Ibadah Umroh Haji. Hal pertama yang mesti dipersiapkan orang yang akan menunaikan ibadah umroh haji adalah persiapan diri dan hati (batin), baru kemudian persiapan tiga macam kemampuan; kesehatan, finansial atau materi, dan keamanan-atau yang biasa disebut dengan persiapan lahir.

Persiapan batin diawali dengan niat menunaikan ibadah umroh haji hanya untuk menyempurnakan rukun Islam kelima dan mencari ridha Allah, bukan untuk pamer atau sekadar mencari gelar “pak haji” atau “bu haji”. Setelah itu, dia harus memantapkan diri untuk bertamu dan memenuhi panggilan Tuhan.

Dengan mengucap kalimat ini, hati para jamaah yang mendapat pancaran cahaya keimanan akan langsung terikat dengan Baitullah. Artinya, hati setiap mukmin harus tertuju pada panggilan Tuhan ini sebelum dirinya-secara fisik-pergi ke Baitullah. Mengingat kebesaran dan kemuliaan sang tuan rumah (Allah Swt), kita sebagai tamu-Nya-tentu harus membersihkan diri dari dosa-dosa dengan bertobat kepada-Nya sehingga jalan menuju ridha-Nya tidak terhalang oleh hal-hal keduniawian.

Kita juga harus melepas baju kesombongan dengan memberikan hak orang yang telah kita zalimi, mempererat tali silaturahim antarsesama, dan meminta doa dan restu kepada sesama, lebih-lebih kepada kerabat. Pendek kata, penghalang-penghalang duniawi akan terus menghambat jalan kita memenuhi panggilan-Nya tanpa kerelaan dan keridhaan mereka semua.

Persiapan lahir yang dimaksudkan ialah menyangkut tiga macam kemampuan: kesehatan, keuangan, dan keamanan. Berikut ini akan kami  jelaskan secara ringkas dan gamblang.

 

Faktor Kesehatan Selama Menjalankan Ibadah Umroh Haji

Kesehatan adalah anugerah Allah. Orang yang tidak diberi anugerah ini berarti Allah Swt telah menjaminnya sesuai dengan rahmat-Nya. Oleh sebab itu, dia tidak dibebani untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban agama. Ia tidak diwajibkan shalat kecuali sesuai dengan batas kemampuannya, meskipun itu dengan hati. Ia juga tidak diwajibkan mengerjakan puasa atau umroh haji sampai penghalang atau uzur yang menghalanginya itu hilang. Tetapi, ia tetap diwaibkan untuk melaksanakan ibadah-ibadah pengganti, semisal tayammum, memberi makan fakir miskin, atau menggantinya (mengulanginya) di lain waktu.

Hanya hamba-hamba Allah yang memiliki hati bening dan jernih yang bisa mendapatkan rahmat-Nya. Dikisahkan bahwa sebagian hamba akan mendapati beberapa amal yang tidak pernah mereka kerjakan di dunia justru tertulis didalam lembaran-lembaran amal kebaikan mereka di hari perhitungan. Dikatakan kepada mereka bahwa itu adalah niat tulus dan keinginan kuat mereka untuk mengerjakan kebaikan-kebaikan selama hidup di  dunia, meskipun pada akhirnya hal itu tidak terlaksana karena mereka belum mampu mengerjakannya dan belum diberi kesempatan oleh Allah Swt. Ketika mereka sudah berniat tapi belum mampu mengerjakannya, Allah Swt telah menuliskan pahala untuk mereka hanya karena niat tulus yang mereka miliki. Tidaklah aneh jika seorang muslim hendaknya berdoa kepada Allah Swt. agar diberi kesempatan  untuk mengunjungi rumah-Nya di Makkah, tapi dengan niat tulus dan tanpa pamrih. Sesungguhnya Allah Mahakuasa untuk memudahkan persoalan hamba-hamba-Nya.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa kesehatan adalah salah satu faktor yang bisa menghambat seorang muslim menjalankan ibadah umroh haji. Kesehatan atau adanya biaya yang mencukupi menjadi semacam pembenar bagi sesorang untuk mengerjakan ibadah umroh haji. Tidak adanya faktor kesehatan membuat kewajiban menjalankan ibadah umroh haji tidak wajib dikerjakan atau ditangguhkan untuk sementara waktu sampai faktor kesehatan ada.

 

Faktor Finansial Selama Menjalankan Ibadah Umroh Haji

Yang dimaksud faktor finansial adalah kemampuan materi. Apakah dia sudah mempunyai biaya transportasi dan akomodasi yang cukup untuk pergi ke Makkah selama beberapa hari? Jika memang sudah punya, dia tinggal memastikan bahwa harta yang akan digunakannya itu benar-benar didapatkan dari jalan yang halal, tidak dari hasil menipu, tidak ada hak anak yatim dan istri didalamnya, bukan harta yang masih syubhat atau riba. Artinya, harta itu harus didapatkannya dari pekerjaan yang halal dan diridhai Allah Swt, atau dari pekerjaan yang dimaksudkan untuk mewujudkan kemaslahatan bersama, atau dari harta warisan yang halal yang sudah tidak menjadi hak orang lain.

Bagaimana mungkin seseorang yang menggunkan harta orang lain, orang fakir, dan anak yatim berani bertamu kepada Tuhan semesta alam yang Mahaadil, Mahakuasa menghentikan kezaliman, dan Maha Menindak kaum zalim?! Oleh karena itu, tidak ada kewajiban umroh haji bagi orang yang masih menyandang utang, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Tidak ada kewajiban umroh haji  pula bagi orang yang masih berkewajiban memberi nafkah orang lain, semisal istri dan keluarganya. Bahkan, seandainya seseorang memiliki harta yang hanya cukup digunakan untuk biaya umroh haji dan atau biaya nikah, sementara ia sendiri takut akan terjerumus ke jurang perzinahan jika tidak menikah, harta itu wajib dipergunakannya untuk biaya nikah terlebih dahulu, bukan untuk biaya umroh haji.

 

Faktor Keamanan Selama Menjalankan Ibadah Umroh Haji

Artinya, harus ada jaminan keselamatan bagi diri dan harta seorang muslim yang pergi umroh haji, selain bahwa keputusannya untuk pergi umroh haji itu tidak menyebabkan timbulnya fitnah-sebagaimana seorang perempuan yang pergi umroh haji sendirian tanpa didampingi mahramnya.

Oleh sebab itu, kalangan fukaha menambahkan syarat lain bagi perempuan yang akan pergi umroh haji, yakni harus didampingi mahramnya atau teman perempuan yang bisa dipercaya.

 

Persiapan Menjalankan Ibadah Umroh Haji

Sebelum mengerjakan rangkaian ibadah umroh haji, seorang mukmin harus “mandi” terlebih dahulu agar bersih dari kotoran-kotoran duniawi, seperti ketamakan, kezaliman, kedengkian, dan semacamnya. Ia juga harus berihram menngendakan selendang putih tanpa jahitan sebagai persiapan untuk berpindah dari dunia pangkat dan jabatan menuju dunia ketauhidan memenuhi panggilan Allah SWT.

Ibadah umroh haji.

Similar Posts: