Inilah Keistimewaan Kota Madinah

Keistimewaan Kota Madinah. Sesuai dengan namanya, al-Madinah al-Munawwarah, yang berarti kota cerah, kota marak, kota cahaya, maka alamnya pun cerah, dan mereka yang berziarah ke kota ini juga terlihat cerah. Wajah mereka berseri-seri. Apalagi mereka yang berziarah ke kota ini adalah mereka yang baru menunaikan ibadah haji.

Jemaah haji asal Indonesia mulai berdatangan, terutama mereka yang termasuk dalam kelompok terbang kedua, yaitu mereka yang melalui rute Jeddah-Mekkah-Madinah. Tidak terlihat tanda-tanda kecapaian pada wajah mereka. Bagi setiap jemaah haji, mereka sudah dijadwalkan sedemikian rupa agar dapat melaksanakan shalat 40 kali, atau yang biasa dikenal dengan “Shalat Arba’in”, yaitu shalat berjemaah di masjid sebanyak 40 kali atau selama 8 hari, dengan catatam setiap hari melaksanakan shalat berjemaah selama 5 kali. Shalat ini merupakan rangkaian dari ritual ziarah, yang mana di dalamnya terdapat pahala yang berlipat ganda. Nabi bersabda, Barangsiapa shalat di masjidku selama 40 kali secara berutur-turut, maka ia akan selamat dari api neraka dan selamat dari kemunafikan (HR. Ahmad).

Aku juga berencana tinggal di Madinah selama 10 hari. Selama 8 hari aku gunakan untuk memenuhi ritual shalat Arba’in, sedangkan 2 hari sisanya aku gunakan untuk berziarah ke tempat-tempat lain yang mempunyai nilai historis lainnya. Toh, sebagaimana Mekkah, setiap sudut di kota Madinah mempunyai nilai sejarah yang khas. Sebenarnya waktu 2 hari tidaklah cukup. Tetapi aku masih beruntung daripada mereka yang hanya menetap di Madinah tidak lebih dari 8 hari. Maka dari itu, aku dapat melaksanakan shalat Arba’in dengan sebaik-baiknya tanpa harus diganggu dengan agenda ziarah lainnya. Setelah menyelesaikan ritual tersebut, 2 hari kemudian digunakan untuk melakukan wisata spiritual ke tempet-tempat bersejarah lainnya di Madinah, seperti ke Masjid Qubba, Masjid Qiblatayn, dan lain-lain.

Berbeda dengan Mekkah, yang mana perjalananku sepenuhnya ibadah, di Madinah aku banyak menerawang tentang kehidupan Nabi dan para sahabat. Karena di masjid inilah kehidupan dan urusan duniawi umat Islam, dan umat manusia pada umumnya dikendalikan. Senyum dan perlakuan baik orang-orang Madinah telah membuatku sangat nyaman dalam menjalankan misi penerawangan pada kehidupan Nabi.

Muhammad al-Ghazali (1998) menegaskan, hal tersebut tidak lain karena orang-orang Madinah sudah mendapatkan informasi dari kitab suci mereka, bahwa pada suatu saat nanti akan datang Nabi dan pemimpin besar yang akan menjadi teladan dan beliau akan menetap di kota tersebut hingga akhir hayatnya. Pemimpin tersebut akan menjadi juru damai diantara berbagai kelompok yang bertikai dan berbeda pendapat.

Kesan tersebut amat terasa hingga sekarang ini, yang mana ajaran dan keteladanan Nabi telah membentuk sebuah komunitas muslim yang berkarakter. Yang mana jantung dari itu semua adalah persaudaraan dan toleransi. Pemandangannya amat berbeda dengan Mekkah, yang mana penduduk asli Mekkah relatif kurang bersahabat. Sedangkan penduduk asli Madinah merupakan manifestasi akhlak Nabi yang senantiasa menebar senyum, sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadisnya, senyum adalah sedekah.

Apalagi, bagiku yang berasal dari Indonesia, yang mana citra negeriku kurang terlalu baik, karena jika dulu Indonesia dikenal sebagai gudang ilmu, sekarang dikenal sebagai gudang kuli. Untung saja, nama Indonesia di Madinah masih relatif harum, karena hingga sekarang ini masih banyak mahasiswa yang melanjutkan studi di Universitas Madinah. Prestasi mereka di kampus ini sangat menakjubkan. Bahkan aku punya teman yang lulus dari kampus tersebut dengan predikat summa cumlaude. Jadi, aku lebih percaya diri ketimbang aku saat di Mekkah dulu.

Madinah telah memberiku kepercayaan diri yang amat tinggi. Aku merasa at home di kota suci ini. Tiada hal yang lebih membahagiakan ketika berada di perantauan atau tempat yang jauh dari rumah kita, kecuali saat diterima sebagaimana layaknya penduduk asli.

Paket umroh murah 2019

Paket umroh murah 2019

Madinah menyimpan pesan yang sangat  kuat agar kehidupan umat dibangun  diatas prinsip saling menghargai, saling menghormati dan saling menerima. Nabi telah menjadikan Madinah sebagai laboratorium toleransi yang paling otentik, karena nilai-nilai tersebut dapat diterapkan di Madinah, yang mana tidak dapat diterapkan di Mekkah.

Itulah salah satu ajaran Nabi yang masih kentara di Madinah. Didalam sebuah hadisnya Nabi bersabda, Barangsiapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir hendaklah ia memuliakan para tamu. Orang-orang Madinah menerapkan hadis tersebut dengan sangat baik, sehingga siapapun yang pernah berziarah ke kota suci ini akan mempunyai kesan baik yang kurang lebih sama. Seseorang yang baru melaksanakan umrah pada bulan Ramadhan bercerita tentang keramah-tamahan yang ditunjukkan oleh orang-orang Madinah. Apa yang dirasakannya di Madinah jauh berbeda dengan perlakuan orang-orang Arab di Mekkah.

Satu hal yang perlu diketahui, realitas Madinah yang seperti ini tidak bisa dilepaskan dari pergulatan panjang yang terjadi dari dulu hingga sekarang. Tidak seperti kota-kota Arab lainnya yang kerapkali dilanda konflik antarsuku, Madinah relatif menjadi kota damai. Tidak pernah terdengar adanya pertikaian sengit antar kelompok di dalam kota ini. Kalaupun toh ada pertikaian dan peperangan, hal tersebut selalu terjadi diluar kota ini. Inilah salah satu keutamaan kota Madinah, yang selalu terjaga hingga sekarang.

Jika di Mekkah masih terjadi pemberontakan antar suku, bahkan paham-paham yang berbeda, tetapi di Madinah tidak terdengar lagi pemberontakan seperti itu. Setidaknya penduduk Madinah begitu menjaga fatsoen yang telah diajarkan Nabi kepada mereka agar senantiasa menjaga dan mengutamakan perdamaian. Madinah harus menjadi teladan bagi kota-kota umat muslim di tempat lain, bahwa salah satu cerminan kota islam tidak hanya dari megahnya bangunan yang menjulang langit, tetapi juga dari karakter masyarakatnya yang cinta damai dan toleransi.

Pada perang badar ada yang usul agar orang-orang pagan Quraysh dipaksa untuk masuk ke kota Madinah, kemudian mereka dikepung dari luar. Tetapi, Nabi menolak untuk melakukan hal tersebut dalam rangka menghormati Madinah dari berbagai noda konflik. Akhirnya disepakati mencegat rombongan ekspedisi Quraysh Mekkah diluar Madinah.

Madinah menyimpan pesan yang sangat kuat agar kehidupan umat dibangun diatas prinsip saling menghargai, saling menghormati dan saling menerima. Ketiga hal tersebut merupakan sebuah indikasi kuat toleransi dalam sebuah masyarakat. Nabi telah menjadikan Madinah sebagai laboratorium toleransi yang paling otentik, karena nilai-nilai tersebut dapat diterapkan di Madinah, yang mana tidak dapat diterapkan di Mekkah.

Dengan demikian, Madinah mempunyai keistimewaan yang telah mewarnai perjalanan umat islam untuk membuat sebuah kota, yang mana didalamnya ada spirit persaudaraan dan kebersamaan yang sangat kuat. Umat islam tidak hanya menjadi unsur komplementer, tetapi justru menjadi inisiator di garda depan, khususnya dalam rangka membangun sebuah kota yang damai dan toleran.

Paket umroh murah 2019, 2020

Paket umroh murah 2019, 2020

Kota Madinah Dahulu Disebut Yatsrib

Pada masanya, Yatsrib merupakan salah satu kota yang cukup dikenal di dunia Arab. Jauh sebelum islam dikumandangkan di kota ini, nama Yatrsib menjadi bahan pembicaraan semua kalangan, karena kota ini relatif tenteram dan damai. Kondisi masyarakatnya amat berbeda dengan kota-kota lain, seperti Mekkah yang mana mereka kerapkali terlibat dalam perseteruan diantara suku-suku mereka. Tetapi Yatsrib adalah kota yang relatif aman, yang mana setidaknya tidak terdengar kebiasaan-kebiasaan buruk warganya, sebagaimana di kota lain. Mereka yang terlibat dalam masalah di negeri mereka, biasanya melakukan eksodus ke Yatsrib.

Para sejarawan menyebut Madinah sebagai kota formatif, yaitu kota yang dibentuk dan dibangun oleh mereka yang eksodus dari tempat tinggal mereka, baik karena alasan konflik maupun alasan ekonomi. Pada mulanya, kota ini adalah wilayah yang kosong, sehingga datang sebuah rombongan dan menamakannya Yatsrib.

Didalam kamus Lisan al-Arab, karya Ibnu Mandzur, Yatsrib berasal dari akar kata, tsa-ra-ba. Artinya mencela, mencerca dan menjelek-jelekkan. Lalu, kata tersebut menjadi al-tsarbu, yang berarti lemak yang menutupi perut, yang dalam bahasa inggrisnya dikenal dengan omentum. Ada yang berpendapat, bahwa al-tsarbu berarti tanah yang mana diatasnya ada batu berapi yang berwarna putih. Dari sekian pendapat tersebut, secara linguistik yang paling popular adalah makna aslinya, yaitu mencela, menghina, dan menjelek-jelekkan. Didalam Al Quran diabadikan dalam surat Yusuf, Ayat 92, la tatsriba alaykum al-yawma. Artinya, sejak saat ini tidak boleh ada lagi penghinaan dan pengrusakan bagi kalian.

Ya Allah, jangan Engkau jadikan hal ini sebagai akhir perjanjian dengan tanah suci Nabi-Mu, mudahkan bagiku untuk kembali ke kedua tanah suci (Mekkah dan Madinah) dengan segala kemurahan dan kemuliaanmu. Anugerahkanlah kepadaku ampunan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Kembalikanlah kami ke negeri asal kami dengan selamat, aman dan tenteram.

 

Sedangkan secara terminologis. Abu al-Qasim al-Zujaji menyatakan, bahwa Yastrib adalah nama kota Nabi. Nama Yatsrib mengacu pada orang yang pertama kali menempati kota tersebut, yaitu Yatsrib bin Qaniyah bin Mahlail bin Iram bin Abil bin Iwadh bin Iram bin Sam bin Nuh AS sekitar tahunu 2006 SM. Yasin Ghadhban dalam Madinatu Yatsrib Qabla al-Islam, bahwa Yatsrib mempunyai sejarah yang panjang, yang didokumentasikan dalam kitab-kitab Mouina dan Saba’. Dua kekuasaan ini menancapkan kekuatannya di Arab bagian utara. Ptolemy (90-168 M), seorang ahli geografi asal mesir-yunani di Alexandria, menyebut Yatsrib dengan nama Iathrippe dan Iothrippe. Sedangkan Ishthiofanus menyebut Yatsrib dengan nama Iathrippapolis.

Di dalam Al Quran, Yatsrib disebutkan satu kali di dalam surat al-Ahzab dari ayat 12-13, yang berbunyi, Tatkala orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit berkata, bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan apa-apa kecuali tipu muslihat. Tatkala kelompok dari mereka berkata, wahai penduduk Yatsrib tidak ada tempat bagi kalian, maka kembalilah. Lalu, golongan dari mereka izin kepada Nabi, mereka berkata, bahwa rumah kami aurat dan ia bukannya aurat, kecuali mereka hanya ingin lari belaka.

Imam Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-ghayb menyebutkan, bahwa yang disebut dengan Yatsrib dalam ayat tersebut adalah madinah yang merupakan kota Nabi. Sedangkan Muhammad Thahir bin ‘Asyur dalam al-Tahrir al-Tanwir, Yatsrib adalah kota Nabi, yang dikonotasikan pada Amalekit. Ada yang berpendapat, bahwa Yatsrib adalah sebagian wilayah madinah.

Al-Mas’udi dalam Muruj al-Dzahab, menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang menempati Yatsrib yaitu kaum yang dikenal dengan nama Shu’al dan Faleg. Kemudian mereka diperangi oleh Nabi Daud A.S., sebagian dari mereka dijadikan tawanan dan sebagian dari mereka meninggal dunia dan dikuburkan di tepi sungai.

Dari sekian penjelasan di atas dua hal yang hampir disepakati oleh para sejarahwan, bahwa Yatsrib mengacu pada makna orang-orang yang suka membuat kerusakan dan keburukan. Hal tersebut dalam rangka membedakan dengan orang-orang Quraysh Mekkah yang telah memperlakukan Nabi secara diskriminatif. Tatkala Muhammad SAW datang ke Yatsrib, lalu nama tersebut diganti dengan nama Madinah dalam rangka membedakan orang-orang Yatsrib dengan orang-orang pangan Quraysh yang kerapkali melakukan tindakan tidak manusiawi kepada Nabi.

Sedangkan Yatsrib mengacu pada orang yang pertama kali menempati kota tersebut, yaitu Yatsrib bin Qaniyah bin Mahlail bin Iram bin ‘Abil bin ‘iwadh bin Iram bin Sam bin Nuh A.S. dalam tradisi Arab., hal tersebut merupakan salah satu penghargaan terhadap sosok yang pertama kali dating ke kota tersebut. Sosok yang bisa menggantikan ketokohan Yatsrib bin Qaniyah, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib.

READ :  Ziarah Ke Makam Rasulullah SAW di Madinah

Madinah berasal dari kata ma-di-na,Yang berarti menempati atauTinggal di sebuah tempat. Lalu, ada yang berpendapat berasal dari kata da-na,sedangkan mim ditambahkandalam kata tersebut, yang berarti taat dan tunduk. Arti yang terakhir ini dapatdipahami, karena Muhammad SAWtinggal di Madinah, sehingga ia harus ditaati.

 

Hal tersebut membuktikan betapa ketokohan Nabi sangat bersinar di Yatsrib, sehingga memberikan daya tarik tersendiri bagi orang-orang Yatsrib. Mereka merelakan untuk mengubah nama lama yang sudah melekat pada mereka menjadi nama baru yang identik dengan Nabi dan pengikutnya, yaitu Madinah, Yatsrib pun berganti nama menjadi Madinah.

 

Kota-madinah-tempo-dulu

Kota-madinah-tempo-dulu

 Perubahan dari Yatsrib ke Madinah

Perubahan dari Yatsrib ke Madinah, bukan hanya sekedar perubahan nama belaka. Perubahan tersebut menunjukkan sebuah komitmen untuk melahirkan sebuah peradaban dan tatanan baru. Kota ini di kemudian hari menjadi kota yang tidak hanya di monopoli kelompok tertentu, tetapi menjadi “milik bersama” yang menjamin keadilan, kebersamaan, dan kesetaraan di antara kelompok yang hidup didalamnya.

Madinah merupakan titik awal lahirnya zaman baru, yang mana setiap kelompok telah mencapai consensus untuk hidup berdampingan secara damai, saling menghargai, saling melindungi, serta mempunyai komitmen untuk menjaga keberlangsungan hidup tanpa diskriminasi dan eksploitasi. Sebab itu, Madinah dianggap sebagai fajar baru lahirnya peradaban manusia, yang juga membuktikan bahwa Islam adalah agama peradaban (din al-hadharah) dan agama berkemajuan (din al-taqaddum). Islam hadir bukan untuk membabat habis dan menegasikan kelompok lain. Islam hadir justru untuk bersama-sama melahirkan peradaban baru yang membawa manfaat bagi seluruh umat manusia, apa pun latar belakang suku, ras, bahasa, agama, dan nasionalitasnya.

Muhammad Kibrit al-Husaini al-Madani dalam al-Jawahir al-Tsaminah fil Mahasin al-Madinah, menyebutkan bahwa Madinah berasal dari kata ma-di-na, yang berarti menempati atau tinggal di sebuah tempat. Lalu, ada yang berpendapat berasal dari kata da-na, sedangkan mim ditambahkan dalam kata tersebut, yang berarti taat dan tunduk. Arti yang terakhir ini dapat di pahami, karena Muhammad SAW tinggal di Madinah, sehingga ia harus ditaati.

Madinah dikenal kemudian dalam arti kota, yaitu tempat yang mana didalamnya terdapat aturan dan konsensus yang menjamin keamanan dan ketertiban. Kata kuncinya adalah kehendak untuk hidup bersama secara damai. Yasin Ghadhban (1993) menegaskan, bahwa Madinah berasal dari bahasa Aramaik, yaitu Medinta, yang berarti kota dan tempat tinggal seseorang untuk berlindung. Nama tersebut juga dikenal setelah Nabi melaksanakan hijrah ke Madinah.

Ghadhban membentangkan sejumlah pendapat yang menyebutkan, bahwa Yatsrib dan Madinah merupakan dua wilayah yang berbeda. Setidaknya jika mengacu pada pandangan sejarawan, bahwa Yatsrib merupakan bagian utara dari Madinah, yang terletak di bukit Sil’un hingga Zaghaba di kawasan yang banyak sungainya. Ada juga yang membatasi Yatsrib pada bagian selatan di kawasan Zabala, yaitu kawasan yang didalamnya terdapat Sumur Rauma dan taman bunga.

Sedangkan Madinah adalah tempat yang dijadikan Nabi sebagai kota suci yang terletak dibagian selatan di Gunung ‘Ir, yaitu gunung besar yang terletak di sebe,ah barat Dzul Hulaifah, tempat permulaan ihram dari Madinah. Sedangkan di utara hingga Gunung Tsawr, yaitu gunung kecil yang berdekatan dengan Uhud.

Dari sekian pendapat tersebut, nama Madinah merupakan nama yang paling mendekati kesepakatan di antara para sejarawan, karena nama tersebut berasal dari bahasa Arab, yang berarti kota. Tidak hanya itu, ia menjadi sumber dan awal dari segala kota. Umar bin Khattab menegaskan perihal Madinah sebagai induk kota dari segala kota yang berhasil ditaklukan oleh umat Islam. Dari kota inilah kemudian sejumlah kota-kota besar lainnya di kawasan Timur-Tengah dapat ditaklukan.

Objek Wisata di Kota Madinah

Objek Wisata di Kota Madinah

Selain dua nama yang paling popular tersebut, yaitu Yatsrib dan Madinah, ada sejumlah nama lainnya yang berhasil dikoleksi oleh para sejarawan.

Inilah 42 nama lain Kota Madinah al Munawaroh:

  1. Thayyibah (kebajikan),
  2. Thabah (kebenaran),
  3. Al-Maskanah (kediaman),
  4. Al-Adzra (kesucian),
  5. Al-Jabirah (keperkasaan),
  6. Al-Muhabbabah (yang dicintai),
  7. Al-Mahburah (kebahagiaan),
  8. Al-Najiyah (selamat),
  9. Al-Muwaffiyah (menepati janji),
  10. Akalat al-Buldan (pucuk dari kota-kota),
  11. Al-Makhfufah (ringan),
  12. Al-Muslimah (selamat),
  13. Al-Makhbah (tempat persembunyian),
  14. Al-Qudsiyyah (suci),
  15. Al-Ashimah (ibu kota),
  16. Al-Marzuqah (makmur),
  17. Al-Syamiyyah (agung),
  18. Al-Khirah (kota terbaik),
  19. Al-Mahbuah (yang dikasihi),
  20. Al-Marhumah (yang dirahmati),
  21. Jabirah (perkasa),
  22. Al-Mukhtarah (kota pilihan),
  23. Al-Muharramah (terhormat),
  24. Al-Qashimah (penakluk),
  25. Thaba (baik),
  26. Al-Bahrah (haus),
  27. Al-Barrah (baik),
  28. Al-Birrah (mulia),
  29. Tannur (pencerahan),
  30. Al-Hasibah (kontrol),
  31. Dar al-Anshar (kota kalangan Anshar),
  32. Hasanah (luhur),
  33. Dar al-Akhbar (pusat informasi),
  34. Dar al-Iman (pusat keimanan),
  35. Dar al-Sunnah (pusat sunnah),
  36. Dar al-Hijrah (pusat hijrah),
  37. Al-Mukhtarah (pilihan),
  38. Ghalabah (kemenangan),
  39. Qiblat al-Islam (kiblat Islam),
  40. Al-Mahfudzah (terpelihara),
  41. Madkhalu Shidqin (pintu kejujuran) dan
  42. Al-Muqaddasah (suci).

Tanah di Madinah sangat cocok untuk ditanami pohon kurma, bahkan merupakan salah satu kota yang mempunyai ladang kurma terbesar. Bagi mereka yang berziarah ke Madinah pasti tidak lupa untuk membeli oleh-oleh kurma, karena Madinah sangat terkenal dengan kurmanya yang khas hingga sekarang ini.

Nama-nama tersebut menunjukkan betapa Madinah menjadi salah satu kota yang sangat diapresiasi dalam khazanah islam, karena keistimewaan, keutamaan dan keunikan kota ini. Berbagai kebajikan berkumpul dan bertemu di Madinah, sehingga membentuk sebuah kekuatan baru yang maha dahsyat. Dari sekian nama yang paling popular adalah Madinah, Thaba, Thayyibah, Dar al-Hijrah, dan Dar al-Raudha, karena nama-nama tersebut relevan dengan makna yang terkandung didalamnya, yaitu kota, kebajikan, kota hijrah, dan kota taman surga.

Maadinah terletak 500 meter utara Mekkah, di tanah yang lapang, banyak tersedia air, pepohonan, dan rumah-rumah besar. Gunung yang paling dekat dengan Madinah adalah Gunung Uhud. Salah satu tempat peperangan yang paling tragis, karena umat Islam yang mula-mula memenangi perang tersebut, tetapi akhirnya takluk karena kelalaian mereka atas perintah Nabi dan keserakahan mereka dalam memperebutkan harta rampasan perang. Hamzah meninggal dunia dalam perang tersebut. Selain itu, gunung yang terdekat lainnya yaitu Gunung ‘Ir. Adapun panjangnya berkisar sekitar 36/39 dan lebarnya sekitar 24/28, dan terletak sekitar 625 m di atas permukaan laut.

Dari sebelah timur Madinah adalah Baqi dan sebelah selatan, yaitu perkampungan Qubba, yan merupakan tempat pertama kali dibangun masjid saat Nabi melaksanakan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Masjid tersebut kemudian dikenal dengan Masjid Qubba. Dan kea rah selatan lagi terdapat perkampungan Qar’un yang merupakan jalur perjalanana ke Mekkah.

Rumah-rumah di Madinah pada umumnya terdiri dari dua lantai. Lantai paling bawah digunakan untuk tempat-tempat barang, sedangkan lantai atas digunakan untuk tempat peristirahatan dan ruangan keluarga. Saat Nabi datang pertama kali ke Madinah, tinggal di rumah kalangan Anshar, yaitu Abu Ayyub al-Anshari, yang mana rumahnya terdiri dari dua lantai, sebagaimana dijelaskan diatas.

Di Madinah juga terdapat gunung berapi. Diantara gunung tersebut yaitu Gunung Waqim yang terletak di bagian timur. Gunung tersebut diantara gunung berapi yang sangat terkenal di kawasan Arab, dan tanahnya diantara tanah yang paling subur di Madinah. Nama gunung tersebut diambil dari seorang dari Amalekit, yang bernama Waqim. Suku yang tinggal di gunung berapi ini yaitu Aws, Bani Abdul Asyhal, Bani Dhafir, Bani Muawiyah, Bani Quraydhah, dan Bani Nadhir. Pada masa pemerintahan Yazid, gunung ini di antara gunung berapi yang paling popular, yang kemudian dikenal dengan Gunung Quraydhah.

Daya tarik Madinah terpancar hingga sekarang ini memiliki nilai historis dan nilai teologis yang sangat kuat. Madinah menjadi saksi kesempurnaan ajaran Islam, yang mana didalamnya terbentuk bangungan toleransi dan persaudaraan sejati.

 

Sedangkan di sebelah barat terdapat gunung berapi, yang dikenal dengan nama Gunung Wabira atau Bani Bayadhah, jaraknya sekitar 3 mil dari Madinah berdekatan dengan lembah Aqiq. Dan yang terakhir yaitu gunung berapi Qubba di bagian selatan Madinah. Selain ketiga gunung tersebut, masih ada gunung berapi lainnya, seperti Gunung Syawran, Gunung Nar, yang berdekatan dengan Gunung Laila.

Sedangkan cuaca di Madinah hampir tidak ada perbedaan dengan Mekkah. Panas amat menyengat di musim panas. Dingin pada musim dingin. Kadang-kadang turun hujan. Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan pernah turun hujan yang lumayan deras, yang menyebabkan ia harus membangun bendungan agar tidak terjadi banjir bandang yang dapat merusak Masjid Nabawi. Pada masa Abu Ja’far al-Manshur juga pernah mengalami banjir.

Namun, kota ini juga pernah mengalami kemarau yang lumayan panjang, sehingga pernah mengalami kelangkaan air. Pada saat itu, Muhammad SAW bersama para pengikutnya berinisiatif untuk melaksanakan Shalat Istisqa, yaitu shalat khusus meminta diturunkan air hujan. Kemudian, air hujan turun selama kurang lebih dua minggu berturut-turut, yang menyebabkan rumah-rumah tergenang air dan hewan ternak terpisah dari pengembalanya. Atas peristiwa tersebut Nabi berdoa, Ya Allah jadikanlah air hujan sebagai berkah bagi kami dan bukan sebagai laknat bagi kami.

Ritual shalat istisqa dikenal dalam tradisi Islam sebagai salah satu ritual yang dilaksanakan Nabi di Madinah. Dimana-mana jika umat Islam sedang mengalami kemarau panjang, sebagaimana di Madinah pada zaman Nabi dulu, mereka juga kerap melaksanakan shalat istisqa. Dan pada umumnya, Tuhan menganugerahkan hujan setelah umat Islam melaksanakan shalat tersebut.

Meskipun demikian, Madinah relatif lebih sejuk dibandingkan Mekkah, karena angin berhembus semilir-milir dari gunung ke daratan, dari bukit ke bukit yang lain, dari satu lembah ke lembah yang lain. Madinah bagian utara dikenal relatif sejuk, berbeda dengan bagian selatan. Sedangkan Mekkah yang menyerupai lembah dataran rendah tidak memungkinkan angin berhembus seperti di Madinah. Konon, saat terjadi peperangan di zaman Nabi, tidak ada lawan yang berani memasuki Madinah dari arah selatan, timur dan barat, karena cuacanya sangat panas dan tidak bersahabat. Sedangkan di musim dingin kadangkala turun hujan.

Di Madinah, ada jalan yang menyambungkannya dengan kota-kota lainnya, seperti Jeddah dan Mekkah. Begitu juga jalan ke Qashim, Hail dan ibu kota Arab Saudi, Riyadh. Madinah juga dikenal sebagai kota yang menyambungkan antara Yaman dan Suriah. Kota ini juga dikenal sebagai persinggahan para pedagang di masa lalu. Di kota inilah biasanya banyak dilakukan transaksi perdagangan rempah-rempah.

Di masa lalu, menurut Philip K. Hitty dalam The History of The Arabs, Madinah merupakan kota terpenting ketiga di Hijaz setelah Mekkah dan Thaif. Kota ini memainkan peran yang sangat signifikan pada masa islam, karena merupakan pusat kekuasaan pemerintahan islam, yang dipimpin langsung oleh Muhammad SAW. Begitu pula saat Nabi meninggal dunia, Madinah masih dijadikan sebagai pusat pemerintahan islam oleh para sahabatnya, diantaranya Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib.

Daya tarik Madinah terpancar hingga sekarang ini, nilai historis dan nilai teologis yang begitu kuat. Madinah menjadi saksi kesempurnaan ajaran Islam, yang mana didalamnya terbentuk bangunan toleransi dan persaudaraan sejati.

Kota Yastrib diganti menajdi Madinah

Kota Yastrib diganti menajdi Madinah

Madinah Dikenal Sebagai Kota Nabi

Salah satu keistimewaan Madinah daripada kota-kota lainnya, karena kota ini identik dengan Nabi Muhammad SAW. Setelah Nabi melaksanakan hijrah, kota ini dikukuhkan sebagai Madinah al-Nabi atau Kota Nabi. Memang, Nabi lahir dan menghabiskan masa-masa remajanya di Mekkah, tetapi masa-masa akhir hidupnya selama 10 tahun di Madinah telah memberikan makna dan nilai yang amat mendalam. Beliau pun meninggal dunia di kota ini.

READ :  Ziarah Kota Madinah Saat Ibadah Haji dan Umroh

Muhammad Yasin Ghadhban (1993) menyebut Madinah sebagai Dar al-Hijrah (kota migrasi) dan Dar al-Raudhah (kota taman surga). Di balik itu semua, karena kota ini semakin mengukuhkan ketauhidan yang merupakan inti dari ajaran Islam. Didalam sebuah hadis, Nabi bersabda, Sesungguhnya keimanan akan berpusat di Madinah, sebagaimana ular berpusat di rongga-rongga lubang bumi.

Dalam hal ini, Madinah semakin menyempurnakan nuansa monoteisme yang berwujud didalam rumah Tuhan, Ka’bah. Dengan sangat sederhana dapat dikatakan, bahwa jika Mekkah merupakan symbol monoteisme dalam narasi besar, maka Madinah merupakan symbol monoteisme  dalam narasi kecil. Islam adalah agama samawi paling akhir yang meletakkan bangunan monoteisme secara paripurna. Di kota Madinah ini Nabi mengukuhkan monoteisme sebagai bagian terpenting dalam Islam, bahkan hal tersebut merupakan pangkal utama dalam ajaran Islam.

Komitmen La Illaha Illallah (Tiada Tuhan selain Allah SWT) sebagai bukti ketundukan dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT. Selain Allah SWT pada hakikatnya akan binasa dan tidak mempunyai kekuasaan dan kekuatan mutlak. Menurut Cak Nur, komitmen monoteisme seperti ini semakin mengukuhkan, bahwa Islam adalah agama yang mendorong demokrasi dan egalitarianism, serta menolak otoritarianisme.

Komitmen tersebut semakin dikukuhkan, tatkala di sempurnakan dengan testimoni, Muhammadun Rasulullah (Muhammad adalah utusan Allah SWT). Testimoni ini mengandung sebuah pesan kuat, bahwa keyakinan Muhammad SAW sebagai Rasulullah sebagai sebuah jalan lapang untuk mengukuhkan monoteisme. Sebab dalam diri beliau terhadap kasih-Nya yang tidak terbatas.

Madinah dikukuhkan sebagai kota Nabi, yang didalamnya terdapat kesucian. Namanya begitu bersinar di seantero dunia. Bahkan Imam Jalaluddin al-Suyuti dan Imam Malik menyebut Madinah sebagai kota yang lebih utama daripada Mekkah. Pandangan tersebut sebagai bentuk kecintaan yang tidak terhingga terhadap Nabi Muhammad SAW yang telah mengharumkan Madinah dengan syariatnya.

 Para ulama tafsir menyebutkan, bahwa didalam diri Nabi terdapat sifat kasih (al-rahim) yang merupakan pancaran dari kasih-Nya (al-rahman).

Madinah, yang mula-mula dikenal dengan nama Yatsrib, dikukuhkan sebagai kota Nabi, yang didalamnya terdapat kesucian. Seluruh kebajikan, sebagaimana nama-nama yang disandangkan kepada Madinah, tumpah-ruah di kota ini. Namanya bergitu bersinar di seantero dunia. Bahkan Imam Jalaluddin al-Suyuti dan Imam Malik menyebut Madinah sebagai kota yang lebih utama daripada Mekkah. Pandangan tersebut sebagai bentuk kecintaan yang tidak terhingga

terhadap Nabi Muhammad SAW yang telah mengharumkan Madinah dengan syariatnya.

Nabi secara resmi mengukuhkan Madinah sebagai kota suci kedua umat islam setelah Mekkah. Didalam sebuah hadis disebutkan, Madinah adalah kota suci dari tempat ini ke tempat yang lain atau dari Gunung ‘Ir ke Gunung Tsawr. Maka hendaknya jangan menebang pepohonan, dan jangan menebarkan kotoran di wilayah suci tersebut. Maka barangsiapa menebarkan kotoran dan kerusakan, maka ia akan dilaknat oleh Allah SWT, Malaikat dan manusia secara keseluruhan.

Pesan tersebut membuktikan, bahwa setiap muslim harus menjaga kebersihan dan kedamaian kota itu. Salah satu cirri dari kota suci adalah tidak diperkenankannya melakukan peperangan dan tindakan lainnya yang dapat mengotori kesuciannya, baik tindakan kotor yang keluar dari lisan maupun dari gerak fisik. Di kota inilah, seyogianya setiap muslim memperbanyak doa dan zikir, karena disana terdapat tempat-tempat mustajabah. Yaitu, bila kita berdoa, maka Tuhan akan mengabulkan doa tersebut, utamanya di Raudhah, makam Nabi dan lingkungan Masjid Nabawi lainnya.

Para ulama mengekspresikan penghormatan mereka terhadap kesucian Madinah dengan berbagai cara. Dikisahkan, bahwa Imam Malik tatkala memasuki kota Madinah, ia tidak mengendarai hewan apapun. Ia berkata, “Aku malu kepada Allah SWT untuk menginjakkan bumi Nabi ini dengan menggunakan kaki hewan.”

Pada suatu hari Imam Syafii diberi hadiah sebuah keledai yang besar. Saat ia memasuki kota Madinah ia menyampaikan pandangan sebagaimana disampaikan Imam Malik tersebut, yaitu agar meletakkan keledai tersebut diluar kawasan suci di Madinah. Hal tersebut dilakukan dalam rangka memberikan penghormatan terhadap Nabi. Sebab itu, adalah sebuah keniscayaan bagi setiap muslim untuk menghormati kesucian bumi Madinah, yang merupakan satu-satunya bumi yang identik dengan perjuangan dan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW.

Sebagai kota Nabi, Madinah telah menjelma sebagai salah satu kota penting di dunia. Setiap muslim pasti memimpikan untuk datang ke kota suci ini. Mengunjungi Madinah berarti mengunjungi Nabi, setidaknya Masjid Nabawi yang merupakan tempat tinggal dan masjid Nabi, disamping itu ada kuburan Nabi yang menjadikan seorang muslim berziarah dan berdoa disana. Dan masih banyak lagi tempat bersejarah yang merupakan napak tilas perjuangan Nabi bersama para sahabat dan umat Islam periode awal.

Madinah akan mengisi batin setiap muslim dengan kenangan indah yang tidak akan terlupakan, bahwa dari kota yang sangat sederhana dan tidak luas ini tonggak ajaran Islam disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia. Nabi telah menjadikannya sebagai starting point yang patut dijadikan teladan, terutama dari keindahan kota dan keakraban masyarakatnya. Maka dari itu, kota Nabi tidak hanya menyimpan keindahan lahiriah, tetapi juga keindahan batiniah. Disinilah arti penting Madinah, karena akan menghiasi batin dan hati kita dengan kebajikan yang telah diteladani baginda Nabi Muhammad SAW.

Sebagai kota Nabi, Madinah menjadi daya tarik tersendiri. Karena mendatangi kota ini mempunyai makna yang sangat membatin, yaitu berjumpa dengan Nabi secara spiritual. Dan perjumpaan batin tersebut bukanlah hal yang mudah ditemukan di tempat lain. Perjumpaan batin harus dilakukan di Madinah. Itulah pesona Madinah yang tidak dimiliki kota-kota lainnya.

Universitas Madinah

Universitas Madinah

Madinah Disebtu Sebagai Kota Ilmu

Madinah juga dikenal sebagai kota ilmu (Madinat al-ilm). Pada masa Nabi, Masjid Nabawi menjadi salah satu pusat pendidikan. Di tempat inilah Nabi membina dan membimbing tunas-tunas muda, yang nantinya akan dijadikan sebagai lokomotif pengembangan islam. Menurut Ashim Hamdan Ali Hamdan dalam al-Madinah al-Munawwarah bayn al-Adab wa al-Tarikh menegaskan, bahwa dari “madrasah Nabi” di masjid Nabawi lahirlah sejumlah sahabat yang sangat terkenal, diantaranya: Abdullah bin Mas’ud, Abu Hurairah, Mu’adz bin Jabal, Sa’ad bin Mu’adz, dan Abdullah bin Umar.

Mereka adalah para pewaris ajaran Nabi yang dituangkan melalui hadis-hadis yang sangat berharga, sehingga umat Islam bisa mengenal lebih dekat tentang ajaran dan akhlak Nabi. Bahkan, Siti Aisyah, istri Nabi menjadi salah satu ulama hadis yang sangat berjasa bagi transmisi khazanah Islam dari masa ke masa hingga sekarang ini.

Dalam hal ini, Madinah telah menjadi latar sejarah yang sangat kuat betapa ilmu pengetahuan menjadi salah satu pilar islam yang paling penting. Dalam sebuah hadisnya, Nabi menegaskan bahwa seorang yang alim lebih utama dari 1.000 orang ahli ibadah. Ilmu menjadi salah satu unsur penting dalam perkembangan Islam, karena dengan ilmu tersebut khazanah Islam bisa tersebar luas di seantero dunia.

Jauh sebelum para sahabat yang disebutkan oleh Ashim Hamdan, bahwa para khalifah yang menggantikan posisi Nabi sebagai pemimpin politik tertinggi setelah wafat, adalah mereka yang diajarkan ilmu oleh Nabi. Umar mengisahkan bagaimana Nabi mengajarkannya dalam banyak hal, terutama dalam soal fatwa keagamaan.

Pada suatu hari, pada bulan puasa, Umar mencium istrinya. Lalu, ia kebingungan apakah puasa yang dilaksanakannya masih sah atau sudah batal. Kemudian ia mendatangi Nabi dan menyampaikan masalah yang sedang dihadapinya. Nabi menjawab dengan menggunakan analogi, “Umar, bagaimana hukum berkumur-kumur di saat kamu berpuasa? Apakah puasamu batal? Umar menjawab dengan cepat, “Tidak wahai Rasulullah”, Nabi kemudian menambahkan. “Jadi apa yang kamu lakukan tidak membatalkan puasa”.

Pendidikan yang diajarkan oleh Nabi berlangsung dalam dua arah, yang mana menggunakan kekuatan dialog, bukan kekuatan ceramah. Maka dari itu, apa yang diajarkan Nabi di Madinah menimbulkan bekas yang sangat kuat pada diri para sahabat. Para sahabat tumbuh sebagai sosok yang berkualitas dari segi ilmu pengetahuan dan berakhlak mulia.

Setelah Nabi wafat, mereka terus mengembangkan apa yang sudah diajarkan beliau. Madinah menjadi salah satu kota ilmu yang terus berkembang dengan pesat, disamping kota-kota lainnya, seperti Mekkah, Irak, Yaman, dan Mesir. Muhammad Ibrahim al-Jayusyi dalam Fuqaha al-Madinah al-Sab’ah menegaskan, bahwa Madinah pasca Nabi menjadi salah satu menara ilmu. Mereka melanjutkan tradisi yang sudah dikembangkan oleh Nabi.

Setidaknya ada beberapa ulama fikih yang sangat terkenal dari kalangan Tabi’in, yang sangat menonjol, yaitu Sa’id bin Musayyab, Urwah bin Zubair, Abu Bakar bin Abdurrahman, al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Ubaidillah bin Abdullah bin Uthbah bin Mas’ud, Kharijah bin Zaid bin Tsabit, Salim bin Abdullah bin Umar bin Khattab, Sulaiman bin Yasar, Abu Salmah bin Abdurrahman, Qubayshah bin Daub, Abban bin Utsman bin Affan.

Diantara para ulama yang menonjol pada masa tersebut, yaitu Said bin Musayyah. Pada masanya, Said merupakan rujukan utama dalam masalah keagamaan. Ia dikenal sebagai ahli hadis dan fikih, disamping sebagai sosok yang asketis dan taat beribadah. Meskipun ia dikenal sebagai seorang yang kaya, tetapi hal tersebut tidak membuatnya melupakan ilmu. Bahkan harta yang dimiliki digunakan untuk menderma kalangan fakir miskin. Sebab itu, jika orang-orang dari luar Madinah datang ke Madinah untuk menimba ilmu-ilmu keagamaan, mereka pasti mencari Said bin Musayyab.

Di samping itu, Urwah bin Zubair salah seorang ulama yang ahli di bidang sejarah. Urwah termasuk salah seorang ulama yang pertama menulis tentang sejarah, terutama di saat buku-buku sejarah terbakar. Disaat Urwah ditanya, “Kapan Khadijah meninggal dunia?”, ia langsung menjawab, “Khadijah meninggal dunia tiga tahun sebelum Nabi melakukan hijrah ke Madinah”.

Hal tersebut membuktikan Urwah sebagai salah satu sejarawan asal Madinah, yang telah berjasa besar dalam melestarikan khazanah sejarah keislaman, sehingga bisa dinikmari oleh para generasi selanjutnya, termasuk generasi kita sekarang. Menurut Ashim bin Hamdan, keseluruhan hidup Urwah telah didedikasikan untuk menuntut ilmu. Disamping itu, ia gemar berpuasa yang menyebabkannya mempunyai ketajaman nurani untuk membantu fakir miskin. Dalam kapasitasnya sebagai sejarawan, tidak diragukan bahwa Urwah adalah seorang penyabar, karena dalam merangkai dan mengingat pendulum sejarah membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keuletan. Sifat-sifat tersebut menyatu dalam diri Urwah.

Tradisi keilmuan tersebut terus berkembang hingga beberapa ulama yang hidup setelahnya. Rata-rata mereka pernah merasakan belajar di Masjid Nabawi, seperti Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad dan Imam Abu Hanifah. Mereka mempunyai pengalaman masing-masing dalam menimba ilmu di Madinah. Dalam bidang tafsir, yang paling terkenal adalah pengarang tafsir al-Kasysyaf, yaitu Imam al-Zamakhsyari.

Pada masa modern, Ibrahim al-Kawrani (1604-1680) juga mengajar ilmu hadis di Masjid Nabawi, setelah belajar di sejumlah kota islam lainnya, seperti di Irak, Damaskus, dan Mesir. Lalu, misi tersebut dilanjutkan oleh putranya, Muhammad Aba al-Thahir al-Kawrani (1660-1724). Dikabarkan, bahwa Shah Waliyullah al-Dahlawi pernah belajar ke Muhammad Aba al-Thahir al-Kawrani di masjid saat berziarah dari tahun 1722-1724. Al-Dahlawi adalah seorang ulama terkemuka di India, yang banyak memberikan inspirasi bagi gerakan reformasi keagamaan, terutama melalui karya-karyanya yang sangat menarik. Pengalaman belajar di Madinah telah memberinya banyak hal untuk terwujudnya reformasi keagamaan di India, sehingga menempatkannya sebagai salah satu ulama reformis pada zaman modern.

READ :  Ziarah Ke Jabal Uhud

Madinah akan mengisi batin setiap muslim dengan kenangan indah yang tidak akan terlupakan, bahwa dari kota yang sangat sederhana dan tidak luas ini tonggak ajaran Islam disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia.. Maka dari itu, kota Nabi tidak hanya menyimpan keindahan lahiriah, tetapi juga keindahan batiniah. Disinilah arti penting Madinah, karena akan menghiasi batin dan hati kita dengan kebajikan yang telah diteladani baginda Nabi Muhammad SAW.

Pada masa pemerintahan Yazid, gunung ini di antara gunung berapi yang paling popular, yang kemudian dikenal dengan Gunung Quraydhah. Al-Turkizi al-Syinqithi (1824-1901). Ia dikenal sebagai pakar dalam bidang hukum islam dan bahasa arab. Di samping itu ia mempunyai pengalaman dalam menelaah manuskrip-manuskrip keislaman yang terdapat di Perancis dan Spanyol, serta kerapkali mengikuti pertemuan-pertemuan internasional yang juga mewakili Dinasti Ottoman.

Kemudian, pada masa kerajaan Arab Saudi modern didirikan Universitas King Abdul Aziz, yang mana merupakan salah satu pencapaian terbaik untuk memperluas bidang keilmuan tidak hanya pada ranah ilmu pengetahuan yang lebih luas. Citra Madinah sebagai kota ilmu tidak hilang hingga sekarang ini. Meskipun sejalan dengan makin canggihnya teknologi transportasi menyebabkan Madinah menjadi salah satu kota ziarah terbesar, karena seperti halnya Mekkah, kota ini tidak pernah sepi dari pengunjung dari berbagai penjuru dunia.

Perkebunan-kurma-abdurrahman-yang-tetap-subur-selama-110-tahun

Perkebunan-kurma-abdurrahman-yang-tetap-subur-selama-110-tahun

Madinah Adalah Kota Pertanian

Secara geografis, Madinah merupakan kota yang jauh lebih subur jika dibandingkan Mekkah yang dikenal gersang dan tandus. Tanah di Madinah sangat cocok untuk ditanami pohon kurma, bahkan merupakan salah satu kota yang mempunyai ladang kurma terbesar. Banu Nadhir dan Banu Quraydzah merupakan komunitas Yahudi yang berjasa besar dalam mengembangkan pertanian kurma di Madinah. Maka dari itu, bagi mereka yang berziarah ke Madinah pasti tidak lupa untuk membeli oleh-oleh kurma, karena Madinah sangat terkenal dengan kurmanya yang khas hingga sekarang ini.

Muhammad Husein Haikal dalam Hayatu Muhammad menceritakan, bahwa para sahabat yang ikut serta dalam hijrah pada tahun-tahun pertama mereka juga ikut serta dalam bercocok tanam bersama orang-orang Anshar. Diantara para sahabat yang ikut bertani, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab dan lain-lain.

Salah satu lembah yang paling subur, yaitu lembah Aqiq, sekitar 3 mil wilayah barat Madinah. Lembah tersebut merupakan salah satu tempat yang dialiri air dari sumur Rawma. Sumur ini sangat terkenal, karena menyimpan kandungan air yang sangat luar biasa. Utsman bin Affan sebagai salah seorang sahabat Nabi yang mempunyai harta lebih telah membeli sumur tersebut dari orang-orang Yahudi, dan airnya disedekahkan kepada orang-orang muslim.

Mulanya, orang-orang Yahudi kerapkali menjual air yang diambil dari sumur tersebut kepada orang-orang muslim yang hijrah bersama Nabi. Lalu, beliau bersabda, “Barangsiapa membeli sumur Rauma dan menyedekahkannya kepada orang-orang muslim, maka ia akan mendapatkan minuman di surga nanti.” Utsman yang mendengar sabda tersebut langsung menawar sumur tersebut, dan membeli separuh dari sumur dengan harga sekitar 12.000 dirham.

Utsman dan orang-orang Yahudi menyepakati, bahwa sehari sumur tersebut digunakan oleh orang-orang muslim dan hari berikutnya digunakan untuk orang-orang Yahudi secara bergantian. Begitulah seterusnya. Kemudian orang-orang Yahudi menjual sumur tersebut secara keseluruhan dengan tambahan uang sekitar 8.000 dirham.

Selain sumur Rauma yang sangat terkenal itu ada beberapa sungai lainnya, yang juga mengairi lahan pertanian di Madinah. Ada sejumlah sumur yang sangat terkenal, yaitu sumur Aris. Sumur ini terletak didalam taman, yang mana kedalamannya sekitar 13 meter. Nama sumur ini diambil dari nama orang Yahudi, yang artinya al-fallah, petani. Nama Aris sendiri berasal dari bahasa Suriah. Pada masa Nabi, sumur ini dikenal dengan nama al-Khatam, yaitu cincin. Imam al-Bukhari dalam hadisnya mengisahkan, bahwa di sumur inilah cincin Nabi jatuh pada masa Utsman bin Affan. Para sahabat sudah mencari cincin tersebut selama tiga hari, tetapi masih tidak mendapatkannya.

Ada sumur A’waf, yang merupakan sedekah dari Nabi. Sumur Ana, yang sekarang sudah tidak dikenali lagi di Madinah. Sumur Anas bin Malik bin Nadhr. Sumur ini juga sangat dikenal, karena Nabi dan para sahabat pernah minum dari air ini. Sekarang, sumur ini dikenal dengan sumur Hadharim, yang terletak di sebelah utara taman Ainiyah, yang berdekatan dengan menara yang diyakini dibawahnya terdapat kuburan ayah Nabi, Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim.

Lalu, ada sumur Bidha’ah. Sumur ini sangat terkenal, karena anjing selalu loncat di sumur ini dan ada beberapa kotoran lainnya, seperti kotoran manusia. Pada suatu hari, Nabi ditanya soal berwudhu dari air sumur tersebut. Lalu, beliau bersabda, “Air pada hakikatnya suci dan bersih dan tidak bisa dikotori oleh apapun.” Dalam riwayat Baihaqi disebutkan, selama bau, rasa dan warnanya tidak berubah, maka air dari sumur ini bisa digunakan untuk berwudhu.

Salah satu sumur yang bersejarah di Madinah, yaitu sumur Birha. Nabi pernah mencicipi air dari sumur ini, yang menyebabkannya mempunyai nilai historis. Sumur ini terletak di taman Abu Thalhah, salah seorang pengikut Nabi dari kalangan Anshar. Setelah turunnya ayat, Kalian tidak pernah mendapatkan kebaikan hingga kalian memberikan harta yang kalian cintai kepada orang lain (QS. Ali Imran [3]: 92), Abu Thalhah membagi-bagikan air yang terdapat sumur ini kepada para sahabat dan keluarga.

Lalu, sumur Gharas. Ibnu Hibban dalam kitab al-Tsiqat mengisahkan, bahwa Anas bin Malik pernah berkata, “Ambilkan aku air dari sumur Gharas, karena aku pernah melihat Nabi minum dan berwudhu dari sumur tersebut”. Selain sumur tersebut, terdapat sumur-sumur lainnya, seperti sumur Qawim, sumur Abbasiah, dan sumur Aqiq.

Menurut Yasin Ghadhban (1993), sumur-sumur tersebut digunakan oleh penduduk Madinah untuk mengairi lahan pertanian mereka dan memberi minum hewan-hewan ternak. Sedangkan untuk kebutuhan minum sehari-hari, mereka mengambil dari sumber air al-Azraq atau al-Zarqa, yang terdapat di Qubba, yang terletak di sebelah barat Masjid Nabi. Pada masa pemerintahan Muawiyah, Marwan bin Hakam ditugasi untuk menjadikan sumber tersebut sebagai salah satu sumber bagi kebutuhan penduduk Madinah. Pada masa itu, sumber tersebit dikenal dengan nama al-Ja’fariyah. Disamping itu, juga disebutkan ada sumber air Hamzah yang konon di tempat tersebut terdapat sekitar 40 sumber.

 

Dan jikalau mereka berbuat zalim terhadap diri mereka, mereka mendatangi sembari memohon kepada Allah SWT, dan Rasul juga meminta ampunan untuk mereka, maka mereka akan menemukan Allah SWT Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih. (QS. Al-Nisa [4]: 64).

 

Disamping ada beberapa lembah. Selain lembah Aqiq, sebagaimana dijelaskan diatas terdapat beberapa lembah lainnya, yaitu lembah Naqi yang dikenal ada hutan-hutan yang lebat yang sangat luas hingga Dzul Halifah di sumur Ali. Nabi Muhammad SAW pernah menempatkan Bilal bin Harits dan Umar bin Khattan di kawasan tersebut. Ada lembah Bathan dan lembah Ranun di wilayah barat Madinah. Begitu pula lembah Mahzur dibagian tenggara, dan lembah Qanat.

Ada hal lain yang menyebabkan tanah di Madinah relatif subur, karena terdapat gunung-gunung berapi, yang memungkinkan untuk ditanami aneka ragam tanaman. Orang-orang Yahudi pada mulanya banyak yang tinggal didaerah subur tersebut. Madinah bagian selatan dikenal bercocok tanam kurma dan beberapa buah lainnya. Sedangkan Madinah bagian utara bercocok tanam kurma, sayur-mayur, dan pohon semanggi.

Kondisi alam yang demikian tersebut telah menyebabkan Madinah sebagai salah satu “kota hijau” yang semakin memperindah keluhuran budi para penduduknya. Mungkin saja, Nabi dan pengikutnya memilih untuk tinggal di kota ini hingga akhir hayatnya, karena keindahan alamnya yang relatif hijau, yang mana terdapat pegunungan dan lembah yang diatasnya tumbuh tanaman-tanaman yang memberikan berkah tersendiri bagi penduduk Madinah.

Tentu saja, beberapa penjelasan seputar Madinah tersebut memberikan sebuah pengalaman dan pengetahuan yang sangat berharga, bahwa Islam menjadi agama yang berinteraksi dengan realitas yang kehidupan yang nyata, dari soal pemerintahan, keilmuan hingga pertanian. Kita tahu, bahwa hadis-hadis Nabi yang diriwayatkan para sahabat, sebagaimana dipaparkan di atas juga menyentuh aspek-aspek kehidupan yang memungkinkan umat islam menjadikannya sebagai sumber inspirasi bagi kehidupan mereka.

Pada umumnya, hadis-hadis yang berkaitan dengan kehidupan nyata, terutama yang diriwayatkan oleh Aisyah, Abu Hurairah, Anas bin Malik dan lain-lain merupakan sebuah testimony kehidupan di Madinah, yang tidak hanya berbicara tentang kehidupan, tetapi juga nilai dalam kehidupan. Salah satu hadis yang sangat popular dan mempunyai makna yang sangat mendalam, yaitu hadis yang berbunyi, Kamu lebih tahu tentang urusan duniamu.

Sebab-sebab terbitnya hadis tersebut terkait dengan seseorang yang sedang mencangkok pohon di sebuah ladang pertanian. Lalu, orang tersebut bertanya kepada Nabi, bagaimana soal-soal yang berkaitan dengan pencangkokan tersebut. Dengan senyum khas yang selalu ditampakkan beliau sembari berkata, bahwa urusan pencangkokan adalah urusan dunia yang mana setiap orang mempunyai kapasitas masing-masing untuk melakukannnya dengan sebaik-baiknya.

Penggambaran peristiwa ini dalam sebuah hadis tidak hanya menjelaskan realitas kehidupan di Madinah, yang pada umumnya adalah petani, dan sebagian lagi pedagang, tetapi juga menyimpan nilai perihal pentingnya kreativitas, terutama dalam urusan dunia. Dan kreativitas ini ditunjukkan oleh para penerus Nabi dalam rangka mencapai tujuan mulia untuk kemaslahatan umat. Para ulama fikih kemudian membuat kaidah yang sangat terkenal, “Dalam urusan ibadah yang berkaitan dengan amal akhirat tidak ada kreativitas. Tetapi dalam urusan sosial di dunia justru diperlukan kreativitas.”

Konteks sosial Madinah telah memberikan banyak pengalaman yang sangat berharga, bahwa Madinah merupakan khazanah peradaban yang sagat berarti bagi kehidupan umat islam dalam konteks modern. Hal ini semakin memperlengkap khazanah yang terdapat di Mekkah, yang mana Ka’bah telah memperkokoh keyakinan umat islam pada monoteisme. Sedangkan Madinah semakin meneguhkan pentingnya amal-amal sosial yang semakin meneguhkan pentingnya amal-amal sosial yang mempererat tali persaudaraan, baik diantara sesama muslim maupun dengan umat-umat yang lain.

Tidak bisa dimungkiri lagi, Madinah adalah kota yang mempunyai keistimewaan. Ada keistimewaan spiritual yang tidak dimiliki kota lainnya, karena Nabi telah meletakkan fondasi keagamaan dan kemasyarakatan di kota ini. Madinah juga mempunyai keistimewaan ilmu, karena ilmu-ilmu keagamaan dirintis di kota ini. Dan yang terakhir, kota ini identik dengan pertanian, terutama kurma. Sambil beribadah, kita juga dapat menikmati nikmatnya ilmu dan kurma.

Sumber:

MADINAH KOTA SUCI, PIAGAM MADINAH, DAN TELADAN MUHAMMAD SAW

Bagi Jamaah Umroh Murah dari Brebes, Pemalang, Tegal, Blora, Semarang, Pekalongan, Jepara, Rembang, Pati, Kudul, Salatiga, Boyolali, silakan bergabung bersama travel umroh kami. In sya Allah amanah dan nyaman bagi jamaah.

Similar Posts:

By |2018-12-18T06:13:13+00:00December 12th, 2018|Madinah|