Islamisasi di Kalimantan

Para sejarawan memiliki perbedaan pendapat terkait sejarah masuknya Islam di Kalimantan. Sebagian berpendapat bahwa proses Islamisasi di Kalimantan terbentuk secara politis pada sekitar abad ke-16, yang kemudian berpengaruh kepada masyarakat luas. Namun, ada indikasi bahwa Islam telah masuk wilayah Kalimantan sebelum abad ke-16, dibuktikan dengan adanya komunitas Muslim di sana. Sedangkan dalam historiografi lokal, disebut bahwa wilayah Kalimantan kedatangan pengaruh Islam melalui para pedakwah yang datang dari beberapa wilayah. Berikut ini sejarah penyebaran Islam di Kalimantan.


Masuknya Islam di Kalimantan Beberapa ahli memperkirakan bahwa wilayah Kalimantan telah berhubungan dengan Muslim Arab pada sekitar abad ke-7. Namun, kala itu hanya terjalin hubungan dagang, karena rute Kalimantan dilewati rute pelayaran Arab-Persia-India-China. Pendapat kedatangan Islam pada abad ke-7 ini dibuktikan dengan adanya hubungan perdagangan pada masa Khalifah Utsman bin Affan (644-654), yang ditulis dalam kitab Nukhbah ad-Dahr. Sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa Islam baru datang ke Kalimantan pada abad ke-13. Hal itu dibuktikan dengan adanya makam di Kerajaan Tanjungpura, Kalimantan Barat, yang nisannya tertulis menggunakan huruf Arab disertai huruf Jawa kuno dan bertahun Saka.
Selain itu, di Desa Negeri Baru Banua Kayong (Ketapang), terdapat beberapa nisan dari abad ke-15 yang terdapat inskripsi Arab dan Jawa Kuno. Di makam tersebut juga diselipkan tulisan ayat Al Quran, membuktikan bahwa Islam telah berkembang di Ketapang atau Tanjungpura pada abad ke-15.
Penyebar Islam di Kalimantan Salah satu tokoh berperan dalam menyebarkan agama Islam di Kalimantan adalah Syeikh Husein, seorang pedakwah dari Jazirah Arab. Syeikh Husein menjadi penyebar Islam di wilayah Sukadana, Kalimantan Barat, pada sekitar akhir abad ke-16 di wilayah yang dipimpin oleh Giri Kesuma atau Panembahan Sorgi (1590-1609). Selain pengaruh Syeikh Husein, Islamisasi di Kalimantan Barat, termasuk wilayah Tanjungpura, dilakukan oleh pedagang dari Jawa dan Brunei Darussalam. Dalam kurun waktu yang sama, wilayah Kalimantan Timur diislamkan oleh Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan. Datuk Ri Bandang sendiri adalah murid dari Sunan Giri, salah satu Wali Songo yang berperan besar terhadap Islamisasi Jawa. Pada abad ke-16, Islam juga masuk di wilayah Kalimantan Selatan. Pembawa agama Islam ke Kalimantan Selatan ini adalah para pedagang bangsa Arab dan para mubaligh dari Jawa.
Salah satu buktinya, berdiri Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan, yang pada periode Majapahit masih bercorak Hindu. Proses islamisasi di Banjar semakin mudah setelah Kerajaan Banjar melakukan hubungan dengan Kerajaan Demak di Jawa Tengah.
Kemudian, dari abad ke-17 hingga abad ke-19, sejumlah ulama Arab berdatangan ke Kalimantan. Beberapa nama yang datang ke Kalimantan adalah Syarif Husein Al-Qadrie dari Hadramaut, yaman, yang datang ke Matan dan Mempawah. Ada juga Sayyid Syarif Idrus bin Abdurrahman al-Idrus dari Hadramaut, yang kemudian menjadi raja Kerajaan Kubu dari 1775 hingga 1795
Proses Islamisasi Proses Islamisasi memerlukan beberapa strategi dan metode, supaya ajarannya bisa diterima dengan baik oleh masyarakat Kalimantan. Salah satunya adalah dengan berdakwah, seperti dilakukan oleh ulama Syarif Karim al-Makhdum, Khatib Dayyan, Syekh Husein (Tok Mangku), Tuan Tunggang Parangan, dan Datuk ri Bandang. Mereka merupakan ulama besar yang berperan penting dalam proses Islamisasi di Kalimantan. Selain melalui dakwah, proses islamisasi juga dapat ditempuh dengan jalur politik. Biasanya, sasarannya adalah raja yang menguasai suatu wilayah. Pengislaman raja dianggap sangat efektif karena akan diikuti oleh rakyatnya dan sekaligus mengubah pemerintahan menjadi bercorak Islam. Beberapa raja di Kalimantan yang berhasil diislamkan adalah Pangeran Samudera (Sultan Suriansyah), Raja Aji Mahkota (Raja Kutai Kertanegara), dan Panembahan Sorgi (Raja Sukadana) yang semuanya terjadi pada abad ke-16. Baca juga: Kerajaan Kutai Kartanegara: Sejarah, Raja-raja, dan Peninggalan Proses Islamisasi juga dapat dilakukan dengan perkawinan. Misalnya dengan menikahi putri-putri dari kerajaan yang belum memeluk Islam.
Contohnya adalah perkawinan putra Sultan Tengah (Raja Serawak dari Brunei) yang bernama Raden Sulaiman dengan Mas Ayu Bungsu (putri dari Ratu Sepudak, penguasa Sambas Hindu). Dari perkawinan itu, terjadi peralihan Sambas dari kerajaan bercorak Hindu-Buddha menjadi kerajaan bercorak Islam. Ketika metode Islamisasi melalui dakwah, politik, dan pernikahan, telah berhasil, perjuangan dilanjutkan dengan jalan pendidikan. Pendidikan sangat penting dalam menanamkan pemahaman dan ajaran Islam kepada masyarakat yang belum memahami Islam secara mendalam. Referensi: Rahmadi. (2020). Membincang Proses Islamisasi di Kawasan Kalimantan dari Berbagai Teori. Banjarmasin: UIN Antasari.

source:https://www.kompas.com/stori/read/2022/03/21/130000979/proses-islamisasi-di-kalimantan?page=4