Ibnul Qayyim: Kerinduan Yang Mendalam Pada Makkah Al Mukaromah

Ibnul Qayyim berkata dalam qasidah mimiyah, “Ketauhilah! Yang bermaksud datang dan memenuhi panggilan Allah, serta berihram di kota itu, hanyalah orang-orang yang mencintai rumahNya.”

            “Mereka telah menyingkap tutup kepala karena tawadhu’, serta merendahlan diri terhadap keagungan Dzat yang wajah para hamba tunduk dan menyerah pasrah pada-Nya.”

            “Mereka mengeraskan suara ditengah padang sahara dengan mengucap: “Labbaika robbana lakal mulku walhamdul ladzi anta ta’lamu (kami memenuhi panggilan-Mu, wahai Rabb kami. Hanya milik Engkaulah segala kekuasaan dan puji, sesuai dengan yang Engkau ketahui”)

            “Allah memanggil mereka, maka mereka segera memenuhi panggilanNya dengan penuh cinta dan keridhaan. Ketika mereka telah memenuhi panggilan itu, Allah menjadi semakin dekat dengan mereka.”

            “Anda melihat mereka diatas unta-unta yang kurus, dengan rambut kusut dan penuh debu. Meski demikian mereka tetap bahagia dan gembira.”

            “Mereka telah meninggalkan kampung halaman dan sanak keluarga. Itu semua mereka lakukan bukan karena ingin mendapat kelezatan ataupun kenikmatan duniawi.”

            “Mereka menempuh perjalanan jauh melewati jalan-jalan setapak, dengan berjalan kaki atau naik kendaraan. Sungguh hanya kepada Allah sajalah mereka tunduk berpasrah.”

            “Ketika mata mereka melihat rumah Allah, yang hati para manusia sangat merindukannya, maka mereka langsung terbakar (bersemangat) untuk menjalankan ibadah.”

            “Seakan-akan mereka tidak pernah merasakan kepenatan sekalipun, karena kepenatan itu telah hilang dari mereka.”

            “Maha Besar Allah, betapa banyak air mata bercucuran ditempat itu. Padahal ada juga mata yang tidak bisa menangis meski sangat banyak hal-hal yang membuatnya menangis.”

            “Sampai ada mata yang mengering airnya (karena banyak menangis), saking bahagianya dan tak bisa menangis lagi. Tapi saat melihat banyak air yang meleleh, ia pun kembali menangis.”

            “Ketika mata melihat langsung rumah Allah (Ka’bah) dihadapannya, segala kegelapan padanya langsung menghilang, demikian pula rasa sedih dan gelisah yang ada dihati (menjadi hilang pula).”

Ibnul Qayyim: Kerinduan Yang Mendalam Pada Makkah Al Mukaromah

            “Kelopak mata ini belum bisa merasakan keindahan Baitullah, sampai ia menoleh kembali dan menemukan bahwa setiap menoleh padanya (rumah Allah), kerinduannya semakin membara.”

            “Ini tiada mengerankan, setiap kerinduan kepada Baitullah itu bertambah, lalu ia teringat Ar-Rahman, maka tahulah ia bahwa Ar-Rahman adalah yang paling diagungkan.”

            “Ar-Rahman telah memberikan pakaian padanya dengan perhiasan terbaik, yaitu perhiasan yang terukir dengan warna putih seperti garam.”

            “Karena itulah setiap hati menjadi sangat cinta padanya, sangat mengagumi dan juga memuliakan.”

            “Dari Masjidil Haram, mereka melanjutkannya ke padang Arafah, demi mengharap rahmat dan maghfirah dari Dzat yang Maha Pemurah dan Mulia.”

            “Demi Allah, itulah mauqif(tempat wuquf) yang paling besar, seperti mauqif di hari ‘Ardh (pertanggungjawaban di hari kiamat), sebaliknya ini lebih agung darinya.”

            “Di hari itu Al-Jabbar yang Maha Agung, membanggakan diri di hadapan para Malaikat dengan adanya hamba-hamba yang sedang wuquf itu, dan adalah Allah Dzat Maha Mulia.”

            “Sang Rabb berfirman, “Mereka telah mendatangi-Ku dengan penuh kecintaan. Ketahuilah! Sesungguhnya Aku akan lebih bermurah hati dan berbelas kasih kepada mereka.”

            “Saksikanlah bahwa Aku telah mengampuni segala dosa mereka, dan memberikan segala yang mereka harap dan Ku sejahterakan.”

            “Maka kabar gembira kepada kalian, wahai orang-orang yang sedang wuquf, dengannya (wuquf) Allah mengampuni dosa-dosa dan menyayangi kalian.”

            “Lihatlah! Betapa banyak orang yang telah dimerdekakan dari api Neraka, dan betapa banyak orang yang telah dikabulkan segala yang ia pinta, karena Dia adalah Maha Pengasih.”

            “Setan tidak pernah terlihat sangat menderita, sangat hina dan bersedih di hadapan manusia selain pada hari itu.”

            “Ia menjadi hina karena melihat suatu hal yang membuatnya marah, kemudian debu pun ia tabur diatas kepala dan wajah pun ia tampar-tampar.”

            “Hal itu ia lakukan, karena kedua matanya melihat rahmat dan pengampunan Dzat pemilik Arsy yang dibagi rata pada para hamba-Nya.”

            “Ia telah membangun singgasana kuat dalam menyesatkan hamba Allah. Tatkala ia yakin bahwa bangunannya sangat kuat dan tidak mungkin runtuh…”

            “Tiba-tiba Allah meruntuhkan bangunan itu dari dasar-dasarnya, sehingga hancur leburlah bangunan tersebut dan tak tersisa.”

Ibnul Qayyim: Kerinduan Yang Mendalam Pada Makkah Al Mukaromah

            “Dan berapalah kekuatan bangunan meski setinggi apapun, jika yang merobohkan adalah Dzat Penguasa Arsy yang Maha Agung.”

            “Setelah itu mereka menuju ke Muzdalifah untuk menginap di Masy’aril Haram. Kemudian mereka Shalat subuh dan meneruskan perjalanan…”

            “… Menuju Mina untuk melempar Jumrah Kubra (aqabah), tepatnya pada waktu orang-orang (selain jamaah haji) mengerjakan shalat Idul Adha. Setelah itu mereka pergi menuju…”

            “…Tempat tinggal masing-masing di Mina untuk menyembelih kurban. Demi mencari keutamaan dari Allah dan menghidupkan Sunnah agung bapak mereka, (Nabi Ibrahim).”

            “Seandainya yang membuat Allah ridha kepada mereka adalah menyembelih kepala sendiri, pasti mereka tetap melakukannya dengan penuh ketaatan dan penyerahan diri.”

            “Seperti saat mengorbankan kepala mereka di medan jihad untuk mengusir musuh Allah, sampai leher-leher merekapun berlumuran darah (karena tebasan pedang).”

            “Tapi disini, mereka cukup menundukkan kepala mereka. Dan itu adalah tanda kehinaan seorang hamba di hadapan Rabb yang Maha Agung.”

            “Setelah menghilangkan kotoran yang ada pada mereka, mereka langsung memenuhi nadzar dan sempurnalah ibadah mereka.”

            “Kemudian Allah memanggil mereka untuk menziarahi Al-Bait Al-Atiq. Dan selamat datanglah kepada para pengunjung itu dan bagi mereka segala bentuk kemuliaan.”

            “Demi Allah! Alangkah indah kunjungan mereka terhadap Al-Bait Al-Atiq ini. Sungguh mereka telah memperoleh hadiah yang dibagikan.”

            “Disana Allah memberikan banyak keutamaan, kenikmatan, kebajikan, kemuliaan, dan rahmat.”

            “Kemudian mereka kembali ke kemah-kemah mereka di Mina, mendapatkan dambaan mereka dan bersuka-cita.”

            “Mereka tinggal disana selama sehari, dua atau tiga hari (11, 12, 13 Dzulhijjah). Kemudiaan mereka diizinkan untuk meninggalkan Mina.”

            “Ketika pergi ke tempat pelemparan jumrah di petang hari, syiar mereka adalah takbir! Sungguh Allah senantiasa bersama mereka.”

            “Jika kedua mata Anda melihat mereka yang sedang mangangkat telapak-telapak tangan agar dirahmati…”

            “Sambil memanggil “Ya Rabb! Ya Rabb! Sesungguhnya kami adalah para hambaMu yang tidak  meminta kecuali pada-Mu, dan engkau telah tahu hal itu.”

            “Sekarang kami mengharap rahmat dari-Mu, yang hanya Engkaulah pemiliknya. Maka hanya Engkaulah yang memberi kurnia dan nikmat tak terhingga.”

            “Setelah mereka menyelesaikan segala keperluan di Mina, dan berada di hamparan-hamparan luas itu, merekapun berjalan menuju…”

            “.. Ka’bah, yaitu Al-Bait Al-Haram di petang hari. Disana thawaf tujuh putaran, dan banyak berucap shalawat dan salam.”

            “Ketika perpisahan semakin dekat, dan mereka yakin bahwa kedekatan ini talinya pasti terputus…”

            “..dan tak ada hal lain kecuali lambaian seseorang yang berpamitan. Maka, demi Allah! Disinilah air mata kembali tertumpahkan.”

            “Allah memiliki hamba-hamba yang didalam hati mereka kesusahan itu dititipkan. Dan bara api dihati pun semakin membara (dengan meninggalkan kota Makkah).”

            “Sehingga Anda tidak melihatnya, kecuali seperti orang yang kebingungan. Dan saat melihat orang lainnya, ia semakin bersedih dan meraung-raung dalam tangisnya.”

            “Saya telah berangkat pergi, tapi kerinduanku terhadap kalian tetap tinggal disana. Sedangkan api kesedihanku semakin lama semakin membara dan berkobar.”

            “Saya berpamitan kepada kalian, tetapi kerinduanku selalu menghantui kekang kudaku. Sedang hati ini diwaktu sore (seakan-akan) selalu berada di kemah tempat menginap (saat haji dulu).”

            “Disana tak ada dosa bagi siapapun, jika selama ini yang ia rindukan tidak kunjung tiba.”
“Maka.. wahai para pengendara unta pilihan! Demi Allah, ajaklah saya berhenti bersama kalian di jengkal-jengkal tanah suci itu, dan ucapkanlah salam padanya.”

Ibnul Qayyim dan Kerinduan Kota Makkah

Similar Posts:

By |2017-03-20T11:03:11+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment