Kisah Penaklukan Kota Makkah atau Fattul Makkah (3)

Kisah Penaklukan Kota Makkah atau Fattul Makkah (3). Artikel ini merupakan kelanjutan dari Kisah Penaklukan Kota Makkah atau Fattul Makkah (2). Silakan disimak.

Fattul Makkah atau Penaklukan Kota Mekkah

Fattul Makkah atau Penaklukan Kota Mekkah

Di hari itu yang memegang bendera kaum Anshar adalah Saad bin Ubadah. Ketika ia lewat di depan Abu Sufyan, ia langsung berteriak: “Hari ini adalah peperangan yang dahsyat. Hari inilah Ka’bah menjadi halal, dan di hari inilah Allah menghinakan orang-orang Quraisy.”

Dalam sebuah riwayat Imam Al-Bukhari disebutkan bahwa Abu Sufyan saat mendengar perkataan itu langsung berkata kepada Al-Abbas: “Wahai Abbas! Jika hari ini adalah hari perang seperti yang dikatakan Saad bin Ubadah, maka alangkah mulia jika aku bisa menyelamatkan semua kaum ku.”

Sedangkan dalam riwayat Al-Bukhari yang lain dikatakan bahwa bendera Nabi dibawa oleh Az-Zubair bin Al-Awwam. Ketika Rasulullah lewat di depan Abu Sufyan, ia berkata kepadanya: ‘Wahai Rasulullah. Tahukah kamu apa yang diucapkan Saad?’ Rasulullah bertanya: ‘Apa yang dia katakan?’ Abu Sufyan menjawab: ‘Ia mengatakan bahwa hari ini adalah hari perang yang dahsyat, dan di hari ini pula Ka’bah di halalkan.’ Rasulullah langsung menjawab: ‘Sa’ad berbohong. Tapi hari ini adalah hari ketika Ka’bah sangat di agungkan oleh Allah, dan di hari ini pula Ka’bah akan di beri Kiswah (diselimuti dengan kain hitam).” Al-Abbas berkata: “Kemudian Rasulullah memerintahkan agar pasukan yang memakai benderanya bermarkas di Hujun.

Sedangkan dalam riwayat Ibnu Ishaq di sebutkan, Utsman dan Abdurrahman bin Auf berkata: “Wahai Rasulullah! Kami sangat khawatir jika Saad bin Ubadah di suruh menjadi pemimpin saat menyerang orang-orang Quraisy.’ Rasulullah menjawab: ‘Sesungguhnya hari ini adalah dhari diagungkannya Ka’bah. Di hari ini pula Allah memuliakan orang-orang Quraisy.”

Kemudian Rasulullah mengutus beberapa orang sahabat untuk mengambil bendera dari Saad bin Ubadah dan memberikannya kepada Qais, putranya sendiri. Beliau berbuat demikian agar Saad tidak tersinggung hatinya saat benderanya berpindah ke tangan orang lain. Tapi ketika bendera itu berpindah ke tangan putranya sendiri, maka bendera itu tidak keluar dari kekuasaannya.

Adapun Abu Sufyan, ia terus berjalan menuju Makkah untuk memberitahu kaumnya. Sesampainya di sana ia langsung berteriak sekeras-kerasnya: “Wahai orang-orang Quraisy! Ketahuilah, bahwa Muhammad telah datang kepada kalian dengan pasukan yang tak mungkin kalian kalahkan. Barangsiapa memasuki rumah Abu Sufyan, ia pasti selamat, dan barangsiapa memasuki Masjidil Haram, ia pasti selamat pula.”

Orang-orang Quraisy menjawab: “Sungguh celaka kamu! Apa yang diperbuat rumahmu hingga bisa menyelamatkan kami jika memasukinya?”

Abu Sufyan terus berteriak: “Dan barangsiapa menutup erat pintu rumahnya, maka ia akan merasa aman.” Setelah itu semua orang berpencar. Ada yang masuk kedalam rumah meraka dan ada pula yang berlindung didalam Masjidil Haram.

Rasulullah terus berjalan menuju Makkah. Beliau masuk lewat bagian atasnya dan membangun perkemahan di sana. Kemudian beliau mengutus Zubair bin Awwam bersama para Muhajirin untuk masuk lewat Kida, yaitu daerah di bagian atas kota Makkah. Zubair disuruh menancapkan benderanya di Hujun dan tidak menyerbu dulu sampai Rasulullah mendatangi mereka.

Kemudian Rasulullah mengutus Khalid bin Walid bersama Kabilah Qudha’ah dan Sulaim untuk masuk lewat bagian bawah kota Makkah, serta menancapkan bendera mereka di rumah paling bawah di perkampungan sana.

Adapun Saad bin Ubadah dan putranya sebagai pemimpin pasukan Anshar, maka Rasulullah memerintahkan mereka untuk maju terlebih dahulu, tapi tidak memerangi siapapun selain orang-orang yang menantang dan menyerang mereka.

Khalid bin Walid terus masuk lewat bagian bawah Makkah. Ketika sampai disana ia dihadang oleh Bani Bakr, Bani Al-Harits bin Abdi Manat, beberapa kelompok orang dari Hudzail, serta beberapa orang Ahabisy yang diminta kaum Quraisy untuk membantu mereka. Semuanya menyerang Khalid beserta pasukannya secara bertubi-tubi. Tapi Khalid tak kalah hebatnya dari mereka. Ia menghadapi mereka dengan penuh keberanian.

Akhirnya, orang-orang Musyrikin itu terkalahkan dan tidak berkutik sama sekali. Yang meninggal dari Bani Bakr ada dua puluh orang, dan dari Hudzail ada tiga atau empat orang. Perang terus berkecamuk hingga merembet ke Hazurah, sebuah dataran tinggi di samping pintu Masjidil Haram. Khalid beserta pasukannya berhasil memojokkan mereka sehingga mereka mencari perlindungan dengan memasuki rumah-rumah penduduk, dan sebagian lainnya naik ke puncak gunung untuk menyelamatkan diri.

Abu Sufyan terus berteriak: “Barangsiapa menutup erat pintu rumahnya atau tidak ikut berperang, ia pasti aman.” Kemudian Rasulullah mengawasi tentara kaum muslimin yang ada di sana. Ketika melihat pedang kaum muslimin terhunus, maka beliau langsung bertanya: “Kenapa kalian mengeluarkan pedang? Bukankah aku melarang kalian berperang?!” Mereka menjawab: “Wahai Rasulullah! Kami mengira perang telah diperbolehkan karena Khalid diserang mereka terlebih dahulu. Jadi kami menduga tak ada jalan keluar selain memerangi mereka.”


Informasi Paket Umroh Murah 2018. Hubungi H. SUDJONO AF – 081388097656 WA

Baca juga Kisah Penaklukan Kota Makkah atau Fattul Makkah (4)

Similar Posts:

By |2018-01-12T04:12:31+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment