Kisah Penaklukan Kota Makkah atau Fattul Makkah

 

Kisah Penaklukan Kota Makkah, sering dikenal dengan sebutan Fattul Makkah. Hari besar itu merupakan penaklukan kota Makkah yang agung. Di hari itulah, Allah memuliakan agama, rasul, pasukan dan kota suciNya yang haram. Di hari itu, Allah membebaskan kota dan rumah (bait) Nya yang menjadi petunjuk bagi alam semesta dari cengkeraman orang-orang kafir dan musyrikin.

Itulah hari penaklukan yang membuat seluruh penduduk langit bergembira, sehingga seluruh manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Bumipun tersenyum indah dan wajahnya berseri-seri dengan sinar cerahnya.

Kisah Penaklukan Kota Makkah atau Fattul Makkah yang Agung

 

Fattul Makkah atau Penaklukan Kota MAkkah

Fattul Makkah atau Penaklukan Kota MAkkah  

Dikisahkan, Rasulullah keluar bersama dengan pasukan kaum muslimin dan bala tentara Ar-Rahman pada tahun kedelapan Hijrah, tepatnya di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Saat itu seluruh kaum muslimin bersiap-siap memenuhi panggilan suci ini.

Rasulullah berdoa:

“Ya Allah! Berilah aku berita orang-orang Quraisy dan mata-matailah mereka, agar saya bisa mengalahkan mereka di kotanya.”

Dihari itu, Rasulullah keluar bersama sepuluh ribu pasukan kaum muslimin. Saat itu beliau sedang berpuasa. Tetapi, ketika sampai di Kubaid beliau langsung berbuka dan seluruh kaum muslimin ikur berbuka bersamanya. Kemudian beliau bertemu dengan pamannya yang bernama Abbas. Beliau bertemu di sebuah jalan saat Abbas hendak menuju kota Madinah. Beliau juga bertemu dengan Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muththalib, putra paman beliau. Juga bertemu dengan Abdullah bin Abi Ummayah. Ia adalah putra paman Nabi yang juga saudara iparnya (saudara kandung Ummu Salamah).

Rasulullah terus melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di Marru Adz-Dzahran saat shalat Isya’ tiba, beliau kemudian menyuruh para sahabat untuk menyalahkan lebih dari sepuluh ribu api unggun. Orang-orang Quraisy belum tahu kedatangan Rasulullah ini. Namun mereka sangat ketakutan jika Rasulullah menyerang kota Makkah secara tiba-tiba.

Al-Abbas berkata: “Demi Allah! Esok ini adalah kehancuran yang pasti bagi orang-orang Quraisy. Jika Rasulullah masuk ke kota Makkah dengan paksa dengan mereka tak kunjung meminta ampun atau meminta perlindungan, pasti mereka akan binasa sampai akhir zaman.”

Al-Abbas meneruskan ceritanya: “Kemudian aku mengendarai keledai milik Rasulullah. Aku terus memacunya hingga keluar kota Makkah. Aku terus berjalan hingga tiba di sebuah pohon. Semoga saja aku bertemu seorang pencari kayu bakar, atau penggembala kambing atau siapa saja yang butuh uang untuk masuk kota Makkah dan memberitahu para penduduknya posisi Rasulullah agar mereka meminta perlindungan dan meminta ampun sebelum beliau menyerang kota Makkah dengan paksa.”

Al-Abbas berkata lag: “Demi Allah! Saat itu aku memacu keledaiku menuju Makkah, tiba-tiba aku mendengar percakapan Abu Sufyan dengan Budail bin Warqa’ yang saat itu sedang menuju Makkah pula.

Abu Sufyan berkata: “Aku tidak pernah melihat pasukan dan api unggun yang sangat banyak seperti malam ini.” Kemudian Budail menjawab: “Demi Allah! Ini adalah pasukan Khuza’ah yang siap-siap menyerang kita.’ Abu Sufyan balik berkomentar: ‘Tidak! Khuzu’ah tidak sebesar ini jumlah pasukan dan api unggunnya.” Al-Abbas meneruskan: ‘Aku bisa mengenali suara Abu Sufyan dari perkataannya tadi.’ Aku langsung memanggilnya: ‘Wahai Abu Handzalah!’ Ia juga mengenali suaraku dan bertanya: ‘Apakah engkau Abull Fadhl?’ Aku menjawab: ‘Benar.’ ‘Sedang apa di sini?’ tanyanya lagi kepadaku. Al-Abbas berkata: ‘Aku menjawab: ‘Wahai Abu Sufyan! Pasukan ini adalah Rasulullah beserta seluruh kaum muslimin. Dan besok adalah hari kebinasaan bagi orang-orang Quraisy.”

Abu sufyan bertanya dengan ketakutan: ‘Kalau begitu apa yang harus kita lakukan?’ Abbas menjawab: ‘Jika Muhammad berhasil menangkapmu pasti ia menebas lehermu. Sekarang naiklah bersamaku diatas keledai ini. Aku akan membawamu menghadap Rasulullah dan memintakan perlindungan untukmu.” Akhirnya Abu Sufyan naik di belakangku. Sedangkan kedua sahabatnya telah pergi tak tahu kemana.

Kemudian aku (Al-Abbas) membawa Abu Sufyan menghadap Rasulullah. Setiap kami melewati perapian di tenda kaum muslimin, mereka langsung bertanya, “Siapa orang itu?” Ketika melihat keledai Rasulullah yang sedang aku tunggangi, mereka langsung berkata, “Ini adalah paman Rasulullah yang sedang menunggangi keledai beliau.”

Setelah itu kami melintasi perkemahan milik Umar bin Khattab. Dia bertanya kepadaku: ‘Siapa orang ini?’ Sambil menghampiriku. Setelah itu bahwa orang yang ada di belakang saya adalah Abu Sufyan, dia langsung berkata: ‘Abu Sufyan? Musuh Allah? Wahai Abbas! Segala puji bagi Allah yang memudahkanmu menangkap penjahat besar ini tanpa perjanjian dan kesepakatan. Kemudian ia beranjak menuju kediaman Rasulullah untuk memberitahu bahwa Abu Sufyan telah tertangkap.

Similar Posts:

By |2017-03-21T04:10:00+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment