Nekad Aja Buka Tabungan Haji dan umroh dan Umroh (1)

Nekad aja membuka Tabungan Haji dan Umroh. Inilah action yang saya lakukan agar perjalanan yang kami niatkan segera terwujud. Langkah ini kami lakukan mengikuti tausiah “pentingnya niat dan action” yang kami peroleh dari ustadz dan ustadzah.

Tanggal 6 Pebruari 2004 adalah hari yang bersejarah, penuh kebahagiaan dan harapan. Pagi-pagi saya sudah duduk di bangku antrian teller bank yang dekorasinya dominan hijau. Itulah Bank Syariah Mandiri. Di jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat. Waktu itu, kantornya berada di jajaran ruko berlantai dua. Statusnya masih kantor cabang pembantu atau kantor kas dari kantor di Warung Buncit, Jakarta Selatan. Hingga kini, 2012, kantornya masih beroperasi dan terlihat tambah semarak. Setiap lewat jalan Margonda saya selalu terkenang peristiwa indah itu.

Hari itu saya memantapkan niat untuk memenuhi panggilan Ya Rabbil Alamin, dalam rangka menapaki jejak Nabi Ibrahim AS, melaksanakan ibadah Haji dan Umroh. Tapi jangan salah duga ya… saya ke bank tersebut bukan untuk setor Ongkos Naik Haji alias ONH, tapi baru buka rekening tabungan haji dan umrah. Ya, buka rekening baru! Bukan setor ONH. Dan ini nekad aja karena mendadak sontak ingin banget buka tabungan. Tentu saja hal itu ada pemicunya. Diantaranya setelah beberapa kali mengikuti acara-acara walimatus safar dan mengikuti ceramah seputar haji dan umrah.

Kantor bank tesebut bisa dibilang mungil. Nasabah yang lagi konsultasi dengan customer service, hanya berjarak dua meteran dari tempat saya duduk. Sengaja atau tidak, saya mendengar apa yang dibicarakan. Saya terpaksa menguping dengan antusias karena perbincangannya seputar haji dan umrah. Syukurlah… Jadi saya tak usah tanya-tanya lagi. Semua sudah diwakili si ibu dan bapak yang tampaknya aktivis sebuah partai. Tampak dari baju koko yang dikenakan sang bapak dengan tanda logo partai yang amat saya kenal. Ya.. karena saya simpatisan.

Keduanya ingin segera berangkat. Makanya diskusi berkisar berapa biaya ONH yang harus disetor. “Duapuluh juta rupiah, Bu!” ujar customer service yang anggun dengan model kerudung hijau mudanya. Sayang saya lupa namanya. Maka saya sebut saja Mbak Anggun ya…

Saya senyum-senyum. “Duapuluh juta, ya… Alhamdulillah,” aku mengulangi dalam hati sambil mengayun-ayunkan kaki. Saya menghitung-hitung entah tahun berapa tabungan haji dan umrah saya nanti mencapai Rp20 juta untuk bisa setor ONH. Itupun belum lagi biaya untuk melunasi dan biaya printil-printil  ketika mau berangkat ke tanah suci. Cerita ibu-ibu hajah, biaya printil-printil ini bisa jutaan juga. Wow..!

Namun hati ini yakin banget, bahwa saya bisa berangkat. Entah keyakinan dari mana itu bisa membara di hati. Yang pasti saya yakin banget. Bila diukur barangkali bisa 200%, bukan hanya 100%. Ini bukan karena gaji saya yang mungkin Anda duga gede. Bila hitung-hitungan gaji, saya harus berhemat mat..mat.., agar bisa menabung tiap bulan. Maaf ini bukan berarti saya tidak bersyukur lho… Namun hanya untuk menggambarkan saja kondisi finansial bulanan saya.

Agar bisa menambah tabungan, selain berhemat, saya juga akan kerja ekstra, marketing periklanan sehingga bisa dapat fee tambahan. Kebetulan di perusahaan saya memberi kelonggaran bahkan mendukung karyawannya yang berminat marketing. Fee-nya lumayan bisa sampai 10% dari billing atau net order. Selanjutnya ya saya tawakalkan kepada Allah Yang Maha Kaya dan Maha Pemberi untuk mengisi tabungan haji dan umroh tersebut.

Mau enaknya saja ya..? Masa Allah yang disuruh ngisi tabungan haji dan umrah? Eh.. bukan begitu. Ini justru saya sedang menerapkan ilmu yang diberikan oleh Pak Ustad Zainuddin saat pengajian walimatus syafar di rumah kakak saya, H.Sumardjo, di Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat, tahun 2004.

Pak Ustadz bercerita bahwa kaum muslimin yang diberangkatkan haji dan umrah oleh Allah SWT, bukan dominasi orang-orang kaya saja. Ada yang pekerjaannya menjual bubur di pinggir jalan, pedagang sate dorongan, bahkan lebih ekstrim adalah tukang tambal ban. Tak percaya kan? Sama! Awalnya, saya juga geleng-geleng kepala. Mana mungkin? Namun setelah Pak Ustadz yang waktu itu mengaku belum juga diberangkatkan haji dan umrah karena setoran ONH belum cukup, memberi penjelasan panjang lebar, baru saya ngeh.

Di sekitar kita banyak orang kaya. Rumah bagus, mobil berderet, Masih ditambah sepeda motor. Banyak juga tuan tanah atau tuan kontraktor, karena tanahnya luas dan rumah kontrakan ada di mana-mana. Belum lagi yang pejabat, baik di perusahaan swasta atau BUMN, dan pemerintahan. Secara finansial jelas mampu membayar Rp20 juta untuk setor ONH atau Rp40 juta bagi ONH Plus. Faktanya, banyak dari mereka hatinya masih berat menyambut panggilan haji dan umrah dengan beragam alasan. Yang dominan, karena merasa belum dipanggil. Walah…walah, padahal sejak Nabi Ibrahim AS atau tahun dal, panggilan itu dikumandangkan.

Sementara, penjual bubur dan sate keliling, hatinya begitu ringan. Siap kapan saja Allah SWT memberangkatkan dirinya berhaji dan umroh. “Langkah awalnya,” tutur Pak Ustadz, “Menetapkan hati, berniat sungguh-sungguh. Kemudian tidak kalah penting adalah membuka tabungan haji dan umrah di bank. Selajutnya memelihara niat dengan mengisi tabungan tersebut, sesuai rezeki yang diberikan Allah SWT.”

Dengan begitu, jelas Pak Ustadz, kita telah memiliki dua peluang, asal tabungan tersebut tidak diambil-ambil untuk keperluan lain. Pertama, sebuah periuk tempat uang (tabungan) yang insya’Allah, Yang Maha Pemberi akan mengisinya dengan cara-cara yang penuh misterius. Dalam hal ini tidak usahlah kita memusingkan diri, bertanya-tanya atau menebak-nebak misteriusnya seperti apa ya? Tugas kita berusaha maksimal, berdoa, selanjutnya tawakal kepada Dzat Yang Maha Kaya. Insya Alah tabungan haji dan umrah akan mencukupi. (bersambung)

Similar Posts:

By |2013-02-14T09:30:12+00:00February 14th, 2013|Uncategorized|

4 Comments

  1. antony December 3, 2013 at 4:38 pm - Reply

    Anda juga bisa lihat di sini
    Alquran terjemah dengan tajwid blok warna
    Antony 081331828237

    Thx

  2. Hakiki September 5, 2016 at 1:08 am - Reply

    Subhanallah. . .
    keyakinan memang absolut dan buktinya nyata! sangat menginspirasi mas kisahnya terutama bisa lebih meningkatkan iman kita kepada Allah SWT. .

Leave A Comment