Baiat Aqabah Oleh Rasulullah

 

Baiat Aqabah. Aqabah, bukit atau tugu batu yang terletak antara Mina dan Mekkah, adalah salah satu tempat yang dimulyakan karena selain merupakan tempat melempar Jumrah adalah juga tempat bersejarah karena disitu Rasulullah pernah mengadakan perjanjian dengan kaum Khazraj dan Aus, suku yang datang dari Yatsrib (sekarang Madinah).

Baiat Aqabah Pertama

Pada musim haji tahun 620, ketika berada dekat Aqabah. Rasulullah bertemu dengan enam orang jamaah dari Madinah (dari suku Khazraj). Nabi lalu menemui mereka dan mulai menyampaikan risalah yang diterimanya dari Allah. Setelah mendengarkan ajaran dan seruan dari Rasulullah, mereka menyatakan diri memeluk Islam. Pada musim haji berikutnya (tahun ke-12 kenabian), datang sejumlah orang lainnya yaitu 11 orang Khazraj dan 2 orang Aus yang terdiri dari 12 pria dan seorang wanita. Pengislaman keenam orang tersebut diikuti dengan Perjanjian Kesetiaan terhadap Islam yang dikenal dengan nama “Balat al-Aqabah Ula” atau Perjanjian Aqabah Pertama dan “Bai’atun Nisaa” atau disebut Perjanjian Wanita. Dan inilah bunyi sumpah setia (baiat), yang dalam sejarah Islam diberi nama Bai’at Aqabah Pertama”. Isi sumpah itu adalah sbb:

  1. Mengakui kerasulan Muhammad SAW.
  2. Tidak akan menyembah selain Allah Swt.
  3. Tidak akan mencuri.
  4. Tidak akan berzina.
  5. Tidak akan berbohong.
  6. Tidak akan menghianati Nabi Muhammad SAW.

Mereka kembali ke Yatsrib disertai oleh Mus’ab bin Umar yang ditugasi oleh Rasulullah untuk mengajarkan Al-Qur’an dan ajaran Islam kepada penduduk Yatsrib.

SUMPAH AQABAH KEDUA. Pada musim haji tahun ke-12 kenabian, dengan diantar oleh Mus’ab sejumlah orang musyrik mengakui kerasulan Muhammad dan masuk Islam. Pengislaman mereka diikuti dengan perjanjian kesetiaan “Baiat Al-Aqabah Kedua” atau At Tsaaniyah yang isinya tidak jauh berbeda dengan yang pertama.

Dalam perjanjian kali ini jumlah peserta 75 orang yang terdiri dari 73 pria dan 2 wanita. Adapun isi perjanjian tersebut adalah pentingnya berjihad dan melindungi Rasulullah dengan segala kemampuan. Disamping itu, mereka juga menunjukkan keinginan yang besar agar Nabi berhijrah ke Yatsrib. Setelah perjanjian Aqabah Kedua, Rasulullah mengizinkan kaum muslimin untuk berhijrah ke Yatsrib, sedangkan Beliau sendiri tinggal menunggu perintah selanjutnya dari Allah Swt. Dengan izin Nabi itu maka gelombang pengungsian atau hijrah mulai berlangsung lama dalam jumlah cukup besar. Muslim lainnya yang kurang mampu karena miskin dan kekurangan bekal terpaksa bertahan di Mekkah untuk beberapa waktu dan tentu saja harus menghadapi resiko penganiayaan dari kaum musyrik Quraisy.

Similar Posts:

By |2017-07-28T09:15:28+00:00February 7th, 2017|Uncategorized|

Leave A Comment