Makna Haji Dalam Pandangan Ali Syari’ati

Makna Haji. Ali Syari’ati adalah sebuah fenomena dalam wacana pemikiran Islam kontemporer. Menurut Robert D. Lee, letak fenomenal Syari’ati, misalnya, dapat dilihat pada lanskap pemikirannya ketika berbenturan dengan pengalaman- pengalaman modern: industrialisasi, kolonialisme, komunisme, konsumerisme, kebebasan seksual, ekspresi, dan sebagainya. Dalam benturan-benturan itu, Syari’ati hadir menawarkan jawaban jitu terhadap pertanyaan sentral: bagaimana kita dapat hidup secara autentik (murni) di tengah-tengah pengalaman modern tadi?

Salah satu karya besar Syari’ati yang memperlihatkan kepeduliannya secara tegas terhadap dilema kehidupan modern adalah Haji: Reflections on its Rituals. Buku ini memang bukan telaah khusus dan murni sosiologis terhadap kisi ritualisme haji. Tetapi, sebagaimana kata M. Dawam Rahardjo, buku Haji ini sangat istimewa.

Diskursus Syari’ati tidak hanya menyentuh makna esoterik rukun demi rukun ibadah haji. Di situ ia berbicara tentang penderitaan, penindasan, dan kesyahidan. Ia juga membangun gagasan tentang pembebasan, kemerdekaan, dan perjuangan. Robert D. Lee, Mencari Islam Autentik: Dari Nalar Puitis Iqbal Hingga Nalar Kritis Arkoun,Terjemah Ahmad Baiquni dari Overcoming Tradition and Modernity: the Search for Islamic Authenticity, (Bandung: Mizan, 2000).

Refleksi Ritual Makna Haji Dalam Pandangan Ali Syari’ati

Dawam Rahardjo, “Kata Pengantar”, dalam Ali Syari’ati, Kritik Islam terhadap Marxisme, (Bandung: Mizan, 1996), tidak berlebihan jika Steven R. Benson dari Hartford, Connecticut (AS) menyebut buku ini sebagai “a mystical handbook for revolutionaries.” Dalam perspektif Benson, Syari’ati adalah seorang Muslim di tengah gemerlap abad modern yang berupaya memberikan respon dengan mengakui keharusan menjadi bagian dari kehidupan modern tanpa harus mengkopi solusi-solusi Barat. Buku Haji ini memperlihatkan bahwa kombinasi mistisisme dengan kesadaran sosial dan kebebasan individual akan menjadikan seorang Muslim mampu secara penuh berpartisipasi dalam dunia modern. Steven R. Benson, ketika meresensi buku Haji karya Ali Syari’ati ini, dengan agak profokatif mengatakan: Inilah buku singkat yang mengagumkan.

Pembaca akan terkagum-kagum pada hampir setiap pergantian halaman, terkadang oleh kedalaman wawasan Syari’ati, terkadang oleh perasaan kesetiaannya yang dalam, terkadang oleh interpretasi simboliknya yang berwatak garang tentang sejarah atau tradisi keagamaan, terkadang hanya oleh kompleksitas hubungan tema-tema yang dia kembangkan di dalam dan di luar satu sama lain, meninggalkan satu image untuk mengembangkan yang lainnya, hanya untuk kembali pada yang pertama dengan corak baru yang memberikan sisi makna lain. Kita boleh tidak setuju dengan Benson. Tetapi suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa refleksi-refleksi Syari’ati dalam buku ini sangat impresif. Seperti diakuinya sendiri, buku ini merupakan risalah kontemplatif yang memuat, Islam dan Perubahan Sosial Menurut Pandangan Ali Syari’ati, Terjemahan M. Sirozi dari “Islam and Social Change in the Writings of ‘Ali Shari’ati: His Haji as a Mystical Handbook for Revolutionaries, dalam Al-Hikmah, Jurnal Studi-Studi Islam, No. 13 (Bandung: Yayasan Muthahhari, April-Juni 1994), pengalaman dan pemahamannya setelah tiga kali menunaikan ibadah haji.

Ali Syari’ati mengatakan: “Jika anda ingin tahu bagaimana cara haji, bacalah buku-buku fiqih. Jika anda ingin memahami makna haji, hargailah kemanusiaan universal. Dan jika anda hanya ingin mengetahui bagaimana saya memahami makna haji, bacalah buku ini. Barangkali membaca buku ini akan mendorong anda memahami haji, atau, setidaknya, dalam merenungkan barang sedikit tentang haji.” A. Ritualisme Haji: Simbol Evolusi Eksistensial Bagaimana Syari’ati memahami haji? Pertanyaan ini sulit dijawab sebelum kita mendiskusikan terlebih dahulu: esensi apakah yang dapat dipahami dari ritual haji?

Refleksi Ritual Makna Haji Dalam Pandangan Ali Syari’ati

Esensi ritual haji adalah evolusi eksistensial manusia menuju Allah. Haji, demikian Syari’ati, adalah drama simbolik dari filsafat penciptaan anak-cucu Adam.Dengan kata lain, ia memuat kandungan objektif dari setiap sesuatu yang relevan dengan filsafat itu: haji sama dengan penciptaan, sama dengan sejarah, dan sama dengan monoteisme. Dalam drama simbolik itu, Allah sebagai sutradara, tema yang diproyeksikan adalah aksi (movement) dengan karakter pelaku: Adam, Ibrahim, Hajar, dan Iblis. Lokasi-lokasi pertunjukannyanya dilakukan di tempat suci: Mesjid Haram, Mas’a, Arafah, Masy’ar dan Mina.

Simbol-simbolnya adalah Ka’bah, Shafa dan Marwa, siang dan malam, terbit dan tenggelamnya matahari, berhala-berhala dan pengorbanan. Pakaian dan ornamennya adalah Ihram, Halq dan Taqshir. Siapa aktornya? “Inilah yang luar biasa,” kata Syari’ati. Aktornya hanya satu: engkau sendiri. Dan engkau pulalah yang memainkan semua peran.

Sebagai Adam, Ibrahim dan sekaligus Hajar. Di situ hanya ada satu “hero”: kemanusiaan. Syari’ati menyebut gelombang haji sebagai sebuah gerakan pulang kepada Allah Yang Maha Mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan. Pulang kepada Allah adalah sebuah gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan dan nilai absolut. Tujuan ibadah haji secara keseluruhan bukanlah sekadar melaksanakannya, tetapi untuk terlibat di dalamnya secara sosiologis yang mendalam sehingga membawa pelaksananya melampaui batas-batas pengalaman sebelumnya: Haji sama seperti alam; gambaran Islam yang utuh-Islam bukanlah “kata- kata” tetapi dalam “aksi”! Ia adalah “simbol.”

Refleksi Ritual Makna Haji Dalam Pandangan Ali Syari’ati

Similar Posts:

By |2017-07-26T07:56:15+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment