Berwasiat, Bertaubat dan Menggunakan Biaya Halal untuk Haji dan Umroh

Berwasiat Umroh, Bertaubat dan Menggunakan Biaya Halal untuk Haji dan Umroh

Wasiat umroh. Jika seorang muslim sudah bertekad bulat untuk pergi Haji maupun Umrah,disunnahkan baginya berwasiat umroh kepada keluarga dan handai-taulannya dengan wasiat taqwa kepada Allah SWT, yakni, mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Hendaknya ia menuliskan hitam di atas putih utangpiutangnya dan mencantumkan pula saksi dalam tulisan itu. Wajib baginya segera bertaubat yang sebenar-benarnya dari segala dosa, berdasarkan firman Allah SWT:

"Dan bertaubatlah kamu sekalian kapada Allah, hai orang-orang yang beriman, agar supaya kamu beruntung." (QS: An-Nur, 31)

Hakikat Wasiat Umroh dan Taubat Sebelum Berangkat Umroh

Hakikat taubat ialah: berlepas total dan meninggalkan dosa, seraya menyesali dosa yang lampau dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Jika ia pernah melakukan perbuatan-perbuatan dzalim (tindak kesalahan) terhadap orang lain berupa: menghilangkan nyawa seseorang atau mencederai fisiknya, atau mengambil hartanya tanpa ridhanya, atau menjatuhkan kehormatannya hendaklah ia selesaikan semua urusannya dengan mereka atau ia meminta kerelaan mereka untuk mema'afkan sebelum kepergiannya, berdasarkan hadits shahih dari Nabi s.a.w.

Bahwa beliau bersabda:

"Barangsiapa memiliki tanggungan yang harus dibayarnya atau perilaku salah yang dilakukan- nya kepada saudaranya, baik berupa harta yang diambilnya tanpa ridhanya, atau harga diri saudaranya yang ia jatuhkan, maka, pada hari ini juga, ia hendaknya meminta kerelaan saudara-saudaranya itu untuk mema'ajkannya sebelum datang hari kiamat yang di hari itu tidak ada dinar maupun dirham (sebagai penebus). Jika ia mempunyai amal shaleh, maka akan diambil dari amalnya itu atas tindak buruknya kepada saudaranya itu. Tapi jika ia tidak memiliki amal baik, maka diambillah keburukan-keburukan temannya itu lalu dipikulnya ke atas pundaknya."

Seyogianya ia memilih, untuk haji dan umrahnya, biaya yang baik dari harta yang halal, berdasarkan hadits shahih dari Rasulullah s.a.w. bahwa beliau bersabda:

"Sesungguhnya Allah itu baik Dia tidaklah menerima kecuali yang baik."

Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabarani:

At-Thabarani meriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah s. a. w. Bersabda: Jika seseorang keluar bertujuan haji dengan membawa biaya yang baik (halal) dan ia pijak- kan kakinya pada pijakan pelana kudanya lalu menyeru: 'Kusambut panggilan-Mu ya Allah, kusambut panggilan-Mu", maka diserulah ia oleh penyeru dari langit: "Kusambut pula kamu dan kukaruniakan kapadamu kebahagiaan demi kebahagian. Bekalmu adalah halal, kendaraan yang kamu tunggangi pun halal. Dan hajimu adalah mabrur (diterima), tidak ternodai oleh dosa".

Jika seorang itu keluar dengan membawa biaya yang buruk (haram) lalu ia pijakkan kakinya pada pijakan pelana kudanya dan menyeru: "Kusambut panggilan-Mu ya Allah, kusambut Pang- gilan-Mu", maka diserulah ia oleh penyeru dari langit: "Aku tidak menyambutmu dan tidak pula Aku karuniakan kebahagiaan demi kebahagiaan kepadamu. Bekalmu adalah haram, harta yang kamu nafkahkan pun haram, dan hajimu tidaklah diterima (tidak mabrur). "

Seyogianya pula seseorang yang melakukan haji itu tidak tamak kepada harta benda yang berada di tangan orang lain, dan seyogianya ia menahan dari meminta-minta kepada mereka. Ini berdasarkan Nabi s.a.w.:

Dan barangsiapa menahan diri dari meminta- minta, maka Allah SWT akan menjaga dirinya. Dan, barang siapa merasa cukup harta yang dimili- kinya dan tidak tamak kepada harta orang lain, maka, Allah SWT pun akan menjadikannya merasa cukup.

Dan berdasarkan sabda Nabi s.a.w.:

"Seseorang akan senantiasa meminta-minta kepada orang lain hingga ia datang pada hari kiamat sedang di wajahnya tak tersisa daging sedikitpun."

Orang yang pergi haji wajib berniat dengan haji umrahnya itu untuk mencari keridhaan Allah SWT dan kebahagiaan Hari Akhir serta mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan ucapan dan perbuatan yang diridhai Allah SWT di tempat-tempat yang mulia itu. Dan diingatkan kepadanya agar dengan hajinya itu tidak mencari keduniaan dan kebendaan, atau untuk pamer dan mencari nama serta berbangga dengan hajinya. Karena, hal itu adalah seburuk-buruk niat atau tujuan dan bahkan bisa menggugurkan dan tidak diterimanya amal.

Sebagaimana firman Allah SWT:

"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka. Dan, lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (QS: Hud, 15)

Dan sebagaimana firman Allah SWT:

"Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang(dunia), maka Kami segerakanbaginya dunia itu apa yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam;ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Danbarangsiapa yang menghendaki kehidupan Akhirat dan berusaha ke arah itu dengan usaha yang sebenarnya (dengan mengikuti Rasulullah) sedang ia mu 'min, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik." (QS: Al-Isra: 18)

Juga sebagaimana tertera dalam hadits qudsi:

Dalam riwayat hadits yang shahih, Nabi s.a.w. bersabda: Allah Ta'ala berfirman: "Aku sangat menolak untuk disekutukan. Barangsiapa mela- kukansuatu amalan yang di dalamnya Aku dise- kutukan dengan selain Aku, maka Aku akan me- ninggalkannya dan sekutu yang diangkatnya itu."

 

Oleh; Sheikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

diterjemahkan oleh; Rahmatul Arifin Muhammad Ma'ruf

Dicetak dan Diedarkan oleh : Kementrian Urusan Agama Islam, Wakaf, Dakwah dan Bimbingan Islam Perwakilan Bidang Percetakan dan Distribusi Riyadh – Saudi Arabia, 1422H 

Similar Posts:

By |2015-05-16T14:47:39+00:00May 16th, 2015|Uncategorized|

Leave A Comment