Kisah Penaklukan Kota Makkah atau Fattul Makkah (2)

Kisah Penaklukan Kota Makkah atau Fattul Makkah (2). Ini adalah artikel kelanjutan dari Kisah Penaklukan Kota Makkah atau Fattul Makkah (1). Silakan disimak.

Kisah Penaklukan Kota Makkah atau Fattul Makkah

Kisah Penaklukan Kota Makkah atau Fattul Makkah

Aku langsung memacu kendaraanku, jangan sampai Umar mendahuluiku menuju Rasulullah. Alhamdulillah, saya berhasil mendahuluinya. Aku sampai di sana sebelum dia sampai. Aku langsung turun dari keledai dan terus masuk menemui Rasulullah. Aku segera menemui beliau dan berbicara di telinganya. Sungguh! Malam itu tak ada seorangpun yang membisiki Rasulullah selain aku. Beliau berkata kepadaku: ‘Sekarang biarkan dia bersamamu, besok pagi barulah bawa kemari. Aku kemudian membawanya ke kemah. Keesokan harinya aku langsung membawa Abu Sufyan ke kediaman Rasulullah. Ketika melihatnya, Rasulullah langsung berkata: “Celaka kamu, wahai Abu Sufyan! Belum tahukah kamu bahwa tiada Ilah yang berhak di sembah dengan benar selain Allah?!”

Abu Sufyan menjawab: “Wahai Muhammad! Sungguh kamu adalah orang yang sangat penyantun, sangat mulia dan sangat menjunjung tinggi tali silaturrahmi. Aku yakin, jika memang Allah adalah satu-satunya Tuhan yang tidak ada selainNya, pasti Dia telah mencukupi segala kebutuhanku.” Rasulullah berkata lagi: “Sungguh celaka kamu. Tidak percayakah kamu sampai saat ini bahwa aku adalah Rasulullah?” Abu Sufyan menjawab: “Wahai Muhammad! Kamu adalah seorang mulia, penyantun dan selalu menyambung tali silaturrahmi. Tapi dalam diriku masih ada keraguan.”

Al-Abbas membentak Abu Sufyan: “Wahai Abu Sufyan! Celaka kamu, cepatlah masuk Islam. Bersaksilah bahwa tiada Ilah yang patut di ibadahi dengan benar selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah! Jika tidak, kami akan menebas batang lehermu.”

Abu Sufyan langsung masuk Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Lalu AL-Abbas berbisik kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah! Abu Sufyan adalah seseorang yang suka pujian. Berilah sesuatu padanya yang membuatnya merasa mulia. Rasulullah menjawab: “Baiklah!” Kemudian beliau berkata: “Barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan maka dia telah aman. Barangsiapa menutup pintu rumahnya maka dia telah aman. Dan barangsiapa masuk Masjidil Haram maka dia aman pula.” Kemudian Rasulullah menyuruh Al-Abbas menahan Abu Sufyan di sebuah jalan kecil di lereng gunung agar melihat pasukan kaum muslimin yang lewat di situ. Al-Abbas melaksanakan perintah itu. Ketika sampai di sana, seluruh kabilah Arab melewati jalan itu secara berurutan. Setiap ada kabilah yang lewat, Abu Sufyan bertanya: “Wahai Abbas! Siapakah mereka ini?” Al-Abbas menjawab: “Mereka adalah kabilah Sulaim.” Abu Sufyan bertanya: “Kenapa kabilah Sulaim ikut-ikutan di sini?”

Kemudian datang kabilah yang lain. Ia kembali bertanya: “Wahai Abbas! Kabilah apalagi ini?’ Al-Abbas menjawab: ‘Ini adalah Kabilah Muzainah.’ Ia bertanya: ‘Kenapa Muzainah ada di sini?” Abu Sufyan terus bertanya dan berkata demikian sampai seluruh kabilah habis dan lewat di depannya.

Kemudian lewatlah Rasulullah di hadapannya dengan bala tentara dengan membawa bendera hijau, yang terdiri dari kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka terlihat bagaikan lingkaran besi yang sangat kokoh. Abu Sufyan kembali bertanya: “Subhanallah, wahai Abbas! Siapa gerangan mereka?” Al-Abbas menjawab: ‘Ini adalah pasukan Rasulullah bersama orang Muhajirin dan Anshar.’ Abu Sufyan berkata lagi: ‘Sungguh! Tak ada seorangpun yang bakal mampu menghadapi dan mengalahkan mereka. Wahai Abul Fadhl! Sekarang kekuasaan kerajaan putra saudaramu telah mencapai puncaknya.’ Al-Abbas langsung menjawab: ‘Wahai Abu Sufyan! Ini bukanlah kerajaan, tapi kenabian yang tidak di ragukan lagi.’ Abu Sufyan menimpali “Benarlah kalau begitu.” Al-Abbas berkata lagi: “Sekarang beritahu kaummu akan kedatangan Rasulullah ini, agar mereka berkesempatan untuk menyelamatkan diri.”

Bacar juga Kisah Penaklukan Kota Makkah atau Fattul Makkah (3)

Similar Posts:

By |2017-03-21T04:17:40+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment