Perbedaan Ibadah Haji dengan Umroh

Paket umroh murah 2019-2020-surabaya

Perbedaan Ibadah Haji dengan Umroh. Pada dasarnya, haji dan umroh sama-sama merupakan sebuah perjalanan mengunjungi dua kota suci, yaitu Mekkah dan Madinah. Ada beberapa ciri yang menandai perbedaan antara haji dan umroh. Perbedannya terletak pada waktu berkunjung para jemaah haji dan umroh, tempat-tempat yang dikunjungi, dan tata pelaksanaannya.

Berhaji adalah salah satu rukun Islam yang kelima. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual yang setiap tahun dilakukan oleh kaum muslimin dan muslimat yang mampu secara materi, fisik, maupun keilmuan. Berhaji dilakukan dengan berkunjung ke beberapa tempat di Arab Saudi dan melaksanakan beberapa kegiatan pada suatu waktu yang telah ditentukan yaitu pada bulan Zulhijah.

======================================================================

Informasi Paket Umroh Murah 2019 Jakarta Biaya mulai Rp19,9 Jt

Hubungi : H. SUDJONO AF 081388097656 WA

===================================================================

Secara etimologi (bahasa), haji berarti niat (Al-Qasdu) sedangkan menurut syara’ berarti niat menuju Baitul Haram dengan amal-amal yang khusus. Tempat-tempat tertentu yang dimaksud dalam definisi di atas adalah Ka’bah dan Mas’a (tempat sai), Padang Arafah (tempat wukuf), Muzdalifah (tempat mabit), dan Mina (tempat melontar jamrah). Waktu-waktu tertentu yang dimaksud adalah bulan-bulan haji, yaitu dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Amalan ibadah tertentu adalah tawaf, sai, wukuf, mabit di Muzdalifah, melontar jamrah, dan mabit di Mina.

Haji dapat dibagi menjadi tiga yaitu haji ifrad, haji tamatuk, dan haji qiran. Haji ifrad berarti haji yang menyendiri. Pelaksanaan ibadah haji disebut ifrad jika seseorang melaksanakan ibadah haji dan umroh secara sendiri-sendiri dengan mendahulukan ibadah haji. Haji tamatuk berarti bersenang-senang. Pelaksanaan ibadah haji dikatakan tamatuk jika seseorang melaksanakan ibadah umroh dan haji di bulan haji yang sama dengan mendahulukan umroh. Haji qiran berarti menggabungkan. Pelaksanaan ibadah haji dikatakan qiran jika seseorang melaksanakan ibadah haji dan umroh disatukan atau sekaligus berihram untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh.

Umroh adalah berkunjung ke Ka’bah untuk melakukan serangkaian ibadah dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan. Umroh disunahkan bagi muslim yang mampu. Umroh dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada hari Arafah, yaitu tanggal 9-10 Zulhijah dan hari-hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, 13 Zulhijah. Melaksanakan umroh pada bulan Ramadhan sama nilai pahalanya dengan melakukan ibadah haji (Hadits Muslim), tetapi bukan berarti kewajiban menunaikan ibadah haji tidak dilakukan. Melaksanakan ibadah haji tetaplah suatu keharusan bagi umat muslim.

Paket umroh murah 2019
Paket umroh murah 2019

Inilah rangkaian kegiatan ibadah umroh

  1. Diawali dengan mandi besar (janabah) sebelum ihram untuk umroh
  2. Mengenakan pakaian ihram. Pakaian ihram untuk lelaki dua kain yang diijadikan sarung dan selendang, sedangkan untuk wanita memakai pakaian apa saja yang menutup aurat, tanpa hiasan, dan tidak memakai cadar atau sarung tangan
  3. Niat umroh dalam hati dengan mengucapkan Labbaika ‘umrotan atau Labbaikallahumma bi’umrotin. Kemudian bertalbiah dengan dikeraskan suaranya bagi laki-laki dan cukup dengan suara yang didengar orang yang ada di sampingnya bagi wanita, yaitu mengucapkan Labbaikallahumma labbaik labbaikalaa syarika la labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika laka.
  4. Sesampai di Masjidil Haram menuju Ka’bah, melakukan tawaf sebanyak 7 putaran. Tiga putaran pertama jalan cepat dan sisanya jalan biasa. Tawaf diawali dan diakhiri di Hajar Aswad dan Ka’bah berada di sebelah kiri. Setiap putaran menuju Hajar Aswad sambil menyentuhnya dengan tangan kanan dan menciumnya jika mampu, serta mengucapkan Bismillah wallahu akbar. Jika tidak bisa menyentuh dan menciumnya, cukup memberi isyarat dengan mengangkat tangan dan berkata Allahu Akbar saat posisi kita sejajar dengan Hajar Aswad‒ada tanda lampu hijau sejajar dengan Hajar Aswad
  5. Shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim jika dapat atau di tempat lainnya di Masjidil Haram dengan membaca surah Al-Kaafiruun pada rakaat pertama dan Al-Ikhlas pada rakaat kedua.
  6. Selanjutnya sai dengan naik ke Bukit Safa dan menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangan dan mengucapkan Innah shofa wal marwata min sya’aairillah. Abda’u bima bada’allahu bihi (Aku memulai dengan apa yang Allah memulainya). Selanjutnya bertakbir tiga kali tanpa memberi isyarat dan mengucapkan Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu. Lahul mulku wa lahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qodiir. Laa ilaha illallahu wahdahu anjaza wa’dahu waa shodaqo ‘abdahu wa hazamal ahzaaba wa’dahu Kemudian berdoa sekehendaknya. Sai dilakukan sebanyak tujuh kali dengan hitungan berangkat satu kali dan kembalinya dihitung satu kali, diawali di Bukit Safa dan diakhiri di Bukit Marwah.
  7. Melakukan tahalul dengan mencukur rambut kepala bagi laki-laki dan memotongnya sebatas ujung jari bagi wanita.
  8. Ibadah umroh selesai
Rangkaian ibadah haji
Rangkaian ibadah haji

Inilah rangkaian ibadah haji

“(Muslim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku haik orang-orang yang berakal.”

(QS. Al-Baqarah: 197)

Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, pelaksanaan ibadah haji dapat ditempuh dalam tiga cara dengan perbedaan tata cara sebagai berikut.

  1. Haji Tamatuk, yaitu pada 8 Zulhijjah, setelah melaksanakan tahalul umroh (sudah berganti dengan pakaian biasa), jemaah berpakaian ihram lagi untuk melaksanakan ibadah haji. Artinya, ketika seseorang mengenakan pakaian ihram di miqatnya, hanya berniat melaksanakan ibadah umroh. Jika ibadah umrohnya sudah selesai, orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan ibadah haji. Tamatuk dapat juga berarti melaksanakan ibadah umroh dan haji di dalam bulan dan tahun yang sama, tanpa terlebih dahulu pulang ke negeri asal
  2. Haji Qiran, yaitu setelah melaksanakan umroh tidak bertahalul (tetap dalam pakaian ihram), kemudian langsung melaksanakan ibadah haji.
  3. Haji Ifrad, yaitu melaksanakan ibadah haji saja tanpa umroh terlebih dahulu. Artinya, ketika calon jemaah haji mengenakan pakaian ihram di miqatnya, hanya berniat melaksanakan ibadah haji. Jika ibadah hajinya sudah selesai, orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melakasanakan ibadah umroh.

Tahap pelaksanaan ketiga cara haji tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Sebelum tanggal 8 Zulhijjah, calon jemaah haji mulai berbondong-bondong untuk melaksanakan Tawaf Haji di Masjidil Haram, Mekkah.
  2. Calon jemaah haji memakain pakaian ihram (dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian haji) sesuai miqatnya, kemudian berniat haji dan membaca bacaan talbiah, yaitu mengucapkan Labbaikallahumma labbaik labbaika laa syarika la labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika laka.
  3. Tanggal 9 Zulhijjah, pagi harinya semua calon jemaah haji menuju ke Padang Arafah untuk menjalankan ibadah wukuf. Jemaah menjalankan ibadah wukuf dengan berdiam diri dan berdoa di Padang Arafah hingga magrib datang
  4. Tanggal 9 Zulhijjah malam, jamaah menuju ke Muzdalifah untuk mabit (bermalam) dan mengambil batu untuk melontar jamrah secukupnya
  5. Tanggal 9 Zulhijjah tengah malam (setelah mabit) jemaah meneruskan perjalanan ke Mina untuk melaksanakan ibadah melontar jamrah
  6. Tanggal 10 Zulhijjah, jemaah melaksanakan ibadah melempar jamrah sebanyak tujuh kali ke Jamrah Aqobah sebagai simbolisasi mengusir setan. Dilanjutkan dengan tahalul, yaitu mencukur rambut atau sebagian rambut
  7. Jika jemaah mengambil nafar awal maka dapat dilanjutkan dengan perjalanan ke Masjidil Haram untuk tawaf haji (menyelesaikan haji)
  8. Sedangkan jika mengambil nafar akhir, jemaah tetap tinggal di Mina dan dilanjutkan dengan melontar jamrah sambungan (Ula dan Wustha)
  9. Tanggal 11 Zulhijjah, melempar jamrah sambungan (Ula) di tugu pertama, (Wustha) tugu kedua, dan (Aqobah) tugu ketiga
  10. Tanggal 12 Zulhijjah, melempar jamrah sambungan (Ula) di tugu pertama, (Wustha) tugu kedua, dan (Aqobah) tugu ketiga
  11. Jemaah haji kembali ke Mekkah untuk melaksanakan tawa wadak (tawad perpisahan) sebelum pulang ke negara masing-masing
Persiapan ibadah haji dan umroh
Persiapan ibadah haji dan umroh
Persiapan Ibadah Haji dan Umroh

Kini saatnya saya menjelaskan apa saja yang diperlukan atau dipersiapkan ketika Anda hendak melaksanakan ibadah haji atau umroh. Banyak orang ketika hendak melaksanakan atauu menunaikan ibadah haji dan umroh belum mempersiapkan diri sendiri dan orang yang akan ditinggal selama pelaksanaan ibadah haji. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum menunaikan ibadah haji adalah sebagai berikut.

  1. Membersihkan diri dari dosa dan kesalahan baik langsung kepada Allah, maupun kepada sesame manusia
  2. Karena ibadah haji adalah ibadah fisik, Anda perlu mempersiapkan mental untuk mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji yang memerlukan stamina tinggi, keikhlasan, dan kepasrahan kepada Allah
  3. Mempersiapkan biaya, baik untuk biaya selama haji, maupun untuk nafkah keluarga yang ditinggalkan
  4. Melaksanakan kewajiban yang berhubungan dengan harta kekayaan, seperti zakat, nazar, utang, infaq, dan sedekah
  5. Melaksanakan janji yang pernah diucapkan
  6. Menyelesaikan segala urusan yang berhubungan dengan keluarga yang akan ditinggalkan
  7. Memohon doa restu kepada kedua orang tua (jika masih hidup)
  8. Mempersiapkan ilmu dan pengetahuan agama, serta mengikuti kegiatan manasik haji
  9. Mempersiapkan obat-obatan pribadi selama menjalankan ibadah haji
  10. Mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk keperluan selama perjalanan ibadah haji

 

Adapun perlengkapan yang haru dipersiapkan untuk jemaah pria adalah sebagai berikut.

  1. Kain ihram dua set
  2. Baju sehari-hari secukupnya
  3. Ikat pinggang

 

Sedangkan untuk wanita yang perlu dipersiapkan adalah sebagai berikut.

  1. Mukena minimal dua buah
  2. Pakaian ihram (rok dan mukena atas putih) dua set
  3. Pakaian sehari-hari secukupnya
  4. Kaos kaki secukupnya

 

Perlengkapan yang wajib disediakan oleh pria maupun wanita selama melaksanakan ibadah ke Tanah Suci adalah sebagai berikut.

  1. Pakaian hangat
  2. Selimut
  3. Obat-obatan pribadi (sesuai kebutuhan)
  4. Pakaian dalam secukupnya
  5. Peralatan mandi
  6. Pelembap atau cream, gunakan untuk tangan dan kaki
  7. Gunting kecil untuk tahalul
  8. Paying
  9. Senter kecil (untuk penerangan saat mengambil batu di Muzdalifah)
  10. Kantong kecil unutk menyimpan batu kerikil persiapan melempar jamrah
  11. Kantong sandal untuk tempat sandal saat di masjid
  12. Sandal jepit
  13. Sepatu sandal atau sandal gunung
  14. Biaya untuk dam, kurban, dan sebagainya

 

Mengenal Rukun dan Wajib Haji

Ada empat hal yang menjadi rukun haji yaitu

  1. Ihram
  2. Tawaf ziyarah (disebut juga tawaf ifadhah)
  3. Sai
  4. Wuquf di Padang Arafah

 

Apabila salah satu rukun haji di atas tidak dilaksanakan maka hajinya akan batal. Abu Hanifah berpendapat bahwa rukun haji hanya ada dua, yaitu wuquf dan tawaf. Ihram dan sai tidak dimasukkan ke dalam rukun karena menurut beliau, ihram adalah syarat sah haji dan sai adalah kegiatan yang wajib dilakukan dalam haji (wajib haji). Sementara Imam Syafii berpendapat bahwa rukun haji ada enam, yaitu ihram, tawaf, sai, wuquf, mencukur rambut, dan tertib berurutan (Kitabul Fiqh Ala Madzhabil Arba’ah 1/578).

Wajib haji terdapat tujuh hal yaitu sebagai berikut

  1. Ihram dimulai dari miqat yang telah ditentukan
  2. Wuquf di Arafah sampai matahari tenggelam
  3. Mabit di Mina
  4. Mabit di Muzdalifah hingga lewat tengah malam
  5. Melempar jamrah
  6. Mencukur rambut
  7. Tawaf wadak
Baitullah ibadah haji dan umroh
Baitullah ibadah haji dan umroh

Lokasi Utama Ibadah Haji dan Umroh

            Sebagaimana disebutkan sebelumnya karena dalam pelaksanaannya tidak terdapat perbedaan yang begitu besar, tempat-tempat yang dikunjungi saat ibadah haji maupun umroh tidak jauh berbeda (lihat halaman 42-43).

Lokasi utama ibada haji dan umroh adalah sebagai berikut.

  1. Mekkah Al Mukarromah

Di kota Mekkah Al Mukarromah inilah terdapat Masjidil Haram yang di dalamnya terdapat Ka’bah yang merupakan kiblat ibadah umat Islam sedunia. Dalam rangkaian perjalanan ibadah haji, Mekkah menjadi tempat pembuka dan penutup ibadah haji.

  1. Padang Arafah

Padang Arafah terdapat di sebelah timur kota Mekkah. Padang Arafah dikenal sebagai tempat pusatnya haji, sebagai tempat pelaksanaan ibadah wukuf yang merupakan rukun haji. Di Padang Arafah juga terdapat Jabal Rahmah, tempat pertama kali pertemuan Nabi Adam dan Hawa. Di luar musim haji, daerah ini tidak dipakai.

  1. Kota Muzdalifah

Kota ini tidak jauh dari kota Mina dan Arafah. Kota Muzdalifah merupakan tempat jemaah calon haji melakukan mabit (bermalam) dan mengambil batu untuk melontar jamrah di Kota Mina

  1. Kota Mina

Kota Mina merupakan tempat berdirinya tugu (jamrah), yaitu tempat melontarkan batu ke tugu (jamrah) sebagai simbolisasi tindakan Nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Di sana terdapat tiga jamrah, yaitu Jamrah Aqabah, Jamrah Ula, dan Jamrah Wustha.

 

Manfaat Sering Melakukan Umroh dan Haji

Ibadah haji merupakan salah satu ibadah yang wajib dikerjakan oleh umat muslim dan muslimah. Allah menjadikan ibadah haji sebagai salah satu dari kelima rukun Islam, yaitu membaca dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di Bulan Ramadhan, dan pergi haji bila mampu. Kata “mampu” menyangkut finansial, fisik, dan mental kita. Apabila Anda menjalankan ibadah umroh dan haji dengan niat semata-mata karena Allah, tentu saja keikhlasan hati dalam menjalankan ibadah tersebut sesuai dengan sunahnya bukan lagi sebuah paksaan. Pahala dari Allah pun sungguh besar kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh menjalankan ibadah umroh dan haji, seperti yang dikatakan dalam hadits:

 

Barang siapa yang melaksanakan ibadah haji, kemudian dia tidak mengucapkan kata-kata yang keji atau kotor serta tidak berbuat kefasikan, maka dia akan kembali bersih (dari dosa-dosa) seperti hari ketika dia dilahirkan oleh ibunya.

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Dari umroh yang satu ke umroh berikutnya adalah sebagai penghapus dosa-dosa di antara keduanya. Dan haji yang mabrur, tidaklah ada balasan baginya kecuali Al-Jannah.

(Muttafaqun ‘Alaihi, dari sahabat Abu Hurairah ra.)

 

Selain menjadi kewajiban dan penghapus dosa, banyak manfaat lain yang bisa kita dapatkan, seperti yang terkandung dalam surah Al-Hajj ayat 28: “Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan.

 

Selama melakukan ibadah umroh dan haji, muslim dari seluruh belahan dunia berkumpul. Mereka menanggalkan pakaian-pakaian mereka dan menggantinya dengan pakaian ihram. Hal itu menunjukkan bahwa di hadapan Allah, mereka sama. Tidak ada perbedaan antara muslim Asia dan muslim Eropa. Tak ada perbedaan antara pengusaha, pejabat, atau rakyat biasa. Sama halnya ketika meninggal dunia, umat muslim akan dipakaikan pakaian yang sama, yaitu kain kafan. Hal yang membedakan mereka semua hanya kektakwaan mereka kepada Allah.

Di Baitullah, selain memakain pakaian yang sama, kita juga melakukan tindakan-tindakan yang sama sesuai dengan sunah, seperti melafalkan talbiyah, melakukan tawaf (mengelilingi Ka’bah), melakukan sai (lari-lari kecil antara Safa dan Marwah), bermalam di Arafah, dan melempar jamrah. Semua itu semata-mata agar kita senantiasa menyebut dan mengingat nama Allah. Kita juga bisa belajar untuk ikhlas dan melakukan napak tilas sejarah para nabi dan sahabat seperti bagaimana perjuangan Nabi Ibrahim ketika membangun Ka’bah, bagaimana perjuangan Siti Hajar ketika harus bolak-balik antara Safa dan Marwah untuk mencari sumber air, dan berbagai tempat bersejarah lainnya yang akan meningkatkan iman kita kepada Allah.

Dengan berkumpulnya seluruh umat muslim dari seluruh dunia, kita bisa saling menasihati, mengingatkan satu sama lain dalam hal kebenaran. Hal ini dapat menimbulkan rasa cinta dan tali persaudaraan antarumat muslim sehingga kita bisa saling mengenal dan tolong-menolong dalam kebaikan. Berdasarkan HR. Al-Bukhari dan Muslim, juga dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dikatakan bahwa

 

Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya: ‘Amalan apakah yang paling utama?’ Maka beliau menjawab: ‘Beriman kepada Allah da Rasul-Nya.’ Ditanyakan kembali kepada beliau: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Berjihad di jalan Allah.’ Dan ditanyakan kembali kepada beliau: ‘Kemudian apa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Haji yang mabrur’.”

 

Al-Bukhari juga meriwayatkan dalam Sahihnya dari ‘Aisyah radhiyallahu’anhu bahwasannya dia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam

 

’Wahai Rasulullah, kami mengetahui bahwa jihad adalah amalan yang paling utama, tidakkah kami juga ikut berjihad?’ Beliau menjawab: ‘Bukan seperti itu, akan tetapi jihad yang paling utama (bagi wanita) adalah haji yan mabrur’.”

 

Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa dengan berhaji kita sama saja melakukan jihad tanpa peperangan. Karena saat kita berumroh dan berhaji, ujian Allah selalu adan untuk menguji seberapa besar iman dan ketakwaan kita kepada-Nya. Ujian Allah berbeda-beda terhadap para hamba-Nya karena Allah takkan memberikan suatu cobaan melebihi batas kemampuan hamba-hamba-Nya. Bahkan bagi sebagian jemaah haji yang kondisi fisiknya sudah tidak lagi kuat baik karena faktor umur maupun hal-hal lain, melakukan sai atau berada di Muzdalifah saat malam hari merupakan sebuah ujian.

Semuanya kembali lagi kepada niat kita. Jika kita mengikhlaskan amalan-amalan kita semata-mata untuk mengharapkan ridha Allah ta’ala, tentu saja kita dapat menjadi haji yang mabrur. Segala perbuatan kita senantiasa berada pada ketaatan terhadap Allah, dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan diri dari kemaksiatan serta larangan-larangan Allah, baik di tengah-tengah pelaksanaan ibadah haji, sebelum pelaksanaan ibadah haji ataupun setelahnya.

Similar Posts:

Artikel Sedang Trending
Tahwaf Wada artinya Tawaf Perpisahan, Tawaf Wada atau Tawaf Perpisahan adalah ibadah wajib untuk dilaksanakan
“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu
Ayo Bisnis Umroh. Cara Mudah Membangun Bisnis Travel Umroh Murah “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah)