Berbakti kepada Orangtua Sampai Meninggal Dunia

Berbakti kepada Orangtua Sampai Meninggal Dunia

Berbakti kepada orangtua merupakan kewajiban kedua setelah beribadah kepada Allah swt. jika Allah swt yang menciptakan manusia, maka orangtua yang melahirkan manusia dan mengurusnya di waktu kecil. Kewajiban berbakti kepada orangtua tidak hanya berlaku ketika mereka ada, tetapi juga berlaku ketika mereka sudah tiada meninggal dunia.

====================================================================

INFORMASI PAKET UMROH MURAH

28 DESEMBER 2015 BIAYA $1.580 + Rp1 JUTA

JANUARI – MARET 2016 BERANGKAT SETIAP SELASA BIAYA $1.525 + Rp1 JUTA

HUBUNGI H. SUDJONO AF – 0813 88097656 | BB 2315A7C3

==================================================================

Kedudukan ajaran berbakti kepada orangtua adalah ajaran terpenting di bawah kemestian beribadah hanya kepada Allah swt dan meninggalkan syirik. Dalam berbagai ayat—sebut misalnya QS. An-Nisa [4] : 36, al-An’am [6] : 151, al-Isra [17] : 23-24, Luqman [31] : 14—Allah swt selalu menyebutkan keharusan berbuat ihsan kepada orangtua dalam urutan kedua sesudah perintah tauhid. Demikian juga dalam berbagai Hadits yang menengkan al-kaba’ir (dosa-dosa besar), penyebutan durhaka kepada orangtua di tempatkan kedua sesudah musyrik (Shahih Muslim kitab al-iman bab bayanil-kaba’ir wa akbariha no. 269-270).

Maka dari itu tidak heran jika ada seorang pemuda yang hendak berjihad, ditahtakan oleh Nabi saw untuk meminta izin terlebih dahulu kepada orangtuanya. Menurut para ulama, itu disebabkan jihad fardhu kifayah, sedangkan berbakti kepada orangtua fardhu ‘ain. Terkecuali jika jihadnya sudah fardhu ‘ain, seperti ketika musuh menyerang halaman rumah kita, maka tidak perlu izin kepada orangtua. Dalam hal ini, berlaku juga untuk safar (bepergian) yang status hukumannya lebih rendah dari pada jihad, mesti meminta izin terlebih dahulu kepada orangtua, kecuali jika safarnya sudah fardhu’ain (Fath al-Bari syarah hadits shahih al-Bukhari kitab al-jihad was-sair bab al-jihad bi idznil-abawain no. 3004).

Mengingat pentingnya kedudukan orangtua dalam ajaran Islam, maka meskipun sudah tua renta, dianggap menyusahkan keluarga, atau mempunyai sifat mudah marah dan mudah tersinggung seiiring perkembangan psikologis alami mereka, anak-anak dan siapapun haram berkata keras, kasar, bahkan memperlihatkan ketus sekalipun (uffin).

            Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-sebaiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-keduanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah/euh” (petanda ketus, kesal, marah) dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia (lebih dari sopan). Dan rendahkanlan dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan (merunduk, jangan membusungkan dada) dan ucapkanlah: “Wahai tuhanku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS.al-Isra ‘[17] :23-24).

 

Kewajiban Berbakti Kepada Orangtua yang Sudah Wafat.

 

Wajib berbakti kepada orang tua

Wajib berbakti kepada orang tua

Meski orangtua sudah wafat, kewajiban berbakti masih tetap ada. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits:

Dan Abu Usaid Malik ibn Rabi’ah as-Sa’idi, ia berkata: Ketika kami sedang bersama Rasulullah saw, datang seseorang dari bani salimah lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah tersisa sedikit saja dari kebaikan yang bisa aku lakukan untuk orangtuaku sesudah wafatnya?” Beliau menjawab: “Ya, yaitu mendo’akan mereka, memohon ampunan untuk mereka, memenuhi janji mereka, menyambungkan hubungan kekerabatan yang hanya bisa terhubung melalui mereka, dan menghormati temen mereka.”(Sunan Abi Dawud kitab al-abad bab fi birril-walidain no. 5144, Sunan Ibn Majah kitab al-abad bab shil man kana abuka yashilu no. 3664; Musnad Ahmad no. 16103; al-Mustadrak ‘alas-Shahihain kitab al-birr was-shilah bab hal baqiya min birri abawayya syai’un no. 7369).

Mendo’akan mereka artinya mendo’akan keselamatan dialam kubur dan alam akhirat kelak. Do’anya tidak terpaku dengan bahasa Arab saja, sebab do’a intinya permohonan. Meski dengan bahasa yang biasa digunakan sehari-hari, asalkan permohonan itu dipanjatkan kepada Allah swt maka itu adalah do’a. Sementara Istighfar atau memohon ampunan artinya mendo’akan agar kesalahan orangtua diampuni.

Do’a dan istighfar ini tidak boleh terlewat setiap harinya. Jika di waktu orangtua meninggal dunia, maka mudah meneteskan air mata saking sedih dengan kepergian mereka, maka dalam setiap do’a dan istighfar pun air mata itu seyogianya mudah menetes juga saking besarnya keinginan agar mereka bahagia dan terbebas dari dosa. Sebab kecintaan seorang anak kepada orangtua hanya bertepuk sebelah tangan jika tidak sampai berdo’a dan istighfar. Orangtua tidak butuh tangisan cengeng anak-anaknya, orangtua juga tidak butuh roman muka sedih dari semua keluarganya, apalagi konflik tak berujung seputar warisannya. Yang mereka butuhkan untuk bekal kehidupan mereka dialam kubur dan akhirat hanya do’a dan istighfar.

 

Memenuhi Janji Orang Tua Salah Satu Bukti Berbakti Kepada Orangtua.       

 

Berbakti kepada orang tua

Berbakti kepada orang tua

Memenuhi janji orangtua artinya memenuhi semua keinginan, wasiat dan janji mereka yang pernah mereka ikrarkan. Anak-anak harus sekuat tenaga dan semaksimal mungkin  mewujudkannya.

Menyambungkan hubungan kekerabatan dan memuliakan teman mereka artinya tetap menjalin hubungan baik dengan orangtua. Dalam hal ini, sahabat Ibnu Umar pernah memberikan teladan. Sebagaimana diceritakan ‘Abdullah ibn Dinar, ibn Umar apabila hendak ke makkah membawa keledainya untuk dikendarainya—jika ia sudah bosan untuk mengendarai unta—juga membawa sorban yang ia ikatkan pada kepalanya.

Pada suatu hari, ketika ia sedang mengendarai keledainya, tiba-tiba ada seorang laki-laki Arab gunung yang lewat, maka ia berkata: “Bukankah kamu ini adalah fulan putra fulan?” Orang tersebut menjawab: “Ya, benar.” Lalu ibn Umar memberikan keledainya kepada orang itu sambil berkata: “Naiklah ini.” Demikian juga sorbannya dengan mengatakan: “Ikatkanlah sorban ini di kepalamu.” Salah seorang kawan ibn Umar lalu berkata: “Semoga Allah mengampunimu. Kamu telah memberi keledai yang biasa kamu jadikan kendaraanmu dan sorban yang biasa kamu ikatkan di kepalamu kepada orang Arab gunung itu!?

Ibn Umar menjawab: “Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya diantara berbakti yang paling baik adalah seseorang menyambungkan hubungan kepada keluarga teman dekat ayahnya sesudah ia meninggal dunia.”

Ibn Umar menegaskan: “Sesungguhnya bapak orang Arab gunung itu dahulu adalah teman dekat Umar ibn Khathab.” (Shahih Muslim kitab al-birr was-shilah bab fadlli shilah ashdiqa il-ab wal umm wa nahwihima no. 6677-6679)

Artinya, berbakti kepada orangtua ketika mereka sudah meninggal dunia, harus diamalkan dengan cara menjaga hubungan baik dan menghormati semua orang yang pernah berhubungan baik dengan orangtua. Jika sebaliknya, saling membenci bahwa memusuhi, maka itu sama saja dengan memusuhi dan melaknat orangtua sendiri.

            “Sesungguhnya diantara dosa yang terbesar adalah seseorang melaknat kedua orangtuanya.” Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin ada seseorang yang berani melaknat kedua orangtuanya?” Jawab Nabi saw: “Seseorang mencaci ayah seseorang, lalu anak orang yang dicaci itu balas mencaci ayah dan ibunya.”(Shahih al-Bukhari kitab al-adab bab la yasubbur-rajul walidaihi no. 5973, Shahih Muslim kitab al-iman bab bayanil-kaba’ir wa akbariha no. 273)

Na’udzubillah min dzalik.

Mari kita terus Berbakti kepada Orangtua Sampai Meninggal Dunia

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

INFORMASI PAKET UMROH MURAH

UMROH 28 DESEMBER 2015 BIAYA $1.580 + Rp1 JUTA

UMROH JANUARI – MARET 2016 BERANGKAT SETIAP SELASA BIAYA $1.525 + Rp1 JUTA

HUBUNGI H. SUDJONO AF – 0813 88097656 | BB 2315A7C3

==================================================================

Similar Posts:

By |2015-10-26T13:15:56+00:00October 26th, 2015|Uncategorized|

Leave A Comment