Hukum Pergi Ibadah Haji Tanpa Mahram

Inlah Hukum Pergi Ibadah Haji Tanpa Mahram. Fukaha telah membahas persoalan ini secara serius. Mereka bersilang pendapat tentang bagaimana jika perempuan tersebut sudah bersuami atau belum, tinggal di dekat kota Makkah atau jauh, masih muda atau sudah tua. Berikut ini penjelasannya.

========================================================================

Berniat Haji Berangkat Tahun Ini Biaya USD 14.500

Informasi : H SUDJONO AF – 081388097656

========================================================================

Hukum Pergi Ibadah Haji Tanpa Mahram
Hukum Pergi Ibadah Haji Tanpa Mahram

Hukum pergi Ibadah Haji bagi perempuan yang sudah bersuami

Menurut sebagian fukaha, perempuan yang sudah bersuami wajib pergi bersama suaminya. Jika tidak maka dia telah berbuat maksiat kepada Allah Swt. ARtinya, dia harus pergi dengan didampingi mahramnya. Jika tidak ada mahram yang bisa menemaninya pergi maka kewajiban hajinya menjadi gugur. Pandangan ini dikemukakan oleh fukaha mazhab Hanbali, al-Hasan, al-Nakha’i, Ibnu al-Mundzir, dan Ishaq. Dalilnya adalah beberapa hadis Nabi yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi dibawah ini.

 

  1. Ibnu Abbas pernah mendengar Rasulullah bersabda dalam khutbahnya, “Seorang laki-laki tidak boleh berdua-duaan dengan perempuan asing yang tidak didampingi oleh mahramnya. Seorang perempuan juga tidak boleh bepergian sendiri tanpa ditemani oleh mahramnya.” Seorang sahabat kemudian berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, istri saya telah pergi berhaji, sementara saya sendiri sibuk bertempur di medan peperangan ini dan ini.” Beliau bersabda, “Pergi dan kerjakanlah haji bersama istrimu.” (HR Ibnu Majah).
  2. Diriwayatkan dari Abu Hurayrah bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak pantas bagi perempuan mukmin yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sendiri tanpa ditemani oleh mahramnya.” (HR Muslim).
  3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah bersabda, “Seorang perempuan tidak boleh pergi mengerjakan ibadah haji tanpa didampingi oleh mahramnya.” (HR al-Daruquthni dan Abu Dawud)
  4. Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudzri bahwa Rasulullah saw bersabda, “ Tidak pantas bagi perempuan mukmin yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk bepergian sendiri selama tiga hari tanpa didampingi oleh ayahnya, atau anaknya, atau suaminya, atau mahramnya yang lain.” (HR Muslim)

 

Menurut Imam Malik, seorang perempuan tetap boleh pergi haji sekalipun tidak didamppingi oleh mahram. Hanya saja, dia harus berada dalam rombongan haji perempuan, selain juga perjalanannya ke tanah suci harus dijamin aman dan tidak mengalami kesulitan dalam perjalanannya kesana. Jika dipastikan bahwa perjalanannya ke tanah suci menggunakan angkutan laut yang tidak terlalu aman bagi dirinya atau bahkan berjalan kaki, dia tidak wajib pergi. Tapi, jika angkutan laut yang ditumpanginya itu dipastikan aman bagi dirinya maka dia wajib pergi. Dalam konteks ini, angkutan laut (transportasi) menjadi prasyarat penting bagi perjalanan yang akan ditempuhnya ke Baitullah.

Menurut Ibnu Sirin dan al-Awza’i, dia boleh pergi jika bersama rombongan haji laki-laki dan perempuan yang bisa dipercaya. Dia pun diperbolehkan pergi dengan rombongan haji laki-laki mukmin saja.

Menurut fukaha mazhab Syafi’i, dia tidak wajib pergi kecuali jika bisa dipastikan bahwa dirinya akan terjaga dan aman, baik itu dengan cara didampingi oleh suami, mahram, atau perempuan-perempuan lainnya yang bisa dipercaya.

Dalam kitab al-Imla, al-Syafi’i menyebutkan bahwa seorang perempuan diperbolehkan pergi haji sekalipun hanya didampingi oleh satu orang perempuan, dengan syarat bahwa perempuan pendampingnya itu bisa dipercaya dan bukan budak. Bahkan, menurut al-Syafi’i, perempuan sudah diperbolehkan pergi haji sendirian jika perjalanannya ke tanah suci itu dipastikan aman dan tidak mengalami hambatan. Pandangan al-Syafi’i ini didasarkan pada beberapa dalil berikut.

Diriwayatkan dari Adi ibn Hatim bahwa Rasulullah saw bersabda, “Kalian akan melihat perempuan yang keluar dan berjalan sendirian dari Hirah sampai ke Makkah dan mengelilingi Ka’bah tanpa didampingi oleh seorang pun.” Adi berkata, “Aku melihat seorang perempuan keluar dan berjalan sendirian dari Hirah sampai ke Makkah dan mengelilingi Ka’bah.”

Dalil kedua al-Syafi’i adalah firman Allah Swt, Dan di antara kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. (Al-Imran [3]: 97). Kata “manusia” dalam ayat ini mencakup laki-laki dan perempuan. Mengingat tujuan dari keberadaan suami atau mahram yang mendampingi perempuan (istri) dalam bepergian haji ialah demi keamanan dan keterjagaan diri sang istri, rombongan haji perempuan tentunya sudah bisa menggantikan kedudukan suami atau mahramnya yang lain.

Sejarah mencatat bahwa sepeninggal Rasulullah, istri-istri beliau pergi haji bersama rombongan sahabat laki-laki setelah diizinkan oleh Umar ibn al-Khaththab. Saat itu, Umar mengutus sahabat Utsman ibn Affan dan Abdurrahman ibn Awf untuk mengawal dan mendampingi mereka. Utsman pun lalu menyuruh sahabat agar tidak melihat dan berjalan terlalu dekat dengan mereka yang berada di dalam kemah di atas unta. Perlu diketahui, haji istri-istri beliau ini adalah haji sunnah. Selain Zaynab, mereka semua telah mengerjakan haji fardhu bersama Rasulullah semasa beliau masih hidup.

Dalam kitab al-Umm, al-Syafi’i menegaskan bahwa A’isyah, Ibnu Umar, dan Zubayr pernah menyatakan tentang bolehnya seorang perempuan pergi haji sendirian tanpa didampingi oleh mahramnya.

Dalil lain Imam al-Syafi’i adalah jawaban Atha ketika ditanya tentang hukum seorang perempuan yang ingin pergi haji tanpa didampingi mahramnya, tetapi bersama anak-anak kecil dan para budak yang sangat dimungkinkan bisa melindungi dan menjaga kehormatannya. Atha kemudian menjawab bahwa perempuan itu boleh pergi.

 

Hukum pergi Ibadah Haji bagi perempuan yang tinggal di dekat Makkah

Fukaha mazhab Hanafi memiliki pandangan terperinci soal ini, yaitu hukum seorang perempuan yang tinggal di dekat kota Makkah dan ingin pergi haji tanpa didampingi oleh suami atau mahramnya. Menurut mereka, jika perjalanan hajinya ke Makkah memakan waktu kurang dari tiga hari maka dia diperbolehkan pergi tanpa didampingi oleh suami atau mahramnya. Hanya saja, ada dua syarat yang harus terpenuhi. Pertama, dia dapat mengalami kesulitan atau kepayahan dalam menempuh perjalanan tersebut. Dalam hal ini, kemampuan dan kekuatan fisik masing-masing perempuan jelas berbeda. Kedua, dia harus bisa menjaga diri dan kehormatannya (al-tasattur). Akan tetapi, jika perjalanannya ke tanah suci memakan lebih dari tiga hari maka dia tidak diperbolehkan pergi kecuali ditemani oleh suami atau mahramnya. Pandangan seperti ini didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri. Rasulullah saw bersabda, “Seorang perempuan tidak boleh bepergian sendiri lebih dari tiga malam kecuali bersama mahramnya.” (HR Muslim)

 

Hukum pergi Ibadah Haji bagi perempuan yang masih muda atau sudah tua

Sebagian fukaha membedakan hukum pergi haji tanpa mahram bagi perempuan yang sudah tua dan yang masih muda. Dalam Subul al-Salam dikatakan, perempuan yang sudah tua boleh pergi haji sendirian tanpa ditemani oleh mahramnya. Alasannya, perempuan yang sudah tua tidak memiliki daya tarik atau tidak akan menimbulkan syahwat bagi laki-laki. Oleh karena itu, dia bisa pergi kemana saja sekalipun tanpa seorang pun yang mendampinginya.

Imam Malik mengatakan bahwa perempuan yang sudah tua biasanya tidak menimbulkan syahwat bagi kaum laki-laki. Oleh sebab itu, dia boleh bepergian tanpa suami atau mahram. Pandangan ini didasarkannya pada sebuah riwayat dari Ibnu Abbas. Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada al-sharurah dalam Islam,” (HR Ahmad). Yang dimaksud al-sharurah ialah perempuan yang belum pernah mengerjakan haji dan tidak mempunyai mahram yang bisa menemaninya pergi. Dari hadis ini bisa disimpulkan bahwa perempuan yang sudah tua dan tidak mempunyai mahram tetap harus melaksanakan kewajibannya berhaji. Dia tetap harus pergi dengan didampingi seseorang yang bisa dipercaya. Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Ibnu Daqiq al-Id.

Pendapat berbeda dikemukakan oleh mayoritas fukaha. Menurut mereka, tidak ada perbedaan antara perempuan yang sudah tua dan yang masih muda. Alasannya, setiap perempuan-baik yang tua maupun yang masih muda-selalu bisa menimbulkan syahwat bagi kaum laki-laki.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa perempuan yang hendak pergi haji harus ditemani salah satu mahramnya, seperti saudara laki-laki, ayah, atau pamannya-baik dari jalur hubungan sesusuan maupun nasab (keturunan). Adapun orang-orang seperti pembantu laki-laki dan saudara ipar (suami saudara perempuannya) tidak bisa dikelompokkan ke dalam mahram yang bisa menemaninya pergi. Tetapi, apabila tidak ada satu pun mahram yang bisa menemaninya pergi maka dia boleh pergi bersama rombongan haji perempuan yang bisa dipercaya, meskipun itu hanya satu orang.

Saat ini, keberangkatan para jamaah haji-baik laki-laki dan perempuan-sudah diatur oleh lembaga pemerintah dan nonpemerintah. Mereka dikelompokkan ke beberapa rombongan (kloter) secara teratur. Semua kebutuhan mereka selama melaksanakan ibadah haji juga sudah disediakan dan disiapkan, mulai dari perjalanan, penginapan, perbekalan, hingga keamanan dan seterusnya. Dalam konteks seperti ini, perempuan diperbolehkan pergi karena semua fasilitas dan keamanan yang diberikan sudah dianggap bisa mewakili mahramnya.

Demikian beberapa pandangan fukaha terkait hukum seorang perempuan yang hendak pergi melaksanakan haji fardhu tanpa didampingi mahram. Pertanyaannya kemudian, bagaimana jika haji yang akan ditunaikannya itu adalah haji sunnah atau umrah sunnah. Kalangan fukaha berbeda pendapat dalam melihat masalah ini. Sebagian berpendapat bahwa dia tetap boleh pergi dengan didampingi oleh perempuan yang bisa dipercaya. Hanya saja, sebagian besar fukaha melarang mereka pergi kecuali ditemani oleh suami atau mahramnya.

Similar Posts:

Artikel Sedang Trending
Bagaimana Seorang Muslim Melakukan Manasik Haji Dan Umrah ? Cara yang terbaik bagi seorang muslim
Kemampuan pergi haji bagi seorang perempuan. Ada beberapa poin yang mesti diperhatikan oleh perempuan yang
Kewajiban Haji adalah bagi orang yang mampu. Apa yang dimaksud dengan "mampu" disini? Yang dimaksud