Ihram Haji dan Umroh Untuk Jamaah Wanita

Ihram Haji  dan Umroh Untuk Jamaah Wanita

Arti dan Pengertian Ihram. Ihram (Bahasa Arab: إحرام Ihrām) adalah keadaan seseorang yang telah beniat untuk melaksanakan ibadah haji dan atau umrah. Mereka yang melakukan ihram disebut dengan istilah tunggal “muhrim” dan jamak “muhrimun”. Calon jamaah haji dan umrah harus melaksanakannya sebelum di miqat dan diakhiri dengan tahallul.

=================================================================

DIBUKA PAKET UMROH MURAH Rp18,9 Juta

UMROH BULAN JANUARI – MARET

INFORMASI: H. SUDJONO AF – 081388097656 WA

==================================================================

 

Menurut arti bahasa, ihram adalah niat untuk menjalankan perintah pengharaman. Dikatakan, ahrama al-rajul (laki-laki itu memasuki tanah haram [Makkah]). Seorang penggembala pernah bersenandung:

Mereka telah membunuh Utsman saat sedang memasuki tanah suci (muhrim)

Aku tidak pernah melihat orang yang dibunuh seperti dirinya dibunuh.

            Menurut arti istilah, ihram bermakna niat untuk mulai mengerjakan ibadah haji atau umrah atau keduanya sekaligus. Orang yang berihram berarti telah mengharamkan dirinya dari setiap hal yang sebelumnya dihalalkan baginya, seperti menikah, berhubungan badan, memakai wewangian, dan sebagainya. Niat ihram tidak perlu diucapkan dengan lisan. Niat berada di hati. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya dan setiap orang akan diganjar sesuai dengan apa yang diniatkannya,” (HR Bukhari dan Muslim).

Pendapat seperti ini dikemukakan oleh Syafi’i dan dilandaskan pada sebuah riwayat dari Aisyah yang berkata, “Kami keluar (untuk mengerjakan ibadah haji atau umrah) bersama Rasulullah saw, sambil mengucapkan kalimat talbiyah tanpa menyebutkan kata ‘haji’ atau ‘umrah.”’ (HR Muslim)

 

Baju ihram wanita

Baju ihram wanita

Atas dasar ini, niat ihram dilakukan sebelum rangkaian manasik haji dimulai. Seandainya seorang perempuan berniat ihram didalam hati, tetapi lisannya mengatakan hal lain, maka niat ihramnya sudah dianggap sah. Sebaliknya, seumpama dia melafazkan niat ihram tanpa meniatkannya di dalam hati maka niat ihramnya dianggap tidak sah. “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niat.” Hanya saja, sebagian fukaha tidak mempermasalahkan pelafazan niat ihram dengan lisan untuk menghilangkan keragu-raguan di hati. Ibnu al-Hammam dalam Fath al-Qadir mengatakan, “Salah seorang perawi menuturkan bahwa dia pernah mendengar Rasulullah saw berkata, “Aku berniat mengerjakan ibadah haji.” Fukaha mazhab Hanbali bahkan menyunahkan pelafazan niat ihram dengan lisan, seperti misalnya, “Ya Allah, sesungguhnya aku ingin menunaikan haji dan umrah. Ya Allah, berikanlah kemudahan dan terimalah haji dan umrahku.”

Ihram termasuk salah satu rukun haji dan umrah. Ihram diawali dengan niat di miqat zamani dan makani setelah shalat fardhu atau shalat sunnah, kemudian diteruskan dengan lafazh talbiyah.

 

Macam-Macam Ihram Haji dan Umroh Untuk Jamaah Wanita

  1. Tamattu

Menurut arti bahasa, tamattu bermakna mengambil manfaat dan keuntungan dari sesuatu. Menurut istilah, tamattu mengandaikan seorang perempuan berniat ihram untuk umrah pada bulan-bulan haji atau sebelumnya, lalu dia menunaikan ibadah haji pada tahun yang sama dengan tahun umrahnya. Disebut tamattu karena perempuan tadi bisa mengambil keuntungan, yaitu bisa menunaikan dua ibadah sekaligus (haji dan umrah) pada bulan-bulan haji dan pada tahun yang sama sebelum dia kembali ke rumah.

Disebut juga tamattu karena perempuan tadi bisa mengambil keuntungan setelah bertahallul, yaitu bisa melakukan hal-hal yang sebenarnya diharamkan bagi perempuan yang sedang berihram sampai hari tarwiyah, seperti memakai wewangian, celak, menyisir rambut, mencukur rambut, berhubungan badan dengan suami, dan sebagainya. Setelah itu, dia bisa berniat ihram untuk haji dari Makkah.

 

Berikut Ini Tatacara Pelaksanaan Haji Tamattu’ Bagi Wanita.

Dia berniat ihram umrah saja dari miqat setelah selesai mengerjakan shalat fardhu-seperti zuhur atau asar-atau shalat sunnah, kemudian pergi ke Makkah dan tawaf sebanyak tujuh kali. Selanjutnya terus-menerus mengucapkan kalimat talbiyah pada saat dimulainya tawaf sampai setelahnya.

Setelah itu, dia shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim, lalu Sa’i antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali, baru kemudian dia bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya diharamkan (tahallul) setelah terlebih dahulu dia memotong rambutnya-meskipun hanya sehelai dan meskipun tidak dengan alat potong rambut (gunting dan semacamnya), tapi dengan tangannya. Lalu, pada hari ke 8 Zulhijjah atau yang biasa disebut dengan hari tarwiyah, dia berniat ihram haji dari Makkah, kemudian menyempurnakan semua rangkaian manasik haji selanjutnya.

Lalu, setelah melempar Jumrah Aqabah pertama, dia diharuskan menyembelih satu ekor kambing atau bersama-sama dengan enam jamaah lainnya menyembelih satu ekor unta. Barangsiapa mengerjakan umrah sebelum haji, dia (wajib menyembelih) hadyu yang mudah didapat (Al-Baqarah [2]: 196).

            Jika tidak mendapatkan sembelihan atau tidak kuat membelinya, dia diharuskan berpuasa tiga hari di hari-hari haji dan tujuh hari jika dia telah kembali pulang ke kampung halamannya sebelum hari Arafah. Hanya saja, beberapa ulama-seperti Thawus dan Mujahid-membolehkan jika puasanya yang tiga hari itu dikerjakan di awal  bulan Syawal.

Ibnu Umar pernah meriwayatkan bahwa perempuan boleh berpuasa sebelum hari tarwiyah dari hari Arafah. Jika tidak berpuasa atau belum mengerjakan sebagiannya sebelum tanggal 1 Syawal, dia dibolehkan berpuasa pada hari-hari tasyriq. Hal ini didasarkan pada sebuah riwayat dari Aisyah dan Ibnu Umar bahwa hari-hari Tasyriq tidak boleh digunakan untuk berpuasa kecuali oleh orang yang tidak mendapatkan hadyu (sembelihan).

Adapun puasa yang tujuh hari itu bisa dikerjakan pada hari-hari yang tidak ditentukan waktunya. Dikatakan bahwa itu bisa dikerjakan ketika dia sudah kembali pulang ke rumah. Dikatakan juga bahwa itu bisa dikerjakan pada saat dia berada dalam perjalanan pulang. Selain itu, puasa yang tujuh hari tersebut tidak wajib dikerjakan secara berurutan. Jika dia penduduk Makkah maka dia tidak wajib menyembelih hadyu.

Diriwayatkan bahwa Umar pernah berkata, “Jika dia berumrah di bulan-bulan haji dan langsung diteruskan dengan mengerjakan haji, dia telah menunaikan haji tamattu. Tapi, jika setelah umrah dia pulang terlebih dahulu ke negerinya dan kemudian kembali lagi untuk mengerjakan haji, dia tidak menunaikan haji tamattu. Pandangan seperti ini dikemukakan oleh fukaha mazhab Syafi’i dan Hanbali.

 

  1. Qiran

Menurut arti bahasa, qiran berarti menggabungkan antara dua hal yang berbeda. Menurut arti istilah, qiran berarti menggabungkan antara ibadah haji dan umrah dalam satu waktu. Gambarannya ialah seorang perempuan berniat ihram dari miqat untuk mengerjakan ibadah haji dan umrah sekaligus pada bulan-bulan haji.

Jadi, dia diandaikan berkata, “Ya Allah, alu penuhi panggilan-Mu untuk berhaji dan umrah.” Dalam keadaan seperti ini, dia harus mematuhi peraturan ihram sampai seluruh manasik haji dan umrah selesai dikerjakan secara bersamaan.

 

Berikut Ini Tatacara Pelaksanaan Haji Qiran Bagi Wanita.
Tatacara ihram untuk wanita

Tatacara ihram untuk wanita

Setelah berniat menggabungkan ibadah haji dan umrah selepas shalat fardhu atau shalat sunnah, dia memasuki kota Makkah untuk melakukan tawaf qudum (tawaf selamat datang), lalu sa’i antara Shafa dan Marwa tanpa bertahallul, kemudian melanjutkan seluruh rangkaian manasik haji yang lain.

Setelah melempar Jumrah Aqabah pada hari raya Idul Adha, dia diharuskan menyembelih satu ekor kambing atau bergabung bersama enam jamaah lainnya menyembelih satu ekor unta sebagai wujud rasa syukurnya kepada Allah Swt atas limpahan nikmat-Nya. Nabi saw bersabda, “Barangsiapa menggabungkan ibadah haji dan umrah maka dia wajib mengalirkan darah (menyembelih kurban).” (HR Bukhari dan Muslim). Demikian itu karena dia diuntungkan dengan tidak melakukan perjalanan lagi untuk mengerjakan salah satu ibadah yang lain, seperti hal nya haji tamattu.

Jika tidak mendapatkan hewan sembelihan atau tidak mampu membelinya, dia diharuskan berpuasa selama sepuluh hari, yaitu tiga hari di hari-hari haji dan tujuh sisanya setelah selesai merampungkan seluruh rangkaian manasik-dan disunnahkan setelah dia pulang kembali ke negerinya. Selain itu, dia dibolehkan mengerjakan sa’i setelah melakukan tawaf ifadhah (tawaf perpisahan).

 

  1. Ifrad

Ifrad mengandaikan seorang perempuan berihram haji saja dari miqat dan tidak bertahallul sampai seluruh rangkaian manasik haji dirampungkan. Setelah itu, dia boleh melakukan umrah jika memang menginginkannya. Orang yang mengerjakan haji ifrad tidak wajib menyembelih hadyu. Haji ifrad ini mirip dengan haji qiran.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai jenis-jenis ihram. Fukaha sepakat bahwa seorang muslim diperbolehkan hanya melakukan salah satu dari ketiga jenis ihram ini. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw tidak pernah menyuruh  para sahabatnya agar hanya mengerjakan satu jenis ihram saja.

(Dr. “Ablah Muhammad al-Kahlawi, Rujukan Utama HAji dan Umrah untuk Wanita, Zaman, 2015)

Hukum Menyisir Rambut Bagi Wanita Yang Ihram

Ihram bagi wanita

Ihram bagi wanita

Pertama, mencabut rambut termasuk larangan ihram, dengan apapun caranya. Apakah menggundul, memendekkan, atau mencabut atau menggaruk dan semacamnya. Berdasarkan firman Allah Ta’ala

“وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ (سورة البقرة: 196)

“Dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya.”  (QS. Al-Baqarah: 196)

Para ulama sepakat tentang hukum ini, sebagaimana mereka sepakat jika menyisir rambut diharamkan (saat ihram) apabila diyakini bahwa rambutnya akan rontok jika disisir.

Dinyatakan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah (11/179),

“Jika seorang yang ihram meyakini bahwa dengan menyisir rambut, maka rambutnya akan ada yang rontok, maka tidak ada perbedaan pendapat di antara ahli fiqih tentang haramnya masalah tersebut.”

Jika rambutnya tidak rontok saat disisir, para ulama berbeda pendapat menjadi tiga pendapat;

Pendapat pertama Hukum Menyisir Rambut Bagi Wanita Yang Ihram: Boleh.

Ini adalah mazhab Ibnu Hazm Az-Zahiri. Dia berkata dalam kitab Al-Muhalla (5/186), “Adapun menyisir rambut, tidak dimakruhkan dalam keadaan ihram, hukumnya mubah secara mutlak.”

Sebagian ulama yang berpendapat seperti ini berdalil dengan hadits riwayat Bukhari (316) dan Muslim (1211), dari Aisyah radhiallahu anha, dia berkata, “Aku melakukan ihram bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam haji Wada. Aku termasuk orang yang ihram Tamattu, karena aku tidak menggiring hadyu. Lalu aku mengalami haid dan belum suci hingga malam Arafah. Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, ini adalah malam Arafah, tapi aku ihram umrah untuk Tamattu.” Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Lepas rambutmu, menyisirlah dan hentikan umrahmu.”

Mereka (para ulama) berkata bahwa dalam hadits ini Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberi izin kepada Aisyah untuk menyisir sedangkan dia dalam keadaan ihram. Beliau memerintahkannya mandi adalah untuk melakukan ihram haji, karena ihramnya asalnya untuk umrah.

Asy-Syaukani berkata dalam kitabnya, Naiul Authar (5/94), “Ucapannya (menyisirlah), merupakan dalil bahwa menyisir tidak dimakruhkan bagi orang yang ihram. Ada pula yang berpendapat, ‘Dimakruhkan.’ An-Nawawi berkata, “Sejumlah ulama memahami hadits Aisyah ini bahwa dia memiliki uzur (untuk menyisir), yaitu dia mengalami gangguan pada rambutnya, maka dibolehkan baginya untuk menyisir, sebagaimana dibolehkan bagi Ka’ab bin Ajrah untk menggundul kepalanya karena sakit.”

Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud ‘menyisir’disini bukan menyisir yang sudah dikenal dengan sisir, akan tetapi menyisir dengan jari jemari saat mandi untuk ihram haji, apalagi dia menggulung rambutnya sebagaimana sunahnya demikian dan sebagaiman dilakukan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Maka tidak sah mandinya kecuali menyampaikan air ke seluruh rambutnya, maka karena itu, rambutnya harus diurai.”

Pendapat Kedua Hukum Menyisir Rambut Bagi Wanita Yang Ihram:  Diharamkan.

Ini adalah pendapat sebagian mazhab Hanafi. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Umar radhiallahu anhuma, dia berkata, “Seseorang bangkit menghadap Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, lalu berkata, “Siapakah orang yang berhaji itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang rambutnya kusut dan kumal.”

Mereka berpendapat bahwa orang yang rambutnya demikian adalah yang tidak memakai minyak rambut, tidak menyisir dan tidak ditutup atua semacamnya.

(Lihat Al-Ikhatiar Li Ta’lilil Mukhtar (1/143), Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah (11/179).

Hanya saja hadits ini dha’if (lemah). Al-Albanya berkata tentang hadits ini dalam Kitab Dhaif Sunan Tirmizi, “Sangat lemah.”

Pendapat Ketiga Hukum Menyisir Rambut Bagi Wanita Yang Ihram: Makruh.

Karena perbuatan tersebut dapat menyebabkannya melakukan pelanggaran ihram. Ini adalah pendapat Mazhab Syafi’I dan Hambali.

An-Nawawi berkata dalam kitab Al-Majmu (7/374), “Dimakruhkan menyisir rambut kepala dan jenggot, karena perbuatan tersebut mirip dengan mencabut rambut.”

Al-Bahuti yang bermazhab Hambali berkata dalam Kitabnya Kasyaful Qana (2/424), “Orang yang ihram boleh membasuh kepalanya dan badannya. Hal tersebut dilakukan oleh Umar dan puteranya. Ali dan Jabir memberi keringanan dalam masalah tersebut dengan catatan tidak menyisir, karena perbuatan menyisir akan menyebabkan tercabutnya rambut.”

Begitu pula disebutkan semacam itu dalam Kitab Al-Inshaf (3/460)

Pendapat terakhir yang menyatakan makruh menyisir rambut adalah lebih kuat karena merupakan pendapat yang paling moderat. Karena selayaknya seorang hamba menjaga ibadahnya jangan sampai dia melakukan sesuatu yang dapat merusak ibadahnya walau dari sebab yang jauh.

Syekh Ibnu Utsaimin berkata dalam Kitab “Fatawa Nur Alad Darb” (Fatawa Al-Haj wal Umrah/Bab Mahzuuraatil Ihram),

Seorang yang ihram tidak selayaknya menyisir rambutnya, karena yang dianjurkan bagi seorang yang ihram adalah berada dalam kondisi kusut dan dan dekil. Tidak mengapa jika dia membasuhnya, adapun menyisirnya akan menyebabkan rambutnya rontok.”

Kedua: Jika seorang laki-laki maupun wanita menyisir rambutnya, lalu dia melihat beberapa helai rambut di sisirnya dan dia tidak tahu, apakah rontoknya rambut tersebut akibat menyisir atau rontok begitu saja, maka tidak diwajibkan fidyah atasnya dalam kondisi seperti itu. Karena ada kemungkinan rambut tersebut memang sudah rontok sebelumnya. Dan ibadah tidak dibangun berdasarkan keraguan dan perkiraan. Hal ini telah dinyatakan secara tekstual oleh Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu (7/262) atau juga dinyatakan seperti itu dalam Kitab Kasyaful Qana (2/423)

Wallahua’lam. http:// islamqa. info

=================================================================

DIBUKA PAKET UMROH MURAH $1.500

UMROH PROMO MURAH JANUARI – MARET 20118 – 2019 – 2020

INFORMASI: H. SUDJONO AF – 081388097656 | BB 2314A7C3

==================================================================

Similar Posts:

By |2017-12-18T03:23:57+00:00November 5th, 2015|Uncategorized|

Leave A Comment