Al-Quran – Dalam Tafsir Al Azhar, Prof. Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrultah (HAMKA)

Al-Quran – Dalam Tafsir Al Azhar, Prof. Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrultah (HAMKA)

Al-Quran disebut juga al-Kitab, adalah wahyu-wahyu yang diturunkan Tuhan kepada RasulNya, dengan perantaraan Malaikat Jibril, untuk disampaikan kepada manusia. Kumpulan dari semua wahyu itu, yang berjumlah menurut perhitungan yang umum 6,236 ayat, terdiri daripada 1 14 Surat, diturunkan dalam dua masa. Pertama di Makkah, dalam masa 13 tahun, yang sejak Rasulullah s.a.w. ditentukan Tuhan dan ditetapkanNya menjadiRasul pada tahun ke41 daripada usianya, sampaibeliau berpindah ke Madinah. Kedua ialah masa Madinah, yaitu sejak beliau berpindah ke negeri itu sampai beliau wafat, dalam masa sepuluh tahun. Arti al-Quran menurut bahasa (loghah) ialah barang yang dibaca.

Al-Quran – Dalam Tafsir Al Azhar, Prof. Dr. Haji Abdulmalik Abdulkarim Amrultah (HAMKA)
Gambar-Al-Quran-8 (Madaninews.id)

Dan al-Quran itu menurut undang-undang bahasa adalah kalimat Mashdar, yaitu pokok kata, yang berarti bacaon, tetapi diartikan lebih dekat kepada sesuatu yang dikerjakan (isim maful), menjadi artinya yang dibaca. Menurut ahli-ahli Syariat, al-Quran itu ialah Kalamullah (sabda Tuhan) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang dituliskan di dalam Mushhal. Dan ahli Fiqh menentukan pula bahwasanya al-Quran itu adalah nama yang diberikan kepada keseluruhan al-Quran dan dinamakan juga bagisukusukunya atau bagian-bagiannya. Baik dari asal ambilan bahasa, ataupun setelah dia diistilahkan, namun keduanya itu telah tergabung menjadi makna yang satu. Yaitu bahwasanya alQuran memang dibaca; kekuatannya terjadi pada pembacaannya. Walaupun kita baca sampai khatam, ataupun hanya satu ayat, namun dia tetap al-Quran.

Apabila kita renungi al-Quran itu kita akan berjumpa perbedaan isidari Surat-surat atau ayat-ayat yang turun di Makkah ataupun yang turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun diMakkah adalah khas bagi menetapkan dan meneguhkan akidah (kepercayaan) lslam yang pokok yaitu Tauhid. Dan menentang penyembahan berhala dan menuhankan benda dan seruan atau da wah kepada manusia agar mereka memerdekakan akal dan jiwa dari perbudakan adat, kebiasaan, tradisi dan taqlid, menurut saja kepada nenekmoyang, dengan tidak usul-periksa. Dan orang selalu disuruh mempergunakan ‘akal, fikiran, perenungan dan penyelidikan yang mendalam. Kalau kita telah masuk kepada ayat-ayat yang diturunkan diMadinah, di sana mulailah kita bertemu dengan hukum-hukum Fiqh, peraturan dan segala yang bertalian dengan negara dan kemasyarakatan.

Di Madinahlah mulai diterangkan hukum-hukum dan undang-undang yang mengenai peperangan, tentang hubungan di antara satu kekuasaan negara dengan kekuasaan negara lain, peraturan-peraturan mengenai perjanjian dan perdamaian, urusan persuami-isterian dan pembinaan rumahtangga, mengenai nikah, talak dan rujuk, peraturan tentang perwarisan, dan membangun masyarakat yang adil dan makmur dengan udu.ryu peraturan zakat dan haji, dan utusah-utusan lain yang semuanya bersendikan persamaan derajat dan adil. Sebab-sebab perbedaan itu tentu sudah dapat diketahui oleh orang yang mempelajari sejarah hidup Rasulullah dan sejarah turunnya ayat-ayat al-Quran itu sendiri.

Di Makkah barulah menyusun teman-teman sefaham atau kaderkader untuk menentang kekuasaan yang masih tegak, yaitu kekuasaan berhala. Maka belumlah tepat waktunya kalau di Makkah telah diturunkan hukumhukum yang mengenai masyarakat sebagai yang tersebut tadi. Di Makkah barulah memperkokoh akidah yang kelak akan diperjuangkan di muka dunia ini. Lain halnya dengan keadaan setelah Hijrah ke Madinah. Sebab diMadinah Islam telah menjadi Daulah, telah merupakan suatu kekuasaan yang nyata dan dapat menegakkan hukum serta ada ummat yang akan m6matuhinya. Dan dengan sebab itu pula dapatlah difahamijika al Quran itu, baik di kala turun di Makkah ataupun setelah zaman Madinah, tidaklah dia diturunkan sekaligus, melainkan sebagian-sebagian, seayat dua ayat, atau tiga dan empat ayat, menurut keperluan, terutama jika mengenai Surat-surat yang panjang. Bahkan satu Surat yang panjang kadang-kadang melalui masa berbulan-bulan sampai bertahun, baru selesai, yaitu supaya duduknya suatu soalyangtengah dituntunkan oleh Tuhan, mantap dalam fikiran dan jelas memutuskannya, sehingga kejadian lain yang terjadi di belakang dapat diqiyaskan kepada kejadian yang pertama itu yang dinamai asbabun nuzul.

Artikel Populer:  Apa Arti I'jazul Quran ?
Keutamaan membaca Al Qur'an (News-Detik.com)
Keutamaan membaca Al Qur’an (News-Detik.com)

Orang musyrikin sendiripun pernah menyatakan perasaan sebagai tersebut di dalam Surat 25 (al-Furqan) ayat 32. Di dalam ayat itu disebutkan bahwa kaum musyrikin bertanya-tanya, mengapa al-Quran diturunkan tidak sekaligus (jumlatan wahidatan). Lalu Tuhan menyatakan sebabnya, yaitu supaya lebih mantap ayat-ayat itu dengan bacaan yang amat teratur sekali. Hal ini dapat kita misalkan dengan kejadian didirikita sehari-harididalam mempelajari ilmu pengetahuan, baik pengetahuan tentang bahasa atau ilmu yang lain. Walaupun misalnya sesuatu bahasa telah kita hafal kalimat-kalimatnya satu persatu, sebab telah kita pelajari sekaligus, barulah dia akan mantap dalam fikiran, apabila kita telah menghadapi kejadian itu sendiri dan dialami.

Itulah sebabnya maka orang merasa amat penting mengadakan reseorch, yaitu penyelidikan ilmu pengetahuan dengan seksama, dengan menghadapi satu kenyataan. Meskipun telah belajar bahasa bertahun-tahun, barulah akan mantap, kalau tinggal di negeri yang empunya bahasa itu agak sekian bulan. Jadi di dalam ayat 32 daripada Surat 43 itu terdapatlah dua hikmah. Pertarna untuk memantapkan tiap-tiap persoalan itu di dalam hati Nabi, kedua supaya ayat-ayat al-Quran itu bisa dibaca dengan sebenar-benar bacaan. Dan dengan turunnya semasa demi semasa itu, 13 tahun di Makkah, 10 tahun di Madinah, amat pentingnya, karena senantiasa ada hubungan dengan Rasul s.a.w. dengan cahaya dari langit. Sedang kalau datang sekaligus, hanya sekali ketika turun itu sajalah hubungan beliau dengan langit.

Oleh sebab itu maka masa 23 tahun itu benar-benar beliau rasakan selalu adanya hubungan, dan dirasakan pula oleh sahabat-sahabat Rasulullah, yang setiap ayat turun, dibacakan dengan seksama oleh Rasul, lalu mereka terima dan mereka hafalkan dan mereka baca. Perkara pembacaan al-Quran, sehingga al-Quran telah menjadi nama dari seluruh Surat itu, amat penting sangkut-pautnya dengan keadaan ummat yang didatangi itu sendiri. Terkenallah oleh dunia keliling pada waktu itu, bahwa ummat Arab Hejaz yang didatangi Rasulitu ialah ummat yang ummi, artinya sangat sedikit sekali, hanya agak seorang di dalam 1,000 orang yang pandai menulis dan membaca. Tuhanpun telah mentakdirkan pula rupanya, suatu hikmat yang tertinggidari sebab keummian mereka ini. Sebab orang yang tak pandai menulis dan membaca, ingatan mereka amat kuat. Kita di zaman sekarang, setelah semuanya mahir menulis dan membaca, lemah ingatan menghafal.

Artikel Populer:  Apa Arti I'jazul Quran ?

Sebab itu maka mata yang buta tidak menghalangi orang buat maju dalam ilmu pengetahuan yang meminta kecerdasan otak, yang hanya bergantung kepada kekuatan ingatan. Takdir Tuhan telah berlaku, bahwa ummat yang ummi itu setiap al-Quran turun seayat atau duaayat, tigaatau empat ayat, ataupun satu Surat sejak dibacakan oleh Nabi, mereka telah menghafalnya. Ada yang menghafal seluruhnya, ke seratus empatbelas Suratnya dan ada yang sebagiannya. Sehingga tersebut di dalam al-Quran sendiri bahwa suatu kali pernah Rasulullah menggegas-gegas, atau mendesak-desak kepada Jibril, membaca mana ayat yang telah turun, sebelum turun sambungannya, karena ingin hendak menghafalnya, sebagaimana tersebut dalam Surat 75 al-Qiyamah. Tetapi dilarang oleh Tuhan dan disuruh beliau mendengarkan dan mengikutinya dengan bacaan yang sama. Sebagaimana yang kita katakan tadi, hanya sedikit yang pandaimenulis. Tetapi yang pandai menulis yangsedikit itupun tidak meluangkan kesempatan buat mencatat, sehingga di samping banyaknya yang mdnghafal ada pula sedikit yang mencatat, sampai sempurnalah turunnya dalam beberapa waktu saja sebelum beliau meninggal dunia. Menurut suatu fladis, setelah hampir sempurna turun semua, maka pada buian Ramadhan, bnam bulan sebelum beliau wafat, Jibril rhasih membacakan dan mengulang kembali sekalian ayat atau Surat yang telah diturunkan itu, sebagai jalan untuk melancarkan bacaan itu. Oleh karena itu dapatlah saudara-saudara memahamkan hikmat al-Quran turun secara berangsur-angsur demikian. Kalau diturunkan sekaligus, tidaklah akan sanggup agaknya sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. itu menghafalnya, sebab hanya beberapa orang saja di antara mereka yang mempunyai waktu senggang, sebagai Ahlush-Shuffah, termasuk Abu Hurairah. Yang sebagian besar ikut berperang mengiringkan Nabi, atau berniaga masuk keluar pasar. Dan kalau diturunkan sekaligus, sebagai Hukum Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, tidak pula ada waktu itu seorang yang akan dapat menyalinnya sekaligus, sebab ummat rata-rata adalah ummi.

Memikirkan keadaan bangsa Arab di waktu itu tidak serupa dengan memikirkan bangsa tetangganya yang telah lebih maju atau lebih tua peradabannya, sebagai bangsa Yunani atau Romawi atau Persia. OIeh sebab itu maka turunnya secara berangsur-angsur itu menjadikan bertambah kokohnya dia dihafal sejak dari mulaiturunnya. Dan hafalan dalam dada jauh lebih berhasil memelihara keasliannya daripada memeliharanya dengan tulisan. Sedangkan buku-buku zaman moden kita sekarang ini, lagi dapat bertukar makna karena kehilangan titik atau salah zet, apatah lagi di zaman nukil-menukil, salin-menyalin dengan tangan dahulu; tentu saja bisa terdapat kesalahan.

Tetapi dengan adanya hafalan karena kekuatan ingatan, dari beratus bahkan beribu orang, sehingga menjadi mutawatir, dan diturunkan pula dariguru kepada murid, dari ayah kepada anak. Dan ditambah lagi, bahwa meskipun al-Quran telah ditulis, telah dikumpul dalam mushhaf, telah disalin beribu-ribu dan dicetak berjuta-juta, namun keistimewaan al-Quran belumlah tercapai sebelum dibaca; dibaca oleh yang ahli membacanya. Bacaan ituptin dijasa, sampai kepada makhraj (tempat keluar) huruf dan cara mengucapkannya, yang dinamai i/mu Tajwid, dan sampai pula kepada macam-macam cara orang membaca (Qira’at). Sejak al’Quran itu diturunkan, sejak berdirinya- Daulah Islamiyah di Madinah, sampai saat sekarang ini, kaum Muslimin tetap memelihara hal itu.

Artikel Populer:  Apa Arti I'jazul Quran ?

Meskipun sudah berjuta-juta al-Quran dicetak, namun masih banyak orang yang menyediakan waktunya buat mgnghafal al-Quran. Di mana-mana diadakan perkumpulan berlomba menghafal al-Quran, sehingga apa yang tertulis dan tercetak, selalu dikontrol oleh apa yang dihafal. Demikian pula, telah menjadi tradisi bagi seluruh negeri Islam mengajar anak dari waktu masih kecil membaca al-Quran dengan lidah yang fasih dan makhraj yang tepat, dengan tidak memandang bangsa. Itulah pula sebabnya maka salah satu usaha penting dari negeri-negeri yang menjajah dunia Islam, ialah menghalang-halang dan membelokkan perhatian ibu-bapa daripada mengajar anak-anaknya mengaji al-Quran. Di kala negeri kita masih dijajah oleh Belanda, sudah mulai ada anak-anak yang diserahkan kepada sekolah Belanda yang tidak lagidiberiwaktu buat belajar al-Quran, sehingga setelah tanahair kita merdeka, sudah banyak orang yang tidak pandai lagi, walaupun hanya sekedar membaca Syahadat di waktu kawin.

Malahan banyak orang besar-besar beragama Islam seketika diambil sumpahnya tidak sanggup mengucapkan Demi Alloh dengan suara yang tepat dan fasih. Maka oleh sebab al-Quran adalah bacaan, seyogianyalah bagi orang yang beragama Islam memfasihkan bacaannya, dan mendidik lidah anak-anaknya, menyerahkan anak-anak kepada guru-guru yang fasih membacanya, sebab alQuran adalah untuk dibaca dan diamalkan. Sebab al-Quran itulah yang telah membentuk kebudayaan dan peri-hidup penganut Islam, yang ditegakkan di atas budi, memperhalus perasaan, memperkaya ingatan dan melemah-lembutkan ucapan lidah.

 

Sumber:

Tafsir Al-Azhar – JILID 1

Oleh: PROF. DR. HA.JI ABDULMALIK ABDULKARIM AMRULTAH (HAMKA)

PUSTAKA NASIONAL PTE LTD SINGAPURA

JILID 1 Mengandungi Surat- surat AL-FATIHAH (Ayat 1-7) AL-BAQAMH (Ayat 1-286)

====================================================================

Untuk Konsultasi Paket Umroh Murah Ramdhan, Silakan bisa menghubungi:

H. Sudjono AF – 081388097656 WA

Similar Posts: