Kisah Nabi Ibrahim AS

Kisah Nabi Ibrahim yang dilahirkan di Babylonia negeri yang terletak di Mesopotamia, sekarang Iraq. Beliau hidup di masa pemerintahan Raja Namrud, seorang raja yang sangat ditakuti oleh rakyatnya dan yang berani mengaku dirinya sebagai Tuhan. Sejak kecil Nabi Ibrahim AS selalu tertarik akan keajaiban-keajaiban alam dan ia yakin hal tersebut diatur oleh Allah Yang Maha Pencipta. Nabi Ibrahim AS yang telah berketetapan hati untuk menyembah Allah Swt dan menjauhi berhala, memohon mukjizat kepada Allah Swt agar kepadanya diperlihatkan kemampuan untuk menghidupkan makhluk yang telah mati.

Ibrahim (bahasa Arab: إبراهيم ) merupakan nabi dalam agama Samawi. Ia bergelar Khalilullah (خلیل اللہ, Kesayangan Allah).[1] Ibrahim bersama anaknya, Ismail, terkenal sebagai para pendiri Baitullah. Ia diangkat menjadi nabi yang diutus kepada kaum Kaldān yang terletak di negeri Ur, yang sekarang dikenal sebagai Iraq. Ibrahim merupakan sosok teladan utama bagi umat Islam dalam berbagai hal. Ibadah Haji dan penyembelihan hewan kurban pada Idul Adha merupakan beberapa perayaan untuk memperingati sikap berbakti Ibrahim terhadap Allah.

Ibrahim termasuk golongan manusia pilihan di sisi Allah, serta termasuk golongan Ulul Azmi. Nama Ibrahim diabadikan sebagai nama sebuah surah, serta disebut sebanyak 69 kali di Al-Qur’an.

4 BURUNG DI 4 BUKIT. Karena tujuannya adalah untuk mempertebal iman dan keyakinan sang Nabi, Allah Swt memenuhi permintaannya tersebut. Atas petunjuk Allah Swt, empat ekor burung dipotong dan tubuhnya yang hancur diaduk jadi satu. Kemudian tubuh burung-burung itu dibagi menjadi empat dan masing-masing bagian diletakkan diatas 4 bukit terdekat yang terpisah satu sama lain. Allah Swt memerintahkan Nabi Ibrahim AS untuk memanggil burung-burung tersebut. Atas kuasanya, burung yang sudah mati dan anggota tubuhnya yang cerai berai satu sama lainnya itu hidup dan terbang kembali. Maka hilanglah segenap keragu-raguan di hati Nabi Ibrahim AS tentang kebesaran Allah Swt.

DIUSIR SANG AYAH. Orang pertama yang mendapat dakwah Nabi Ibrahim AS adalah Azar, ayahnya sendiri yang berprofesi sebagai seorang ahli pembuat patung untuk sesembahan. Azar sangat marah mendengar pernyataan bahwa anaknya tidak mempercayai berhala yang disembahnya. Ibrahim bahkan diusir pergi ketika mengajak sang ayah untuk memasuki kepercayaan baru menyembah Allah Swt. Ibrahim AS merencanakan untuk membuka pikiran dan mata hati kaumnya tentang kesalahan mereka menyembah berhala. Kesempatan itu diperolehnya ketika penduduk Babylonia pergi keluar kota untuk merayakan suatu hari besar selama beberapa hari.

MENGHANCURKAN BERHALA. Ibrahim AS dengan palu godam di tangan memasuki tempat peribadatan yang penuh dengan berhala itu dan dengan sangat berani menghancurkan semua berhala yang ada. Yang tersisa hanya sebuah patung berhala yang paling besar. Dibiarkan utuh sendiri dan ke leher patung itu palu godam yang baru saja digunakan, digantungkan. Ketika pihak kerajaan mengetahui peristiwa itu, Ibrahim segera ditangkap dan diadili. Ibrahim mengatakan bahwa patung yang berkalung palu godam itulah yang melakukan pengrusakan berhala-berhala dan menyarankan para hakim untuk bertanya kepadanya.

DILEMPAR KE API UNGGUN. Hakim yang marah memutuskan Ibrahim AS harus dibakar hidup-hidup atas kelancangannya itu. Sewaktu eksekusi dilaksanakan, Mukjizat dari Allah Swt pun turun, Ibrahim AS selamat karena Allah memerintahkan api menjadi dingin. Sejak kejadian tersebut, sejumlah orang mulai beriman dan tertarik pada dakwah Ibrahim AS, walaupun semuanya mash terasa takut kepada penguasa. Tetapi Raja Namrud dan kroni-kroninya yang tertutup mata hati dan akal pikirannya, masih saja belum percaya, bahkan langkah dakwah Ibrahim AS benar-benar dibatasi oleh Raja Namrud. Karena melihat kesempatan berdakwah yang sangat sempit, Ibrahim AS meninggalkan tanah airnya, menuju Harran, di Palestina yang penduduknya malah menyembah bintang dan dengan tegas menolak dakwah Ibrahim AS. Karena di Palestina tidak berhasil bersama Siti Sarah kemudian hijrah ke Mesir. Di tempat terakhir ini Ibrahim AS berniaga, bertani, dan berternak. Kemajuan usahanya membuat iri penduduk Mesir sehingga beliau pun terusir kembali ke Palestina dan menetap disana.

ISMAIL DAN ISHAK. Setelah bertahun-tahun menikah, pasangan Ibrahim dan Siti Sarah belum juga dikaruniai anak. Untuk memperoleh keturunan, Siti Sarah mendorong suaminya untuk menikahi Siti Hajar, pembantu mereka. Dan perkawinan dengan Siti Hajar ini Ibrahim memperoleh anak pertama: Ismail. Tidak lama setelah lahirnya Ismail, Siti Sarah, sang istri pertama melahirkan pula seorang putra yang diberi nama Ishak.

KHITAN. Sewaktu berusia 90 tahun, datang perintah dari Allah Swt agar Nabi Ibrahim AS mengkhitankan dirinya sendiri, beserta seluruh anggota keluarganya. Putranya Ismail, yang ketika dihitan itu berusia 13 tahun. Perintah ini segera dijalankan Ibrahim AS dan kemudian dijalankan oleh nabi-nabi lainnya termasuk Nabi Muhammad yang bagi penganut Islam sudah merupakan kewajiban yang tidak pernah ditinggalkan. Allah Swt juga memerintahkan Ibrahim AS untuk membangun kembali Ka’bah (Baitullah) yang hancur dan roboh karena banjir besar di zaman Nabi Nuh. Bersama sang anak, Ibrahim membangun kembali Rumah Ibadah tersebut.

Similar Posts:

By |2017-07-28T10:26:43+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment