Kemampuan Pergi Haji Bagi Perempuan

Kemampuan pergi haji bagi seorang perempuan. Ada beberapa poin yang mesti diperhatikan oleh perempuan yang hendak mengerjakan ibadah haji ke tanah suci Makkah.

  1. Tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Perempuan yang mempunyai anak kecil yang tidak bisa ditinggal pergi tidak wajib mengerjakan haji. Hukum serupa juga berlaku bagi perempuan yang mempunyai anak kecil yang sakit dan membutuhkan perawatannya, atau anak perempuan yang jika ditinggal pergi makan akan menimbulkan fitnah.
  2. Tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Jika suaminya sedang sakit, dia harus mendampinginya dan tidak meninggalkannya-jika memang tidak ada orang lain yang bisa membantunya. Jika suaminya kesusahan dan tidak memiliki biaya haji untuknya, dia juga tidak wajib mengerjakan haji.
  3. Tanggung jawabnya sebagai seorang anak, yaitu jika salah satu dari kedua orangtuanya sedang sakit dan tidak ada orang lain yang merawatnya.
  4. Tanggung jawabnya sebagai seorang perempuan terhadap dirinya sendiri. Seperti diketahui, perjalanan jauh mempunyai beban tersendiri yang pada umumnya hanya bisa dipikul oleh kaum laki-laki. Bisa dipastikan, kaum perempuan akan menghadapi sejumlah persoalan yang-sesuai dengan kodratnya-tidak bisa mereka atasi sendiri dengan mudah. Oleh sebab itu, mereka wajib didampingi oleh laki-laki ketika menempuh perjalanan haji. Jika tidak ada pendamping maka kewajibannya untuk mengerjakan ibadah haji menjadi gugur. Persoalannya, bagaimana jika terdapat seorang perempuan yang mampu untuk berhaji dan memiliki pendamping yang bisa menemaninya saat melakukan semua manasik, tapi tidak diizinkan oleh suaminya untuk pergi. Apakah dia tetap diperbolehkan pergi haji atau tidak.
Hukum Berangkat Haji Bagi Wanita Tanpa Suami
Hukum Berangkat Haji Bagi Wanita Tanpa Suami

Hukum Pergi Haji Tanpa Izin Suami

Allah Swt telah mewajibkan setiap perempuan agar mematuhi suami. Jika dilarang keluar rumah atau berbicara dengan orang asing, dia wajib mematuhinya sehingga kehidupan rumah tangganya bisa tetap berjalan damai dan tenteram.

Seperti disinggung di awal, pergi haji berarti melakukan perjalanan jauh. Perjalanan jauh sangat sulit ditanggung sendiri oleh perempuan, ditambah lagi dengan kesulitan yang akan dihadapi, masalah keamanan di jalan, selain juga berbagai prosedur yang harus ditempuh untuk itu, seperti mengurus paspor dan visa, membawa barang dan perbekalan, serta mengatur akomodasi. Semua itu tentu tidak mudah untuk dikerjakan sendiri oleh perempuan. Faktor inilah yang menjadi penghalang alamiah (kodrati) bagi perempuan untuk bepergian sendiri, baik dalam rangka hiburan (melancong), bisnis, maupun kuliah keluar negeri. Dalam konteks seperti ini, seorang suami dibenarkan untuk melarang istrinya pergi. Jika tidak mempunyai suami, tanggung jawab atas diri perempuan berada di tangan walinya, seperti kedua orangtua. Yang jelas, perempuan tetaplah perempuan, berapa pun umur dan sepintar apapun dirinya. Dia memiliki fisik yang lemah yang sudah menjadi bawaannya sejak lahir.

READ :  Umroh Haji Mabrur, 7 Langkah Agar Kita Mendapatkan Umroh Haji Mabrur

Kalangan fukaha berbeda pendapat tentang boleh tidaknya seorang suami melarang istrinya agar tidak pergi menunaikan ibadah haji fardhu atau umrah.

Menurut fukaha mazhab Hanafi dan Hanbali, disamping  juga al-Syafi’i (dalam salah satu qaulnya),  al-Nakha’i, dan Ishaq, seorang suami tidak boleh melarang istrinya pergi mengerjakan haji fardhu (haji pertama kali) jika istrinya itu memang sudah memenuhi semua syarat wajib haji. Haji adalah ibadah yang diwajibkan oleh Allah Swt kepada hamba-Nya yang telah mampu dan memenuhi syarat-syaratnya. Ini di satu sisi. Di sisi lain, tidak boleh menaati perintah makhluk untuk berbuat maksiat kepada sang pencipta makhluk. Jadi, melarang seseorang mengerjakan ibadah haji termasuk perbuatan dosa sebagaimana melarang mengerjakan shalat dan puasa.

Atas dasar ini, sang istri diperbolehkan pergi mengerjakan haji meski tanpa izin suaminya. Hanya saja, dia baru boleh pergi jika dirinya sedang tidak dibutuhkan oleh suaminya atau anaknya yang-misalnya-tengah sakit dan butuh perawatan. Dalam keadaan seperti itu, dia tidak boleh pergi dan suaminya berhak melarangnya, meskipun biaya hajinya berasal dari harta pribadinya sendiri. Selain itu, dia baru boleh pergi hanya jika ada seorang mahram yang mendampinginya. Jika tidak ada mahram yang mendampinginya maka kewajiban hajinya menjadi gugur.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa seorang suami akan berdosa jika melarang istrinya pergi mengerjakan ibadah haji fardhu, sementara syarat-syarat haji telah terpenuhi. Demikian dikatakan oleh sebagian besar fukaha. Menurut Ibnu Hazm al-Zhahiri, suami yang berbuat seperti itu sama saja dengan berbuat maksiat kepada Allah Swt.

READ :  Pengertian Haji dan Umrah

Pendapat berbeda dikemukakan oleh al-Syafi’i dalam qaulnya yang lain. Menurutnya, suami boleh melarang istrinya pergi. Pendapat ini dilandasi oleh dua dalil. Pertama, ibadah haji masih bisa dilakukan pada tahun-tahun berikutnya, bukan hanya pada tahun tertentu. Kedua, hadis yang diriwayatkan oleh al-Daruquthni dari Ibnu Umar tentang seorang perempuan yang hendak berhaji dengan harta pribadinya sendiri dan kemudian dilarang oleh suaminya. Rasulullah saw bersabda, “Dia (perempuan) tidak boleh pergi kecuali seizin suaminya.”

Menurut kami (penulis buku ini), seorang istri hendaknya meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya sebelum pergi mengerjakan ibadah haji. Jika memang tidak diizinkan maka dia tetap diperbolehkan pergi dengan beberapa pertimbangan berikut.

  1. Sabda Rasululullah, “Ketaatan itu hanya berlaku pada perbuatan baik” dan “Jika dia (suami) memerintahkan untuk berbuat maksiat maka istri tidak wajib menaatinya.”
  2. Alasan bahwa ibadah haji masih bisa dilakukan pada tahun-tahun berikutnya (tidak dibatasi pada tahun tertentu) itu tidak serta merta membuat wali sang perempuan, seperti suami, saudara laki-laki atau orang tua, bisa melarangnya pergi haji. Pasalnya, kemampuan untuk pergi haji, seperti kesehatan dan biaya, tidak selalu bisa dipenuhi pada setiap tahunnya.
  3. Sabda Rasulullah yang diriwayatkan dari Ibnu Umar dan yang dijadikan dalil oleh Imam al-Syafi’i dalam salah satu qaulnya diatas bukan dalam konteks perlaksanaan haji fardhu (haji pertama kali), melainkan haji sunnah (haji kali kedua dan seterusnya).

Atas dasar tiga pertimbangan ini, kami lebih sepakat dengan pendapat mayoritas fukaha yang menyatakan bahwa seorang suami tidak boleh melarang istrinya pergi mengerjakan haji fardhu, jika memang istrinya sudah memiliki kemampuan untuk itu. Seseorang tidak akan pernah tahu kapan dia akan diberi kemudahan dan nikmat. Oleh karena itu, hendaknya dia tidak menunda-nunda lagi hak Allah Swt.

READ :  Pemberangkatan Jamaah Haji Dari Rumah Hingga Asrama Haji

Haji sunnah dan izin suami

Yang dimaksudkan dengan haji sunnah di sini ialah ibadah haji yang dilakukan oleh seorang perempuan setelah haji pertama (haji fardhu) dan setelah rukun haji yang lima terpenuhi. Dalam hal ini, sang suami berhak melarangnya pergi jika memang menginginkannya. Pandangan ini telah disepakati mayoritas fukaha.

Haji nazar dan izin suami

Yang dimaksud dengan nazar ialah menjalankan ibadah sunnah yang dulu pernah dijanjikannya demi mendekatkan diri kepada Allah Swt. Seperti diketahui, nazar tidak bisa diterapkan pada ibadah-ibadah yang bersifat wajib atau fardhu, tapi pada ibadah-ibadah sunnah. Tapi, ibadah sunnah akan berubah menjadi ibadah wajib ketika sudah dinazarkan. Jika istri telah bernazar akan mengerjakan ibadah haji sunnah-misalnya-maka suami  tidak boleh melarangnya. Alasannya, hukum haji sunnah yang dinazarkan oleh istrinya itu telah berubah menjadi wajib. Hanya saja, sebagian fukaha menyatakan bahwa sang suami tetap berhak melarangnya pergi karena status hajinya itu lebih mendekati haji sunnah.

Menurut kami, sang suami tetap berhak melarang istrinya pergi. Alasannya, kepergiannya yang cukup lama terkadang bisa menimbulkan madarat bagi suami dan anak-anaknya.

Similar Posts:

Bagaimana Seorang Muslim Melakukan Manasik Haji Dan Umrah ? Cara yang terbaik bagi seorang muslim
Kewajiban Haji adalah bagi orang yang mampu. Apa yang dimaksud dengan "mampu" disini? Yang dimaksud
WhatsApp chat