Ibadah Haji Mabrur adalah Menjadi Pilihan

Ibadah Haji Mabrur adalah Menjadi Pilihan. Judul ini terinspirasi dari salah satu slogan yang digaungkan oleh kawan-kawan volunteer (sukarelawan) mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Saudi Arabia dalam program Pesantren Haji 1436 H (nyantri di tanah suci) “Karena kemabruran haji adalah pilihan”. Pesantren Haji adalah sebuah program yang ditawarkan kepada jamaah haji Indonesia yang bertujuan memberikan khidmah (service) kepada jamaah haji agar dapat memaksimalkan waktu dan kesempatan selama berada di Mekkah dan Madinah (kurang lebih 40 hari) dengan kegiatan ilmiah amaliyah yang bermanfaat.

Diharapkan dari keikutsertaan jamaah haji dalam program ini, dapat membantu untuk sampai ke puncak harapan ibadah haji yaitu “haji mabrur”, yang dalam hadits yang shahih dijelaskan bahwa ganjarannya adalah surga.(HR. Bukhari No. 1773 & Muslim No. 1349)

Ibadah Haji Mabrur Kenapa Pilihan?

Pertanyaannya, kenapa kemabruran haji menjadi pilihan? Bukankah ia adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada tamu-tamu-Nya yang datang ke Baitullah setiap tahun. Betul bahwa ia adalah anugerah dan pemberian Allah kepada hamba-hamba-Nya dhuyufurrahmaan, tetapi anugerah ini tidak diberikan kepada setiap muslim yang berhaji. Seorang yang berhaji yang telah menunaikan ibadah hajinya dengan melengkapi segala syarat, rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya maka kita dapat mengatakan hajinya telah sah.

Artinya ia tidak lagi diminta untuk mengulangi ibadah haji tersebut untuk memenuhi rukun Islam. Tetapi apakah hajinya mabrur? jawabannya, di sinilah letak dan makna kata “pilihan’ itu. Haji mabrur adalah pilihan Allah kepada seseorang yang berhaji yang berusaha memilih jalan haji dengan cara yang mabrur. Kata mabrur menurut para ulama berasal dari kata “al-barr”, yang berarti kebajikan. Kemabruran haji bukan hanya terbatas pada kelengkapan syarat dan rukun haji semata. Ukuran kemabruran haji terletak pada nilai-nilai kebajikan yang terdapat pada saat sebelum berhaji, di saat sedang melaksanakan haji dan sesudah pelaksanaan ibadah haji.

Sebelum berhaji, kemabrurannya dapat dinilai dari harta yang digunakan untuk berhaji harus berasal dari harta yang halal dan cara yang baik, bukan dari harta haram apalagi dengan harta yang didapatkan dari cara yang dzalim dan haram. Harta yang diperoleh dari cara korupsi atau dengan mengambil hak orang lain jelas telah merusak dan menghancurkan nilai kemabruran haji.

Pertaubatan dari segala dosa juga merupakan indikasi kemabruran sebelum berhaji. Seorang yang berhaji seharusnya berusaha untuk membersihkan dirinya dari segala sangkutan dosa kepada Allah dengan jalan bertaubat, dan sangkutan yang berkait dengan hak-hak sesama manusia dengan jalan meminta maaf dan mengembalikan hak tersebut jika ia berupa harta. Mempelajari tata cara manasik yang benar sesuai dengan apa yang dituntunkan oleh Rasulullah –shallallahu’alaihi wasallam-, sebagaimana dalam sabda beliau : “Ambillah dari cara manasik kalian”. (HR. Muslim No. 602) agar ketika pelaksanaannya tidak mengerjakan sesuatu yang tidak disyariatkan, juga merupakan indikasi penting dalam mengukur kemabruran haji sebelum melaksanakannya. Dan yang terpenting dari semua itu adalah keikhlasan hati. Berhaji bukan bertujuan untuk menaikkan taraf sosial seseorang dalam masyarakat, ia juga bukan sebuah gelar yang harus dibanggakan.

Tetapi haji adalah ibadah yang harusnya dimurnikan lil Lahi Ta’ala, untuk Allah semata. Maka dari itu salah satu defenisi haji mabrur adalah haji yang tidak disertai riya (pamer), sum’ah (ingin disebut-sebut), tidak disertai rafats dan fusuq (hal-hal yang membangkitkan syahwat dan dosa), serta berasal dari harta yang halal. (lih. Kitab at-Tamhid 22/39).

Pada saat pelaksanaan haji, indikator kemabruran haji dapat diukur sejauhmana pelaksanaan ibadah haji memenuhi segala syarat, rukun, wajib dan sunnah-sunnah haji secara lengkap. Berhaji bukan plesiran, ibadah haji adalah jihad dan salah satu amalan utama, sehingga ia membutuhkan keseriusan dan kesungguhan.

Melaksanakan ibadah haji dengan kesan “seadanya”, mencari-cari rukhsah (keringanan) apalagi dengan mengandalkan pendapat-pendapat yang tidak bernas, merupakan penghalang tercapainya kemabruran haji. Sangat disayangkan, sebagian jamaah haji berhaji dengan kesan “seadanya” ini, padahal jika ia bersabar dan bersungguh-sungguh maka ia bisa berhaji sesuai tuntunan yang benar dan mendekati sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah –Shallallahu ’alaihi wasallam-.

Ibadah Haji Mabrur

Sebagian ulama mendefinisikan haji mabrur adalah pelaksanaan haji yang jauh dari segala perbuatan maksiat dan dosa. Hal ini menjadi salah satu indikasi penting kemabruran haji pada saat dilaksanakan, sebagaimana dalam sabda Rasul: “Barang siapa yang berhaji dan ia tidak melakukan rafats (perkataan atau perbuatan yang membangkitkan syahwat|), ia tidak melakukan perbuatan fasik (dosa), maka ia seperti (bayi) yang baru dilahirkan oleh ibunya”. (HR. Bukhari No. 1521).

Kemabruran haji pasca pelaksanaannya dapat diukur dengan sejauh mana pengaruh ibadah haji tersebut tetap membekas dan melekat dalam diri orang yang berhaji. Kata para ulama, salah satu tanda kemabruran haji seseorang jika keadaannya setelah berhaji jauh lebih baik dibandingkan sebelum berhaji.

Seseorang yang telah berhaji pada hakikatnya telah memantapkan keislamannya secara utuh. Ia harus menjadi muslim yang kaffah. Tidak lagi berislam secara parsial apalagi berislam mengikut selera dan budaya. Seorang yang telah berhaji selalu berusaha memantapkan akidahnya serta membersihkannya dari segala yang merusak pondasi akidahnya yang kokoh, sesuai komitmen talbiyah yang berulangkali terucap dari lisannya.“laa syariika lak” Tidak ada sekutu bagi Allah dalam segala hal.

Dalam ibadah, ia berusaha menjaga ibadahnya sesuai tuntunan, tidak “seadanya” apalagi “mengada-ada”, seperti komitmen ibadah hajinya yang sesuai dengan manasik yang diajarkan oleh Rasulullah –Shallallahu’alaihi wasallam. Dalam muamalah dengan manusia, seorang yang berhaji menjadi sosok yang peduli lagi santun, sebagaimana sabda Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika beliau ditanya, bagaimana haji yang mabrur itu?, beliau menjawab: (dengan) memberi makan, dan menebar salam. Dalam riwayat yang lain dikatakan “(dengan) perkataan yang lembut”. (HR. Thabraniy dalam Mu’jam al-Awshat No. 5323 & al-Hakim 1/483).

Akhirnya, kepada para jamaah haji, kami mengucapkan selamat berhaji dan semoga menjadi haji yang mabrur, Aamiin.

Oleh : Ahmad Hanafi, Lc, MA. Tim Ilmiah Indonesian Community Care Center, 2014. www. markazinayah . com

Disupport oleh pesantren bisnis online.

 

haji, ibadah haji, haji yang mabrur, meraih haji mabrur, haji mabrur, tanda haji mabrur

=================================================================

Umrah Murah  Januari, Februari, Maret, April, Oktober, November, Desember 

2018 – 2019 – 2020 Rp19,9 Juta

INFO H SUDJONO AF 081388097656 |WA

=================================================================

Beberapa Jenis MABIT Dalam Ibadah Haji

Mabit adalah bermalam beberapa hari atau berhenti sejenak untuk mempersiapkan segala sesuatu dalam pelaksanaan Melontar Jumrah, salah satu wajib ibadah haji. Mabit dilakukan di Mina karena di Mina inilah letak ketiga jumrah yang akan dilontar. Dengan berdiam atau bermalam (mabit) di Mina itu maka jarak untuk Melontar Jumrah akan lebih dekat. Mabit dilakukan dua tahap di dua tempat yaitu di Muzdalifah dan di Mina.

Tahap pertama: Mabit di Muzdalifah dilakukan pada tanggal 10 Zulhijjah, yaitu lewat tengah malam sehabis Wukuf di Padang Arafah. Mabit tahap pertama ini biasanya dilakukan hanya sebentar saja yaitu secukupnya waktu untuk memungut 7 batu kerikil. Namun karena jalur yang harus dilalui itu biasanya macet karena padatnya arus kendaraan, banyak jamaah mabit berlama-lama sambil menunggu arus melonggar.

Tahap kedua: Mabit tahap kedua ini dilakukan di Mina dalam 2 hari (11 dan 12 Zulhijjah) bagi yang akan mengambil “Nafar Awal”, dan 3 hari (11, 12, 13 Zulhijjah) bagi yang akan mengambil “Nafar Akhir”.

Mabit ini dilakukan di Mina karena di Mina inilah letak ketiga Jumrah yang akan dilontar. Dengan berdiam diri atau bermalam (mabit) di Mina itu maka jarak untuk Melontar Jumrah akan lebih dekat.

Hari pertama dari Mabit 3 hari di Mina ini adalah Melontar ketiga Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Bagi jamaah yang mengambil “Nafar Awal” cukup Mabit 2 hari yaitu tanggal 11 dan 12 Zulhijjah saja, tetapi jamaah yang mengambil “Nafar Akhir” harus mabit 3 hari, karenanya masih harus sehari lagi tinggal di Mina untuk Melontar ketiga Jumrah tersebut pada tanggal 13 Zulhijjah.

 

Similar Posts:

By |2018-03-18T01:37:04+00:00May 4th, 2016|Uncategorized|