Kisah Orang Tsaqif Menghadap Rasulullah

 

Kisah Orang Tsaqif Menghadap Rasulullah. Dari Abdullah bin Ummar ia berkata: “Aku pernah duduk-duduk di Masjid Mina bersama Nabi kemudian beliau dihampiri dua orang lelaki. Yang satu dari Anshar dan yang lainnya dari Tsaqif. Keduanya mengucapkan salam kepada Nabi dan berkata: “Wahai Rasulullah! Kami datang kepada Anda hendak menanyakan beberapa hal. Beliau berkata: “Jika mau, aku akan memberitahu kalian tentang pertanyaan yang akan kalian tanyakan padaku. Atau jika kalian menolak, aku pun akan diam.”

Keduanya berkata: “Tidak wahai Rasulullah! Beritahukan kepada kami apa pertanyaan yang bakal kami tanyakan itu.” Kemudian orang Tsaqif ini berkata kepada orang Anshar: “Cepat! Bertanyalah.” Maka orang Anshar itu berkata: “Wahai Rasulullah! Beritahukan kepadaku apa pertanyaan yang bakal aku tanyakan kepada Anda.

Rasulullah menjawab: “Tujuan kedatanganmu kemari untuk menyakan pahala apa yang bakal kamu dapat saat kamu keluar dari rumah untuk mendatangi Baitullah Al-Haram ini, pahala shalat dua rakaat setelah thawaf, pahala sa’i antara Shafa dan Marwah, berwuquf di Arafah petang hari menjelang Maghrib, melempar Jumrah di Mina, juga saat kamu menyembelih dan berthawaf ifadhah?”

Orang Anshar menjawab: “Demi Dzat yang mengutus engkau dengan benar! Sungguh, aku datang untuk menanyakan pertanyaan ini.”

Nabi berkata: “Ketauhilah! Saat kamu keluar rumah karena menuju Baitul Haram, tidaklah untamu meletakkan kaki atau mengangkatnya kecuali Allah telah menulis kebaikan bagimu pada setiap langkah unta tadi dan menghapus darimu segala kesalahan.”

            “Adapun shalat dua rakaat yang kamu kerjakan setelah thawaf, maka pahalanya sama dengan memerdekakan satu hamba sahaya dari keturunan Nabi Ismail.

            “Sedangkan sa’i yang kamu kerjakan antara Shafa dan Marwah, ia berpahala seperti memerdekakan tujuh puluh orang budak.

            “Adapun wuquf yang kamu lakukan di Padang Arafah pada petang hari menjelang Maghrib, ketauhilah, sesungguhnya Allah saat itu turun ke langit dunia! Dia membanggakan kalian didepan para Malaikat. Dia berfirman:

            “Hamba-hambaKu itu, mereka datang kepadaku dengan lusuh dari tempat yang sangat jauh. Mereka datang dari sana hanya mengharap rahmatKu. Jika dosa kalian sebanyak pasir di bumi, sebanyak curahan hujan atau sebanyak buih di laut. Aku pasti mengampuninya. Wahai hamba-hambaKu! Pulanglah kalian dengan dosa yanng terhapuskan. Aku juga mengampuni dosa orang-orang yang kalian mintakan ampunana.”

Kisah Orang Tsaqif Menghadap Rasulullah

            Mengenai melempar Jumrah di Mina, maka bagimu pengampunan dari dosa-dosa besar pada setiap kerikil yang kamu lemparkan. Sedangkan hewan sembelihan yang kamu korbankan, sesungguhnya Allah telah menabung pahalanya buat kamu di sisiNya.

            Adapun pahala yang kamu dapat saat mencukur rambut, sesungguhnya pada setiap helai rambut yang jatuh ada satu kebaikan dan penghapusan dari segala kesalahan.”

            Sedangkan thawafmu di sekeliling Ka’bah yang kamu lakukan setelah mengerjakan ibadah-ibadah tadi, sesungguhnya semua dosamu telah terampuni. Hingga kamu didatangi seorang Malaikat yang meletakkan kedua tangannya di pundakmu sambil berkata,

            “Sekarang beramallah buat masa depan, karena Allah telah mengampuni segala dosamu yang lalu.”

Dalam Hadis lain disebutkan bahwa ada seorang lelaki Anshar yang datang menghadap Nabi. Dia berkata: “Wahai Rasulullah! Ada beberapa pertanyaan yang ingin kutanyakan kepadamu.” Rasulullah berkata: “Kalau begitu, duduklah!”

Kisah Orang Tsaqif Menghadap Rasulullah

Kemudian datanglah seorang lelaki dari Tsaqif, dia berkata: “Wahai Rasulullah! Ada beberapa pertanyaan yang ingin kutanyakan kepadamu!” Rasululllah berkata: “Orang Anshar ini telah mendahuluimu.” Lalu berkatalah orang Anshar itu: “Wahai Rasulullah! Orang Tsaqif ini asing di sini. Dan orang asing mempunyai hak. Biarlah engkau menjawab pertanyaannya terlebih dahulu.

Rasulullah menghadap orang Tsaqif itu dan berkata: “Jika kamu mau, aku akan memberitahukan padamu pertanyaan yang ingin kamu tanyakan. Jika tidak, aku tetap mendengar pertanyaanmu dan kemudian menjawabnya.” Orang Tsaqif berkata: “Wahai Rasulullah! Langsung jawab saja pertanyaanku karena Anda sudah tahu apa yang bakal aku tanyakan.”

Rasulullah berkata: “Tujuan kedatanganmu untuk menanyakan ruku, sujud, shalat dan puasa.” Orang Tsaqif berkata: “Wahai Rasulullah! Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, engkau tidak melenceng sedikitpun dari pertanyaan yang ada didalam diriku.”

Belliau meneruskan: “Jika kamu ruku, letakkan kedua telapak tanganmu di lutut, rentangkan jari-jarimu saat ruku itu. Kemudian berdirilah untuk i’tidal beberapa saat sampai punggungmu benar-benar berdiri. Jika kamu sujud, letakkan baik-baik dahimu di tanah dan jangan mempercepat sujud agar kamu tidak seperti ayam yang sedang mematuk. Dan kerjakanlah shalat di awal pagi dan petang.”

Orang Tsaqif itu bertanya: “Wahai Nabi Allah! Bagaimana jika aku mengerjakan shalat diantara pagi dan petang?” Rasulullah menjawab: “Jika kamu mengerjakannya, maka kamu adalah seorang yang ahli shalat. Jangan lupa berpuasa tiga hari dalam setiap bulan (Hijriyah), yaitu pada tanggal tiga belas, empat belas, dan lima belas.” Setelah pertanyaannya terjawab dengan lengkap, orang Tsaqif itu segera beranjak dari tempatnya. Kemudian Rasulullah menghadap kepada orang Anshar tadi dan bersabda: “Jika kamu mau, aku akan memberitahukan padamu apa yang ingin kamu tanyakan. Jika tidak, maka bertanyalah dan aku akan menjawab pertanyaanmu itu.”

Orang Anshar menjawab: “Tidak, wahai Nabi Allah! Tapi beritahukanlah padaku apa saja pertanyaan yang ingin kutanyakan itu!” Rasulullah menjawab: “Kamu datang kemari ingin menanyakan seseorang yang pergi haji: pahala apa yang didapatnya saat keluar dari rumahnya? Pahala apa yang bakal didapatnya saat wuquf di Padang Arafah? Pahala apa yang bakal didapatnya saat melempar Jumrah di Mina? Pahala apa yang bakal didapatnya saat mencukur habis rambutnya? Dan pahala apa pula yang bakal didapatnya saat selesai mengerjakan thawaf ifadhah?”

Orang itu langsung berkata: “Wahai Nabi Allah! Demi Dzat yang mengutusmu dengan haq, perkataanmu tidak menyalahi sedikitpun dengan apa yang ada dibenakku.”

Nabi meneruskan: “Ketauhilah! Orang haji saat berangkat menuju Makkah tidaklah kaki untanya melangkah kecuali Allah telah menulis baginya satu kebaikan dan menghapus satu kesalahan. Tatkala ia wuquf di Arafah, maka Allah turun kelangit dunia sambil berkata:

(“Wahai para malaikat!) Lihatlah hamba-hambaKu yang kusut dan penuh debu itu, saksikanlah bahwa aku telah mengampuni semua dosa mereka. Meski doa itu sebanyak curahan hujan, atau pasir yang sangat banyak. Kemudian saat melempar Jumrah, tak ada seorangpun yang tahu pahala apa yang bakal didapatnya di hari kiamat. Jika mencukur rambut kepalanya, maka setiap helai rambut yang jatuh, ia pun mendapat cahaya di hari kiamat. Kemudian jika selesai melaksanakan thawaf ifadhah di Baitul Haram, ia pulang seperti bayi yang baru dilahirkan karena seluruh dosanya telah terampuni.”

Inilah Kisah Orang Tsaqif Menghadap Rasulullah.

Similar Posts:

By |2017-07-24T09:14:12+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment