Keikhlasan ketika Melaksanakan Ibadah Haji

 

Keikhlasan dalam beribadah bukanlah perkara mudah semudah mengucapkannya, namun ia membutuhkan usaha dan kesungguhan untuk mendapatkannya. Yusuf bin Asbath berkata, “Mengikhlaskan niat dari perkara yang merusaknya lebih berat dari ibadah yang kontinyu”. Dan berkata salah seorang ulama salaf, “Sesuatu yang paling berat di dunia adalah keikhlasan, betapa sering aku menjauhkan riya’ dari hatiku namun ia tinggal dengan warna lain”.

Namun bukan berarti ikhlas sesuatu yang mustahil, ia dapat diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh. Ada beberapa cara untuk mendapatkan keikhlasan dalam beribadah, di antaranya:

Mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah Ta’ala. Dengan mengenal Allah melalui nama dan sifat-Nya, akan lahir dalam jiwa seorang hamba pengagungan kepada-Nya dan bahwa Dialah satu-satunya dzat yang patut untuk disembah dengan penuh keikhlasan.

Mengenal hakikat makhluk, bahwasanya mereka adalah ciptaan Allah yang lemah yang tidak pantas untuk disembah dan diharapkan pujiannya.

Berdoa kepada Allah untuk dikaruniakan keikhlasan dalam beribadah, karena hati manusia berada di antara jari-jemari-Nya, Dialah yang menguasai hati manusia dan membolak-baliknya sesuai kehendak-Nya. Mengingat keutamaan ikhlas dan derajatnya yang tinggi di sisi Allah bagi orang-orang yang ikhlas.

Mengingat akibat dari riya’ serta tempat yang rendah lagi hina bagi orang-orang yang riya’ dalam beribadah. Membaca kisah orang-orang shaleh yang ikhlas dalam beribadah untuk memotivasi diri mengikuti jejaknya.

Bersahabat dengan orang-orang ikhlas yang dapat membantu kita mengasah keikhlasan ketika melaksanakan ibadah. Haji yang sarat dengan nilai keikhlasan ini hendaknya menumbuhkan kepekaan dalam diri kita terhadap hal-hal yang merusak amal ibadah kita, saat ini dan sepulang kita dari tanah suci.

Keikhlasan mencukur rambut saat tahalul

Keikhlasan mencukur rambut saat tahalul

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”

Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.

Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

Similar Posts:

By |2017-07-24T08:39:53+00:00April 28th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment