Nabi Ibrahim Bapak Para Nabi

Nabi Ibrahim Bapak Para Nabi. Ketika Baitul Haram disebut di telinga kita, kita langsung teringat kepada Nabi Ibrahim, bapak para Nabi. Bagaimana saat beliau membangun Ka’bah, saat mendoakan keberkahan bagi orang-orang yang menempatinya, dan bagaimana pula perintah Allah kepada beliau agar mengajak para manusia berhaji kesana? Allah berfirman:

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau dengan mengendarai unta kurus, yang datang dari segenap penjuru yang sangat jauh.” (QS. Al-Hajj: 27)

Kota Makkah beserta gunung-gunung, lembah-lembah, jengkal-jengkal daerahnya yang suci, senantiasa mengingatkan kita kepada Nabi Ibrahim. Dialah Imam para hanif yang muwahhid. Dia senantiasa menolak dan membebaskan diri dari kesyirikan, juga selalu mengajak para manusia untuk beribadah kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.

Nabi Ibrahim Bapak Para Nabi

Dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah bersabda:

“Ketika Nabi Ibrahim sang khalil memulai manasiknya, tiba-tiba setan muncul di Jamrah Aqabah. Beliau langsung melemparinya dengan tujuh batu, sampai setan terjatuh di tanah. Kemudian setan muncul lagi di Jamrah kedua, beliau kembali melemparinya dengan tujuh batu, hingga ia jatuh terjerembab. Kemudian setan muncul lagi pada Jamrah ketiga, dan Nabi Ibrahim juga melemparinya dengan tujuh batu hingga ia terbenam di tanah.”

Kemudian Abdullah bin Abbas, berkata:

“Sesungguhnya kalian melempar setan, itulah millah Ibrahim yang kalian ikuti.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dan dishahihkan oleh Al-Albani)

Wahai jamaah haji! Pernahkah kita yang melempar Jumrah merenungkan, bahwa kita harus menolak setan dan berbagai tipu dayanya? Kita harus menentang segala bisikan dan rayuan gombalnya. Juga harus waspada dari segala tipuannya!

Apa gunanya kita melempar jumrah sambil meyakini setan telah kita lempar, tetapi kita masih tunduk patuh terhadap perintah dan perbuatannya?! Apa gunanya kita melempar jumrah dengan keras, tetapi seluruh ajakan setan terus kita turuti begitu saja?!

Wahai orang yang datang di kota Makkah! Bebaskanlah diri anda dari perbudakan setan. Sekarang anda berada didalam kota Allah yang disucikan dan penuh berkah.

“Sungguh! Orang cerdik adalah orang yang bisa mengambil pelajaran saat melempar jumrah di Mina. Yaitu, ketika berhubungan dengan setiap setan yang ada di dunia baik setan jin maupun manusia dengan melemparinya secara maknawi, tidak sekadar melemparkan batu kecil yang tak ada maknanya.

“Orang cerdik itulah yang mengerti betul tentang berbagai ajaran yang dituntunkan Nabi Ibrahim kepada umatnya. Inti ajaran itu adalah selain melemparkan batu kepada setan jin dan manusia yang berusaha menahan manusia dari jalan Allah, yang suka memfitnah manusia agar menjauhi agama Allah, serta menyibukkannya dari berdzikir kepada Allah. Mereka melempar setan-setan tersebut dengan membenci dan menolak segala bisikan serta tipu dayanya. Inilah yang dinamakan dengan rajam (lemparan) maknawi.”

Nabi Ibrahim Bapak Para Nabi

Seorang muslim harus tahu bahwa setiap manasik haji dan umrah yang ia lakukan akan selalu mengingatkannya bahwa ia tidak boleh mengagungkan apapun kecuali yang diagungkan Allah, seperti Baitul Haram dan Hajar Aswad. Juga mengingatkannya bahwa tidak ada sesuatupun yang mendatangkan berkah kecuali yang memang dijadikanNya penuh berkah, seperti air zamzam. Dia juga harus merasa bahwa dirinya adalah hamba Allah, yaitu makhluk sangat hina yang harus beribadah hanya kepada Allah, tidak kepada lainNya. Ia harus mengikhlaskan doa dan segala amalan hanya kepada Allah. Sehingga saat wuquf di Arafah atau saat menginap di Muzdalifah, ia mendapat kesempatan besar untuk memohon hanya kepada Allah, menegaskan tauhid padaNya, berdzikir, bertakbirda dan bertahlil hanya untuk Allah semata.

Kemudian saat menyembelih hadyu, ia harus merasa bahwa sembelihan ini tidak patut dipersembahkan kecuali kepada Allah Dzat Yang Maha Perkasa. Jadi ia tidak mempersembahkan hewan apapun kepada kuburan, para wali, setan-setan ataupun jin. Ia hanya mempersembahkan hewan kurban buat Allah Dzat Yang Maha Agung. Allah berfirman:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagiNya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 162-163)

Kemudian saat menyembelih qurban atau hadyu ini, seorang muslim teringat lagi akan kisah Nabi Ibrahim yang diperintah Rabbnya untuk menyembelih putra kesayangan dan satu-satunya buah hati miliknya. Beliau mentaati perintah itu tanpa berkomentar apapun, bahkan melaksanakan perintah tersebut dengan ikhlas. Sehingga beliau lulus dari ujian ini.

Dari kisah Nabi Ibrahim inilah, seorang muslim mengetahui bahwa ia harus mengorbankan apapun miliknya dan apapun yang ia cinta. Ia tidak peduli dengan nikmatnya tidur dan empuknya kasur saat mendengar adzan Subuh dikumandangkan, karena ia rela mengorbankan segalanya buat Dzat yang sangat dicinta, Allah. Ia lebih mendahulukan perintah Allah daripada kepentingan pribadinya.

Ketamakannya kepada dunia dia tahan agar tidak menipu orang lain, mengurangi takaran dan timbangan saat jual beli serta meninggalkan harta riba. Ini semua ia lakukan karena lebih memilih apa yang ada disisi Dzat tercinta, Allah.

Kecintaannya kepada dunia, nafsu syahwat yang bergelora dan kelezatan sementara, dia tahan agar selalu menundukkan pandangan, berlaku iffah, dan menjaga kemaluan. Hal ini dia lakukan karena lebih mengutamakan cinta kepada Allah atas cinta pribadinya.

Sifat pelit dan kecintaannya untuk meraup harta dunia tak pernah menghalanginya untuk berinfak dan berjihad dengan jiwa raganya di jalan Allah. Jika seorang muslim berlaku seperti diatas, maka ia telah berjalan dimuka bumi ini sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim dan menjadikan Rasulullah sebagai qudwah dan suri tauladannya.

Begitulah Nabi Ibrahim Bapak Para Nabi

Similar Posts:

By |2017-07-24T09:44:28+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment