Mencapai Haji Berdimensi Sosial

Mencapai Haji Berdimensi Sosial

Oleh nurwahid al majid

…mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah. Barang siapa mengingkari 9kewajiban haji), maka sesungguhnya allah maha kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” [Qs Ali-Imran [3]: 97].

Kita semua tahu, haji adalah rukun islam kelima. Ada alasan kuat mengapa dalam rukun islam, haji ditempatkan peringkat lima, bukan keempat, ketiga, kedua, atau pertama. Alasan ini adalah priotas semata bagi kaum muslim. Seseorang yang ingin naik haji, berarti harus memenuhi rukun-rukun sebelumnya. Jika syahadat, shalat, zakat, dan puasa sudah terpenuhi, berarti ibadah hajilah penyempurna rukun islam.

=======================================================================

INFO PAKET UMROH MURAH MULAI $1550

BERANGKAT DESEMBER 2016, JANUARI-MEI 2017

UMROH BACKPACKER MULAI $1250

HUBUNGI H.SUDJONO AF – 081388097656 – WA

========================================================================

Jadi, orang yang tidak bersyahadat, jarang shalat, tidak pernah berzakat, dan jarang berpuasa ramadhan, janganlah coba-coba naik haji meski punya harta berlimpah. Walau dalam surat Al-Imran ayat 97 disebutkan orang yang sanggup waib mengadakan perjalanan haji. Bukan berarti sanggup hanya sebatas memiliki ongkos naik haji semata, melainkan sanggup menyerahkan diri dengan akhlak terpuji. Bukankan tujuan ajaran islam intinya agar manusia bisa menjadi makhluk ciptaan yang berbudi pekerti?

Jika kita analogikan secara nalar dengan makhluk lainnya, mungkin tumbuhan, binatang, bahkan sebagian jin, berzikir kepada Allah dengan cara masing-masing. Mungkin mereka sujud kepada Allah dengan caranya sendiri-sendiri. Mungkin mereka tolong menolong dan memberikan makan pada orang yang dicintainya mungkin juga mereka menahan lapar untuk mengondisikan kekebalan tubuhnya.

Masjidil Haram

Masjidil Haram

Tapi pernahkan kita membayangkan mereka berada di masjidil haram untuk menunaikan haji? Inilah yang membedakan haji dengan pengungkapan spiritual lainnya. Hanya manusialah yang bisa memberikan ciri pada makna haji.

Karena haji penyempurna seorang muslim dalam menjalankan rukun islam, kewajiban dasar untuk mencapai kemabrurannya justru bukanlah kesiapan ongkos berangkat dan kesiapan pengetahuan akan rukun-rukun haji. Kewajiban dasar yang terkadang terlupakan adalah berbudi pekerti pada lingkungan sosialnya. Sebagai contoh, seseorang yang sudah siap naik haji baik fisik dan mental, ternyata dia melupakan hubungan social dengan orang disekitarnya atau malah belum meminta maaf pada orang yang disakitinya, itu bisa mengurangi nilai kemabruran haji.

Makanya, bagi orang-orang yang siap berhaji, biasanya menyempatkan waktu untuk bersilaturahmi dengan sesama sebagai wujud kesiapan akhlak menuju rumah Allah. Selain itu, menjelang keberangkatan, mereka menyisishkan hartanya untuk berzakat, infaq, atau sedekah. Dengan persiapan seperti ini, mereka yakin ibadah haji yang dijalankannya mendapat ridha Allah swt.

Sepulangg berhaji, prilaku social ini kembali berlanjut sampai akhir hayatnya. Siapapun yang sudah menyandang haji dengan tetap menjalankan prilaku muamalah, itu sama artinya dia bisa melestarikan kehajiannya. Jadi sebenarnya agar seseorang menyandang gelar haji sejati, tandanya dia bisa behasil menunaikan haji tidak hanya berdimensi ibadah ritual (mahdah), tetapi juga ibadah social (muamalah).

Dalam kitab Alhukumah Al-Islamiyah (Ayatollah Khomaeni), perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan social adalah satu berbanding seratus. Satu untuk ayat ibadah, ada seratus ayat muamalah. Ini artinya, umat muslim seyogyanya lebih banyak bersinggungan dengan kehidupansosial ketimbang kehidupan personal. Ini bukan berarti ibadah ritual ditinggalkan, justru malah melekat dengan kehidupan social, termasuk dalam urusan ibadah haji.

Maka, untuk mencapai kemabruran haji yang lebih berdimensi social, para calon atau yang sudah naik haji tetap melestarikan akhlakul karimah dengan memusatkan perhatian pada masalah-masalah umat, terutama dalam konteks social. Sebab masalah umat dalah takkan terpisahkan dari tanggung jawab muslim secara personal. Masalah umat adalah akumulasi dari renik-renik persoalan individual dan kelompok social, terutama yang sering terjadi di kalangan kaum dhuafa. Karena itulah peran haji sangat diharapkan untuk melibatkan diri.

Di Indonesia, hal ini sebenarnya sudah lama berjalan lewat ikatan persaudaraan haji Indonesia (IPHI). Organisasi ini sudah berhasil memberikan sumbangsih yang berarti bagi persoalan umat.  Dilihat sekilas dari maknanya, mungkin ada orang beranggapan bahwa IPHI hanyalah perkumpulan untuk sekedar “kangen-kangenan” para haji dalam suatu wadah, yang sifatnya eksklusif dan lebih berdimensi personal, karena menyandang label haji sebagai ibadah ritual.

Padahal kenyataannya tidak demikian. IPHI justru mengakomodasi dan bahkan sudah melakukan tindakan social yang nyata untuk kepentigan umat, misalnya membangun rumah sakit, panti asuhan, menyelenggarakan khitanan misal, dan kegiatan social lainnya. Tak berlebihan jika dikatakan, IPHI adalah salah satu wujud nyata pembangun kemambruran haji yang sesungguhnya.

Sumber: Media Referensi Haji dan Umrah Indonesia, Thawaf Magazine.

Similar Posts:

By |2016-12-19T10:22:43+00:00December 19th, 2016|Uncategorized|