah jumlah unta yang dijadikan tebusan itu mencapai 100 ekor, barulah anak panah yang menunjuk unta keluar. Sang dukun kemudian berkata kepadanya, “Tuhanmu telha mengizinkan. Sembelihlah 100 ekor unta itu untuk menggantikan putramu.” Ia pun segera menyembelih unta-unta itu dan membagikannya kepada penduduk sekitar.

Abd al-Muthalib memegang kepengurusan sumur zamzam hingga akhir hidupnya, lalu dilanjutkan oleh Abbas ibn Abd al-Muthalib sampai terjadinya peristiwa penaklukan Makkah (Fath Makkah) oleh Rasulullah saw.

Sumur zamzam terletak 40 hasta di sebelah timur Ka’bah dan sejajar dengan Multazam. Air zamzam memiliki tiga sumber mata air; dibawah Hajar Aswad, dibawah gunung Abu Qubays dan Shafa, dan dibawah bukit Marwa.

Munculnya Mata Air Zamzam

Diriwayatkan oleh al-Daraquthni dari Ibnu Sirin bahwa seorang laki-laki berkulit hitam (negro) terjatuh kedalam sumur zamzam dan akhirnya meninggal dunia. Ibnu Abbas lalu memerintahkan agar tubuh si mayit dikeluarkan dari sumur dan sumur zamzam dikuras habis. Beberapa orang melaksanakan perintah ini. Tapi, merasa kesulitan menguras sumur zamzam karena air terus saja mengalir dari arah Hajar Aswad. Ibnu Abbas lalu memerintahkan mereka agar menyumbatnya. Mereka pun melakukannya dan kembali menguras sumur zamzam sampai selesai. Setelah selesai, mata air dari arah Hajar Aswad itu lalu menyembur keluar dengan deras.

Diriwayatkan oleh Ibnu Syaybah dari Atha bahwa seorang laki-laki dari Habsyah terjatuh kedalam sumur zamzam dan meninggal dunia. Abdullah ibn al-Zubayr lalu memerintahkan beberapa orang untuk menguras air zamzam. Tapi, mereka kesulitan mengurasnya karena air terus saja mengalir dan tidak mau habis. Ibnu al-Zubayr baru sadar saat melihat bahwa ada mata air sumur zamzam lainnya yang berasal dari arah Hajar Aswad. Dia pun berkata, “Cukup apa yang kalian laukan.” Dalam kitab Masalik al-Abshar, al-Umari berkata, “Seorang laki-laki dari Habsyah pernah terjatuh kedalam sumur zamzam dan akhirnya meninggal dunia. Sumur zamzam pun dikuras. Orang-orang yang mengurasnya tiba-tiba mendapati tiga mata air yang kesemuanya mengalir ke sumur zamzam. Mata air yang paling deras mengalir ialah dari arah Hajar Aswad.”

Dari dua riwayat ini dan penelusuran para sejarawan bisa disimpulkan bahwa air zamzam bersumber dari tiga mata air. Pada 1400 H. Dilakukan pengurasan dan pembersihan sumur zamzam. Saat itu, beberapa pakar berhasil mengetahui detail-detail sumur, mulai dari dinding-dindingnya sampai mata air utama. Dilakukan pemompaan sampai ujung mata air, di samping pemotretan terhadap bagian dalam sumur dengan alat-alat paling modern. Dengan cara-cara seperti ini diketahui bahwa sumur zamzam memiliki diameter sekitar empat meter, sementara dinding dalamnya memiliki kedalaman sekitar 14,18 meter dari mulut sampai dasar sumur. Para peneliti juga menyimpulkan bahwa terjadinya pelebaran diameter sumur ialah akibat derasnya aliran dari tiga mata air utama secara terus-menerus atau akibat dari gesekan tali timba dengan mengambil air bebatuan bibir sumur dalam jangka waktu yang lama.

===============

Dapatkan informasi Paket Umroh Murah Rp18,5 juta di Risalah Madina Travel. Kontak H Sudjono AF 081388097656 WA

Air zam zam, mata air zam zam, sumur zam zam, sejarah sumur zam zam

 

Similar Posts: