Masjid-Masjid Bersejarah di Makkah dan Madinah

Masjid-Masjid Bersejarah di Makkah dan Madinah. Madinah adalah kota masjid. Di setiap sudut madinah terdapat masjid. Istimewanya, setiap masjid yang terdapat di madinah mempunyai nilai historis teologis. Masjid-masjid tersebut mempunyai makna yang sangat mendalam bagi umat islam.

Masjid Quba
Masjid Quba

Inilah beberapa  Masjid Bersejarah di Makkah dan Madinah

  • Masjid Qubba
  • Masjid Qiblatayn
  • Masjid Jumat
  • Masjid Sajadah
  • Masjid Ijabah
  • Masjid Mustarah
  • Masjid Masyrabah Ummu Ibrahim
  • Masjid Syajarah

Diantara masjid-masjid yang bersejarah, baik pada zaman Nabi maupun zaman sahabat setelah Muhammad SAW, antara lain:

Pertama, Masjid Qubba. Masjid ini adalah masjid yang mempunyai sejarah penting dalam islam, karena merupakan masjid yang pertama kali dibangun Nabi saat memasuki Madinah. Ketika Nabi memasuki Madinah, beliau menetap beberapa hari di kampong Qubba. Konon, Nabi tinggal dirumah Kultsum bin Hadam, salah seorang dari Bani Amr bin Awf.

Pada saat itulah, Nabi mempunyai inisiatif untuk membangun masjid sebagai salah satu symbol dari ajaran yang ingin dikembangkan Nabi. Beliau juga melaksanakan shalat di masjid tersebut. Didalam Al Quran, Masjid Qubba disebut sebagai masjid yang dibangun diatas fondasi takwa. Didalam hadis disebutkan, bahwa Nabi kerapkali mendatangi masjid ini pada hari sabtu, baik berjalan kaki maupun menaiki unta. Bahkan, dalam beberapa hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Imam Turmudzi, bahwa melaksanakan shalat di Masjid Qubba pahalanya setara dengan melaksanakan umrah.

Penghargaan yang begitu tinggi terhadap masjid ini dikarenakan Nabi juga memberikan perhatian khusus dengan cara mengunjungi dan melaksanakan shalat didalamnya. Kedatangan Nabi ke Qubba untuk pertama kali dinobatkan sebagai hari pertama tahun hijriah dalam sejarah islam.

Kedua, Masjid Qiblatayn. Masjid ini juga mempunyai nilai historis teologis. Sesuai makna yang dikandung dalam masjid tersebut, yaitu dua kiblat (qiblatayn). Masjid tersebut diberi nama dengan masjid dua kiblat., karena saat Nabi melaksanakan shalat di masjid ini turunlah perintah dari Allah SWT, Maha menghadaplah kamu ke arah Masjidil Haram. Kemudian Nabi menghadap kiblat ke Ka’bah.

Didalam sebuah riwayat disebutkan, pada suatu hari Nabi melaksanakan shalat. Dalam dua rakaat pertama, Nabi menghadap kiblat ke Baitul Maqdis di Jerusalem. Tetapi kemudian turunlah perintah agar menghadap kiblat ke Masjidil Haram di Mekkah, Nabi kemudian mengubah arah kiblat sebagaimana perintah yang terakhir. Sebab itu, masjid ini dikenal dengan Masjid Bani Salmah, karena berada di perkampungan Bani Salmah.

Seperti halnya Masjid Qubba, Masjid Qiblatayn juga mempunyai nilai plus karena Nabi pernah melaksanakan shalat didalamnya. Bukan hanya itu, masjid tersebut adalah masjid yang pertama kali mendapatkan perintah untuk mengubah arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram. Jadi, Masjid Qiblatayn adalah masjid yang pertama kali dijadikan tempat shalat dengan menghadap kiblat ke Masjidil Haram.

Oleh karena itu, masjid ini menjadi salah satu masjid yang paling sering diziarahi oleh umat Islam, terutama jemaah asal Indonesia. Mereka ingin melihat satu-satunya masjid yang pernah digunakan sebagai tempat shalat Nabi dengan menghadap ke dua kiblat sekaligus. Masjid ini juga direnovasi sedemikian rupa, sehingga siapapun yang berziarah ke masjid ini akan merasakan aura yang begitu kuat memancar dari alam, karena Nabi pernah melaksanakan shalat dengan menghadap dua arah kiblat sekaligus.

Ketiga, Masjid Jumat. Masjid ini juga mempunyai muatan historis teologis, karena ditempat inilah Nabi pertama kali melaksanakan shalat jumat. Nabi dalam perjalanan dari Qubba pagi hari. Saat shalat zuhur tiba, Nabi tiba di perkampungan Bani Salim. Kemudian Nabi mengajak kepada para sahabat untuk melaksanakan shalat jumat. Sejak itulah, tempat tersebut diabadikan sebagai Masjid Jumat untuk mengenang shalat jumat.

Shalat jumat bagi setiap muslim mempunyai makna tersendiri, karena shalat ini menjadi pertemuan mingguan yang dilaksanakan secara rutin dan sukarela. Didahului oleh khutbah dan kemudian dilanjutkan dengan shalat berjamaah semakin memperkokoh kesadaran setiap muslim terhadap ajaran islam dan pentingnya solidaritas diantara mereka. Salah satu ciri khas dari shalat jumat ini adalah pengukuhan atas ketauhidan dan kerasulan Nabi. Disamping itu juga terdapat pesan pentingnya meningkatkan takwa kepada Allah SWT sebagai wujud dari komitmen yang kuat untuk melaksanakan perintah-Nya serta meninggalkan larangan-Nya.

Keempat, Masjid Sajadah. Masjid ini mempunyai muatan historis teologis yang cukup menarik, karena Nabi pernah bersujud di tempat ini. Sujud yang dilkitakan Nabi lumayan lama, sehingga para sahabat yang melihat kejadian tersebut khawatir jika terjadi sesuatu pada beliau. Setelah terbangun dari sujud, Nabi menyampaikan bahwa Jibril baru saja mendatanginya sambil membawa pesa, Sesungguhnya Allah SWT berfirman, barangsiapa bershalawat kepadamu, maka Kita juga akan bershalawat. Dan barangsiapa mengirimkan salam perdamaian, maka Kita juga akan mengirimkan salam. Kemudian Nabi bersujud kepada Allah SWT sebagai tanda syukur.

Masjid tersebut juga dikenal dengan Masjid Syukur sebagai manifestasi tanda syukur kepada Allah SWT atas segala penghargaan dan kemurahan yang telah dikaruniakan kepada beliau. Apa yang dilkitakan Nabi ditempat tersebut dapat menjadi amalan yang secara rutin dapat juga dipraktikkan agar kita dapat mensyukuri setiap anugerah yang diberikan Tuhan sekecil apapun anugerah tersebut.

Sekarang, masjid tersebut dikenal dengan nama Masjid Abu Dzal al-Ghifari. Bagi siapa pun yang berkesempatan berziarah ke Madinah, dan mempunyai waktu luang untuk mengunjunginya, sejatinya dapat bertandang walau hanya sesaat ke tempat yang memiliki muatan historis teologis tersebut.

Kelima, Masjid Ijabah. Masjid ini juga diantara masjid yang mempunyai sejarah yang unik. Sesuai dengan namanya, Ijabah, yaitu jawaban, maka masjid ini diidentikkan dengan tempat yang langsung mendapat jawaban dari Tuhan, khususnya bagi Nabi yang berdoa di tempat tersebut. Dikisahkan, bahwa Nabi berdoa dan memohon tiga hal. Dua hal dijawab oleh Tuhan, dan satu hal tidak dijawab. Dua hal tersebut agar umatnya tidak dibinasakan oleh sunnah-Nya, dan mereka tidak terjerumus dalam kubangan kehancuran. Sedangkan satu hal yang tidak dijawab yaitu agar umatnya tidak bersedih.

Masjid tersebut juga dikenal dengan Masjid Mu’awiyah, karena lokasinya berada di perkampungan Bani Mu’awiyah. Tetapi orang-orang Madinah mengenalnya sebagai Masjid Ijabah, merujuk  pada latar historis masjid tersebut. Harapannya, tatkala berdoa di masjid ini permohonan kita akan dikabulkan oleh Allah SWT, sebagaimana Nabi juga dikabulkan doanya.

Keenam, Masjid Mustarah. Masjid ini mempunyai muatan historis teologis juga. Sesuai dengan namanya, yaitu al-mustarah. Tempat peristirahatan. Konon, Nabi pernah beristirahat di tempat tersebut setelah pulang dari perang uhud. Salah satu perang yang disebut-sebut dalam sejarah sebagai perang yang penuh dengan suka dan duka, karena kemenangan yang sudah berada didepan mata harus berakhir dengan duka, karena sebagian dari para sahabat tidak mematuhi perintah dan strategi yang digariskan Nabi.

Masjid tersebut juga dikenal dengan masjid Bani Haritsah, karena terletak di perkampungan Bani Haritsah. Tetapi, karena Nabi pernah beristirahat di tempat tersebut, maka nama masjid Mustarah lebih popular, terutama dalam rangka mengenang pengalaman dan perjalanan kepemimpinan Nabi selama di Madinah. Disamping itu, peristiwa perang uhud menjadi pelajaran yang sangat berharga agar setiap muslim mengikuti ajaran Nabi, karena didalamnya terdapat strategi dan pesan yang mulia.

Muhammad SAW dikabarkan juga melaksanakan shalat di masjid tersebut. Masjid ini juga dikabarkan menjadi salah satu saksi sejarah perubahan arah kiblat ke Ka’bah. Setelah pada shalat zuhur, Nabi mendapatkan perintah untuk menghadap kiblat ke Ka’bah, maka pada shalat ashar beberapa masjid di Madinah langsung menghadap kiblat ke Ka’bah. Diantaranya yaitu masjid 

Didalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan,  Agama yang paling disukai Allah SWT adalah  agama yang mengajarkan kebenaran dan toleransi  (HR. Ibnu Abi Syaybah dan Bukhari).

Nabawi dan Masjid Mustarah. Kabar tentang perubahan arah kiblat langsung tersiar ke seantero Madinah, diantara ke perkampungan Bani Haritsah.

Ketujuh, Masjid Masyrabah Ummu Ibrahim. Masjid ini juga mempunyai nilai historis yang identik dengan Nabi, karena putra Nabi, yaitu Ibrahim lahir di tempat tersebut. Salah satu istri Nabi yang berasal dari budak Kristen koptik, yaitu Maria Qibthia. Nabi pernah tinggal bersama istrinya di tempat ini, dan lahirlah seorang putra yang amat dicintainya: Ibrahim.

Masyrabah adalah taman yang subur, tumbuh diatasnya tanaman dan bunga. Ada beberapa riwayat yang menyebutkan, bahwa maria qibthia tinggal bersama Nabi ditempat ini, karena istri-istri Nabi yang lain, khususnya Hafshah cemburu dengan kedatangan Maria. Kemudian Nabi mengajak Maria untuk menempati taman, yang dikenal dengan taman ummu Ibrahim.

Kedelapan, Masjid Syajarah. Masjid ini juga mempunyai muatan historis teologis dengan Nabi. Ketika Nabi ingin melkitakan perjalanan ke Mekkah, beliau melaksanakan shalat di tempat ini. Sebab itu, masjid ini dijadikan sebagai tempat pemberangkatan bagi mereka yang hendak melaksanakan umrah dan haji. Bagi mereka yang memasuki Mekkah dari arah Madinah, maka mereka memulai ihram dari tempat ini.

Masjid Syajarah adalah masjid pohon. Dulu, ditempat tersebut terdapat pohon yang selalu dijadikan sebagai tanda tempat Nabi melaksanakan shalat. Sekarang, pohon tersebut sudah diganti sebagai pilar masjid. Masjid tersebut juga dikenal dengan nama Masjid Dzul Hulaifah, karena berada di perkampungan Dzul Hulaifah, yang merupakan tempat miqat bagi umat islam yang hendak melaksanakan umrah dan haji.

Selain kedelapan masjid tersebut, masih terdapat masjid-masjid lainnya. Antara lain:

  • Masjid Bani Anif,
  • Masjid Bani Haram,
  • Masjid Bani Dinar,
  • Masjid Bani Dhafar,
  • Masjid Saad bin Khaytsumah,
  • Masjid Sabaq,
  • Masjid Suqya,
  • Masjid Syaykhayn,
  • Masjid Utban bin Malik,
  • Masjid Ashabah,
  • Masjid Fatah,
  • Masjid Mushalla, dan lain-lain.

Masjid-masjid tersebut pernah dikunjungi Nabi dan beliau melaksanakan shalat ditempat tersebut. Tidak hanya itu, masjid-masjid tersebut terkait dengan rekam jejak perjuangan Nabi di Madinah, terutama dalam rangka membela dan melindungi diri dari provokasi lawan-lawannya, khususnya kalangan pagan quraysh dan yahudi, yang tidak senang dengan keberadaan Nabi.

Banyaknya masjid yang dibangun di Madinah juga terkait dengan pentingnya masjid sebagai pusat pembinaan umat, sehingga diantara umat islam terdapat hubungan batin yang kuat. Disamping itu, masjid-masjid tersebut untuk memudahkan umat islam melkitakan ibadah tanpa harus darang ke masjid Nabi dijantung kota Madinah.

Disamping itu, terdapat masjid-masjid yang identik dengan para sahabat Nabi, diantaranya:

  • Masjid Salman al-Farisi,
  • Masjid Ali bin Abu Thalib,
  • Masjid Abu Bakar ash-Shiddiq,
  • Masjid Umar bin Khattab,
  • Masjid Utsman bin Affan,
  • Masjid Bilal,
  • Masjid Sa’ad bin Mu’adz dan lain-lain.

Mereka adalah penerus tonggak kepemimpinan Nabi. Kehidupan mereka di Madinah diabadikan dengan menjadikan tempat-tempat yang berkaitan dengan mereka sebagai masjid, sehingga umat islam dapat mengenang jasa kebaikan mereka.

Masjid-masjid tersebut sekarang masih diabadikan dengan sangat baik oleh dinasti arab Saudi. Konon, masjid-masjid tersebut mendapatkan perhatian dari dinasti islam, khususnya dinasti umayyah pada masa Umar bin Abdul Aziz hingga dinasti Arab Saudi modern dengan melkitakan renovasi dan perluasan.

Dari gambaran tersebut Madinah merupakan kota yang identik dengan spiritualitas. Masjid telah berperan dalam meredam konflik antarsuku. Padahal, bangsa Arab adalah bangsa yang identik dengan konflik, baik konflik internal suku mereka maupun konflik dengan kalangan eksternal. Tetapi, Madinah merupakan sebuah afirmasi yang mencerminkan sebuah spiritualitas transformatif. Yaitu spiritualitas yang mampu membangun kebersamaan dan solidaritas sosial.

Masjid merupakan jantung dari peradaban Madinah. Dan jantung dari semua masjid itu adalah Masjid Nabawi. Dari masjid inilah ajaran Nabi disebarkan, kemudian ditransformasikan kepada suku-suku dan kelompok yang berada di seantero kota Madinah. Lalu disebarkan melalui masjid-masjid di pelosok Jazirah Arab hingga menembus batas-batas kebangsaan yang mulanya tidak mengenal islam. Masjid merupakan medium yang sangat tepat dan jitu untuk menanamkan nilai-nilai keislaman yang memperkokoh kebangsaan dan kedamaian global.

Similar Posts:

Artikel Sedang Trending
“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu
Ayo Bisnis Umroh. Cara Mudah Membangun Bisnis Travel Umroh Murah “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah)
Dalam pengertian umum ibadah tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali, dimana tiga putaran pertama