Katakan Dengan Jilbab Syar’i

Katakan Dengan Jilbab Syar’i

Jilbab syar’i. Cak Nun alias Emha Ainun Najib dalam puisi “Lautan Jilbab”—yang amat panjang itu—menuliskan: “jilbab adalah keberanian ditengah hari-hari sangat menakutkan, jilbab adalah sebuah kejujuran di tengah kelicikan, jilbab adalah kelembutan ditengah kekerasan dan kebrutalan, jilbab adalah kebersahajatan ditengah kemunafikkan, jilbab adalah perlindungan di tengah sergapan-sergapan.”

===================================================

Umroh Murah Desember 2015  Biaya $1.580

Umroh Murah Januari – Maret 2016 Biaya $1.550

Silakan kontak H. SUDJONO AF : 0813 880 97656 | BB 2315A7C3

==================================================================

 

Saat ini kerudung dan jilbab (kain terusan yang lebar, longgar, dan tebal) telah menghiasi sudut-sudut kota, kampus, sekolah, bahkan di pasar-pasar. Bener, dibanding lima belas tahun lalu, jilbab kini sudah marak dikenakan. Maraknya jilbab ini juga secara tidak langsung berdampak baik bagi industri pakaian, lho. Pendek kata, busana muslimah ini udah jadi lahan bisnis baru.

 

Jilbab Syar’i Simbol Identitas

           

Kerudung jilbab Syar'i

Kerudung jilbab Syar’i

Ngomongin soal identitas, berarti kita kudu bicara konsep diri. Nah, apasih konsep diri? Menurut Anita Taylor, “Konsep diri adalah semua yang anda pikirkan dan anda rasakan tentang diri Anda, yang anda pegang teguh.” (Communicating; 1977)

Nah, ngomong-ngomong soal jilbab, memang konsep dirinya juga kudu jelas. Seba, busana, menurut kefgen dan Touchie-Specht, mempunyai fungsi: diferensiasi, perilaku, dan emosi. Dengan busana, membedakan diri (dan kelompoknya) dari orang, kelompok, dan golongan lain. Dalam hal ini, kamu suka nemuin kan ada orang yang suka tampil beda dengan busana dan aksesoris lainnya. Sekelompok remaja putri ada yang berani malu memakai busana tang-topkalo keluar rumah. Sebagian yang lain merasa besar kepala bila keluar rumah dengan parfum yang membuat “klepek-klepek” yang menghirup.

Terus busana juga bisa mengendalikan perilaku, lho. Saat kamu memakai kerudung, maka perilaku kamu nggak bakalan “se-okem” ketika kamu berjins-ria. Ini fakta umum. Apalagi bagi yang udah sempurna berjilbab, nggak bakalan berani berperilaku yang norak, okem, senewen, atau malah urakan dan maksiat.

Lalu, busana juga ternyata bisa berfungsi emosional. Perasaan senang ketika mengenakan jilbab aka lebih hebat lagi ketika berada dalam komunitas cewek berjilbab. Ya, seperti dalam puisinya Cak Nun di awal tulisan ini. Bahkan busana ini akan memberikan dampak perasaan yang tenang dalam hati kita karena merasa udah melaksanakan perintah Allah SWT. Coba deh rasakan bedanya.

Sobat muslimah, jilbab adalah juga simbol identitas. Simbol pembeda antara yang benar dan salah. Memakai busana muslimah sekaligus merupakan simbol mental baja pemakainya. Gimana nggak, dalam kondisi masyarakat yang rusak binti amburadul ini masih ada orang yang berani tampil dan bangga dengan jilbab. Inilah perjuangan mereka melawan hegemoni budaya tak beradab. Dan jilbab menggelorakan emosi: emosi membela Islam, umat, dan dakwahnya. Maka sungguh aneh apabila wanita berjilbab tidak marah kepada Israel, Amerika, dan seutu-sekutunya yang doyan menghancurkan Islam. juga sebaliknya, sungguh tragis ada jilbaber kok sempet-sempetnya histeris nonton Radja dan Ungu manggung. Halah!

 

Jilbab Syar’i Pakaian Takwa

Islam, sebagai agama yang sempurna memperhatikan pula tentang urusan pakaian. Yang indah itu yang bagaimana, yang sesuai syariat itu yang bagaimana. Semua dijelaskan oleh Islam. bicara soal pakaian, Allah Swt, telah mengatur dalam firman-Nya, QS al-A’raf : 26. Yang khususna membahas tentang jilbab, bisa  disimak firman Allah SWT QS al-Ahzab ayat 59. Dan biasanya, muslimah yang udah berjilbab akan mampu mengendalikan dirinya. Ya, sesuai persepsi orang tentang jilbab: “tahu” agama dan tidak norak. Jadi, ketika berjilbab, seorang muslimah itu “dipaksa” untuk mengatur perilakunya: menundukan pandangan dan tidak jelalatan, mempertegas suaranya sehingga tidak disalah-artikanlawan jenisnya, mengatur langkahnya, memilah parfumnya, dan menyeleksi teman gaulnya. Bahkan ia pun terdorong untuk lebih memahami Islam. malah bukan tak mungkin akan menjadi labuhan pertanyaan teman-temannya. Bahkan orang yang berjilbab, kalo jalan dihadapan anak cowok, yang dilewati merasa segan dan nggak berani ngegodain. Tapi kalo remaja putri yang berdandan menor? Wah, para lelaki langsung berkicau ngegodain, “Sorangan wae neng!”

Memang, ada kasus cewek kerudungan (termasuk yang berjilbab) tetap okem; ngegosip, urakan, nyablak. Oke, itu fakta yang harus kita akui. Tapi, bukan mereka harus mencopot jilbabnya gara-gara dianggap mencoreng korps akhwat berjilbab. Nggak. Justru sebaliknya ia kudu memperbaiki perilakunya (termasuk kita ingatkan), agar sesuai dengan pesan Allah SWT dan persepsi orang tentang jilbab. Jadi, katakan dengan jilbab, Non!

Oleh: o. Solihin

Jilbab Syar’i Simbol Identitas, Jilbab Syar’i Pakaian Takwa.

 

Emha-Ainun-Najib-Lautan -Jilbab

Emha-Ainun-Najib-Lautan -Jilbab

Inilah Syair atau puisi Lautan Jilbab karya MH Ainun Najib:

Lautan Jilbab

Para malaikat Allah tak bertelinga, tapi mereka mendengar suara nyanyian beribu-ribu jilbab.
Para malaikat Allah tak memiliki mata, tapi mereka menyaksikan derap langkah beribu jilbab.
Para malaikat Allah tak punya jantung, tapi sanggup mereka rasakan degub kebangkitan jilbab yang seolah berasal dari dasar bumi.
Para malaikat Allah tak memiliki bahasa dan budaya, tapi dari galaksi mereka seakan-akan terdengar suara: Ini tidak main-main! Ini lebih dari sekedar kebangkitan sepotong kain!

Para malaikat Allah seolah sedang  bercakap-cakap di antara mereka
Kebudayaan jilbab itu, bersungguh-sungguhkah mereka?
O, amatilah dengan teliti: ada yang bersungguh-sungguh, ada yang akan bersungguh-sungguh, ada yang tidak bisa tidak bersungguh-sungguh.
Sedemikian pentingkah gerakan jilbab di negeri itu?
O, sama pentingnya dengan kekecutan hati semua kaum yang tersingkir, sama pentingnya dengan keputusasaan kaum gelandangan, sama pentingnya dengan kematian jiwa orang-orang malang yang dijadikan alas kaki sejarah.
Bagaimana mungkin ada kelahiran di bawah injakan kaki Dajjal? Bagaimana mungkin muncul kebangkitan dari rantai belenggu kejahiliyahan?
O, kelahiran sejati justru dari rahim kebobrokan, kebangkitan yang murni justru dari himpitan-himpitan Alamkah yang melahirkan gerakan itu atau manusia?
O, alam dalam diri manusia. Alam tak boleh benar-benar takluk oleh setajam apapun pedang peradaban manusia, alam tak diperkenankan sungguh-sungguh tunduk di bawah kelicikan tuan-tuannya.
Apakah burung-burung Ababil akan menabur dari langit untuk menyerbu para gajah yang durjana?
O, burung-burung Ababil melesat keluar dari kesadaran pikiran, dari dzikir jiwa dan kepalan tangan.
Para malaikat Allah yang jumlahnya tak terhitung, berseliweran melintas-lintas ke berjuta arah di seputar bumi.
Para malaikat Allah yang amat lembut sehingga seperjuta atom tak sanggup menggambarkannya.

Para malaikat Allah yang besarnya tak terkirakan oleh matematika ilmu manusia sehingga seluruh jagat raya ini disangga di telapak tangannya

Tergetar, tergetar sesaat, oleh raungan sukma dari bumi

Para malaikat Allah seolah bergemeremang bersahut-sahutan di antara mereka
Apa yang istimewa dari kain yang dibungkuskan di kepala?
O, hanya ketololan yang menemukan jilbab sekedar sebagai pakaian badan
Lihatlah perlahan-lahan makin banyak manusia yang memakai jilbab, lihatlah kaum lelaki berjilbab, lihatlah rakyat manusia berjilbab, lihatlah ummat-ummat berjilbab, lihatlah siapapun saja yang memerlukan perlindungan, yang memerlukan genggaman keyakinan, yang memerlukan cahaya pedoman, lihatlah mereka semua berjilbab

Adakah jilbab itu semacam tindakan politik, semacam perwujudan agama, atau pola perubahan kebudayaan?

Para malaikat Allah yang bening bagai cermin segala cermin, seolah memantulkan suara-suara:

Jilbab ini lagu sikap kami, tinta keputusan kami,
langkah-langkah dini perjuangan kami
jilbab ini surat keyakinan kami, jalan panjang
belajar kami, proses pencarian kami
jilbab ini percobaan keberanian di tengah
pendidikan ketakutan yang tertata dengan rapi
jilbab ini percikan cahaya dari tengah kegelapan,
alotnya kejujuran di tengah hari-hari dusta
jilbab ini eksperimen kelembutan untuk meladeni
jam-jam brutal dari kehidupan
jilbab ini usaha perlindungan dari
sergapan-sergapan

Dunia entah macam apa, menyergap kami
Sejarah entah ditangan siapa, menjaring kami
Kekuasaan entah dari napsu apa, menyerimpung kami
Kerakusan dengan ludah berbusa-busa, mengotori wajah kami
Langkah kami terhadang, kaki kami terperosok di pagar-pagar jalan protokol peradaban ini
Buku-buku pelajaran memakan kami
Tontonan dan siaran melahap kami
Iklan dan barang jualan menggiring kami
Panggung dan meja-meja birokrasi mengelabui kami
Mesin pembodoh kami sangka bangku sekolah
Ladang-ladang peternakan kami sangka rumah ibadah
Mulut kami terbungkam, mata kami nangis darah
Hidup adalah mendaki pundak orang-orang lain
Hari depan ialah menyuap, disuap, menyuap, disuap
Kalau matahari terbit kami sarapan janji
Kalau matahari mengufuk, kami dikeloni janji
Kalau pagi bangkit, kami ditidurkan
Ketika hari bertiup, kami dininabobokan
Kaum cerdik pandai suntuk mencari permaafan atas segala kebobrokan
Kaum ulama sibuk merakit ayat-ayat keamanan
Para penyair pahlawan berkembang menjadi pengemis
Tidak ada perlindungan bagi kepala kami yang ditaburi virus-virus
Tak ada perlindungan bagi akal pikiran kami yang dibonsai
Tak ada perlindungan bagi hati nurani kami yang dipanggang diatas tungku api congkak kekuasaan
Tungku api kekuasaan yang halus, lembut dan kejam
Tak ada perlindungan bagi iman kami yang dicabik-cabik dengan pisau-pisau beracun
Tak ada perlindungan bagi kuda-kuda kami yang digoyahkan oleh keputusan sepihak yang dipaksakan
Tak ada perlindungan bagi akidah kami yang ditempeli topeng-topeng, yang dirajam, dimanipulir oleh rumusan-rumusan palsu yang memabukkan
Tak ada perlindungan bagi padamnya matahari hak kehendak kami yang diranjau
Maka inilah jilbab. Inilah Jilbab!
Ini FURQAN, pembeda antara HAQ dan BATHIL
Jarak antara keindahan dengan kebusukan
Batas antara baik dan buruk, benar dan salah
Kami menyarungkan keyakinan dikepala kami
Menyarungkan pilihan, keputusan, keberanian dan ISTIQAMAH, dinurani dan jiwaraga kami
Ini jilbab Ilahi Rabbi, jilbab yang mengajarkan ilmu menapak dalam irama
Ilmu untuk tidak tergesa, ilmu tak melompati waktu dan batas realitas
Ilmu bernapas setarikan demi setarikan, selangkah demi selangkah, hikmah demi hikmah rahasia demi rahasia, kemenangan demi kemenangan

Para malaikat Allah yang lembut melebihi kristal, para malaikat Allah yang suaranya tak bisa didengarkan oleh segala macam telinga, berbisik-bisik di antara mereka
Wahai! Anak-anak tiri peradaban! Anak-anak jadah kemajuan dan perkembangan!
Anak-anak yatim sejarah, sedang menghimpun akal sehat
Menabung hati bening, menerobos ke masa depan yang kasat mata
Lautan Jilbab! Lautan Jilbab! Gelombang perjuangan, luka pengembaraan, tak mungkin bisa dihentikan
Wahai! Sunyi telah memulai bicara!

 

https://bulan2712biru.wordpress (dot) com/2010/06/11/syair-lautan-jilbab

 

Similar Posts:

By |2015-10-30T14:10:36+00:00October 30th, 2015|Uncategorized|

Leave A Comment