Muzdalifah Hamparan Tanah tak Beratap Apapun

Muzdalifah, dalam paket city tour yang diselenggarakan KBIH atau travel umroh, di antara tempat yang kerap dikunjungi adalah Muzdalifah. Daerah yang letaknya lebih kurang 15 km dari Masjidil Haram ini sejatinya tak memiliki keistimewaan untuk dikunjungi. Hanya saja karena tempat ini disinggahi para jamaah dalam prosesi haji, maka para peziarah tertarik untuk mengetahuinya.

================================================================================

INFO PAKET UMROH MURAH MULAI Rp20 Juta

BERANGKAT DESEMBER 2018 – 2019 – 2020

UMROH BACKPACKER MULAI $1250

HUBUNGI:  H.SUDJONO AF – 081388097656 – WA

================================================================================

Berbeda dengan Arafah yang berpohon rindang dan pada musim haji didirikan tenda-tenda sementara. Muzdalifah hanyalah hamparan tanah tak beratapkan apapun, kecuali langit yang benar-benar menjadi atap bagi bumi. Di sinilah jamaah haji menginap untuk satu malam ditanggal 9 dzulhijah, malam hari. Sebuah masjid besar juga didirikan di Muzdalifah, dikenal dengan Maasjid Masy’aril Haram.

Bermalam Di Muzdalifah
Bermalam Di Muzdalifah

Tidak jauh dari Muzdalifah mengarah ke Mina terdapat sebuah lembah, dikenal dengan Wadi Muhasir. Para ulama menjelaskan disinilah pasukan Abrahah yang datang dari arah Yaman dengan pasukan bergajah dijadikan bingung oleh Allah. Ia yang sejatinya sangat mengenal kota Mekah, atas kekuasaan Allah menjadi bingung seolah tidak mengenal dimana arah Ka’bah sehingga diutuslah burung ababil untuk menghancurkannya. Wadi Muhasir ini juga dikenal sebagai kampong setan, karenanya ketika  melewatinya kita disunnahkan untuk mempercepat langkah.

Yang agak menarik dari Muzdalifah adalah sebuah dinding yang membentang layaknya benteng dalam sebuah kerajaan. Dibalik dinding dialirkan air dari gunung kura (kini lebih dikenal sebagai Ain Zubaidah, atau Mata air Zubaidah) hingga kearah Arafah. Dinding ini dahulu dibangun oleh seorang wanita bernama zubaidah, istri raja Harun al-Rasyid. Dahulu proyek pengairan ini dibangun untuk mencukupi kebutuhan air bagi jamaah haji selama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina hingga ke daerah Syisyah.

Mina Kota Sejuta Tenda

Jika anda melihat dari peta satelit, Mina adalah sebuah daerah dengan warna putih terbentang luas. Warna putih ini terbentuk dari ratusan ribu tenda permanen yang terbentang di dataran Mina.

Kehebatan penyelenggaraan ibadah haji sering tergambarkan dari baiknya pelayanan jamaah selama di Mina. Tak heran jika tidak sedikit orang mengatakan jika Mina adalah kota yang hidup hanya 5 hari dalam setahun, namun pada waktu itu tidak kurang dari 3 juta jiwa tercukupi segala kebutuhannya. Subhanallah.

Tenda Di Mina
Tenda Di Mina

Jangan bayangkan 4 hari tinggal di Mina adalah seperti berkemah pada saat berlatih pramuka. Karena ketika itu anda akan mendapatkan tenda dengan fasilitas ac, listrik, toilet dengan air yang cukup dan pembuangan limbah yang terjaga.

Kebutuhan makanan tak perlu dicemaskan. Selain setiap jamaah akan mendapatkan makanan dan memadahi, warung dan kedai pun berjajar di sepanjang jalanan mina.

Diantara keutamaan tinggal di Mina adalah ketika kita dapat singgah di sebuah masjid besar yang terletak di dekat jamarat (tempat melempar jumrah). Inilah Masjid Khaif, tempat dimana tujuh puluh nabi pernah singgah untuk shalat di dalamnya.

Ketika anda berada di kawasan Mina, selain melihat ratusan ribu tenda yang belajar rapi dengan fasilitas yang sangat memadai, masjid Khaif yang megah, anda pun akan disuguhi pemandangan jamarat yang berdiri kokoh bak stadion sepak bola.

Di Mina, tepatnya di balik Jamarat anda juga bisa mendapati sebuah masjid kecil yang kini kerap dikatakan sebagai Masjid Aqabah. Masjid ini dahulu dibangun oleh khalifah Al-abbasi, Abu Ja’far Al Manshur di tahun 144 H sebagai penanda tempat diselenggarakan Baiqat Aqabah ke-2.

Namun karena kurang terawat, masjid ini tertimbun pasir yang mengeras menjadi batu dan menggunung selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Hingga pada tahun 2006 lalu ketika bangunan jamarat diperluas, masjid ini ditemukan kembali.

Sumber: Buku ”Menjadi Muthawif Anda di Tanah Suci”

 

 

Similar Posts: