Haji Tamattu Pilihan Pelaksanaan Haji Pemerintah Indonesia

Haji Tamattu Pilihan Pelaksanaan Haji Pemerintah Indonesia. Pengertian Haji Tamattu (bahasa Arab: حج‎ transliterasi: Hajj) adalah rukun Islam yang kelima setelah syahadat, salat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagaimusim haji (bulan Zulhijah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu.

Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Zulhijah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah, dan berakhir setelah melempar jumrah pada tanggal 10 Zulhijah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul Adha sebagai Hari Raya Haji karena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini.

Berdasarkan tatacara pelaksanaan ibadah haji, ada tiga jenis tatacara ibadah haji. Yaitu haji Ifrad, haji Qiran dan haji Tamattu.  

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang ingin berniat ihram untuk mengerjakan ibadah haji dan umrah sekaligus maka kerjakanlah, barangsiapa yang ingin berniat ihram untuk mengerjakan haji saja maka kerjakanlah, dan barangsiapa yang ingin berniat ihram untuk mengerjakan umrah saja maka kerjakanlah.” (HR Ahmad)

Haji qiran

Haji qiran

=================================================================

DIBUKA PAKET UMROH MURAH Rp18,9 Juta

UMROH BULAN JANUARI – MARET

Umrah Murah Mei $1550 + Rp 1 Juta

Biaya Umroh Ramadhan $1.750 + Rp 1 Juta

Umrah Murah Desember Rp21,5 juta

INFORMASI: H. SUDJONO AF – 081388097656 WA

==================================================================

 

Diriwayatkan bahwa Aisyah ra berkata, “Kami bepergian bersama Rasulullah saw pada tahun haji wada. Diantara kami ada yang berniat ihram untuk melaksanakan umrah, ada pula yang berniat ihram untuk melaksanakan haji saja, dan ada pula yang berniat ihram untuk melaksanakan haji dan umrah sekaligus. Nabi saw sendiri berniat ihram untuk haji. Mereka yang berniat ihram untuk umrah kemudian bertahallul ketika sudah tiba waktunya, sementara yang berihram untuk haji atau yang menggabungkan antara haji dan umrah tidak bertahallul sampai hari Nahar (10 Zulhijjah) tiba,” (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis diatas menunjukkan bahwa setiap muslim bebas memilih salah satu dari ketiga jenis ibadah haji yang akan ditunaikannya; apakah ifrad, qiran, atau tamattu. Hanya saja, fukaha membedakan keutamaan ketiga jenis ibadah haji tadi. Masing-masing memiliki dalil sendiri-sendiri tentang keutamaan salah satu jenis haji dibandingkan jenis yang lain.

 

Dasar Dalil Bahwa Haji Ifrad yang Paling Utama

Haji tamattu

Haji tamattu

Dalam salah satu pendapatnya-yang belakangan dikenal sebagai pendapat mazhab Maliki, fukaha mazhab Syafi’i menyatakan bahwa ifrad ialah jenis ibadah haji yang paling utama jika dibandingkan dengan haji qiran dan haji tamattu. Pendapat ini didasarkan pada dua dalil berikut ini.

  1. Diriwayatkan bahwa Jabir berkata, “Sesungguhnya Nabi saw berniat ihram untuk mengerjakan haji saja dan aku juga melakukan hal serupa,” (HR al-Turmudzi)
  2. Diriwayatkan bahwa Aisyah ra berkata, “Sesungguhnya Nabi saw berniat ihram untuk melaksanakan haji saja (tanpa disertai umrah, ifrad).”

Haji qiran termasuk rukhshah (keringanan) yang diberikan oleh Rasulullah saw kepada umatnya, sementara haji ifrad termasuk niat atau tujuan utama (azimah). Dalam konteks ini, mendahulukan niat utama itu jauh lebih baik ketimbang mendahulukan keringanan (rukhshah). Rasulullah saw pernah bersabda kepada Aisyah ra, “Pahala yang akan engkau dapatkan ialah sesuai dengan kemampuan dan kepayahan yang kamu keluarkan dalam melaksanakan satu ibadah,” (HR Ibnu Hibban).

Haji ifrad mengandaikan dikerjakannya manasik secara sempurna, sementara haji qiran mengandaikan dikerjakannya dua manasik berbeda (haji dan umrah) dalam satu waktu, satu perjalanan, dan satu kalimat talbiyah. Oleh karena itu, haji qiran membuat seseorang yang mengerjakannya harus dikenai dam (sanksi), yaitu menyembelih binatang sembelihan. Dari sini bisa disimpulkan bahwa haji ifrad lebih utama ketimbang haji qiran. Haji ifrad ialah ibadah haji paling utama karena orang yang mengerjakannya tidak diharuskan menyembelih binatang sembelihan (hadyu).

 

Dasar Dalil Bahwa Haji Qiran yang Paling Utama

Rukun haji

Rukun haji

Pendapat berbeda dikemukakan oleh fukaha mazhab Hanafi. Menurut mereka, ibadah haji yang paling utama ialah haji qiran. Pendapat ini dilandaskan pada beberapa dalil berikut.

  1. Diriwayatkan oleh Ali, Ibnu Mas’ud, dan Imran ibn Hashin bahwa Nabi saw pernah menggabungkan antara ibadah haji dan ibadah umrah. Untuk itu, beliau melakukan tawaf dua kali dan sa’i dua kali (HR al-Daruquthni).
  2. Diriwayatkan bahwa Anas ibn Malik berkata, “Aku pernah membonceng dibelakang unta Nabi dan mendengar beliau berkata, “Aku penuhi panggilan-Mu untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah sekaligus,” (HR al-Turmudzi).
  3. Rasulullah saw bersabda, “Aku pernah didatangi malaikat ketika sedang berada di daerah Aqiq. Dia lalu berkata kepadaku, “Shalatlah dua rakaat di lembah yang penuh berkah ini dan katakanlah. Aku penuhi panggilan-Mu untuk melaksanakan haji dan umrah sekaligus,” (HR Bukhari).

Haji qiran mengandung makna kebersambungan dan keberhimpunan dalam ibadah. haji qiran juga mengandaikan dihimpunnya dua ibadah (haji dan umrah) seperti halnya puasa yang dihimpun dengan i’tikaf atau ronda yang dihimpun dengan shalat malam.

Dalam haji qiran, sesorang diharuskan menyembelih binatang sembelihan-yang dalam sabda Rasulullah SAW disebut sebagai haji terbaik. Beliau bersabda, “Sebaik-baik haji ialah haji yang disertai dengan sahut-sahutan ucapan talbiyah dan mengalirkan darah (kurban),” (HR al-Turmudzi).

 

Dasar Dalil Bahwa Haji Tamttu yang Paling Utama

Perjalanan ibadah haji

Perjalanan ibadah haji

Pendapat berbeda juga dikemukakan oleh fukaha mazhab Hambali. Menurut mereka, ibadah haji yang paling utama ialah haji tamattu. Pendapat seperti ini juga dikuatkan oleh Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Ibnu al-Zubayr, Aisyah, al-Hasan, Atha, Thawus, Mujahid, dan Jabir-merupakan pendapat lain dari fukaha mazhab Maliki dan Syafi’i.

Dalilnya ialah firman Allah Swt, Barangsiapa ingin mengerjakan umrah sebelum haji (pada bulan-bulan haji) (al-Baqarah [2]: 196). Ayat Al-Qur’an ini secara jelas menyebutkan tentang haji tamattu, tidak dua jenis haji yang lain. Tamattu mengandaikan dihimpunnya haji dan umrah pada bulan-bulan haji beserta kesempurnaan dan kemudahan yang bisa didapat.

Tidak ada dalil pasti yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw berniat ihram selain untuk melaksanakan haji tamattu. Selain itu, hadis-hadis yang disebutkan diatas tidak bisa dijadikan sebagai pegangan karena beberapa hal berikut ini.

  1. Para perawi hadis-hadis tersebut-yang menjadikannya sebagai dalil bahwa Rasulullah saw lebih sering berniat ihram untuk melakukan haji ifrad atau haji qiran-juga meriwayatkan hadis-hadis yang menyebutkan bahwa beliau saw melakukan ibadah umrah yang kemudian dilanjutkan dengan ibadah haji (tamattu).
  2. Riwayat-riwayat mereka berbeda satu sama lain. Satu riwayat menyebutkan bahwa Nabi saw berniat ihram untuk haji ifrad, riwayat lain menyebutkan bahwa beliau berniat ihram untuk haji qiran, dan riwayat lainnya juga menyebutkan bahwa beliau berniat ihram untuk haji tamattu.

Semua ini adalah sesuatu yang mustahil terjadi karena ketiga jenis ibadah haji itu tidak mungkin dihimpun dalam satu waktu. Perlu diketahui, hadis paling shahih yang disebutkan diatas ialah hadis yang menyebutkan tentang niat ihram Rasulullah saw untuk melaksanakan ibadah haji qiran, yaitu hadis riwayat Anas ibn Malik dan hadis riwayat Ali.

Hanya saja, kedua hadis tersebut sama-sama tidak memiliki landasan yang kuat. Hadis riwayat Anas disangkal oleh Ibnu Umar dengan mengatakan, “Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada Anas. Sesungguhnya dia masih kecil.” Adapun hadis riwayat Ali diambil dari riwayat Hafs ibn Abu Dawud yang lemah (dhaif) dan dari riwayat Ibnu Abi Layla yang menurut al-Daruquthni dikenal sebagai orang yang suka menduga-duga.

  1. Sebagian besar riwayat yang ada menyebutkan bahwa Nabi saw berniat ihram untuk mengerjakan ibadah haji tamattu. Diantara sahabat yang meriwayatkannya ialah Umar, Utsman, Sa’d ibn Abi Waqash, Ibnu Umar, Mu’awiyah, Abu Musa, Jabir, Aisyah, dan Hafshah. Dalam sebuah hadis riwayat Utsman ibn Hashin dikatakan, “Ayat tentang haji tamattu sudah turun kami diperintahkan Nabi saw agar mengerjakannya. Setelah itu, tidak ada ayat lagi yang turun yang menghapus ayat tentang haji tamattu. Rasulullah saw juga tidak pernah melarang pelaksanaan haji tamattu sampai beliau wafat.” (HR Muslim)
  2. Rasulullah saw telah memerintahkan para sahabatnya agar mengganti pelaksanaan haji ifrad dan qiran dengan haji tamattu. Beliau tidak mungkin menganjurkan sahabatnya agar berpindah mengerjakan sesuatu yang lebih rendah derajatnya. Artinya, beliau pasti memerintahkan sahabatnya agar mengerjakan sesuatu yang lebih baik dan lebih utama.

Setelah memaparkan sejumlah pendapat fukaha mengenai jenis ibadah haji yang paling utama yang disunnahkan oleh Rasulullah saw, kami lebih sepakat dengan pendapat fukaha mazhab Hanbali. Alasannya, dalil mereka lebih kuat dan lebih masuk akal. Melakukan perjalanan jauh dan menetap cukup lama di Makkah membuat pelaksanaan ihram tidaklah mudah, lebih-lebih bagi perempuan.

Dalam hal ini, niat ihram yang paling tepat untuknya ialah niat ihram untuk melaksanakan haji ifrad. Seandainya dia menginginkan untuk melakukan umrah setalh itu, dia bisa keluar dari kota Makkah untuk kemudian melakukan ihram dengan niat umrah.

Seorang perempuan diperbolehkan berniat ihram tanpa menentukan jenis ibadah haji yang akan dikerjakannya. Jika dia melakukan hal itu maka ihramnya tetap dianggap sah.

 

=================================================================

DIBUKA PAKET UMROH MURAH Rp18,9 Juta

UMROH MURAH BULAN JANUARI – MARET

Umrah Murah Mei $1550 + Rp 1 Juta

Umroh Ramadhan 2018 $1.750 + Rp 1 Juta

Umrah Murah Desember $1550 + Rp 1 Juta

INFORMASI: H. SUDJONO AF – 081388097656 WA

==================================================================

Haji Qiran, Ifrad, dan Tamattu’ bagi Orang Indonesia

Jamaah haji tammatu Indonesia

Jamaah haji tammatu Indonesia

Kayfiyah haji itu ada tiga macam: Qiran, Tamattu’, dan Ifrad. Haji Qiran ialah ibadah umrah dan haji dikerjakan bersama-sama pada musim haji tanpa dipisah di antara keduanya dengan tahallul. Caranya, di miqat makani jamaah haji setelah mandi pakai wangi-wangian dan baju ihram, mengucapkan ihlal (niat ihram) umrah dan haji sekaligus dengan mengucapkan “Labbaika bihajjin wa ‘umratin”.

Kemudian setelah selesai thawaf dan sa’i tidak diakhiri dengan tahallul (dengan menggunting rambut) tapi tetap dalam keadaan ihram sampai ia selesai melontar jumrah ‘aqabah (tahallul pertama) dan thawaf ifadlah (tahallul kedua).

Jamaah haji yang melaksanakan haji qiran disebut qaarin. Jamaah haji qaarin wajib menyembelih hadyu yang ia bawa dari tanah air masing-masing atau dari luar miat.

Haji Tamattu’ ialah ibadah umrah dan haji dikerjakan sama-sama pada musim haji. Di antara keduannya dipisah dengan tahallul. Caranya di miqat makani jamaah setelah mandi memakai wangi-wangian dan baju ihram mengucapkan ihlah (niat) ihram umrah saja dengan mengucapkan “Labbayka Allahumma ‘umratan” atau “Labbayka umratan”.

Kemudian setelah selesai thawaf dan sa’i, ia mengakhiri umrahnya dengan tahallul. Maka larangan-larangan ihram seperti memakai baju, wangi-wangian, senggama, dan sebagainya menjadi gugur sampai datang hari tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah). Pada tanggal itu jamaah haji melaksanakan ihram haji dari Makkah dengan melaksanakan mandi, memakai wangi-wangian dan baju ihram. Kemudian mengucapkan ihlal (niat) ihram haji “Labbayka Allahumma hajjan” atau “Labbayka hajjan”. Jamaah haji yang melaksanakan haji tamattu’ di sebut mutamatti’.

Haji ifrad ialah haji yang umrahnya dilakukan di luar musim haji. Pada musim haji ia hanya melaksanakan ibadah haji saja (satu kali berangkat hanya umrah lalu kembali, di musim haji berangkat lagi untuk haji). Caranya ketika jamaah haji sampai di miqat setelah melaksanakan persiapan ihram (mandi, memakai wangi-wangian, dan kain ihram) lalu mengucapkan ihlal (niat) ihram untuk haji saja “Labbayka Allahumma hajjan” atau Labbayka hajjan”.

Pada hari tarwiyah jamaah haji berangkat menuju Mina dan seterusnya sampai selesai seluruh manasik haji. Jamaah haji ifrad (mufrid) tidak diwajibkan menyembelih hadyu.

Ketiga kayfiyah haji ini tidak khusus untuk negeri-negeri tertentu selain penduduk Makkah. Jadi bagi orang Indonesia atau negara manapun di luar Makkah boleh memilih salah satu cara. Tetapi haji tamattu’ bagi kita akan lebih mudah.

https:// insiderachman. wordpress. com

 

Jamaah Indonesia Tunaikan Dam Tamattu’

Jamaah haji melempar jumroh

Jamaah haji melempar jumroh

Seriring dengan pergerakan jamaah haji Indonesia dari Madinah ke Mekkah, yang akan berakhir pada akhir pekan mendatang. Mendekati puncak pelaksanaan haji, jamaah haji Indonesia semakin banyak jumlahnya di Mekkah.

Jumlah tersebut sebanding dengan jumlah jamaah yang telah menyelesaikan umroh haji tamattu. Bersamaan dengan usainya pelaksanaan tersebut jamaah haji mempunyai kewajiban membayar Dam Tamattu’ dengan seekor kambing untuk satu orang, ataupun satu ekor unta yang mewakili tujuh orang/kepala. Ribuan jamaah haji Indonesia mulai menyerbu pasar kambing di Kaqiyah, Mekkah.

“Kenapa bayar dam, dan dilakukan sekarang karena kami melaksanakan haji tamattu, yang disebut disini adalah dam nusuk, setelah tahalul umrah haji tamattu’, membolehkan membayar dam nusuk. Kalau membayar kurban belum baru akan dilaksanakan pada 10 Dzuhijjah, sampai hari tasrik baru berkorban,” ujar Salah Anggota Tim Pembimbing Ibadah Haji (TPIH) kloter 11 Makassar Dahlan, di Pasar Kambing, Mekah.

Dam secara bahasa berarti darah, sedangkan menurut istilah adalah mengalirkan darah dngan cara menyembelih ternak, kambing, unta dan sapi di tanah haram dalam rangka memenuhi ketentuan manasik haji. Dam dibagi menjadi dua, yakni Dam Nusuk, dam yang dikenakan bukan karena melakukan kesalahan, yakni bagi orang yang melakukan haji tamattu’ atau haji qiran. Sedangkan, kedua adalah Dam Isa’ah adalah dam yang dikenakan karena seseorang melanggar aturan atau lupa sehingga melakukan kesalahan.

Dahlan menjelaskan, rombongan yang dipimpinnya melaksanakan kewajiban dam tamattu, sebelum pelaksanaan wukuf di Arafah. Dan untuk, dam tamattu’ itu jamaah haji akan membayar 300 riyal untuk satu ekor kambing.

“Setelah tahalul haji tamattu, membolehkan membayar dam nusuk, kalau membayar kurban belum baru akan dilaksanakan pada 10 Dzuhijjah, sampai hari tasrik baru berkorban. Bagi dam tamattu’ bisa sekarang bersamaan atau setelah Arafah, akan tetapi dibolehkan memotong sebelum meninggalkan tanah suci Mekkah,” jelasnya.

Selain menjual kambing-kambing yang didatangkan dari India, Pakistan, dan Sudan, ada juga hewan sembelihan lainnya seperti unta dan sapi. Sebab selain, kambing ada juga jamaah haji yang memilih dam tamattu’nya berupa Sapi dan Unta. Unta di pasar Kaqiyah, Mekkah dijual dengan harga 2.000 riyal per ekornya atau setara dengan 6 juta rupiah, yang dibayarkan oleh tujuh orang.

“Kita pilih unta untuk memudahkan 172 supaya penyaksian penyembelihan lebih cepat, karena kita jumlahnya banyak,” ujar Samian, pimpinan kloter 24 Jawa Timur. (novel).

Tiga Macam Ibadah Haji menurut cara melaksanakannya

Haji Ifrad (mendahulukan Haji daripada Umroh) :
yaitu seorang berniat melakukan haji saja tanpa umroh pada bulan-bulan haji, dengan kata lain melaksanakan secara terpisah / sendiri-sendiri dengan melaksanaan ibadah haji dilakukan terlebih dahulu, selanjutnya melakukan umroh dalam satu musim haji.

Setiba di Makkah, melakukan thawaf qudum (thawaf di awal kedatangan di Makkah), kemudian shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim. Setelah itu bersa’i di antara Shafa dan Marwah untuk hajinya tersebut (tanpa bertahallul), kemudian menetapkan diri dalam kondisi berihram, tidak halal baginya melakukan hal-hal yang diharamkan ketika ihram, jadi dia tetap dalam keadaan ihram hingga datang masa tahallulnya pada tanggal 10 Dzul Hijjah.

Untuk haji Ifrad ini, tidak ada kewajiban menyembelih hewan kurban. Apabila ibadah haji sudah selesai, maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan umrah.

Rincaian Pelaksanaan :
Ihram dari miqat untuk haji.
Ihram lagi dari miqat untuk umrah
Tidak membayar dam Disunatkan Tawaf Qudum

Haji Tamattu’ (mendahulukan Umrah baru kemudian Haji) :
yaitu seorang berihram untuk melaksanakan umrah pada bulan-bulan haji (Syawwal, Dzul Qa’dah, 10 hari pertama dari Dzul Hijjah), memasuki kota Makkah lalu menyelesaikan umrahnya dengan melaksanakan thawaf umrah, sa’i umrah kemudian bertahallul dari ihramnya dengan memotong pendek atau mencukur rambut kepalanya, lalu dia tetap dalam kondisi halal (tidak ber-ihram) hingga datangnya hari Tarwiyah, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah.

Pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah) berihram kembali dari Makkah untuk menunaikan hajinya hingga sempurna. Bagi yang berhaji Tamattu’, wajib baginya menyembelih hewan kurban (seekor kambing/sepertujuh dari sapi/sepertujuh dari unta) pada tanggal 10 DzulHijjah atau di hari-hari tasyriq (tanggal 11,12,13 Dzul Hijjah). Bila tidak mampu menyembelih, maka wajib berpuasa 10 hari; 3 hari di waktu haji (boleh dilakukan di hari tasyriq)

Namun yang lebih utama dilakukan sebelum tanggal 9 Dzul Hijjah/hari Arafah) dan 7 hari setelah pulang ke kampung halamannya. Banyak jama’ah yang memilih Haji tamattu karena relative terlebih mudah karena selesai tawaf dan sai langsung tahallul agar terbebas dari larangan selama ihram.

Rincian Pelaksanaan :
Ihram dari miqat untuk umroh
Ihram lagi dari miqat untuk haji
Membayar dam

Haji Qiran (melaksanakan Haji sekaligus Umrah) :
yaitu seorang berniat haji dan umroh secara bersama-sama pada bulan-bulan haji dengan kata lain berihram untuk menunaikan umrah dan haji sekaligus, dan menetapkan diri dalam keadaan berihram (tidak bertahallul) hingga tanggal 10 Dzul Hijjah. Dia berihram untuk umrah, lalu ber-ihram untuk haji sebelum memulai thawaf-nya (untuk dikerjakan sekaligus bersama umrahnya). Kemudian memasuki kota Makkah dan melakukan thawaf qudum (thawaf di awal kedatangan di Makkah), lalu shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim.

Setelah itu bersa’i di antara Shafa dan Marwah untuk umrah dan hajinya sekaligus dengan satu sa’i (tanpa bertahallul), kemudian masih dalam kondisi berihram dan tidak halal baginya melakukan hal-hal yang diharamkan ketika ihram hingga datang masa tahallulnya di tanggal 10 Dzul Hijjah). Untuk haji Qiran ini, wajib menyembelih hewan kurban (seekor kambing, sepertujuh dari sapi, atau sepertujuh dari unta) pada tanggal 10 Dzul Hijjah atau di hari-hari tasyriq (tanggal 11, 12, 13 Dzul Hijjah).

Bila tidak mampu menyembelih, maka wajib berpuasa 10 hari; 3 hari di waktu haji (boleh dilakukan di hari tasyriq, namun yang lebih utama dilakukan sebelum tanggal 9 Dzul Hijjah/hari Arafah) dan 7 hari setelah pulang ke kampung halamannya. Dengan cara ini, berarti seluruh pekerjaan umrahnya sudah tercakup dalam pekerjaan haji.

Rincian Pelaksanaan :
Ihram dari miqat untuk haji dan umrah
Melaksanakan semua pekerjaan haji
Membayar dam

http://www.eramuslim .com

http://www.caramudahkebaitullah .com

Similar Posts:

By |2017-12-31T14:10:40+00:00November 6th, 2015|Uncategorized|

Leave A Comment