Kota Suci Makkah Yang Penuh Barokah

 

Kota suci Makkah adalah kota yang penuh keberkahan. Ia dipenuhi dengan berkah karena didalamnya terdapat banyak perkara yang diberkahi, yaitu Baitul Atiq, Zamzam dan Hajar Aswad. Semuanya diberkahi Allah. Rasulullah bersabda:

Ya Allah! Sesungguhnya Ibrahim adalah hamba dari kekasihMu. Ia memohon kepada-Mu keberkahan untuk para penduduk Makkah…” (HR. Ath-Thabrani)

Barakah dalam bahasa Arab mempunyai dua arti: pertama, ‘an-numuw wa az-ziyadah’ berarti berkembang dan bertambah. Kedua, ‘al-baqa wa ad-dawaam’ berarti menetap dan terus menerus tanpa henti. Jadi, kota Makkah diberkahi Allah dalam dua makna berkah seperti diatas. Karena pahala ketaatan didalamnya terus bertambah dan berlipat ganda. Allah berkata:

“Makkah adalah rumah yang pertama kali diistimewakan dengan barokah.”

Siapapun mengharap keberkahan kota Makkah. Ia harus mencarinya lewat ibadah dan manasik-manasik yang disyariatkan Allah, tidak pada lainnya. Sehingga seorang muslim senantiasa mengikuti ajaran Nabi dalam setiap geraknya, sebagaimana yang dikatakan Umar saat hendak mencium Hajar Aswad:

“Saya tahu bahwa kamu hanyalah sebongkah batu yang tidak bisa memberi mudharat ataupun manfaat. Kalau aku tidak melihat Rasulullah menciummu, maka tak bakal aku menciummu.”

Jadi seorang muslim seharusnya tidak mencium, mengambil berkah atau mengusap apapun kecuali dengan hal-hal yang disyariatkan atau diajarkan Nabi. Abdullah bin Umar berkata:

“Saya tak pernah melihat Nabi menyentuh bagian Al-Bait (Ka’bah), selain dua rukun Yamani.” (Muttafaq alaih)

Kota Suci Makkah Yang Penuh Barokah

Dan tidak boleh iltizam (berdiam diri dengan lama) kecuali di Multazam saja. Multazam adalah dinding Ka’bah yang ada diantara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah. Berdiam diri dengan lama di Multazam ini sangat diperbolehkan, karena Rasulullah pernah melakukannya, demikian pula para sahabat. Sedangkan dinding Ka’bah yang lain, juga Masjidil Haram dan tiang-tiangnya, kita dilarang untuk mencium, mengambil berkah ataupun mengusap. Demikian juga dengan Shafa & Marwah, kita tidak boleh melakukan apapun pada keduanya selain hanya sa’i. Adapun Masya’ir (tempat-tempat suci) seperti Mina, Muzdalifah, Arafah, tak ada perintah sedikitpun dari Allah yang menyuruh kita untuk menziarahi, mengusap, mengambil berkah, atau mengerjakan shalat disana.

Sedangkan yang dikerjakan para jamaah haji saat datang ke Makkah, seperti menaiki Jabal (gunung) di Arafah, dan shalat diatasnya, sesungguhnya amalan ini sebuah kebid’ahan yang Rasulullah tidak pernah melakukan atau mengajarkannya kepada kita. Rasulullah tak pernah sekalipun menaiki Jabal Rahman ini. Beliau hanya berhenti di batu-batu besar dibawah gunung kemudian berkata:

“Saya wuquf disini, dan seluruh Padang Arafah adalah tempat melakukan wuquf.”

Amalan lainnya yang tidak benar, seperti naik ke puncak Jabal Nur dan masuk kedalam goa Hira. Padahal naik ke puncak Jabal Nur atau masuk kedalam goa Hira tidak disyariatkan. Tidak ada berkah, dan Rasulullah tidak pernah mengunjungi goa Hira lagi setelah Allah Mengutusnya menjadi Rasul. Memang beliau pernah memasukinya, tapi itu dimasa Jahiliyah, hingga diturunkan wahyu kepada beliau disana.

Amalan lain yang tidak pernah disyariatkan Allah adalah membawa pulang batu-batu yang ada di kota Makkah, Mina, Muzdalifah, atau Arafah, dengan meyakini bahwa batu-batu tersebut membawa berkah bagi yang membawanya. Ini adalah sebuah kebid’ahan dan tidak ada yang melakukannya selain orang-orang Jahiliyah.

Kota Suci Makkah Yang Penuh Barokah

Begitu juga dengan keyakinan sebagian jamaah haji dan para pengunjung kota Makkah bahwa pergi ke beberapa tempat yang katanya Nabi dilahirkan di situ atau ke pekuburan Ma’lah, juga bertawassul dan berdoa di pekuburan tersebut. Semua itu tidak disyariatkan. Diantara perbuatan ini ada yang bid’ah dan ada yang bisa menjerumuskan kita ke jurang kesyirikan. Sungguh, ada diantara mereka yang mengotori kota Makkah yang suci ini dengan berbagai noda syirik. Padahal Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim dan Ismail untuk membersihkan kota ini dari segala macam syirik dan amalan-amalan yang menjurus kepadanya. Allah berfirman:

“Dan telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku dan yang sujud.” (QS. AL-Baqarah: 125)

Seharusnya yang dilakukan setiap muslim saat datang ke Makkah adalah menjaga dan melestarikan kesucian kota tersebut. Bukannya menodainya dengan kesyirikan, kebid’ahan, kemaksiatan, dosa-dosa dan apa saja yang menyebabkan seseorang terjatuh pada jurang kesyirikan. Kita harus tahu bahwa sebuah dosa meski sekecil apapun, jika dilakukan di Makkah maka ia menjadi sangat besar dan siksaannya menjadi berlipat ganda. Bahkan niat untuk mengerjakan suatu perbuatan jahatpun di catat di kota Makkah. Karenanya kita harus berhati-hati ketika berada di Makkah jangan sampai kita mengerjakan dosa apapun. Jika kita dilarang mengagungkan tempat yang tidak disyariatkan untuk diagungkan Makkah yang suci dan Allah tidak mensyariatkan kita untuk mengagungkannya maka pengagungan kepada selain Makkah adalah lebih tidak pantas untuk diagungkan. Tidak boleh mengagungkan dan meyakini berkah terhadap sebuah tempat yang tidak ada dalil tentang keberkahan dan keagungannya.

Kota Suci Makkah Yang Aman dan Penuh Barokah

Similar Posts:

By |2017-07-24T09:20:36+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment