Permasalahan Haji & Umrah serta Solusinya

Permasalahan Haji & Umrah serta Solusinya

Visa Yang Tertunda

Haji dan umrah. Dari pengalaman saya menjalankan bisnis umrah dan haji. Permasalahan utama dan yang paling sering dihadapi adalah pengurusan visa, baik visa umrah maupun visa haji. Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati dalam menangani permasalahan ini. Visa dikeluarkan oleh pihak Kedutaan Besar Arab Saudi. Merekalah yang berhak menerima atau menolak seseorang untuk datang ke Negara mereka. Oleh karena itu, sebagai pengusaha travel umrah dan haji, kewajiban kitalah mengupayakan jemaah yang akan kita berangkatkan mendapatkan visa dari kedutaan. Bila visa seseorang terlambat keluar, tiketnya tentu akan off schedule.

Untuk visa haji dan umrah, sesuai ketentuan, satu bulan sebelum keberangkatan kita sudah bisa melakukan entry di agen penyedia (provider) visa untuk mengajukan permohonan visa. Permohonan itu di-print untuk kemudian diantarkan ke kedutaan Besar Arab Saudi bersama paspor dan persyaratan lainnya. Jika permohonan itu disetujui, pihak kedutaan Arab Saudi akan mengeluarkan visa sebagai tanda bahwa jemaah bersangkutan telah diberi hak masuk ke Negara tersebut.

Proses pengurusan visa biasanya memakan waktu kurang lebih tujuh hari, sedangkan masa berlaku visa umrah adalah 30 hari. Dengan demikian, seorang jemaah yang sudah mendapatkan visa tidak boleh diberangkatkan jauh-jauh hari dari setelah visanya keluar. Misalnya, visa keluar di bulan febuari sedangkan perusahan travel baru memberangkatkan jemaah di bulan april. Visa jemaah tersebut tentu sudah expired atau sudah tidak berlaku lagi. Jadi, perusahaan travel harus memperhatikan kapan visa jemaah keluar dan sampai kapan berlakunya sehingga tahu kapan harus memberangkatkan mereka.

Oleh karena itu, mengurus visa jemaah tidak boleh terlalu cepat, tidak boleh juga terlalu lambat. Jika terlalu cepat, visanya bisa expired,  Sebaiknya, jika terlalu lambat, dikhawatirkan visanya tidak keluar saat waktu keberangkatan tiba. Untuk mengatasi permasalahan ini, semua dokumen persyaratan setiap jemaah sudah harus lengkap. Apa sajakah dokumen yang harus dilengkapi? Dokumen yang harus dilengkapi, yaitu paspor jemaah dengan nama yang terdiri atas tiga suku kata, kartu tanda penduduk (KTP), kartu keluarga (KK), serta buku nikah atau surat keterangan mahram lainnya. Selain itu, ada satu hal lagi yang perlu anda perhatikan, apakah seorang jemaah sudah pernah ke arab Saudi untuk menjadi tenaga kerja atau belum. Calon jemaah yang pernah menjadi TKI ke arab Saudi bisa menjadi masalah karena biasanya mereka akan sulit mendapatkan visaumrah.

“Mengurus visa jemaah tidak boleh terlalu cepat, tidak boleh juga terlalu lambat. Jika terlalu cepat, visanya bisa expired. Jika terlalu lambat, dikhawatirkan visanya tidak keluar saat waktu keberangkatan tiba”.

Ketika kita sudah berusaha mengurus visa sesuai dengan prosedur tetapi belum juga keluar, langkah yang harus diambil adalah melihat antrean permohonan visa di kedutaan besar Arab Saudi. Bila antreannya panjang, wajar jika visa lama keluar. Akan tetapi, kadang-kadang yang menjadi masalah bukanlah antrean. Ada visa yang keluar tepat waktu, tapi salah. Misalnya, salah tulis nama atau fotonya salah tempat. Misalnya, foto si Badrun ditempatkan di visa si Munaf. Kesalahan ini bukan persoalan enteng karena pihak Imigrasi bandara bisa menolak keberangkatan jemaah bersangkutan. Jika kesalahan ini yang terjadi, sebagai pihak travel Anda tentu harus mengurusnya kembali. Akan tetapi, harus dipertimbangkan juga apakah Anda masih punya cukup waktu untuk melakukan entry ulang atau tidak, agar jemaah bisa berangkat sesuai jadwal. Jika tidak, tentu saja kebernagkatan jemaah bersangkutan harus diundur. Selain visa yang salah. Kadang-kadang ada juga visa yang berhasil diterima jemaah tetapi rusak. Misalnya, fotonya tidak kelihatan atau tidak jelas di stiker visa. Perusahaan travel professional harus selalu memperhatikan hal-hal tersebut dengan teliti.

Untuk mengganti visa yang bermasalah dan agar dapat mengejar keberangkatan yang direncanakan, Anda harus memperhitungkan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan entry ulang. Jika masih bisa, siapkan waktu minimal 7 hari sebelum melakukan pendaftaran ulang visa ke kedutaan Arab Saudi. Akan tetapi, karena kita sudah membayar tiket dan sebagainya untuk keberangkatan jemaah tersebut, keberangkatan harus ulang (reschedule), misalnya diundur minimal satu minggu setelah jadwal keberangkatan sebelumnya. Atau, jika menginginkan posisi yang lebih aman, Anda bisa menunda keberangkatan jemaah hingga lima belas hari.

Yang lebih penting dari semua itu adalah menyampaikan kondisi yang sebenarnya kepada jemaah yang visanya bermasalah, bahwa visanya belum keluar karena ada kesalahan atau kerusakan. Lalu, sampaikan pula bahwa pihak travel akan melakukan entry ulang. Untuk mengurus kembali semua itu, Anda juga harus memberi tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan sehingga kalaupun keberangkatan calon jemaah ditunda, mereka mengetahui duduk permasalahannya.

Penjadwalan ulang atau reschedule  yang dilakukan tidak hanya terkait masalah pembuatan visa, tapi juga tiket pesawwat dan booking hotel. Untuk itu, ada biyaya-biaya khusus yang harus dikeluarkan pihak travel sebagai konsekuensi reschedule tersebut. Misalnya, hotel tidak mau mengembalikan uang yang sudah dibayar di muka seratus persen. Untuk itu, yang perlu dilakukan adalah mencari pengganti jemaah bersangkutan. Dan, pengganti itu bisa saja jemaah dari perusahaan lain. Di sinilah dibutuhkan hubungan yang baik antara-pengelola travel. Dalam kasus-kasus ini tentu terjadi kerugian karena perusahaan harus menambah biaya akibat rescheduling, tetapi kerugiannya akan jauh lebih besar jika jemaah tidak jadi berangkat.

Permasalahan visa yang terlambat keluar juga pernah dialami jemaah haji. Namun, karena haji hanya berlangsung sekali dalam setahun, intensitasnya tidak setinggi seperti pada ibadah umrah. Pada ibadah haji, kasus visa yang tidak keluar justru lebih banyak disebabkan oleh factor lain, misalnya visa yang diajukan bukan visa regular, melainkan visa nonkuota. Apa yang dimaksud dengan visa nonkuota?

Sebelum memahami visa nonkuota, saya jelaskan terlebih dulu tentang visa kuota. Visa kuota adalah visa yang dikeluarkan kedutaan Besar Arab Saudi berdasarkan kuota haji yang dikeluarkan pemerintah Kerajaan Arab Saudi untuk jemaah Indonesia atas kesepakatan dengan pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementrian Agama. Di tahun 2012, misalnya, kuota haji untuk Indonesia adalah sekitar 230 ribu jemaah. Namun, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi juga mengeluarkan visa selain untuk 230 ribu jemaah tersebut, yakni berupa jatah para pejabat di Kementrian Agama serta pejabat-pejabat di instansi serta tamu undangan lainnya di Indonesia. Inilah yang sering disebut undangan diplomatic dari kerajaan Arab Saudi.

Selain itu, ada jatah visa yang dikeluarkan melalui kebijakan Kerajaan Arab Saudi, yang mereka ambil dari kuota-kuota Negara lain yang jatah visanya tidak habis di gunakan. Visa seperti inilah yang di sebut visa nonkuota. Misalnya, kuota haji untuk Negara China, rusia, dan amerika serikat adalah 5.000 jemaah. Ternyata, yang yang berangkat hanya 4.000 orang. Berarti ada 1.000 visa ynag tidak terpakai. Sisa visa inilah yang diberikan kepada Negara-negara yang jumlah antrean jemaah hajinya besar, seperti Indonesia, Malaysia dan Negara-negara muslim besar lain ya.

Oleh pihak provider. Selama ini jatah nonkuota itu dibagikan kepada calon jemaah haji. Calon jemaah tentu saja senang. Mereka yang menggunakan visa nonkuota inilah yang selama ini kita dengar bisa berangkat haji dengan segera, tanpa harus menunggu beberapa tahun menguikuti waiting list di daerah keberangkatan. Namun, biaya untuk keberangkatan jemaah nonkuota ini tentu lebih tinggi daripada yang menggunakan visa kuota atau visa haji biasa.

Saying, karna tidak ada lagi kepastian dari pemerintah kerajaan arab Saudi mengenai visa non kuota tersebut, akhir-akhir ini pemerintah Indonesia mulai membatasai pengeluaran visa jenis ini. Bahkan, di thun 2012, kementrian agama melarang perusahaan travel haji dengan visa nonkuota.

Itulah sebabnya kedutaan besar arab Saudi tidak lagi memberikan visa nonkuota kepada jemaah haji Indonesia. Akibatnya, sejumlah jemaah tidak dapat berangkat visa mereka tidak keluar, padahal mereka sudah membayar kepada perusahaan travel haji untuk berangkat di tahun 2012. Apalagi perusahaqan travel haji pun telah menjanjikan bahwa mereka memang akan di berangkatkan tahun itu. Inilah masalah utama perusahaan-perusahaan jasa pemberangkatan haji di tahun 2012 dan menjadikan banyak di antara mereka yang rugi besar.

Oleh karena itu, calon jemaah haji harus berhati-hati dalam memilih travel, terutama terhadap perusahaan yang menjanjikan keberangkatan yang lebih cepat. Karena, selain dengan visa nonkuota, perusahaan terkadang mendapatkan visa dari mengambil jatah oranglain…. Dampak yang di timbulkan dari cara ini tentu saja lebih parah. Kasus menghebohkan terkait masalah ini pernah terjadi tahun 2012, yaitu berupa kasus pemalsuan data di jawa timur. Pada kasus tersebut, sejumlah data calon jemaah yang masuk di tahun 2012 dipalsukan. Pemalsuan ini dilakukan demi mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Jatah mereka yang harusnya berangkat pada tahun 2012diberikan kepada sejumlah jemaah yang seharusnya berangkat di tahun 2018. Akibatnya, jemaah tahun 2018 bisa berangkat menggunakan porsi jemaah tahun 2012. Kecurangan ini melibatkan pihak yayasan, oknum pihak kementrian agama, dan oknum pihak direktorat jendral imigrasi.

Calon jemaah haji juga harus berhati-hati agar tidak tertipu atau terpengaruh pihak-pihak yang menjanjikan keberangkatan haji yang lebih cepat. Visa yang diterima calon jemaah haji harus sesuai dengan jatah dari kementrian agama harus ada bukti BPIH atau bukti penyetoran biaya ibadah haji. Dari bukti setoran ini, calon jemaah mengetahui nomor porsi keberangkatan dan tahun keberangkatan. Untuk menghindari kegagalan berangkata, calon jemaah haji disarankan tidak mengajukan permohonan visa nonkuota, tetapi mendaftar untuk mendafatkan permohonan visa nonkuota, tetapi mendaftar untuk mendafatkan visa jatah dari kementira agama yang berdasarkan nomor urut  entri. Permasalahan Haji & Umrah serta Solusinya

Similar Posts:

By |2015-05-19T10:58:21+00:00May 19th, 2015|Uncategorized|

2 Comments

  1. muhamad nukman bin hasbollah May 16, 2017 at 8:39 am - Reply

    masalah lain semasa umrah ade tak selain visa dikalangan jemaah umrah

    • UmrohMurah May 18, 2017 at 2:46 am - Reply

      Yth Ustd Muhamad Nukman Bin Hasbollah
      Assalamu’alaikum wr wb
      Semoga sehat bersmaa keluarga dalam limpahan rahmat Allah SWT.
      Visa untuk umroh biasanya menggunakan visa umroh. Menggunakan visa lian bisa seperti visa umal atau tenaga kerja. Namun biayanya justru lebih mahal.
      Semoga membantu infonya
      Wassalam
      Sudjono AF
      081388097656

Leave A Comment